Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Dua Kendala Pengembangan Ilmu Falak di Pesantren

Dua Kendala Pengembangan Ilmu Falak di Pesantren

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 12 Agu 2021
  • visibility 544
  • comment 0 komentar
Dr. Ahmad Izzuddin, Koordinator Diklat Lembaga Falakiyah PBNU saat menyanpaikan kendala pengaplikasian ilmu falak di pesantren dalam acara Peluncuran Lajnah Falakiyah Salafiyah Kajen via zoom meeting

PATI-Ilmu Falak atau dalam istilah modern dikenal sebagai ilmu astronomi merupakan satu cabang ilmu yang sangat penting. Sebab bukan hanya mempelajari bintang, ilmu ini juga digunakan hampir dalam segala sektor kehidupan, seperti sektor pertanian yang mengandalkan musim. 

Menurut Prof. Thomas Jalaluddin, pernanian membutuhkan siklus musim yang didasarkan pada revolusi bumi terhadap matahari. Untuk mempelajari hal ini, lanjutnya, dibutuhkan ilmu falak. 

Dalam dunia pesantren ilmu ini telah dipelajari sejak lama. Banyak ulama yang membedah ilmu falak melalui karya-karya ilmiah. 

Hanya saja, menurut Dr. Ahmad Izzuddin, Koordinator Diklat Lembaga Falakiyah PBNU, masih banyak kendala yang dialami pesantren dalam mengembangkan ilmu falak saat ini. Keluhan tersebut di sampaikannya dalam peluncuran Lajnah Falakiyah Salafiyah Kajen. 

Berdasarkan pengamatannya, Dr. Izzuddin menilai setidaknya ada dua problem yang dihadapi pesantren. Pertama, alat peraga dan kedua, titik fokus pembelajaran ilmu falak di pesantren.

“Saat ini banyak pesantren menitik beratkan teori hisab daripada ru’yat,” ungkapnya. 

Dua permasalahan ini tentunya sangat berkaitan. Ru’yat membutuhkan alat peraga yang cukup mahal, sedangkan hisab tidak terlalu menghabiskan banyak dana. 

“Problem utama pesantren dalan mengaplikasikan ilmu falak memang terletak pada alat peraga,” tandas kiai muda ketua Asosiasi Dosen Ilmu Falak Indonesia ini. 

Namun, Dr. Izzuddin yang memiliki perhatian tinggi terhadap pesantren tidak tinggal diam. Ia mengajak kepada seluruh hadirin dalam acara launching tersebut untuk berfikir bersama-sama demi mengatasi persoalan tersebut.

“Yang tidak kalah penting, buat model pembelajaran ilmu falak yang menyenangkan buat para santri,” tuntasnya.(lut/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    NU Jakenan Peduli Bagikan 2.450 Paket untuk Korban Banjir

    • calendar_month Jum, 13 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id JAKENAN – NU Jakenan Peduli, Jumat (13/1/23) pagi ini, membagikan 2.450 paket bantuan kepada korban bencana banjir di wilayah kecamatan Jakenan.  NU Jakenan Peduli merupakan gerakan yang diinisiasi oleh MWCNU Kecamatan Jakenan melalui Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBINU) dan Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU) yang bekerja sama dengan PAC […]

  • YPI Monumen Mujahidin Berikan Santunan pada Puluhan Anak Yatim dan Dhuafa 

    YPI Monumen Mujahidin Berikan Santunan pada Puluhan Anak Yatim dan Dhuafa 

    • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Puluhan anak Yatim dan Duafa mendapat santunan dari Yayasan Perguruan Islam (YPI) Monumen Mujahidin Bageng, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Sabtu (19/11/2022) pagi.  Kegiatan yang mengusung tema “Cinta dan Santun kepada Anak Yatim dan Dhuafa” ini digelar di Lantai 2 Gedung MTs PIM Mujahidin.  Ketua Umum YPI Monumen Mujahidin Bageng, Kunadi mengatakan, kegiatan ini  […]

  • Pembina Ranting Panggungroyom Sebut IPNU IPPNU untuk Semua Kalangan

    Pembina Ranting Panggungroyom Sebut IPNU IPPNU untuk Semua Kalangan

    • calendar_month Sel, 5 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 477
    • 0Komentar

    WEDARIJAKSA – Pembina PIMPINAN Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PR IPNU IPPNU) Desa Panggungroyom, Nur Aziz mengungkapkan, bahwa organisasi Pelajar NU ini dapat diikuti oleh semua kalangan. Hal ini disampaikannya dalam acara yasinan rutinan dan sosialisasi PR IPNU IPPNU Desa Panggungroyom di Musala Sanilil Huda, Minggu (27/3/2022). “Kita disini ipnu […]

  • UPZIS MWCNU Tayu Lakukan Turba dan Galakkan Program NU Care Damai

    UPZIS MWCNU Tayu Lakukan Turba dan Galakkan Program NU Care Damai

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.922
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id- Unit Pengelola Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tayu, Kabupaten Pati, rutin melaksanakan kegiatan Turun ke Bawah (Turba). Kegiatan ini merupakan program sosialisasi dan konsolidasi yang dilakukan oleh pengurus UPZIS MWC untuk mendorong aktivasi dan kinerja UPZIS di tingkat ranting. Ketua UPZIS MWCNU Tayu, Moh Fatchurrohman, menyatakan bahwa […]

  • LP Ma'arif NU PCNU Kudus Siapkan Program Peningkatan Kompetensi Jurnalistik bagi Guru

    LP Ma’arif NU PCNU Kudus Siapkan Program Peningkatan Kompetensi Jurnalistik bagi Guru

    • calendar_month Sen, 28 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 623
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Semarang (UNNES) bersama LP Ma’arif NU PCNU Kudus tengah menyiapkan program penguatan literasi bagi guru tingkat SMA/MA/SMK. Tim pengabdian terdiri atas tujuh orang, yaitu Abdul Arif, Edi Subkhan, Muhammad Nazil Iqdami dari Prodi Teknologi Pendidikan UNNES. Lalu Farida Rachmawati dari Prodi KPI UIN Walisongo. Serta tiga mahasiswa UNNES, […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin, Bambang Mursito dan Nur Cahyo dalam NgAllah Suluk Maleman “Bersama Kita Gila” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (20/6).

    Suluk Maleman Kali ini Membahas Bangsa Yang Kehilangan Kuda Kuda

    • calendar_month Ming, 21 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.070
    • 0Komentar

    Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin menyoroti persoalan hilangnya cara pandang bangsa dalam melihat kemanusiaan. Padahal sejarah menunjukkan banyaknya perjuangan melawan penjajah justru didasari nilai-nilai dasar yang sudah lama menjadi menjadi bagian hidup bangsa. Nilai-nilai yang secara diametral bertentangan dengan nilai yang dibawa penjajah. Perenungan itu muncul saat digelarnya Ngaji Budaya Suluk Maleman yang digelar […]

expand_less