Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 24 Des 2025
  • visibility 6.843
  • comment 0 komentar

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, kemarin dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Tentu sangat layak Gus Dur mendapat gelar Pahlawan Nasional karena pemikiran dan perjuangannya yang luar biasa. Dalam konteks pemikiran, banyak sekali gagasan besar yang dilahirkan Gus Dur. Antara lain:
Pertama, pribumisasi Islam. Islam adalah doktrin universal-kosmopolit yang harus diekspresikan dalam ruang lokalitas yang spesifik. Inilah yang dimaksud dengan pribumisasi Islam. Keberhasilan dakwah Islam yang dilakukan Wali Songo adalah kecerdasannya dalam mengakomodir budaya lokal dalam bingkai doktrin universal Islam.
Sedekah misalnya adalah doktrin Islam universal yang diejawantahkan Wali Songo dalam bentuk selametan dalam momentum tertentu, misalnya tujuh hari kematian, menjelang Ramadlan, menjelang idul fithri, empat bulan dan tujuh bulan usia kehamilan, manakiban, dan lain-lain. Berkat adalah istilah sedekah yang dibawa pulang warga dari acara selametan. Ziarah kubur adalah doktrin universal yang dilakukan untuk mendoakan leluhur, khususnya orangtua, juga untuk tabarrukan (mengambil berkah) dan i’tibar (mengambil teladan), khususnya kepada para ulama dan kekasih Allah. Ziarah kubur ini diekspresikan dalam bentuk nyekar dan nyadran menjelang Ramadlan dan Idul Fithri. Berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal adalah doktrin universal Islam yang diekspresikan dalam bentuk tahlilan sampai tujuh hari, empat puluh hari, satu tahun, dan sampai seribu hari wafatnya.
Kecerdasan Wali Songo yang merawat tradisi lokal dalam bingkai doktrin Islam universal inilah yang membuat warga simpatik dan kemudian berbondong-bondong masuk Islam. Islam tidak menghapus tradisi lokal, tapi mengakomodirnya sebagai wahana implementasi doktrin Islam. Bahkan, menurut Gus Dur, Wali Songo berhasil mengintegrasikan Islam dengan budaya lokal dalam bentuk penamaan malam jum’at kliwon, wage, pahing, dan pon. Masyarakat merasa dipayungi dan dilindungi budayanya oleh Islam.
Strategi dakwah pribumisasi Islam ala Wali Songo inilah yang harus dirawat dan dikembangkan supaya Islam dan budaya lokal bisa hidup bersama-sama dalam bingkai keislaman dan kebangsaan sekaligus. Budaya berjalan dalam bingkai agama dan agama kokoh terimplementasi dalam budaya. Sebuah kombinasi dan integrasi yang sangat kokoh.
Kedua, rukun tetangga. Menurut Gus Dur, umat Islam tidak sempurna jika hanya mengamalkan rukun iman dan Islam tanpa rukun tetangga. Gagasan rukun tetangga Gus Dur diambil dari Q.S. al-Baqarah ayat 177. Intinya, umat Islam tidak hanya beriman kepada Allah, RasulNya, kitab-kitabNya, dan para MalaikatNya, tapi harus aktif membantu dan menolong orang-orang yang membutuhkan, seperti para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang bepergian yang kehabisan bekal, orang-orang yang minta-minta dan para budak. Kesalehan ritual umat Islam harus dilengkapi dengan kesalehan sosial sehingga syariat Islam tidak hanya ada di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan lain-lain, tapi juga mewarnai dalam kehidupan riil masyarakat yang membutuhkan.
Ketiga, Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, tidak hanya bagi umat Islam. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. al-Anbiya’ ayat 107. Rahmat adalah kasih sayang dalam bentuk menjaga persaudaraan, melindungi, mengayomi, dan menolong satu dengan yang lain. Umat Islam tidak boleh memusuhi nonmuslim. Justru, umat Islam sebagai kaum mayoritas bangsa Indonesia harus melindungi nonmuslim yang minoritas sebagai manifestasi rahmah yang harus dijaga.
Tiga pemikiran besar Gus Dur di atas menjadikan Islam sebagai agama fungsional produktif di Indonesia, tidak hanya simbol dan formalitas. Islam Indonesia harus mampu menjadi penjaga pluralitas bangsa dan menjadi energi kemajuan.
Adapun perjuangan Gus Dur secara riil di lapangan sosial tidak terhitung jumlahnya. Antara lain:
Pertama, shilaturrahim dan sedekah. Gus Dur adalah sosok yang ahli shilaturrahim, baik kepada yang suka maupun yang benci. Di samping itu, Gus Dur juga sosok yang sangat dermawan. Bahkan, rela berbagi kepada orang lain, meskipun keluarganya sendiri sedang membutuhkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah disebutkan bahwa orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Hadis ini benar-benar dipraktekkan Gus Dur secara total.
Kedua, kaderisasi. Gus Dur adalah sosok pemimpin yang sukses mengorbitkan orang-orang sehingga menjadi tokoh publik. Tidak terhitung tokoh publik yang dipromosikan Gus Dur. Di antara adalah KH. Said Aqil Siradj, KH. A. Mustafa Bisri, dan KH. Yahya Cholil Tsaquf. Inilah salah satu jasa besar Gus Dur sehingga Islam moderat progresif senantiasa menjadi mainstream Islam Indonesia yang mampu merawat kemajemukan bangsa.
Ketiga, melindungi kaum minoritas. Perjuangan Gus Dur melindungi kaum minoritas yang sering teraniaya ini sungguh dahsyat. Gara-gara perjuangan maha berat ini, Gus Dur sering dituduh sebagai pembela nonmuslim dalam pengertian negatif. Namun keikhlasan Gus Dur dalam membumikan Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu toleransi umat beragama. Kaum mayoritas muslim tidak berbuat sewenang-wenang kepada kaum minoritas dan kaum minoritas selalu menjaga dan menghargai kaum mayoritas. Kolaborasi mayoritas dan minoritas inilah yang menjadikan bangsa Indonesia maju di segala aspek kehidupan.
Pemikiran besar dan perjuangan riil Gus Dur di atas menjadi teladan bagi generasi penerus untuk selalu melanjutkan dan mengembangkan pemikiran dan perjuangan Gus Dur demi keberlangsungan Islam nusantara yang selalu menjaga kebinnekaan dalam kerangka religiusitas yang menjadi identitas bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang dan yang akan datang.
*Dosen IPMAFA, Penulis Buku

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puasa dari Bokep

    Puasa dari Bokep

    • calendar_month Sel, 11 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 2.042
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Bukan hanya dipuasani dalam arti dikurangi dan ditahan, tapi saran saya sebaiknya ditinggalkan. Tidak hanya di bulan Ramadan, menonton film porno/bokep itu merusak mental. Sebenarnya jauh-jauh hari, Kanjeng Nabi Muhammad sudah berpesan.   “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan […]

  • MWC NU Batangan Kelola 800 Kotak Koin NU

    MWC NU Batangan Kelola 800 Kotak Koin NU

    • calendar_month Sen, 30 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 451
    • 0Komentar

    BATANGAN-Kabar Bahagia datang dari pengurus MWC-NU Batangan. Koin NU yang digagas Ramadhan silam, kini teah membuahkan hasil manis. Total ada delapan ratusan kotak koin yang disebar oleh Tim yang dibentuk oleh K. Ali Muhtarom, ketua MWC NU Batangan. Tercatat, 10 desa telah melakukan koinisasi ini. Proses pembedahan kotak koin NU MWC NU Batangan yang dilakukan […]

  • Yayasan Pendidikan Muslimat NU Mengadakan Diskusi Bersama

    Yayasan Pendidikan Muslimat NU Mengadakan Diskusi Bersama

    • calendar_month Kam, 18 Feb 2016
    • account_circle admin
    • visibility 546
    • 0Komentar

    Yayasan Pendidikan Muslimat NU yang membawahi TK, RA, KB dan Satuan  Pendidika Sejenis, telah mengadakan sosialisasi perihal penguatan lembaga, Rabu 3/2/16 kemarin.             “Harapan saya selaku ketua Pengurus YPM agar semua guru dan sekolah yang di bawah naungan YPM agar tidak melupakan jasa-jasa para Muslimat terdahulu, sebab keadaan yang sekarang itu tidak lepas dari campur […]

  • Pesan Rois Syuriah PCNU Pati dalam Musyawarah Kerja Cabang

    Pesan Rois Syuriah PCNU Pati dalam Musyawarah Kerja Cabang

    • calendar_month Sen, 8 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 613
    • 0Komentar

    Pati, Jajaran Pengurus Cabang Nahlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati melaksanakan kegiatan Pelantikan, Musyawarah Kerja dan Halal Bi Halal, bertempat di Kampus IPMAFA Margoyoso Pati, Ahad 7 Juli 2019. Dalam kesempatan tersebut Rois Syuriah KH. M. Aniq Muhammad memberi pengarahan terhadap pengurus baru, baik lembaga, atau pun banomnya. ” Kita harus bersaing dengan organisasi lain, harus […]

  • YPMNU Pati Gelar Lomba Membatik untuk Anak-Anak

    YPMNU Pati Gelar Lomba Membatik untuk Anak-Anak

    • calendar_month Kam, 2 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Pncupati – Yayasan Pendidikan Muslimat Nahdlatul Ulama (YPMNU) Kabupaten Pati mengadakan lomba membatik untuk anak-anak PAUD, Raudhatul Athfal (RA) dan Taman Kanak-Kanak (TK), di pendopo kabupaten, Kamis (2/10/2025). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional. Ketua YPMNU Kabupaten Pati, Nur Laili, mengatakan bahwa perlombaan membatik bagi anak-anak ini dilakukan secara serentak se-Jawa Tengah. […]

  • MA BANIN; MADRASAH PLUS LIFE SKILL Dari Kitab Kuning Sampai Membatik

    MA BANIN; MADRASAH PLUS LIFE SKILL Dari Kitab Kuning Sampai Membatik

    • calendar_month Jum, 20 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 527
    • 0Komentar

    Mentari di pagi itu begitu indah menampakkan wajahnya, mengiring kayuhan sepeda onthel yang sesekali menjerit-jerit karena usianya yang lapuk. Ya, pagi-pagi betul anak-anak harus sudah sampai di halaman Madrasah Tarbiyatul Banin. Tepat pukul 06.30 lantunan murotal ayat-ayat Alqur’anul Karim terdengar sayup-sayup dibacakan oleh siswa-siswi yang hari itu mendapat giliran mengiring mereka memasuki pintu gerbang madrasah. […]

expand_less