Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Masjid Jami’ Kajen Pati: Saksi Bisu Perjuangan Mbah Mutamakkin Membangun Desa Santri

Masjid Jami’ Kajen Pati: Saksi Bisu Perjuangan Mbah Mutamakkin Membangun Desa Santri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
  • visibility 9.739
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id – Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, dikenal sebagai salah satu poros pesantren di Bumi Mina Tani. Puluhan pondok pesantren berdiri kokoh di “Desa Santri” ini, menjadi magnet bagi ribuan santri dari berbagai penjuru daerah untuk menimba ilmu agama.

​Tradisi religius yang kuat ini tidak lepas dari sejarah panjang Masjid Jami’ Kajen. Didirikan oleh Syekh Ahmad Mutamakkin (Mbah Mutamakkin), masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat persemaian ajaran Islam dan basis pemberdayaan masyarakat pada masanya.

​Masjid Jami’ Kajen didirikan pada tahun 1107 Hijriah atau sekitar 1695 Masehi. Meski telah melalui tiga kali pemugaran yakni pada tahun 1910, 1952, dan 2010, namun keaslian arsitektur Jawa Kuno tetap dipertahankan.

​Atap masjid berbentuk tumpang tiga yang melambangkan tingkatan spiritual: Iman, Islam, dan Ihsan. Kekokohan bangunan ini didukung oleh dinding dan tiang berbahan kayu jati asli. Di dalamnya, suasana klasik terasa kental dengan keberadaan lampu gantung antik dan jam dinding kuno yang menjadi saksi bisu perjalanan waktu.

​Koordinator Islamic Center Kajen, Mohammad Azwar Anas, menjelaskan bahwa masjid ini menyimpan peninggalan berupa papan bersurat (sengkalan) sebagai penanda waktu pembangunan. Selain itu, terdapat mimbar khotbah dengan ukiran satwa yang sarat filosofi.

​”Ukiran naga melambangkan sifat tirakat (menahan hawa nafsu), gajah melambangkan kekuatan diri dalam menghadapi rintangan, dan burung kuntul yang mematuk bulan bermakna cita-cita tinggi serta kemampuan beradaptasi di berbagai medan,” jelas Anas, Senin (2/3/2026).

​Sejarah mencatat Mbah Mutamakkin sebagai sosok ulama visioner abad ke-18. Setelah menuntut ilmu kepada Syekh Zein di Yaman dan menunaikan ibadah haji, ia terdampar di pesisir utara Jawa dan akhirnya menetap di Kajen.

​Di tangan Mbah Mutamakkin, Masjid Jami’ Kajen bertransformasi menjadi pusat perlawanan terhadap ketidakadilan sosial. Saat itu, masyarakat terhimpit oleh beban pajak tinggi dari Pemerintah Kolonial Belanda dan Kerajaan Kartasura.

​Alih-alih mengangkat senjata secara konfrontatif, Mbah Mutamakkin memilih jalur pemberdayaan. Beliau membangun kesadaran kritis masyarakat agar mampu berdikari secara ekonomi dan berpikir mandiri.

“Masyarakat berkumpul di masjid untuk membahas dinamika sosial, yang kemudian ditindaklanjuti dengan kajian atau halaqoh,” tambah Anas.

​Kritisme dan pengaruh Mbah Mutamakkin sempat membuat pihak kerajaan khawatir akan adanya pemberontakan. Berbagai tuduhan miring dialamatkan kepadanya, termasuk fitnah mengenai ajaran “nyentrik” dan isu memelihara anjing.

​Mbah Mutamakkin pun disidang di Kartasura dengan ancaman hukuman mati. Namun, ketenangan dan kedalaman ilmu yang beliau tunjukkan justru meluluhkan hati Raja Kartasura. Tak hanya dibebaskan dari segala tuduhan, Desa Kajen bahkan ditetapkan sebagai Tanah Perdikan (daerah bebas pajak).

​Cikal Bakal Puluhan Pondok Pesantren
​Keberhasilan Mbah Mutamakkin dalam membela hak masyarakat memicu gelombang santri yang ingin menimba ilmu. Awalnya, para santri datang dari luar daerah dan membangun pondokan secara swadaya agar lebih efektif dalam belajar.

​Semangat kemandirian itulah yang menjadi cikal bakal menjamurnya pesantren di Kajen. Hingga saat ini, tradisi tersebut tetap lestari.

“Saat ini tercatat ada sekitar 90 pondok pesantren di Kajen dengan total santri mencapai lebih dari 10.000 orang,” pungkas Anas. (Angga/ltn)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Ushul Fiqih Multikultural Gus Dur

    Mengenal Ushul Fiqih Multikultural Gus Dur

    • calendar_month Jum, 6 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 589
    • 0Komentar

    KH. Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur merupakan seorang kiayi sekaligus intelektual kontemporer yang pemikirannya sering menimbulkan kontroversi dan tak jarang disalah pahami sebagian kalangan. Padahal jika dikaji secara mendalam, kerangka pemikiran Gus Dur yang kritis dan komprehensif dalam memandang realitas agama, sosial, ekonomi, politik, kebudayaan dan kenegaraan tak lepas dari argumen-argumen dan kaidah […]

  • GP Ansor Pati dan Front Nelayan Bersatu Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

    GP Ansor Pati dan Front Nelayan Bersatu Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir

    • calendar_month Sab, 14 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PATI – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pati sumbangkan Sembako senilai jutaan rupiah untuk korban banjir. Aksi dilaksanakan atas kerja sama dengan Paguyuban Nelayan Juwana, yang tergabung dalam Front Nelayan Bersatu (FNB). Bantuan tersebut disalurkan langsung oleh Ketua GP Ansor Pati Abdullah Syafiq kepada NU Peduli di Gedung PCNU setempat, pada Jumat […]

  • Biaya Haji 2025 Turun

    Biaya Haji 2025 Turun

    • calendar_month Sel, 7 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id. – Kabar bahagia datang dari Senayan. Dalam rapat Kementerian Agama RI dengan Komisi VIII DPR-RI, Senin, (26/1) lalu, ke duanya sepakat untuk menurunkan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Semula, BPIH jemaah haji Indonesia 2024 adalah sebesar Rp 93.410.286. Tahun ini atau 1446 H., BPIH  turun empat juta rupiah menjadi Rp 89.410.258. Dari jumlah tersebut, […]

  • PCNU - PATI Ilustrasi (freepik.com)

    Rabiah al-Adawiyah Sang Sufi Pecinta Sejati

    • calendar_month Sab, 30 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 661
    • 0Komentar

    Oleh: Siswanto Rabiah al-Adawiyah adalah seorang sufi wanita yang terkenal dengan kesucian dan kecintaannya kepada Allah. Ia dikenal sebagai seorang sufi yang zuhud dan hanya menghabiskan waktunya untuk beribadah dan bermunajat kepada Allah. Sehingga tidak mengherankan apabila di kemudian hari, ia tumbuh menjadi seorang sufi yang begitu dikenal, disegani, dan dihormati pada masanya. Rabiah al-Adawiyah […]

  • Dua Ranting IPNU IPPNU Adakan Zibar

    Dua Ranting IPNU IPPNU Adakan Zibar

    • calendar_month Sel, 7 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 610
    • 0Komentar

      Para pengurus Rantinf IPNU IPPNU Sukolilo dan Kuwawur melakukan foto bersama di depan makam Syeikh Ahmad Mutamakkin, Kajen setelah berziarah di sana. SUKOLILO – PR IPNU IPPNU Sukolilo bersama dengan PR IPNU IPPNU Kuwawur mengadakan acara “Zibar” (Ziarah Bareng) pada Ahad (5/9). Mereka melakukan ziarah di sejumlah tempat. Diantaranya di  Makam Syekh Ahmad Shodiq, […]

  • PCNU - PATI

    Agil; Tekankan IPNU Inklusif, Produktif, Prestatif, Debat Caketum Putaran II

    • calendar_month Sab, 2 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 332
    • 0Komentar

    Kalsel (01/07/2022) – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) menggelar Debat Calon Ketua Umum Putaran II sebagai rangkaian dari Kongres IPNU XX. Agenda ini dilaksanakan di Ballroom Berlian Hotel Dafam Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sebagaimana hasil verifikasi PP IPNU yang tertuang dalam SK Panitia Kongres XX IPNU Nomor: 042/Kongres/IPNU/XX/2022 tentang Penetapan Calon Ketua […]

expand_less