Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa dari Media Sosial

Puasa dari Media Sosial

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 7 Mar 2025
  • visibility 182
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda*

 

Puasa kok puasa media sosial iki piye maksude leh? Ya, jika dilogikakan, puasa Ramadan itu bermakna luas, makro, bukan mikro. Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita. Namun, konsumsi media sosial yang berlebihan dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan produktivitas kita. Oleh karena itu, puasa dari media sosial atau detoksifikasi digital dapat menjadi solusi untuk mengembalikan keseimbangan hidup kita.

 

Media sosial kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya platform media sosial baru yang bermunculan. Di Indonesia, ketergantungan terhadap media sosial bahkan sudah mencapai tingkat yang cukup tinggi, dengan banyak orang menghabiskan waktu luang mereka untuk berselancar di dunia maya.

 

Data penggunaan media sosial pada tahun 2024, berikut beberapa statistik yang mencolok. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia tercatat sebanyak 191 juta orang, yang setara dengan 73,7% dari total populasi. Sementara itu, pengguna aktif mencapai 167 juta orang (64,3% dari populasi), dan total penetrasi internet tercatat mencapai 242 juta orang (93,4% dari populasi). Adapun platform media sosial yang paling banyak digunakan adalah YouTube, dengan 139 juta pengguna (53,8% dari populasi), disusul oleh Instagram dengan 122 juta pengguna (47,3%), Facebook dengan 118 juta pengguna (45,9%), WhatsApp dengan 116 juta pengguna (45,2%), dan TikTok dengan 89 juta pengguna (34,7%).

 

Dari segi demografi, pengguna media sosial di Indonesia didominasi oleh individu yang berusia antara 18 hingga 34 tahun (54,1%), dengan jumlah pengguna perempuan sedikit lebih banyak (51,3%) dibandingkan laki-laki (48,7%). Rata-rata, masyarakat Indonesia menghabiskan waktu sekitar 3 jam 14 menit per hari untuk mengakses media sosial, dengan 81% di antaranya mengaksesnya setiap hari. Aktivitas yang paling sering dilakukan oleh pengguna meliputi berbagi foto dan video (81%), berkomunikasi (79%), mengikuti berita dan informasi (73%), hiburan (68%), serta berbelanja online (61%) (Panggabean, 2024).

 

Data di atas sangat “ngeri” sekali. Padahal, puasa itu harusnya mendekatkan diri pada Allah, bukan malah sibuk dolanan hape. Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum penyucian diri dari segala hal yang berlebihan, termasuk konsumsi media sosial. Dalam era digital ini, media sosial telah menjadi bagian dari keseharian yang sulit dilepaskan. Namun, penggunaan yang tidak terkendali dapat mengikis waktu produktif, menurunkan kualitas ibadah, dan bahkan menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental. Oleh karena itu, puasa dari media sosial bisa menjadi langkah bijak untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan.

 

Mengapa Perlu Berpuasa dari Media Sosial?

Puasa dari media sosial bukan berarti harus sepenuhnya menghilang dari platform tersebut. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan dan menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan teknologi. Jika ditanya, apa sih pentingnya berpuasa dari media sosial?

 

Pertama, meningkatkan fokus ibadah. Kadang ya judeg, masak ya dolanan hape wae. Realitasnya, media sosial sering kali menjadi distraksi utama dalam menjalankan ibadah. Dengan mengurangi akses ke platform digital, kita dapat lebih khusyuk dalam shalat, tadarus Al-Qur’an, dan refleksi diri selama Ramadan. Dengan mengurangi waktu yang dihabiskan di media sosial, kita memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan, belajar, atau kegiatan lain yang lebih bermanfaat.

 

Kedua, menjaga kesehatan mental. Berita hoaks, perdebatan tidak produktif, serta tekanan sosial di dunia maya dapat menimbulkan stres dan kecemasan. Puasa dari media sosial memberikan kesempatan untuk lebih tenang dan menikmati momen tanpa gangguan.

 

Ketiga, meningkatkan kualitas hubungan sosial. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk mempererat hubungan dengan keluarga dan teman-teman secara langsung, tanpa terganggu oleh layar ponsel. Interaksi nyata jauh lebih bermakna dibandingkan sekadar like dan komentar di dunia maya. Terlalu fokus pada media sosial dapat mengurangi interaksi kita dengan orang-orang di sekitar. Puasa dari media sosial dapat membantu kita lebih hadir dalam kehidupan nyata dan mempererat hubungan dengan keluarga dan teman.

 

Keempat, mengurangi stres dan kecemasan. Terlalu banyak informasi dan perbandingan sosial di media sosial dapat memicu stres dan kecemasan. Puasa dari media sosial dapat membantu mengurangi perasaan negatif tersebut.

 

Kelima, meningkatkan kualitas tidur. Cahaya biru yang dipancarkan oleh layar perangkat elektronik dapat mengganggu kualitas tidur. Dengan mengurangi penggunaan media sosial sebelum tidur, kita bisa tidur lebih nyenyak dan bangun lebih segar.

 

Keenam, meningkatkan rasa syukur dan kebahagiaan. Media sosial seringkali menampilkan kehidupan orang lain yang tampak sempurna, sehingga kita cenderung membandingkan diri dan merasa tidak puas dengan hidup kita sendiri. Puasa dari media sosial dapat membantu kita lebih menghargai apa yang kita miliki dan merasa lebih bahagia.

 

Strategi Mengurangi Konsumsi Medsos

Beragam cara atau strategi bisa kita coba untuk mengurangi konsumsi media sosial. Pertama, tetapkan batasan waktu. Ini sama seperti saya menerapkannya pada anak saa. Batasi waktu yang Anda habiskan di media sosial setiap hari. Anda bisa menggunakan aplikasi atau fitur bawaan di ponsel untuk membantu Anda melacak dan mengatur waktu penggunaan.

 

Kedua, hapus aplikasi yang tidak perlu. Ngebak-ngebaki file. Jika ada aplikasi media sosial yang sering Anda buka tanpa tujuan yang jelas, hapus saja aplikasi tersebut dari ponsel Anda.

 

Ketiga, cari kegiatan alternatif. Gantikan waktu yang biasa Anda habiskan di media sosial dengan kegiatan lain yang lebih bermanfaat dan menyenangkan, seperti membaca buku, berolahraga, atau menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman.

 

Keempat, jadwalkan waktu khusus untuk media sosial. Jika Anda tidak bisa sepenuhnya menghindari media sosial, jadwalkan waktu khusus setiap hari untuk membuka media sosial. Dengan begitu, Anda bisa lebih mengontrol waktu yang Anda habiskan di platform tersebut.

 

Kelima, matikan notifikasi. Notifikasi dari media sosial dapat mengganggu konsentrasi dan memicu keinginan untuk terus membuka aplikasi. Matikan notifikasi agar Anda tidak tergoda untuk terus melihat ponsel.

 

Puasa dari media sosial adalah tentang menemukan keseimbangan yang tepat antara dunia digital dan dunia nyata. Dengan mengurangi konsumsi media sosial yang berlebihan, kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup dan meningkatkan kesejahteraan mental kita.

 

Dengan mengurangi konsumsi media sosial selama Ramadan, kita bisa lebih fokus pada hal-hal yang benar-benar bermakna. Momen ini adalah kesempatan emas untuk membersihkan hati, memperbaiki diri, dan memperdalam hubungan dengan Allah serta sesama manusia. Puasa dari media sosial bukan berarti anti-teknologi, melainkan upaya untuk menggunakan teknologi secara lebih bijak dan sadar.

 

Mari jadikan Ramadan ini lebih bermakna dengan mengendalikan diri, termasuk dalam dunia digital. Jika kita mampu berpuasa dari makanan dan minuman, mengapa tidak mencoba berpuasa dari media sosial?

 

*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Daniel J. Schwarz

    Biksu Menabung untuk Menerbitkan Tao Te Ching

    • calendar_month Sen, 5 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Sebuah kisah menarik dari legenda Jepang. Konon ada seorang biksu yang tertarik menerjemah dan menerbitkan buku Tao Te Ching ke dalam bahasanya. Sembari menerjemah ia menabung untuk menerbitkannya kelak. Kurang lebih 10 tahun ia berhasil mengumpulkan dana yang kira-kira cukup untuk menerbitkan hasil terjemahannya itu. Ketika siap mencetak bukunya tiba-tiba […]

  • Menolak Diskriminasi Wanita

    Menolak Diskriminasi Wanita

    • calendar_month Sen, 11 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikhah* Masuk pada pembahasan tentang Perempuan dan tuntutan hak-hak mereka. Hadist dari Umu Salamah RA berkata, “Wahai Rasulullah: Saya tidak pernah mendengar Allah menyebutkan secara jelas perempuan didalam hijrah. Maka Allah menurunkan sebuah ayat: “Aku tidak menyia-nyiakan amal setiap orang diantara kalian baik laki-laki maupun perempuan. Sebagian dari kalian adalah bagian yang […]

  • NU Trangkil, Wanita Haidh Boleh Baca Qur’an dengan Syarat

    NU Trangkil, Wanita Haidh Boleh Baca Qur’an dengan Syarat

    • calendar_month Jum, 1 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 142
    • 0Komentar

    Suasana Bahtsul masail MWCNU Trangkil di Masjid Sirojul Anam, Wonokerto, Pasucen TRANGKIL – MWC NU Kecamatan Trangkil melaksanakan Bahstul Masa’il, Jumat (1/10) siang tadi. Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Masjid Sirojul Anam Wonokerto, Pasucen tersebut menghasilkan satu hukum fikih yang cukup bermanfaat bagi kehidupan masyarakat khususnya para penghafal al-Qur’an.  “Forum ilmiah ini menjadi rutinan kita,” […]

  • Kirab Budaya NU

    Kirab Budaya NU

    • calendar_month Sel, 19 Des 2017
    • account_circle admin
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Pati. Panji-panji NU dikibarkan di tengah kondisi kebangsaan yang terus digerus isu perpecahan. Para santri mendukung kiprah NU untuk berada di garda terdepan mengawal keutuhan NKRI. Ratusan santri Pondok Pesantren Roudhotul Tholibin mengibarkan panji-panji Nahdlatul Ulama (NU) saat menggelar kirab budaya dengan mengelilingi Desa Trimulyo, Kayen, 11/12/2017, kemarin. Terlebih, kelompok garis keras yang mengatasnamakan Islam […]

  • Ketua Ma'arif Jateng: Alhamdulillah, Dana Bos Madrasah Urung Dipangkas

    Ketua Ma’arif Jateng: Alhamdulillah, Dana Bos Madrasah Urung Dipangkas

    • calendar_month Jum, 14 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 128
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Semarang – Ketua Ma’arif Jateng, Fakhrudin Karmani menyatakan, dana BOS Madrasah tidak jadi dipotong. “Alhamdulillah, Juknis sudah keluar, BOS tidak jadi dipotong!” tegasnya saat penutupan Diklat Pelatihan Penguatan Kompetensi Kepala Madrasah, di Balai Diklat Keagamaan Semarang, Jumat (14/3/2025). Untuk diketahui, sebelumnya beredar surat dari Kementerian Agama, tentang tindak lanjut efisiensi rekonstruksi belanja Ditjen Pendidikan […]

  • Rakerdin, Ketua PWNU Gus Rozin Sebut SDM Guru Ma’arif Harus Berkualitas

    Rakerdin, Ketua PWNU Gus Rozin Sebut SDM Guru Ma’arif Harus Berkualitas

    • calendar_month Sen, 20 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 162
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Kudus – Lembaga Pendidikan Ma`arif NU PWNU Jawa Tengah pada Minggu (19/1/2025) menggelar kegiatan Rapat Kerja Dinas (Rakerdin) Zona 1 di Kabupaten Kudus. Rakerdin dihadiri 557 Kepala satuan pendidikan Ma`arif NU dari Cabang Kudus dan Jepara. Hadir dalam kegiatan tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. Abu Rohmad, Wakil Sekretaris LP Ma’arif NU PBNU, […]

expand_less