Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 24 Des 2025
  • visibility 6.520
  • comment 0 komentar

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, kemarin dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Tentu sangat layak Gus Dur mendapat gelar Pahlawan Nasional karena pemikiran dan perjuangannya yang luar biasa. Dalam konteks pemikiran, banyak sekali gagasan besar yang dilahirkan Gus Dur. Antara lain:
Pertama, pribumisasi Islam. Islam adalah doktrin universal-kosmopolit yang harus diekspresikan dalam ruang lokalitas yang spesifik. Inilah yang dimaksud dengan pribumisasi Islam. Keberhasilan dakwah Islam yang dilakukan Wali Songo adalah kecerdasannya dalam mengakomodir budaya lokal dalam bingkai doktrin universal Islam.
Sedekah misalnya adalah doktrin Islam universal yang diejawantahkan Wali Songo dalam bentuk selametan dalam momentum tertentu, misalnya tujuh hari kematian, menjelang Ramadlan, menjelang idul fithri, empat bulan dan tujuh bulan usia kehamilan, manakiban, dan lain-lain. Berkat adalah istilah sedekah yang dibawa pulang warga dari acara selametan. Ziarah kubur adalah doktrin universal yang dilakukan untuk mendoakan leluhur, khususnya orangtua, juga untuk tabarrukan (mengambil berkah) dan i’tibar (mengambil teladan), khususnya kepada para ulama dan kekasih Allah. Ziarah kubur ini diekspresikan dalam bentuk nyekar dan nyadran menjelang Ramadlan dan Idul Fithri. Berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal adalah doktrin universal Islam yang diekspresikan dalam bentuk tahlilan sampai tujuh hari, empat puluh hari, satu tahun, dan sampai seribu hari wafatnya.
Kecerdasan Wali Songo yang merawat tradisi lokal dalam bingkai doktrin Islam universal inilah yang membuat warga simpatik dan kemudian berbondong-bondong masuk Islam. Islam tidak menghapus tradisi lokal, tapi mengakomodirnya sebagai wahana implementasi doktrin Islam. Bahkan, menurut Gus Dur, Wali Songo berhasil mengintegrasikan Islam dengan budaya lokal dalam bentuk penamaan malam jum’at kliwon, wage, pahing, dan pon. Masyarakat merasa dipayungi dan dilindungi budayanya oleh Islam.
Strategi dakwah pribumisasi Islam ala Wali Songo inilah yang harus dirawat dan dikembangkan supaya Islam dan budaya lokal bisa hidup bersama-sama dalam bingkai keislaman dan kebangsaan sekaligus. Budaya berjalan dalam bingkai agama dan agama kokoh terimplementasi dalam budaya. Sebuah kombinasi dan integrasi yang sangat kokoh.
Kedua, rukun tetangga. Menurut Gus Dur, umat Islam tidak sempurna jika hanya mengamalkan rukun iman dan Islam tanpa rukun tetangga. Gagasan rukun tetangga Gus Dur diambil dari Q.S. al-Baqarah ayat 177. Intinya, umat Islam tidak hanya beriman kepada Allah, RasulNya, kitab-kitabNya, dan para MalaikatNya, tapi harus aktif membantu dan menolong orang-orang yang membutuhkan, seperti para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang bepergian yang kehabisan bekal, orang-orang yang minta-minta dan para budak. Kesalehan ritual umat Islam harus dilengkapi dengan kesalehan sosial sehingga syariat Islam tidak hanya ada di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan lain-lain, tapi juga mewarnai dalam kehidupan riil masyarakat yang membutuhkan.
Ketiga, Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, tidak hanya bagi umat Islam. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. al-Anbiya’ ayat 107. Rahmat adalah kasih sayang dalam bentuk menjaga persaudaraan, melindungi, mengayomi, dan menolong satu dengan yang lain. Umat Islam tidak boleh memusuhi nonmuslim. Justru, umat Islam sebagai kaum mayoritas bangsa Indonesia harus melindungi nonmuslim yang minoritas sebagai manifestasi rahmah yang harus dijaga.
Tiga pemikiran besar Gus Dur di atas menjadikan Islam sebagai agama fungsional produktif di Indonesia, tidak hanya simbol dan formalitas. Islam Indonesia harus mampu menjadi penjaga pluralitas bangsa dan menjadi energi kemajuan.
Adapun perjuangan Gus Dur secara riil di lapangan sosial tidak terhitung jumlahnya. Antara lain:
Pertama, shilaturrahim dan sedekah. Gus Dur adalah sosok yang ahli shilaturrahim, baik kepada yang suka maupun yang benci. Di samping itu, Gus Dur juga sosok yang sangat dermawan. Bahkan, rela berbagi kepada orang lain, meskipun keluarganya sendiri sedang membutuhkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah disebutkan bahwa orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Hadis ini benar-benar dipraktekkan Gus Dur secara total.
Kedua, kaderisasi. Gus Dur adalah sosok pemimpin yang sukses mengorbitkan orang-orang sehingga menjadi tokoh publik. Tidak terhitung tokoh publik yang dipromosikan Gus Dur. Di antara adalah KH. Said Aqil Siradj, KH. A. Mustafa Bisri, dan KH. Yahya Cholil Tsaquf. Inilah salah satu jasa besar Gus Dur sehingga Islam moderat progresif senantiasa menjadi mainstream Islam Indonesia yang mampu merawat kemajemukan bangsa.
Ketiga, melindungi kaum minoritas. Perjuangan Gus Dur melindungi kaum minoritas yang sering teraniaya ini sungguh dahsyat. Gara-gara perjuangan maha berat ini, Gus Dur sering dituduh sebagai pembela nonmuslim dalam pengertian negatif. Namun keikhlasan Gus Dur dalam membumikan Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu toleransi umat beragama. Kaum mayoritas muslim tidak berbuat sewenang-wenang kepada kaum minoritas dan kaum minoritas selalu menjaga dan menghargai kaum mayoritas. Kolaborasi mayoritas dan minoritas inilah yang menjadikan bangsa Indonesia maju di segala aspek kehidupan.
Pemikiran besar dan perjuangan riil Gus Dur di atas menjadi teladan bagi generasi penerus untuk selalu melanjutkan dan mengembangkan pemikiran dan perjuangan Gus Dur demi keberlangsungan Islam nusantara yang selalu menjaga kebinnekaan dalam kerangka religiusitas yang menjadi identitas bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang dan yang akan datang.
*Dosen IPMAFA, Penulis Buku

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bertemu Dinsos, Fatayat Rembug Soal Perempuan dan Anak

    Bertemu Dinsos, Fatayat Rembug Soal Perempuan dan Anak

    • calendar_month Sel, 3 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 277
    • 0Komentar

    PATI-Kegiatan silaturrahim PC Fatayat NU Pati terus bergulir. Setelah berkoordinasi dengan Bupati Pati, Haryanto, Bappeda, Kemenag dan DLH, kali ini Fatayat mencoba menjalin kerjasama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pati.  Jajaran Pejabat Dinas Sosial Pati menjamu para Pengurus Cabang Fatayat NU Pati dalam kunjungan di Kantor Dinsos Pati, Selasa (3/9) Oleh Alfi Hidayah, ketua III […]

  • PCNU-PATI Photo by Kateryna Hliznitsova

    Love Is Stupid Part 6

    • calendar_month Ming, 12 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin (Aku pamit. Sampai jumpa lagi di pelaminan, Shanaya. Hahaha) Sebuah pesan menyapa Shanaya pagi itu. Ia menatap layar berpendar itu dengan mata memicing. Lalu mengedarkan pandang sebentar ke setiap sudut kamar sambil mengumpulkan kesadaran. Tita sudah tak ada di kamar, mungkin gadis itu sudah duluan melakukan ritual di kamar mandi.  Shanaya […]

  • Gandeng MWC, NU Pati Peduli Bantu Korban Banjir

    Gandeng MWC, NU Pati Peduli Bantu Korban Banjir

    • calendar_month Ming, 7 Feb 2021
    • account_circle admin
    • visibility 340
    • 0Komentar

      Pati – Banjir telah menerjang 6 kecamatan di kabupaten Pati. Tak sedikit diantara warga yang telah mengungsi akibat bencana ini. Guna mengurangi beban korban yang terdampak Nahdlatul Ulama’ dirikan Posko NU Pati Peduli. Agus Arif Mustofa, koordinator manajemen lapangan di Posko NU Pati Peduli mengungkapkan Pendirian posko ini melihat begitu banyaknya warga di 6 […]

  • PCNU-PATI

    NU Banyak Berkontribusi untuk NKRI

    • calendar_month Kam, 2 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Pcnupati.ori.id- Temanggung – Momentum upacara apel peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Temanggung dihadiri oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, Selasa (31/1/2023). Apel sendiri diikuti sekira sebanyak 15 ribu Nahdliyin, ynag memenuhi Alun-alun Kota Tembakau itu. Dalam sambutannya Ganjar Pranowo menyampaikan tentang peran penting NU terhadap bangsa. “Kontribusi NU sangat banyak, baik […]

  • Jajaki Kerja Sama Penguatan SDM Lewat Pendidikan, INISNU Sinergi dengan Wali Kota Magelang

    Jajaki Kerja Sama Penguatan SDM Lewat Pendidikan, INISNU Sinergi dengan Wali Kota Magelang

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.238
    • 0Komentar

      Magelang — Upaya penguatan sumber daya manusia (SDM) melalui jalur pendidikan tinggi terus diperkuat melalui sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., dan jajaran Wakil Rektor menjajaki kerja sama strategis dengan Walikota Magaleng H. Damar Prasetyono dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat (24/4/2026) […]

  • Madrasah Damai Pati Gelar Pelatihan Media Sosial

    Madrasah Damai Pati Gelar Pelatihan Media Sosial

    • calendar_month Jum, 14 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 310
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Madrasah Damai menggelar Pelatihan “Sosial Media sebagai Ruang Dialog” di Aula Lantai 3 The Safin Hotel Pati. Pelatihan tersebut dilaksanakan selama tiga hari, yakni mulai Jumat sampai dengan Minggu 14-16 Oktober 2022. Adapun yang menjadi pesertanya adalah para kawula muda. Komunitas sekaligus lembaga pelatihan, penelitian, dan pendidikan perdamaian berbasis santri dari Desa Waturoyo, […]

expand_less