Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Celoteh » Anak Tantrum

Anak Tantrum

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 22 Jul 2022
  • visibility 163
  • comment 0 komentar

Hari minggu kemarin saat saya tengah berlibur dari rutinitas bekerja setiap hari, saya diajak ibu pergi ke pasar untuk membeli beberapa peralatan yang akan dibawa adik mondok. Sebelum pergi pagi-pagi sekali keponakan saya, Tsania sudah berada dirumah. Maklum ayah ibunya sedang di sawah dan ia dititipkan pada saya.

Pagi itu, setelah melakukan aktivitas rumahan, saya bertanya pada Tsania. Maukah ia ikut ke pasar? Jawabnya dengan tegas dan penuh bahagia ia menganggukkan kepala. Kemudian saya bertanya lagi, apakah ada yang diinginkan saat dipasar nanti? Ia menjawab bahwa ingin membeli kue yang ada gambar unicorn. Layaknya anak kecil lainnya ia begitu semangat bercerita akan keinginannya itu. Katanya dia sedang ulang tahun yang ke 5. Padahal setahu saya bukan bulan ini ulang tahunnya. Saya hanya menyimak dengan penuh khidmat. Rasanya gemas sekali melihatnya bercerita dengan penuh keceriaan seperti itu.

Saat tiba di pasar, setelah semua peralatan terbeli, kami tak sengaja melewati penjual sandal dan sepatu. Tiba-tiba ibu berkata ingin membeli sandal. Tak mau kalah dengan ibu, saya lantas ikut memilih sandal. Tsania yang sedari tadi saya gandeng, tiba-tiba merengek. Saya yang tengah memilih sendal mencoba mensejajarkan dengan dirinya lalu bertanya mengapa ia merengek. Ternyata dia melihat mainan yang saat ini viral. Kaktus bergoyang. Ia menunjuk mainan itu diseberang penjual sandal.

Saya mencoba bercanda dengan Tsania dengan pura-pura tak melihat kaktus yang dimaksud. Rengekannya semakin menjadi dan akhirnya pecah tangisannya. Saya hanya melihatnya dan berkata,

” Tadi pas dirumah kan bilang kalau mau kue unicorn, kenapa sampai disini minta kaktus sayang. Ndak boleh yaa.”

Saat saya berbicara seperti itu ia semakin menangis sejadi-jadinya. Tak peduli dengan banyaknya orang-orang yang ada di pasar itu.

Ibu mencoba menengahi dengan berbicara agak tinggi padanya. Bukan malah berhenti tapi malah tambah kenceng tangisannya. Saya mencoba berbicara lagi padanya.

“Adik ndak boleh begini, tadi di rumah mintanya kan kue unicorn. Jadi adik harus belajar bertanggungjawab dan komitmen dengan apa yang tadi adik ucapkan ya.” Namun dia tetep kekeh tak mau mendengarkan apa yang saya katakan. Setelah ibu dan saya selesai memilih sendal, lantas kami bergegas untuk pulang. Tsania masih saja menangis karena keinginannya tak saya kabulkan.

Sebelum pulang, ibu saya tinggal ditempat penggilingan daging karena ibu ada keperluan disana. Saya mengajak Tsania pergi ke toko kue yang tak jauh lokasinya dari pasar. Tsania yang tadi murung dan cemberut, mendadak wajahnya berubah menjadi ceria lagi. Saya memperlihatkan berbagai macam kue dan roti yang disajikan. Saya persilakan ia memilih sendiri, dan dengan sabar saya menunggu. Akhirnya ia memilih kue dengan hiasan bunga diatasnya. Tak hanya satu, ia pun memilih roti lainnya. Saya perbolehkan dan ia begitu senang setelah kedua barang tadi ia dapatkan.

Selepas pulang dari toko kue, kami menghampiri ibu terlebih dahulu sebelum pulang. Tsania bernyanyi sepanjang jalan dari pasar hingga sampai dirumah. Saya menebak lagu yang dinyanyikan adalah disini senang, disana senang. Dan sesampainya di rumah ia memamerkan kue kepada nenek dan kakek saat tengah duduk di teras rumah. Tak hanya itu ia meminta saya untuk memotretnya sambil memegang kue untuk ditunjukkan kepada ibunya.

Sambil makan kue dengan begitu lahap, saya bertanya padanya apakah ia senang. Ia mengangguk. Kemudian saya menjelaskan perihal soal kaktus tadi, agar dia belajar berkomitmen dengan apa yang dia ucapkan. Dengan asyik menikmati kue, saya coba jelaskan bahwa ia harus belajar untuk tak boleh menjadi raja yang setiap keinginannya harus dituruti.

Saya pernah membaca postingan di media sosial bahwa ketika anak sedang menangis atau tantrum karena menginginkan suatu hal, maka biarkan saja. Toh nantinya si anak pasti akan diam. Karena jika tak diatasi, tantrum ini akan terus menjadi senjata bagi anak untuk mendapatkan sesuatu. Bukan berarti lantas membiarkannya begitu saja, tetapi tetap ada sebuah penjelasan yang mengiringinya mengapa kita tak memperbolehkan. (Inayatun Najikah)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Jangan Jadi Macan Ompong

    NU Jangan Jadi Macan Ompong

    • calendar_month Rab, 25 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 243
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Jamal Makmur Asmani* KH. Ubaidullah Shodaqah, Rais Syuriyah PWNU Jateng, saat halal bi halal PCNU Pati (Selasa, 24 Mei 2022) di kantor PCNU Pati memberikan warning kepada seluruh elemen NU agar NU jangan menjadi macan ompong. Besar kuantitasnya, tapi tidak mempunyai kualitas kompetitif yang dibanggakan dan dihormati pihak lain. Sudah saatnya NU […]

  • PC-NU Pati Gelar Rapat Koordinasi Perdana

    PC-NU Pati Gelar Rapat Koordinasi Perdana

    • calendar_month Ming, 21 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati yang belum lama ini dilantik, pagi ini, Ahad (21/7) mengadakan rapat kordinasi perdana. Acara yang dilaksanakan di aula lantai 2 gedung PCNU ini dihadiri oleh Pengurus Harian Tanfidhiyah, Syuriyah serta ketua dan sekretaris masing-masing Banom dan Lembaga. Situasi rapat koordinasi perdana PC-NU Pati, Minggu (21/7) pagi Dalam sambutan […]

  • sepeda-webp

    Membeli Sepeda Motor Secara Kredit

    • calendar_month Sel, 22 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 206
    • 0Komentar

      Pak Ahmad membeli sepeda motor di dealer, dengan ketentuan; jika kontan harga Rp. 5 jt. Jika kredit dalam waktu satu tahun, dengan uang muka 500 rb, maka harga menjadi 6 jt. Dan jika dalam jangka waktu yang ditentukan pak ahmad belum bisa melunasi, maka sepeda motor akan ditarik kembali, kemudian uang muka dinyatakan hilang. […]

  • Jalan Sehat Ala Santri

    Jalan Sehat Ala Santri

    • calendar_month Ming, 22 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 277
    • 0Komentar

    Pati. Pengurus MWC NU Margoyoso beserta banom-banomnya mangadakal acara” Mlaku – mlaku bareng santri se-Kabupaten Pati. Dari PCNU Pati sendiri memiliki program acara tersebut yang terpusatkan di kecamatan Margoyoso, pada jalan sehat Hari Santri Nasional kali ini dengan mengambil tema Meneguhkan peran santri dalam bela negara, Pancasila, dan NKRI , 20/10. Acara ini dimulai pada […]

  • Aktivis Muslimat itu Berpulang ke Rahmatullah

    Aktivis Muslimat itu Berpulang ke Rahmatullah

    • calendar_month Sel, 26 Des 2017
    • account_circle admin
    • visibility 213
    • 0Komentar

    Hj Yuhanidz Fayumi Munji, Ibunda Dra Badriyah Fayumi, Abdullah Umar Fayumi, Ismail Fayumi, dan putra putri beliau yg lain, kembali ke hadirat Allah SWT pada Selasa, 7 Rabiul Akhir 1439 H./ 26 Desember 2017. pukul 04.00 Wib. Istri KH Ahmad Fayumi Munji ini adalah aktivis NU tulen. Beliau pernah menjadi Ketua Muslimat NU Pati dan […]

  • LTN NU PATI DAMPINGI PESANTREN MEMBUAT BLOG

    LTN NU PATI DAMPINGI PESANTREN MEMBUAT BLOG

    • calendar_month Jum, 6 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Margoyoso- (04/11/15) Pasca Kegiatan Diskusi Jihad Cyber dan pelatihan pembuatan blog di SMK Cordova Margoyoso yang diadakan LTN NU dan Lakpesdam. Tim dari LTN NU Pati melakukan pendampingan terhadap pesantren-pesantren yang serius menindaklanjutinya. Salah satunya adalah pesantren An-Nur Sucen Terangkil, Pesantren Mabdaul Huda Buludana Maroyoso, dan Pesantren Ar-Raudoh Kajen, dan Ponpes Shofa Azzahro Gembong. Menurut […]

expand_less