Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian II)

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 28 Feb 2026
  • visibility 9.606
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Sebenarnya, tulisan ini selesai pada bagian pertama, yaitu berjudul Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian I). Namun, karena saya kesel, ya saya lanjutkan di bagian kedua ini. Agar ada jeda. Ambegan disit.

Idiom gandulan sarunge kiai dalam wacana populer sering dipahami sebagai simbol kebergantungan atau bahkan kultus individu. Dekonstruksi atas idiom tersebut tentu menuntut pemahaman epistemologis, bukan sekadar penilaian sosiologis modern yang sudah kita sampaikan pada bagian pertama kemarin.

Dalam riset Linnaja dan El Syam (2025), gondelan sarunge kiai menjadi simbol pendidikan Islam khas Nusantara yang menekankan kesetiaan pada sanad keilmuan para kiai, keberlanjutan ajaran Walisongo, dan pendekatan dakwah berbasis budaya yang ramah, membumi, serta mencerminkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. Ini menjadi penguat bahwa gondelan tidak sekadar tradisi turun-temurun yang ngawur, tapi ada alasannya!

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai

Mengapa idiom gandulan sarunge kiai, gendolan sarunge kiai perlu didekonstruksi. Ya, jelas agar tidak salah paham. Salah tafsir. Salah mengartikan. Untuk itu, terdapat beberapa temuan dan hasil kajian dari bagian pertama atas bentuk dekonstruksi tersebut.

Pertama, gandulan sarunge kiai tidaklah bentuk kultus personal kiai/ulama, namun hal itu bentuk rekognisi atau pengakuan sanad keilmuan yang sahih dan jelas. Kiai dalam tradisi pesantren dihormati, ditakzimi, ditempatkan sebagai simpul dalam jaringan transmisi ilmu pengetahuan. Otoritas melekat pada kiai/ulama tidaklah milik individu, namun menjadi milik tradisi keilmuan yang ia wakili

Kedua, perspektif modern sering mengalamatkan tuduhan feodalisme budaya yang pada akhirnya memisahkan otoritas dari tradisi. Nah, uniknya, dalam pesantren, hubungan kiai-santri, guru-murid, atau pendidik-peserta didik itu bersifat timbal balik. Artinya, santri atau murid menghormati kiai/guru karena ilmu, dan kiai/guru memiliki bertanggung jawab ngemong atau membimbing santri/murid secara moral dan intelektual. Jelas ya!

Dalam Kitab Adabul Alim Wal Muta’Allim, KH – Hasyim Asy’ari menyerukan urgensi ikatan batin atau relasi jiwa antara santri-kiai, murid-guru, pelajar-pendidik, mahasiswa-dosen, dan lainnya. Meskipun secara puitis dan populer, istilah gondelan sarunge kiai kerap tampak dalam jargon-jargon santri ketika menggambarkan sikap rendah hati alias tawadu. Jenenge santri ya pancen ngono lah!

Ketiga, modernisasi telah melahirkan recontextualization. John Obert Voll lewat karyanya Islam: Continuity and Change in the Modern World (1994) mempertegas tradisi keilmuan Islam selalu melalui proses negosiasi dengan modernitas. Artinya, saat sistem “sertifikasi formal” dan “gelar akademis” menggantikan sanad sebagai mekanisme validasi utama dan paling utama yang diakui, maka praktik-praktik tradisional sering disalahpahami bahkan tidak dianggap babarblas.

Keempat, di pesantren maupun masyarakat Islam di Jawa pada umumnya, simbol-simbol fisik yang terlihat ritualistik mempunyai signifikasi epistemik. Ia merupakan pernyataan keterikatan pada sanad. Legitimasi pada tradisi ilmu klasik bukan sebatas lewat teks, malainkan juga lewat relasi individual yang terverifikasi.

Kelima, gondelan sarung kiai merupakan bentuk santri untuk mencari keberkahan, alias bertambah kebaikan. Konsep tabarruk atau tabarrukan ala pesantren ini sudah dicontohkan sejak dulu. Dalam Kitab Fathul Baari, Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani, melalui penjelasan atas Shahih Bukhari, di dalamnya dikaji mendalam soal diperbolehkannya tabarruk dengan peninggalan Nabi SAW. Kita-kitab sejarah (tarikh) juga menceritakan para sahabat Nabi Muhammad yang berebut sisa air wudhu atau potongan rambut Nabi. Seperti Sahabat Khalid bin Walid rajin menyimpan beberapa helai rambut Kanjeng Nabi Muhammad, Anas bin Malik pernah menginformasikan bahwa Ummu Sulaim (ibunya) mengumpulkan keringat Kanjeng Nabi, Abu Juhaifah pernah menceritakan para sahabat berebut sisa air wudlu Kanjeng Nabi Muhammad lalu mengusapkan ke wajah dan tubuh mereka.

Nah, dalam konteks lokal di tulisan ini, kiai/ulama yang dianggap sebagai Warasatul Anbiya (pewaris nabi), diberi penghormatan serupa yang diaplikasikan tanpa mengurangi spirit gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Di media sosial, bisa jadi banyak nalar sekuler, nalar populer, nalar literel, yang cenderung menyempitkan idiom dan tradisi gandulan sarunge kiai sebagai “kultus individual kiai” atau “praktik feodalisme”. Akan tetapi, ketika dikaji dari aspek epistemologi sanad dalam tradisi pesantren, narasi gandulan sarunge kiai merupakan ekspresi simbolik dari relasi santri/murid dengan jaringan keilmuan historis

Menghormati kiai/ulama harus diyakini ittiba’ para sahabat atas menghormati Kanjeng Nabi Muhammad tanpa menggantikan sosok kiai sebagai pengganti sosok Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Ini saya jelas tidak setuju.

Gandulan sarunge kiai secara sederhana tidak semata sebagai rekognisi atau pengakuan sosial, namun sebagai pengakuan pada garis transmitif ilmu, sanad keilmuan, yang secara konseptual bermuara pada Kanjeng Nabi Muhammad Saw., sebagai sumber utama ilmu Islam yang benar dan sahih. Lewat pemahaman ini, sanad tak sebatas nostalgia tradisi belaka, namun menjadi fondasi epistemik untuk menjaga adab, otentisitas, dan nyambungnya ilmu dalam peradaban Islam.

Gandulan sorbane Kanjeng Nabi Muhammad adalah wajib. Ini tidak bisa didebat. Namun, gandulan sarunge kiai juga penting, karena menjadi bentuk menjaga sanad keilmuan, ittiba’, dan penghormatan yang sekadarnya juga penting. Sebab, ulama/kiai/orang alim adalah pewaris nabi. Begitu!

Ada pendapat lain?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perdana, PCNU Selenggarakan Rakor Sensus Warga NU

    Perdana, PCNU Selenggarakan Rakor Sensus Warga NU

    • calendar_month Rab, 19 Agu 2020
    • account_circle admin
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Ahmad Saiku, koordinator admin PCNU Pati sedang memberi arahan kepada para admin Ranting NU se-Kawedanan Pati kota Tambahkan tek GEMBONG-Hari ini, Rabu (19/8) untuk pertama kalinya PCNU Pati menyelenggarakan Rapat Koordinasi Sensus Warga NU. Kegiatan tersebut diikuti oleh admin Pengurus Ranting NU yang ada di wilayah eks-kawedanan Pati Kota.  Sedikitnya, ada 60 peserta dari empat […]

  • PAC IPNU IPPNU Kayen Gelar Sosialisasi, Komisariat Pencetak Pelajar Hebat

    PAC IPNU IPPNU Kayen Gelar Sosialisasi, Komisariat Pencetak Pelajar Hebat

    • calendar_month Sel, 3 Nov 2020
    • account_circle admin
    • visibility 348
    • 0Komentar

    PATI, – Menghadiri Peringatan Maulid Yayasan Pendidikan Islam Asyariyah Miftahul Falah Desa Talun Kecamatan Kayen, PAC IPNU IPPNU Kecamatan Kayen mengadakan sosialisasi mengenai Ke-IPNU-IPPNU-an bertempat di Gedung yayasan tersebut. Minggu, (01/11/2020) “Saya berharap Madrasah Miftahul Falah dapat berdiri pimpinan komisariat IPNU IPPNU yang nantinya menjadi wadah pencetak generasi muda yang hebat dan unggul dalam agama […]

  • Muhammad Hasyim Santri Pejuang Kemerdekaan

    Muhammad Hasyim Santri Pejuang Kemerdekaan

    • calendar_month Kam, 26 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Sebagai santri yang juga putra kiyai, masyarakat biasa memanggil dengan sebutan Gus Hasyim, nama lengkap beliau adalah Muhammad Hasyim putra Mbah Mahfudh Salam Kajen (w-1944)lahir di Kajen pada tahun 1929 M. Beliau adalah putra kedua dari enam bersaudara yaitu : 1.    Hj.  Muzayyanah, istri KH Mansyur Lasem  (ibu dari Gus Qoyyum) 2.    Muhammad Hasyim 3.    […]

  • Plt Bupati Pati Lepas Jalan Sehat MTs Tarbiyatul Banin

    Plt Bupati Pati Lepas Jalan Sehat MTs Tarbiyatul Banin

    • calendar_month Sab, 14 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.668
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id — Plt. Bupati Pati Risma Ardhi Chandra memberangkatkan peserta jalan sehat dalam rangka Hari Lahir ke-61 MTs Tarbiyatul Banin yang digelar di lingkungan madrasah setempat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Harlah yang diikuti oleh siswa, guru, dan warga sekitar. Kepala MTs Tarbiyatul Banin, H Yusuf Hasyim, menyampaikan bahwa peringatan Harlah ke-61 […]

  • Akribut NU Iringi Pernikahan Kader NU

    Akribut NU Iringi Pernikahan Kader NU

    • calendar_month Sab, 25 Nov 2017
    • account_circle admin
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Pati. Setiap orang dalam menikah tentu sangat berbahagia. Sebab pernikahan adalah momen sakral yang di harapkan seumur hidup sekali saja. Maka dari itu, untuk menentukan calon pendamping harus, se iman, seidiologi dan seperjuangan yang mampu di ajak berdakwah dalam menjalankan panji-panji islam ahlus sunah waljma’ah.             Sebagai kader penggerak Nahdlatul Ulama Kecamatan Gembong, dalam pernikahan […]

  • Ini Tahapan Pendirian Lembaga Pers Siswa Menurut Hamidulloh Ibda

    Ini Tahapan Pendirian Lembaga Pers Siswa Menurut Hamidulloh Ibda

    • calendar_month Sen, 28 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 787
    • 0Komentar

        Pcnupati.or.id-Semarang – Bertempat di Gedung WTC Kampus 2 UNWAHAS Semarang, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Dr. Hamidulloh Ibda menjadi narasumber Training of Trainers (TOT) dan Diklat Pembina Komisariat yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Jawa Tengah […]

expand_less