Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 24 Des 2025
  • visibility 6.559
  • comment 0 komentar

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, kemarin dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Tentu sangat layak Gus Dur mendapat gelar Pahlawan Nasional karena pemikiran dan perjuangannya yang luar biasa. Dalam konteks pemikiran, banyak sekali gagasan besar yang dilahirkan Gus Dur. Antara lain:
Pertama, pribumisasi Islam. Islam adalah doktrin universal-kosmopolit yang harus diekspresikan dalam ruang lokalitas yang spesifik. Inilah yang dimaksud dengan pribumisasi Islam. Keberhasilan dakwah Islam yang dilakukan Wali Songo adalah kecerdasannya dalam mengakomodir budaya lokal dalam bingkai doktrin universal Islam.
Sedekah misalnya adalah doktrin Islam universal yang diejawantahkan Wali Songo dalam bentuk selametan dalam momentum tertentu, misalnya tujuh hari kematian, menjelang Ramadlan, menjelang idul fithri, empat bulan dan tujuh bulan usia kehamilan, manakiban, dan lain-lain. Berkat adalah istilah sedekah yang dibawa pulang warga dari acara selametan. Ziarah kubur adalah doktrin universal yang dilakukan untuk mendoakan leluhur, khususnya orangtua, juga untuk tabarrukan (mengambil berkah) dan i’tibar (mengambil teladan), khususnya kepada para ulama dan kekasih Allah. Ziarah kubur ini diekspresikan dalam bentuk nyekar dan nyadran menjelang Ramadlan dan Idul Fithri. Berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal adalah doktrin universal Islam yang diekspresikan dalam bentuk tahlilan sampai tujuh hari, empat puluh hari, satu tahun, dan sampai seribu hari wafatnya.
Kecerdasan Wali Songo yang merawat tradisi lokal dalam bingkai doktrin Islam universal inilah yang membuat warga simpatik dan kemudian berbondong-bondong masuk Islam. Islam tidak menghapus tradisi lokal, tapi mengakomodirnya sebagai wahana implementasi doktrin Islam. Bahkan, menurut Gus Dur, Wali Songo berhasil mengintegrasikan Islam dengan budaya lokal dalam bentuk penamaan malam jum’at kliwon, wage, pahing, dan pon. Masyarakat merasa dipayungi dan dilindungi budayanya oleh Islam.
Strategi dakwah pribumisasi Islam ala Wali Songo inilah yang harus dirawat dan dikembangkan supaya Islam dan budaya lokal bisa hidup bersama-sama dalam bingkai keislaman dan kebangsaan sekaligus. Budaya berjalan dalam bingkai agama dan agama kokoh terimplementasi dalam budaya. Sebuah kombinasi dan integrasi yang sangat kokoh.
Kedua, rukun tetangga. Menurut Gus Dur, umat Islam tidak sempurna jika hanya mengamalkan rukun iman dan Islam tanpa rukun tetangga. Gagasan rukun tetangga Gus Dur diambil dari Q.S. al-Baqarah ayat 177. Intinya, umat Islam tidak hanya beriman kepada Allah, RasulNya, kitab-kitabNya, dan para MalaikatNya, tapi harus aktif membantu dan menolong orang-orang yang membutuhkan, seperti para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang bepergian yang kehabisan bekal, orang-orang yang minta-minta dan para budak. Kesalehan ritual umat Islam harus dilengkapi dengan kesalehan sosial sehingga syariat Islam tidak hanya ada di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan lain-lain, tapi juga mewarnai dalam kehidupan riil masyarakat yang membutuhkan.
Ketiga, Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, tidak hanya bagi umat Islam. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. al-Anbiya’ ayat 107. Rahmat adalah kasih sayang dalam bentuk menjaga persaudaraan, melindungi, mengayomi, dan menolong satu dengan yang lain. Umat Islam tidak boleh memusuhi nonmuslim. Justru, umat Islam sebagai kaum mayoritas bangsa Indonesia harus melindungi nonmuslim yang minoritas sebagai manifestasi rahmah yang harus dijaga.
Tiga pemikiran besar Gus Dur di atas menjadikan Islam sebagai agama fungsional produktif di Indonesia, tidak hanya simbol dan formalitas. Islam Indonesia harus mampu menjadi penjaga pluralitas bangsa dan menjadi energi kemajuan.
Adapun perjuangan Gus Dur secara riil di lapangan sosial tidak terhitung jumlahnya. Antara lain:
Pertama, shilaturrahim dan sedekah. Gus Dur adalah sosok yang ahli shilaturrahim, baik kepada yang suka maupun yang benci. Di samping itu, Gus Dur juga sosok yang sangat dermawan. Bahkan, rela berbagi kepada orang lain, meskipun keluarganya sendiri sedang membutuhkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah disebutkan bahwa orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Hadis ini benar-benar dipraktekkan Gus Dur secara total.
Kedua, kaderisasi. Gus Dur adalah sosok pemimpin yang sukses mengorbitkan orang-orang sehingga menjadi tokoh publik. Tidak terhitung tokoh publik yang dipromosikan Gus Dur. Di antara adalah KH. Said Aqil Siradj, KH. A. Mustafa Bisri, dan KH. Yahya Cholil Tsaquf. Inilah salah satu jasa besar Gus Dur sehingga Islam moderat progresif senantiasa menjadi mainstream Islam Indonesia yang mampu merawat kemajemukan bangsa.
Ketiga, melindungi kaum minoritas. Perjuangan Gus Dur melindungi kaum minoritas yang sering teraniaya ini sungguh dahsyat. Gara-gara perjuangan maha berat ini, Gus Dur sering dituduh sebagai pembela nonmuslim dalam pengertian negatif. Namun keikhlasan Gus Dur dalam membumikan Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu toleransi umat beragama. Kaum mayoritas muslim tidak berbuat sewenang-wenang kepada kaum minoritas dan kaum minoritas selalu menjaga dan menghargai kaum mayoritas. Kolaborasi mayoritas dan minoritas inilah yang menjadikan bangsa Indonesia maju di segala aspek kehidupan.
Pemikiran besar dan perjuangan riil Gus Dur di atas menjadi teladan bagi generasi penerus untuk selalu melanjutkan dan mengembangkan pemikiran dan perjuangan Gus Dur demi keberlangsungan Islam nusantara yang selalu menjaga kebinnekaan dalam kerangka religiusitas yang menjadi identitas bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang dan yang akan datang.
*Dosen IPMAFA, Penulis Buku

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lazisnu – Zawa Ipmafa Kembali Bekerjasama

    Lazisnu – Zawa Ipmafa Kembali Bekerjasama

    • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Para petinggi Lazisnu Pati dan perwakilan Prodi Zakat dan Wakaf Ipmafa Pati sesaat setelah penyerahan mahasiswa PPL di kantor NU-Care Lazisnu Pati PATI – Sebagai upaya meningkatkan semangat filantropi di lingkungan NU, khususnya bagi anak muda, NU Care-LAZISNU Pati menjalin kerja sama dengan Institut Pesantren Matholiul Falah (IPMAFA). Duet ini dilakukan dalam bentuk program PPL […]

  • PCNU-PATI Photo by Nick Fewings

    Katanya Cinta

    • calendar_month Rab, 31 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Hari Minggu kemarin untuk pertama kalinya saya menggunakan jasa aplikasi redBus sebuah aplikasi yang memudahkan untuk melakukan sebuah perjalanan. Setelah memesan saya mendapatkan notifikasi; Halo…..👋 Terima kasih telah memesan tiket bus Anda dari Malang hingga Pati Untuk *pengalaman perjalanan terbaik* dan untuk *mengelola pemesanan Anda secara online*, unduh aplikasi redBus🚍 […]

  • PBB Pati Naik 250 Persen, IKA PMII Minta Pemkab Libatkan Publik

    PBB Pati Naik 250 Persen, IKA PMII Minta Pemkab Libatkan Publik

    • calendar_month Rab, 21 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 464
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kabupaten Pati meminta pemerintah daerah melibatkan publik dalam perumusan kebijakan mengenai Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2). Hal ini muncul setelah Bupati Pati, Sudewo, mengumumkan rencana kenaikan tarif PBB-P2 sebesar 250 persen untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang akan digunakan untuk […]

  • Tanggung Jawab Kiai Pesantren

    Tanggung Jawab Kiai Pesantren

    • calendar_month Jum, 20 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 556
    • 0Komentar

    KH. M. Aniq Muhammadun, Rais Syuriyah PBNU dalam acara halal bi halal yang diselenggarakan RMI-NU Pati (Kamis, 19 Mei 2022) di IPMAFA Pati menjelaskan tanggungjawab kiai pesantren. Pertama, aktif mengaji Kiai harus mengaji kepara para santri. Kiai yang mampu mengaji adalah kiai yang mempunyai kapasitas keilmuan memadai sehingga mampu menjelaskan kandungan al-Qur’an-hadis yang ada dalam […]

  • Rakorcab GP Ansor Tekankan Urusan Administrasi

    Rakorcab GP Ansor Tekankan Urusan Administrasi

    • calendar_month Kam, 23 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 351
    • 0Komentar

    Suasana Rakorcab GP Ansor Kabupaten Pati di SMK NU Pati, Selasa (21/9) sore. PATI – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pati mengadakan Rapat Koordinasi (Rakor) dengan jajaran pengurus cabang dan seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor di Kabupaten Pati Selasa Sore 21/9. Rapat dihadiri oleh Itqonul Hakim (Ketua), Ashadi Tamyiz (Komandan Satkorcab Banser), Abdul […]

  • Peran Tasawuf dalam Perkembangan Islam di Indonesia

    Peran Tasawuf dalam Perkembangan Islam di Indonesia

    • calendar_month Kam, 8 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 705
    • 0Komentar

    Indonesia merupakan negara kepulauan dengan tingkat keragaman –baik budaya, karakteristik, watak, ras, agama, dll- yang tinggi. Tingginya tingkat keragaman berpotensi besar menimbulkan perselisihan dan konflik. Maka salah satu nilai penting yang dibutuhkan bangsa ini dalam menghadapi perbedaan adalah toleransi. Hal itu yang dilakukan oleh Walisongo dalam menyebarkan Islam di nusantara. Islam menjadi agama mayoritas di […]

expand_less