Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 24 Des 2025
  • visibility 6.768
  • comment 0 komentar

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, kemarin dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Tentu sangat layak Gus Dur mendapat gelar Pahlawan Nasional karena pemikiran dan perjuangannya yang luar biasa. Dalam konteks pemikiran, banyak sekali gagasan besar yang dilahirkan Gus Dur. Antara lain:
Pertama, pribumisasi Islam. Islam adalah doktrin universal-kosmopolit yang harus diekspresikan dalam ruang lokalitas yang spesifik. Inilah yang dimaksud dengan pribumisasi Islam. Keberhasilan dakwah Islam yang dilakukan Wali Songo adalah kecerdasannya dalam mengakomodir budaya lokal dalam bingkai doktrin universal Islam.
Sedekah misalnya adalah doktrin Islam universal yang diejawantahkan Wali Songo dalam bentuk selametan dalam momentum tertentu, misalnya tujuh hari kematian, menjelang Ramadlan, menjelang idul fithri, empat bulan dan tujuh bulan usia kehamilan, manakiban, dan lain-lain. Berkat adalah istilah sedekah yang dibawa pulang warga dari acara selametan. Ziarah kubur adalah doktrin universal yang dilakukan untuk mendoakan leluhur, khususnya orangtua, juga untuk tabarrukan (mengambil berkah) dan i’tibar (mengambil teladan), khususnya kepada para ulama dan kekasih Allah. Ziarah kubur ini diekspresikan dalam bentuk nyekar dan nyadran menjelang Ramadlan dan Idul Fithri. Berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal adalah doktrin universal Islam yang diekspresikan dalam bentuk tahlilan sampai tujuh hari, empat puluh hari, satu tahun, dan sampai seribu hari wafatnya.
Kecerdasan Wali Songo yang merawat tradisi lokal dalam bingkai doktrin Islam universal inilah yang membuat warga simpatik dan kemudian berbondong-bondong masuk Islam. Islam tidak menghapus tradisi lokal, tapi mengakomodirnya sebagai wahana implementasi doktrin Islam. Bahkan, menurut Gus Dur, Wali Songo berhasil mengintegrasikan Islam dengan budaya lokal dalam bentuk penamaan malam jum’at kliwon, wage, pahing, dan pon. Masyarakat merasa dipayungi dan dilindungi budayanya oleh Islam.
Strategi dakwah pribumisasi Islam ala Wali Songo inilah yang harus dirawat dan dikembangkan supaya Islam dan budaya lokal bisa hidup bersama-sama dalam bingkai keislaman dan kebangsaan sekaligus. Budaya berjalan dalam bingkai agama dan agama kokoh terimplementasi dalam budaya. Sebuah kombinasi dan integrasi yang sangat kokoh.
Kedua, rukun tetangga. Menurut Gus Dur, umat Islam tidak sempurna jika hanya mengamalkan rukun iman dan Islam tanpa rukun tetangga. Gagasan rukun tetangga Gus Dur diambil dari Q.S. al-Baqarah ayat 177. Intinya, umat Islam tidak hanya beriman kepada Allah, RasulNya, kitab-kitabNya, dan para MalaikatNya, tapi harus aktif membantu dan menolong orang-orang yang membutuhkan, seperti para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang bepergian yang kehabisan bekal, orang-orang yang minta-minta dan para budak. Kesalehan ritual umat Islam harus dilengkapi dengan kesalehan sosial sehingga syariat Islam tidak hanya ada di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan lain-lain, tapi juga mewarnai dalam kehidupan riil masyarakat yang membutuhkan.
Ketiga, Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, tidak hanya bagi umat Islam. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. al-Anbiya’ ayat 107. Rahmat adalah kasih sayang dalam bentuk menjaga persaudaraan, melindungi, mengayomi, dan menolong satu dengan yang lain. Umat Islam tidak boleh memusuhi nonmuslim. Justru, umat Islam sebagai kaum mayoritas bangsa Indonesia harus melindungi nonmuslim yang minoritas sebagai manifestasi rahmah yang harus dijaga.
Tiga pemikiran besar Gus Dur di atas menjadikan Islam sebagai agama fungsional produktif di Indonesia, tidak hanya simbol dan formalitas. Islam Indonesia harus mampu menjadi penjaga pluralitas bangsa dan menjadi energi kemajuan.
Adapun perjuangan Gus Dur secara riil di lapangan sosial tidak terhitung jumlahnya. Antara lain:
Pertama, shilaturrahim dan sedekah. Gus Dur adalah sosok yang ahli shilaturrahim, baik kepada yang suka maupun yang benci. Di samping itu, Gus Dur juga sosok yang sangat dermawan. Bahkan, rela berbagi kepada orang lain, meskipun keluarganya sendiri sedang membutuhkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah disebutkan bahwa orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Hadis ini benar-benar dipraktekkan Gus Dur secara total.
Kedua, kaderisasi. Gus Dur adalah sosok pemimpin yang sukses mengorbitkan orang-orang sehingga menjadi tokoh publik. Tidak terhitung tokoh publik yang dipromosikan Gus Dur. Di antara adalah KH. Said Aqil Siradj, KH. A. Mustafa Bisri, dan KH. Yahya Cholil Tsaquf. Inilah salah satu jasa besar Gus Dur sehingga Islam moderat progresif senantiasa menjadi mainstream Islam Indonesia yang mampu merawat kemajemukan bangsa.
Ketiga, melindungi kaum minoritas. Perjuangan Gus Dur melindungi kaum minoritas yang sering teraniaya ini sungguh dahsyat. Gara-gara perjuangan maha berat ini, Gus Dur sering dituduh sebagai pembela nonmuslim dalam pengertian negatif. Namun keikhlasan Gus Dur dalam membumikan Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu toleransi umat beragama. Kaum mayoritas muslim tidak berbuat sewenang-wenang kepada kaum minoritas dan kaum minoritas selalu menjaga dan menghargai kaum mayoritas. Kolaborasi mayoritas dan minoritas inilah yang menjadikan bangsa Indonesia maju di segala aspek kehidupan.
Pemikiran besar dan perjuangan riil Gus Dur di atas menjadi teladan bagi generasi penerus untuk selalu melanjutkan dan mengembangkan pemikiran dan perjuangan Gus Dur demi keberlangsungan Islam nusantara yang selalu menjaga kebinnekaan dalam kerangka religiusitas yang menjadi identitas bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang dan yang akan datang.
*Dosen IPMAFA, Penulis Buku

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Santri Mempersatukan Negeri

    Hari Santri Mempersatukan Negeri

    • calendar_month Sel, 24 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 622
    • 0Komentar

    Pati.Hari Santri Nasional (HSN) 2017 yg diadakan PCNU Pati berlangsung meriah. Semua elemen bangsa ikut terlibat, mereka merasa memilili hari santri ini. Jaringan Gusdurian, kaum Tionghoa, tokoh lintas agama, Aisiyah Muhammadiyah, dan ormas lain berduyun-duyun mengikuti kirap dan apel akbar di alun-alun Pati, ahad 22 Oktober 2017, mulai pukul 13.00-17.00 WIB. Ini menunjukkan bahwa spirit […]

  • Innalillahi, Ketua MWC-NU Tlogowungu Wafat

    Innalillahi, Ketua MWC-NU Tlogowungu Wafat

    • calendar_month Ming, 4 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 551
    • 0Komentar

    KH. Slamet Nasrullah, M.Pd., bersama istri TLOGOWUNGU-Kabar duka kembali datang bagi NU Pati. Salah satu tokoh Nahdlatul Ulama berpulang ke Rahmatullah.  KH. Slamet Nashrullah, M.Pd., yang sedang menjabat sebagai ketua MWC NU Tlogowungu meninggal dunia Minggu (4/7). Kabarnya, sosok yang penuh semangat ini menghembuskan nafas terakhir pada pukul 14.00 WIB.  Wafatnya KH. Slamet menjadi pukulan […]

  • Memandang Indonesia Saat Ini

    Memandang Indonesia Saat Ini

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 393
    • 0Komentar

    Pati. Para Dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah guna mempertajam wawasan dan pola pikir agar lebih maju dan berkembang. Maka pada kesempatan kali ini menghadirkan Dr. M. Imdadun Rahmat Ketua LAKSPEDAM NU pusat untuk mendiskusikan isu-isu terkini yang berada di Indonesia,kemarin. Moderatisme adalah masa depan politik Islam Indonesia. Moderatisme dalam politik meniscayakan power sharing (pembagian kekuasaan, […]

  • Malam Tirakatan PPSA Berlangsung Sakral

    Malam Tirakatan PPSA Berlangsung Sakral

    • calendar_month Sen, 16 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 559
    • 0Komentar

    Ustadz Asmu’in (tengah) sedang membaca manaqib Syaikh Abdul Qodir al Jilani di dampingi Gus Faiz Aminuddin (pegang mic) dalam acara malam tirakatan 17 Agustus 2021 di Ponpes Shofa Az Zahro’ (PPSA) Gembong-Pati GEMBONG-Ponpes Shofa Az Zahro’ (PPSA) Gembong, Senin (16/8) malam ini menyelenggarakan malam tirakatan 17 Agustus 2021. Ini merupakan agenda puncak dari rangkaian acara […]

  • PCNU-PATI

    Ilmuan Ilmuan Muslim

    • calendar_month Sen, 14 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 474
    • 0Komentar

    Warisan sains Islam zaman pertengahan yang paling dikenal hingga saat ini adalah sistem angka Arab. Sistem angka yang juga digunakan di negara-negara Barat, mengalahkan sistem angka Yunani. Namun buku ini menunjukkan bahwa sains Islam jauh lebih hebat daripada hanya sistem angka, dan bahkan sangat berpengaruh sehingga menjadi dasar sains Eropa Barat yang muncul belakangan. Al-Khawarizmi, […]

  • PWNU Tandaskan Pentingnya Ekspresi Hasil Baca

    PWNU Tandaskan Pentingnya Ekspresi Hasil Baca

    • calendar_month Sab, 9 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 451
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – KH. Muhammad Muzammil, Ketua PW NU Jateng, menegaskan esensi ekspresi baca dihadapan puluhan penulis dan sastrawan, Sabtu (9/9) malam. Hal itu disampaikan dalam agenda Gerakan Literasi Ma’arif bertajuk ‘Bahagia dalam Berliterasi’ yang digelar oleh LP Ma’arif NU Jateng di Hotel Muria, Jalan Dr. Cipto 73,Semarang. “Pertama kita perlu kembangkan minat baca, kemudian mengekspresikan […]

expand_less