Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Potret Toleransi di Pati, Sarasehan Paseduluran GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin

Potret Toleransi di Pati, Sarasehan Paseduluran GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 29 Des 2025
  • visibility 6.763
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id – Di tengah hiruk-pikuk perayaan akhir tahun, sebuah gang di Desa Winong, Kecamatan Pati, menyuguhkan pemandangan yang menyejukkan jiwa. Di Jalan Kolonel Sunandar Gang 6, berdiri dua rumah ibadah yang tidak hanya saling berhadapan, tetapi juga “bergandengan tangan” melalui sebuah kanopi permanen yang membentang di atas jalan.

​Pada Minggu (28/12/2025) malam, suasana di bawah kanopi tersebut terasa sangat hangat. Puluhan jemaat Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Winong dan jemaah Masjid Al-Muqorrobin duduk bersimpuh bersama dalam sebuah acara bertajuk “Sarasehan Paseduluran”.

Acara dimulai dengan khidmat ketika seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Semangat nasionalisme ini menjadi fondasi akan kuatnya toleransi.

Suasana malam itu tampak jauh dari kesan formal dan kaku. Jemaah masjid dan gereja, bersama tokoh masyarakat setempat, larut dalam obrolan santai sambil menikmati hidangan yang telah disediakan.

Tahun ini, GKMI Winong memutuskan untuk tidak menggelar perayaan Natal seperti biasa. Tidak ada pesta Natal yang meriah. Keputusan ini diambil sebagai bentuk empati terhadap saudara-saudara di wilayah lain, hususnya di Sumatera, yang sedang berduka akibat bencana alam banjir dan tanah longsor. Sebagai gantinya, mereka menggelar sarasehan tersebut.

Pendeta GKMI Winong, Didik Hartono, menjelaskan bahwa pihaknya memutuskan untuk meniadakan perayaan formal sebagai bentuk solidaritas bagi para korban bencana alam di Sumatera.

​”Kami belajar berempati dengan saudara-saudara kita yang sedang berduka akibat banjir dan tanah longsor. Sebagai gantinya, kami menyelenggarakan sarasehan ini untuk tetap merawat persaudaraan yang selama ini sudah terjalin sangat baik antara GKMI Winong dan Masjid Al-Muqorrobin serta masyarakat di lingkungan sekitar,” ujar Pendeta Didik.

​Bagi Didik, makna Natal tahun ini adalah tentang menyadari bahwa Indonesia adalah satu keluarga besar. Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga tersebut dengan cara menjaga kerukunan di tengah keberagaman yang ada.

“Kalau tema Natal secara nasional itu kan ‘Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga’. Nah, kami mencoba memaknai keluarga itu tidak hanya sekadar keluarga batih atau keluarga dalam rumah tangga, melainkan Indonesia ini adalah satu keluarga besar. Dan ada banyak ragam di dalamnya. Sungguh kehadiran Allah juga nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia ini karena umat yang ada di dalamnya di tengah keberagaman ini mau hidup rukun satu dengan yang lain,” tutur dia.

Acara malam itu jauh dari ketegangan. Para warga dari berbagai latar belakang, mulai dari Takmir Masjid, tokoh agama, hingga pengurus RT/RW, larut dalam obrolan santai.

​Guna memantik semangat perdamaian, acara ini juga menghadirkan pemutaran film dokumenter karya Pendeta Paulus Hartono dari Solo yang bertema perdamaian.

“Ada satu rekan, Bapak Pendeta Paulus Hartono dari Solo, yang memang punya film dokumenter tentang perdamaian, dan kami bagikan itu untuk menyemangati kembali di dalam kami merawat persaudaraan di antara kami,” ucap Didik.

Bagi warga Desa Winong, kerukunan bukanlah teori, melainkan praktik sehari-hari. Hal itu ditegaskan Rachmanudin, salah satu tokoh agama Islam di desa setempat yang turut menghadiri Sarasehan Paseduluran.

Ia pun mengapresiasi inisiatif GKMI Winong ini. Menurutnya, acara ini semakin memperkuat fondasi toleransi yang sudah dibangun sejak lama.

“Ini adalah acara yang luar biasa. Selain menunjukkan persatuan, sarasehan ini memperkuat toleransi yang sebetulnya sudah terbentuk di Winong sejak lama. Kita disatukan dalam satu visi, persatuan NKRI,” ujar dia.

Rachmanudin menilai, melalui pemutaran film bertema perdamaian dan dialog antarwarga, Sarasehan Paseduluran ini kembali mengingatkan bahwa di tengah perbedaan keyakinan, ada satu ikatan yang tak boleh putus, yakni kemanusiaan.

Dalam konteks ini, Desa Winong telah membuktikan bahwa perbedaan bukanlah pembatas, melainkan warna yang mempercantik tenun kebangsaan. Di bawah “kanopi persaudaraan” yang menghubungkan kedua tempat ibadah, mereka tidak hanya berbagi makanan, melainkan juga berbagi harapan untuk Indonesia yang lebih rukun. (Angga/LTN).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Enterpreunership dan Strategi Pengembangan Ekonomi Nahdliyyin

    Enterpreunership dan Strategi Pengembangan Ekonomi Nahdliyyin

    • calendar_month Sel, 26 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 509
    • 0Komentar

    Sebagai organisasi masa Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, Nahdlatul Ulama (NU) memiliki pengalaman dan sayap yang luas di berbagai sisi kehidupan. Politik kekuasaan menjadi pengalaman yang cukup kentara di tubuh NU. Sementara proyeksi pengembangan ekonomi umat dan bidang lainnya nyaris tidak terdengar gaunya. Padahal, jika kita tengok sejarah, NU selalu memperoleh raport merah […]

  • Pembentukan Badan Kerja Sakoma NU Rembang: Menjaga Marwah NU dalam Gerakan Pramuka

    Pembentukan Badan Kerja Sakoma NU Rembang: Menjaga Marwah NU dalam Gerakan Pramuka

    • calendar_month Sab, 22 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Rembang – Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif Nahdlatul Ulama (Sakoma NU) Cabang Rembang menggelar acara pembentukan badan kerja pada Sabtu, 22 Februari 2025, pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak yang berperan penting dalam pengembangan Sakoma NU di Kabupaten Rembang. Ketua LP Ma’arif NU […]

  • PCNU Pati Siap Tampung dan Dampingi Santri Korban Kekerasan Seksual

    PCNU Pati Siap Tampung dan Dampingi Santri Korban Kekerasan Seksual

    • calendar_month Sen, 4 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.478
    • 0Komentar

      PCNU Pati – PCNU Kabupaten Pati mengawal kasus dugaan kekerasan seksual di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati. Mereka pun siap menampung dan mendampingi para korban. Jajaran pengurus PCNU Pati, RMI NU Pati, Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU) Pati, GP Ansor Pati, Fatayat NU dan pengurus PCNU lainnya […]

  • PCNU-PATI Photo by KamalUddin Dk

    Suara Azan

    • calendar_month Sen, 26 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 464
    • 0Komentar

    “… Suara azan sebagai bel kesadaran untuk mengingatkan tugas meditasi sehari-hari berupa menoleh ke dalam, kenali diri kemudian bebaskan semua cengkeraman.” Kalimat tersebut diutarakan Gede Prama, penulis dan pelaku meditasi, yang beragama Hindu. Membaca dari refleksi Gede Prama di atas saya begitu tersentuh. Betapa saya tidak pernah menyadari akan pesan yang tersembunyi dari suara azan. […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi pemberdayaan masyarakat melalui pesantren. Photo by sam sul on Unsplash.

    Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pesantren

    • calendar_month Kam, 14 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Pesantren pada umumnya lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan yang konsen dalam transformasi keilmuan di bidang keagamaan. Anggapan ini bukannya tidak beralasan, karena kegiatan yang berlangsung saban harinya secara intensif adalah pada kajian hafalan, sorogan dan bandongan. Model pengajian ini sudah lazim berlaku di berbagai pesantren di Indonesia. Sehingga tidak menafikan apabila mayarakat menilai kalau pesantren […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Halal bi Halal. Photo by ibrahim abdullah on Unsplash.

    Ber (makan)an

    • calendar_month Rab, 1 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 337
    • 0Komentar

    Syawal adalah musim halal. Dalam hal ini banyak orang mengadakan hajatan, nikahan, tasyakuran dan lainnya. Banyak yang percaya jika mengadakan tasyakuran baik pernikahan atau pun sunatan di bulan syawal penuh keberkahan. Penuh keberkahan bagi yang mengadakan, akan tetapi lain lagi buat tetangga dan saudara; syawal adalah bulan nyumbang dan nikah secara nasional. Saya mengamini hal […]

expand_less