Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Ada Apa Dengan Tawasul

Ada Apa Dengan Tawasul

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 4 Agu 2019
  • visibility 480
  • comment 0 komentar

Apa itu tawasul dan ada apa dengan tawasul? Sehingga tradisi tawasul yang mendarah daging bagi nahdliyin ini kerap dicap sebagai syirik oleh sebagian pihak. Simak opini dan penjelasan K. Ahmad Suja’i, berikut ini.

tawasul

Salah satu hobi kaum sarungan (santri) adalah ziarah ke para Aulia baik yang masih sugeng maupun yang sudah wafat, inilah salah satu hobi yang oleh sebagian kalangan sering dicap penyebab syirik utama. Kaum sarungan menziarahi para aulia yang mereka sebut dengan istilah “tawassul” penulis pada mulanya tidak mudeng, mengapa tradisi semacam ini selalu dan selalu dilakukan oleh para santri tradisionalis tanpa adanya larangan dari para masyayikh.

Dalam sebuah kamus, penulis mencoba untuk mengurainya, bahwa tawassul identik dengan tawajjuh, isti’anah, istighatsah atau istisyfa’

Tentang difinisi ( ta’rif ) tawassul, al-Imam Hafidz al’Abdari, dalam Syarh al-Qowwim, hal.378, penulis menemukan teks sebagai berikut :

طلب حصول منفعة أو اندفع مضرة من الله بذكر اسم نبي أو ولي إكراما للمتوسل به

Tawassul adalah:”Memohon keberhasilan manfaat atau terhindarnya bahaya dari Allah dengan menyebut asma seorang nabi atau wali, untuk memulyakan keduanya”

Timbul pertanyaan haruskah Allah, hanya untuk mengabulkan permohonan hambanya memerlukan jasa seorang calo ?

Dari seorang Kiai yang penulis hormati, memberikan sedikit pencerahan tentang jawaban dari pertanyaan tersebut. Bahwa; Hukum dunia menetapi hukum kausalitas (sebab akibat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Berhak untuk memasukkan hambanya ke syurga walaupun tanpa sebiji amal kebaikanpun atau sebaliknya Allah Maha Berhak memasukkan hambaNya ke neraka tanpa sebiji dosapun.

Tetapi kenapa kita harus beramal shalih untuk menggapai syurga?

Nah, kedudukan amal shalih di sini adalah al wasilah (media).

Selanjutnya Mbah Kiai tersebut menyarankan untuk merenungkan firman Allah dalam surat al-Baqarah  ayat 45, sebagai berikut :

وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu”

Lalu pernahkah Allah menyarankan kita untuk berwasilah ?

Seorang teman santri mencoba mengutarakan surat Al-Maidah ayat 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ

” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya” 

Simpulannya bahwa untuk bertaqwa kepada Allah kita masih perlu melewati jalan-jalan tertentu, jadi tidak bisa langsung kepada Allah.

“Jadi ini termasuk wasilah, Kang?” tanya penulis

Logikanya bagaimana ?

Allah bisa menyembuhkan seseorang tanpa perlu bantuan seorang dokter. Allah bisa membakar rumah kita tanpa bantuan api. Allah bisa membuat hambaNya kaya raya tanpa bantuan bank yang memberi kredit. Allah bisa membuat kita pandai sepandai-pandainya tanpa kita nongkrong dulu di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Atau bahkan Allah bisa membuat kita kenyang tanpa kita menyantap sepiring nasi. Dan masih banyak contoh yang lain.

Nah, dokter adalah wasilah dalam hal Allah memberikan kesehatan,  api adalah adalah wasilah terbakarnya rumah kita, kredit dari bank adalah wasilah kita untuk menjadi kaya setelah berbisnis, sekolah dan kampus adalah wasilah untuk kita menjadi cendekia.

Jadi yang menyembuhkan adalah Allah, dokter adalah wasilah. Yang membakar adalah Allah, api hanyalah wasilah. Yang membuat kita kaya adalah Allah sedangkan kredit bank hanyalah wasilah. Yang membuat kita pandai adalah Allah sedangkan sekolah dan kampus hanyalah wasilah. Yang membuat kenyang adalah Allah sedangkan sepiring nasi hanyalah wasilah.

Begitu,………..!

Kenyataannya banyak yang berkeyakinan bahwa; makam aulia yang mereka tawasuli adalah yang memberi, bukan Allah Sang Maha Pemberi. Seperti misalnya seorang bertawasul dengan anggapan bahwa obyek tawasul tersebut bisa mengabulkan apa yang dipintanya. Bukankah ini syirik yang nyata?

Mbah Kiyai menjawab sekenanya tetapi dengan logika yang klop;

Memang betul, syirik yang nyata. Sama halnya dengan orang yang berobat ke dokter dengan keyakinan dokterlah sang maha penyembuh, atau orang yang menghamba kepada atasan dengan anggapan atasannyalah sang maha pemberi rizki, atau banyak lagi contohnya.

Tentang tawassul pernahkah Nabi mengajarkan kepada kita ?

Dalam suatu hadits dan hadits ini nyata shohihnya, Nabi pernah mengajarkan kepada seorang buta dengan doa sebagai berikut :

اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمد نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي لتقضى لي

“Ya Allah aku memohon dan memanjatkan doa kepada-Mu, dengan Nabi kami Muhammad, Nabi pembawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku memohon kepada Tuhanku dengan engkau, berkaitan dengan hajatku agar dikabulkan kepadaku”

Banyak muhaditsin yang menuliskan hadits ini dalam karya-karya mereka, seperti Imam Ahmad, at-Turmudzi dan beliau berdua menilai hadits ini hasan shahih.

Hal itu kan terjadi ketika Nabi masih sugeng, kalau sudah wafat bagaimana? sanggah penulis yamg dihantui rasa penasaran.

Dengan tanpa sengaja teka- teki tersebut terjawab oleh seorang santri senior yang sedang mentadris kitabnya. Di sana dijelaskan ketika masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khaththab, terjadi musim paceklik, sahabat Bilal bin Harits al-Muzani RA. mempunyai inisiatif mendatangi makam rasulullah dan berdoa sebagai berikut:

يا رسول الله استسق لامتك فإنهم قد هلكوا

“Hai, Rasulallah, siramilah untuk ummatmu, karena sesungguhnya mereka sungguh telah kerusakan”

Nah,… sampai di sini penulis tidak berani melabelkan “Ahl as-syirik” atas sahabat Bilal RA. yang tidak ada sekuku hitamnya bila dibandingkan dengan para orang-orang yang suka menjuluki sesama saudaranya dengan dengan label “Ahl as-syirik”

Wallahu A’lamu……

Ahmad Suja'i Penulis:
K. Ahmad Suja’i adalah Rois MWC NU. Kec. Jakenan, Pati

*) Setiap tulisan opini yang dimuat dalam rubrik #NUKolom menjadi tanggung jawab penulis.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perayaan HPI Ke-11 : Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Goreskan Tanda Tangan Simbolik Cover Buku Antologi Puisi Penyair Perempuan Indonesia

    Perayaan HPI Ke-11 : Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Goreskan Tanda Tangan Simbolik Cover Buku Antologi Puisi Penyair Perempuan Indonesia

    • calendar_month Jum, 28 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Jakarta, Kamis malam, 27/7/2023,-Pada Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) Ke-11 tahun (sesi pertama) yang berlangsung di Teater Kecil, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu sore, 26 Juli 2023 mulai pukul 15.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB. Penyair dan Sastrawan Pulo Lasman Simanjuntak (62 tahun) dipanggil oleh protokol (MC) acara HPI ke-11 […]

  • NU dan Peran Sosial-Keagamaan

    NU dan Peran Sosial-Keagamaan

    • calendar_month Sab, 15 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 973
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Dalam menghadapi tantangan globalisasi dan kenyataan sosial yang semakin berkembang pesat, Nahdlatul Ulama (NU) perlu berperan secara efektif dan optimal dalam menjalankan berbagai fungsinya. Sebagai organisasi yang memiliki sejarah panjang dan pengaruh besar di Indonesia, NU harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang sudah terbentuk. Globalisasi yang […]

  • Cetak Wirausahawan Baru, PC Fatayat Gelar Pelatihan Pengolahan Bandeng

    Cetak Wirausahawan Baru, PC Fatayat Gelar Pelatihan Pengolahan Bandeng

    • calendar_month Rab, 28 Okt 2020
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

    PATI – PC Fatayat NU Kabupaten Pati menyelenggarakan pelatihan untuk mensukseskan program tenaga kerja mandiri dari Kementrian Tenaga Kerja yang berlangsung selama tiga hari (26-28/10/2020) di kantor PCNU Kabupaten Pati. Rabu, (28/10/2020) Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Pati Asmonah Yusuf, M.Pd menyampaikan, pelatihan yang diselenggarakan merupakan pembekalan penciptaan wirausaha baru melalui usaha olahan bahan makanan dari […]

  • PCNU-PATI

    MA Salafiyah Kajen Gelar Unjuk Kinerja dan Kreativitas Peserta Didik

    • calendar_month Rab, 21 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Peserta didik MA Salafiyah Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, gelar unjuk kinerja dan kreativitas dengan menampilkan silat Pagar Nusa, Karya Ilmiah, riset, bahasa Arab, bahasa Inggris, baca Kitab, tata boga, tahfiz, pramuka, dan puisi.  Kegiatan dilaksanakan setelah Penilai Akhir Tahun (PAT) semester genap tahun ajaran 2022/2023 selama sembilan hari mulai tanggal 12-21 Juni 2023 […]

  • KH. Abdul Ghoffar Rozin

    KH. Abdul Ghoffar Rozin

    • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 677
    • 0Komentar

    Oleh : Dr. Jamal Makmur KH. Abdul Ghoffar Rozin yang akrab disapa Gus Rozin adalah buah hati dari KH. MA. Sahal Mahfudh dan Ibu Nyai Hj. Dra. Nafisah Sahal. Sejak kecil ia ditempa dalam keluarga yang mencintai ilmu dan perjuangan. KH MA Sahal Mahfudh adalah tokoh puncak di dua organisasi besar, yaitu NU dan MUI. […]

  • Memandang Indonesia Saat Ini

    Memandang Indonesia Saat Ini

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Pati. Para Dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah guna mempertajam wawasan dan pola pikir agar lebih maju dan berkembang. Maka pada kesempatan kali ini menghadirkan Dr. M. Imdadun Rahmat Ketua LAKSPEDAM NU pusat untuk mendiskusikan isu-isu terkini yang berada di Indonesia,kemarin. Moderatisme adalah masa depan politik Islam Indonesia. Moderatisme dalam politik meniscayakan power sharing (pembagian kekuasaan, […]

expand_less