Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Dear, Zaujiy

Dear, Zaujiy

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 24 Jul 2022
  • visibility 343
  • comment 0 komentar

Aku tidak akan mengatakan kisahku ini adalah kisah langka, lain daripada yang lain, atau extraordinary. Karena kenyataannya begitu banyak perempuan di dunia ini yang dibebat takdir menyedihkan sepertiku. Menikah bertahun-tahun tapi tak kunjung dianugerahi rejeki berupa keturunan. Menjadi pihak yang harus mau tidak mau memaklumi perasaan mertua dan suami yang ingin sekali menimang bayi. Apalagi suami adalah anak sulung dan memiliki adik janda yang tak kunjung terlepas dari belitan status sosialnya itu. Lalu pada siapa lagi harapan ibunya memiliki cucu harus bermuara kalau bukan pada suamiku?

Perempuan semacamku harus rela perasaannya terabaikan dan tidak perlu dicemaskan sebab memang vonis dokter adalah takdir ilahi. Jika bersuara keras di depan suami bukanlah sebuah dosa, aku juga ingin menyuarakan hak asasiku. Aku ingin menumpahkan semua kesedihanku. Seperti; siapa sih yang tidak ingin punya anak, Mas? Istri mana yang tidak ingin mengandung benih suaminya? kamu pikir aku tidak hancur dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa memberi keturunan? Kamu pikir kamu saja yang ingin mendengar suara tangis bayi dari darah daging sendiri? Atau kalimat bantahan lainnya. Sungguh sudah lama aku ingin menyembur muka suamiku dengan kalimat-kalimat itu. Begitu pula malam ini, saat tubuh kami berada di atas peraduan kasih kami selama berpuluh tahun. Kucoba untuk berbicara dari hati ke hati. Kuturunkan egoku dan kulirihkan suaraku. Kutekan rasa perih yang mengonggok dalam sukma sekuat tenaga. Berharap tanda-tanda suami ingin berpoligami hanyalah kekhawatiran belaka.

“Mas.”

“Hem?”

Hening sebentar. Tubuh Mas Naufal telentang dengan mata terpejam. Kedua tangannya dilipat di atas dada. Aku tahu dia belum tidur karena bulu matanya masih bergerak-gerak. Sedangkan aku nyata-nyata menatap suamiku dengan poisisi menghadapnya dan pipi bertumpu pada telapak tangan kanan.

“Mas.”

“Apa, Dek Husna?”

“Jangan tinggalkan aku ya, Mas?” suaraku lirih dan berat, seberat beban dalam dadaku.

“Maksudmu?” tanya Mas Naufal. Kini matanya terbuka. Menatap langit-langit kamar yang remang-remang.

“Ya, Mas Naufal jangan ada pikiran menikah lagi. Aku tidak siap diduakan.”

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dek. Tak pernah ada dalam kamus hidupku menceraikanmu. Kamu adalah cinta pertamaku dan akan selamanya begitu.”

Mawar-mawar di hatiku bermekaran. Rasanya begitu membahagiakan. Aku semakin menatapnya lekat.

“Tapi Mas Naufal nggak ada akan berpoligami kan?”

Aku sudah bersiap memasang senyum lalu sigap memeluknya karena yakin Mas Naufal akan menjawab dengan kalimat manis yang menenangkan seperti; jangan khawatir, Dek meskipun kita tidak memiliki anak toh kita sudah punya banyak santri yang kita sayangi seperti anak kita sendiri dan menyayangi kita seperti orang tua mereka sendiri. Tidak memiliki keturunan bukanlah pencapaian tertinggi. Pencapaian tertinggi adalah bisa dekat dengan Allah dan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Kiai Sahal Mahfudz yang merupakan ulama besar dan jelas-jelas butuh kader untuk memegang tongkat estafet kepemimpinan pesantren saja tidak berpoligami. Kiai Sahal memilih setia meski beliau dan istrinya, Bu Nyai Nafisah belum dikaruniai keturunan seperti kita. Masa aku yang mantan preman begini berani-beraninya menikung prinsip beliau. Anak memanglah sebuah pengikat yang menjadikan tali pernikahan semakin erat. Tapi banyak pula di luar sana yang memiliki banyak anak akhirnya bercerai juga. Atau punya banyak anak tapi anaknya nakal-nakal, suka membangkang dan menyakiti hati orang tuanya. Anak bukanlah jaminan bahagia.

Tak kusangka jawaban suamiku di luar prediksi. Setelah menarik napas panjang ia dengan tega melontarkan kalimat serupa pisau tajam, “Lha emang kamu nggak pengen aku punya anak?”

Lalu dengan bodohnya aku menjawab, “Ya, pengen lah, Mas.” Karena aku memang ingin memiliki anak. Tapi anak yang hidup sembilan bulan di perutku, anak yang lahir dari rahimku. Bukan anak dari benih suamiku tapi lahir dari rahim perempuan lain. Bukan. Aku tidak bisa seperti Siti Sarah rela yang Nabi Ibrahim menikah lagi. Aku tidak mampu menerima kehadiran Siti Hajar yang lain di kehidupanku.

“Emang kamu nggak pengen emakku punya cucu? Kamu nggak kasihan?” tanyanya lagi. Seolah memberi penegasan bahwa dia dan ibunya lah yang paling nelangsa di muka bumi.

“Iya, Mas. Pengen.”

“Kamu tidak usah khawatir, Dek. Ketahuilah! yang pertama tidak akan tergantikan sampai kapanpun.”

Setelah itu aku tak mampu bersuara lagi. Sambil menekan dada aku berguling memunggungi. Kami saling beradu punggung setelah percakapan singkat tadi. Ternyata ide menikah lagi suamiku adalah nyata. Bukan sebuah mimpi buruk atau kekhawatiranku saja. Jawabannya tadi sudah cukup menjadi bukti bahwa dia menginginkan kehadiran bayi dari rahim perempuan lain. Cairan bening yang sejak tadi menggelayut di ujung mataku berubah hujan deras yang membasahi pipi serta bantalku. Namun aku bertekad dalam bisu tak akan membiarkan suamiku tahu bahwa aku sedang menangis dan tergugu. Aku takkan membiarkan dia atau bahkan diriku sendiri menilai lemah hati ini.

Apapun yang akan terjadi di masa depan, siap tidak siap harus kuhadapi. Beruntung aku adalah seorang santri yang punya bekal cukup untuk mengarungi lautan pahit kehidupan. Salah satunya nasehat ini.

“Kunci kebahagiaan hidup itu ada tiga; sabar, ikhlas dan syukur.”

Jika aku tidak bisa ikhlas jika kenyataannya suamiku menikah lagi, aku masih punya sabar dan syukur. Karena aku tahu, bersyukur itu lebih baik dan bersabar itu lebih didamba. Aku yakin jika kita menitipkan urusan pada Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik dari apa yang kita harapkan. Semakin kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya, tapi jika kita mengkufuri nikmat itu, azab Allah sangat pedih. Di tengah kepungan ujian ini, Allah masih mempercayakan sebuah pesantren yang kurintis dari nol, majlis ta’lim Al-quran, Jami’iyah Tartilan, Bimbel AnNaufal Children. Semua itu adalah keberuntungan dan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli apapun.

“Husna … kamu kuat, Husna. Allah tidak akan menguji diluar kemampuan hamba-Nya.”

Saat ini siapa yang akan menguatkan aku jika bukan diriku sendiri. Bukan Mas Naufal yang kini sudah terdengar dengkur halusnya. Bukan adekku Yasalil yang sudah jauh di mata, hidup bahagia bersama suami dan ketiga anaknya. Bukan bapak yang sudah senja, bukan pula jangrik dan katak yang berdendang bersahutan di luar sana, apalagi ibuku yang sudah kembali pada Yang Maha Esa. 

Kuambil mushaf di atas nakas dan mendekapnya erat. Daripada tak bisa tidur dan menangis seperti anak kecil, lebih baik aku menderas. Teman yang kubutuhkan dan bisa mengobati lukaku hanyalah Al-quran. Ayat yang berbunyi والذ ين اوتوالعلم درجات bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat berhasil menyertetku ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku. (Elin Khanin)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Islamku Islam Anda Islam Kita

    • calendar_month Rab, 30 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 363
    • 0Komentar

    Dalam buku tersebut beliau menjelaskan secara gamblang bagaimana seharusnya umat islam dalam menjalankan sebuah sistem yang ada. Bahkan tulisan beliau ini sangat relevan di masa sekarang dalam masalah sosial, ekonomi dan politik. Padahal buku ini ditulis jauh sebelum seperti saat ini. Disinilah dilihat bahwa beliau memiliki pemikiran jangka panjang dan berkelanjutan dimasa datang perihal perkembangan […]

  • PCNU-PATI

    MHI Gembong Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

    • calendar_month Rab, 4 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 327
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- GABUS – Keluarga MI Hidayatul Islam (MHI)  Gembong-Pati melakukan aksi sosial. Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Kosekan, Gabus pada Rabu (4/1) sore. Desa tersebut menjadi salah satu langganan banjir setiap musim penghujan. Kepala MHI Gembong, Sholikhin menegaskan bahwa Desa Kosekan menjadi tujuan penyaluran bantuan karena di daerah tersebut jarang tersorot kamera.  “Dulu pernah kami […]

  • PORSEMA Kebumen, Pati Membawa Juara Umum Ke Dua

    PORSEMA Kebumen, Pati Membawa Juara Umum Ke Dua

    • calendar_month Sen, 1 Jun 2015
    • account_circle admin
    • visibility 380
    • 0Komentar

    Warta LP Ma’arif. Minggu 31 Mei 2015, Kontingen Porsema Pati telah membawa 8 mendali emas terdiri dari MTQ Putra (MI), Bulu Tangkis Tunggal Putra(Mts),Tenis Meja Putri(Mts),Pencak Silat Wiraloka Putra(Mts), Pencak Silat Wiraloka Putri(Mts), Olimpiade Matimatika(MA), Olimpiade Kimia(MA), Olimpiade Ke-Nu-an (MA) Dan membawa 4 mendali perak meliputi; Debat Bahasa Inggris (MA),Olimpiade Matimatika (MI), Olimpiade IPA (MI)dan […]

  • Inilah Tuntutan Ketua Kopri Pati PC PMII Pati

    Inilah Tuntutan Ketua Kopri Pati PC PMII Pati

    • calendar_month Jum, 9 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Pati. Bertempat di gedung DPRD Kab Pati Ketua Kopri beserta jajaran Pengurusnya mengadakan audience terkait kenaikan harga BBM, Rabu 7 September kemarin. “Kami kecewa surat audiensi sudah kami layangkan akan tetapi tak ada satupun dewan yang menemui karena 50 Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Pati melakukan kunjungan kerja di luar daerah” jelas Nur Khoiriyah selaku ketua […]

  • Ulama’ Umaro’ Kab. Pati Gelar Istighotsah Bersama

    Ulama’ Umaro’ Kab. Pati Gelar Istighotsah Bersama

    • calendar_month Sab, 2 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 480
    • 0Komentar

    PATI-Pemerintah Kabupaten Pati bersama PCNU Pati secara rutin menggelar istighotsah bersama. Haryanto, Bupati Pati menegaskan bahwa kegiatan ini telah berjalan sejak ia pertama kali menjabat sebagai Bupati Pati. Perlu diketahui, bahwa periode ini merupakan periode ke dua kepemimpinannya. Malam tadi, Jumat (1/11), istighotsah bersama ini kembali digelar di Pendopo Kabupaten Pati. Tujuannya cukup jelas, yakni […]

  • PCNU-PATI

    FKPT Jawa Tengah Sukses Gelar Coaching Enumerator IPR dan IRT

    • calendar_month Sel, 25 Jun 2024
    • account_circle admin
    • visibility 295
    • 0Komentar

    SEMARANG- Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah baru-baru ini menggelar Coaching Enumerator Indeks Potensi Radikalisme (IPR) dan Indeks Risiko Terorisme (IRT) Tahun 2024 secara virtual Zoom Meeting, yang diikuti sebanyak 57 peserta terdiri dari 27 enumerator IPR dan 30 enumerator IRT pada Jumat, 21/06/2024. Acara dibuka langsung oleh Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) […]

expand_less