Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU dan Kesadaran Kebangsaan dalam Pluralitas Bernegara

NU dan Kesadaran Kebangsaan dalam Pluralitas Bernegara

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 24 Jun 2023
  • visibility 414
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada 31 Januari 1926 lahir dari gagasan sejumlah kiai pesantren yang tersebar di Pulai Jawa-Madura. Paling tidak, ada dua sosok kunci yang berjasa dalam tumbuh-kembangnya NU, yakni Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Jika KH. Wahab sebagai penggerak organisatornya, maka Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari  sebagai gurunya dan sekaligus sebagai legitimator-konseptornya.  Duet ulama besar ini memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam kehidupan beragama sekaligus bernegara, baik di dalam negeri bahkan juga hingga kancah internasional.

Selain itu, meskipun kedua ulama tersohor di atas berdomisili di daerah pelosok, yaitu di padepokan pesantren Tebuireng Jombang, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari memiliki perhatian penuh terhadap perkembangan sosio-politik yang sedang berlangsung di negera yang sedang berada di bawah cengkeraman pemerintah kolonial.

Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari mendirikan dan memimpin organisasi sosial kemasyarakatan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah perjuangan keagamaan sekaligus kebangsaan secara bersamaan. Sehingga moderasi bergama dan bernegara sangat tampak dominan dalam pemikiran Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari., saat beliau memimpin NU. Di satu sisi beliau juga peduli dengan keadaan bangsa yang pada waktu itu masih terjadi peperangan, sehingga beliau menyerukan persatuan dan menyalakan semangat juang melawan penjajah, di satu sisi yang lain, beliau mengingatkan dan menekankan, bahwa persoalan-persoalan parsial dalam ajaran-ajaran keagamaan jangan sampai memecah belah umat Islam.

Oleh karena itu, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari menganjurkan agar umat Islam bermasyarakat dan berbaur, karena setiap orang tidak dapat memenuhi kebutuhanya sendiri. Bagi Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari, “Persatuan keterikatan satu hati dengan yang lainnya, kebersamaannya dalam satu perkara dan kesatupaduan dalam satu kata merupakan sarana terpenting menuju kebahagiaan dan kasih sayang.”

Menurut Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari, “perpecahan merupakan penyebab kelemahan dan kerusakan”, dengan demikian “bekerjasama merupakan pusat sistem kehidupan berbangsa.” Selaras dengan pendapat madzhab Syafi’i, Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari menyatakan bahwa negara Indonesia bukanlah merupakan negara yang harus diperangi (dâr al-harb), dan bukan juga merupakan negara Islam (dâr al-islâm), tetapi Indonesia ini adalah negara sanggah atau damai (dâr al-shulh).

Berdasarkan pernyataan Hadhratu Syaikh Hasyim Asy’ari yang disarikan dari pendapat madzhab Syafi’i kita dapat memahami bahwa suatu negara yang tidak memerangi Islam dan menerapkan hukum dengan tetap berpegangan pada nilai-nilai Islam serta tidak membatasi gerak umat Islam dalam menjalankan praktik-praktik ritual peribadatannya maka itu berarti adalah negara damai yang secara otomatis harus dibela dan dipertahankan dengan segenap jiwa dan raga.

Sedangkan menurut KH. Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Gus Dur, menyatakan bahwa hubungan antara agama dengan negara dalam sejarahnya tidaklah sama. Namun sejarah juga telah membuktikan bahwa negera berperan penting dalam mendukung dan mendorong dinamika kehidupan beragama.

Sebaliknya, agama juga berperan penting dalam menciptakan dan mendorong pembangunan etika kehidupan bernegara. Walaupun demikian, negara tidak harus berbentuk agama tertentu, termasuk agama Islam, yang terpenting ada keserasian dengan agama Islam. Dengan demikian, prinsip saling menghormati menjadi dasar utama keberlangsungan negara ini.

Penghormatan terhadap pluralitas dan kerjasama antara agama juga tampak ketika para pendiri negara sedang merumuskan Pancasila. Mereka yang mayoritas Muslim memiliki sikap yang terbuka dan lapang dada untuk dapat saling menghargai dan menghormati keyakinan agama lain. Fenomena ini, menjadi bukti sejarah pendirian negara Indonesia yang sangat otentik dan tidak terbantahkan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah final dan tidak bisa diganggu gugat lagi.

Prinsip penghormatan terhadap agama lain menjadi agenda Gus Dur untuk memperkokoh NKRI. Pemikiran ini dapat kita lacak ketika Gus Dur menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Gus Dur tidak hanya melakukan reformasi di tubuh PBNU, tetapi juga bersama KH. Ahmad Siddiq melakukan transformasi proses pemahaman bahwa Pancasila adalah titik kompromi yang sudah tepat dan final dalam membangun tata kehidupan yang majemuk dan beragam di Indonesia. Gagasan besar mengenai relasi agama dan negara ini dapat ditelaah dari gagasan “kebangsaan” dan “NU kembali ke Khittah” yang kemudian disahkan pada Muktamar NU di Situbondo tahun 1984. Dalam konteks ini, NU menjadi organisasi sosial keagamaan pertama yang menerima ideologi Pancasila sebagai asas tunggalnya.

Dalam hal ini Gus Dur menyatakan “Dalam konteks politik Islam mutakhir, rumusan tersebut (relasi agama dan negara, pen.) sudah dirumuskan secara formal oleh Nahdlatul Ulama dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo tahun 1983 setahun sebelum Muktamar berlangsung. Dikatakan bahwa Pancasila adalah asas dari Nahdlatul Ulama sedangankan Islam adalah akidahnya.”

Menurut Gus Dur, Islam tidak mewajibkan pendirian negara agama, tetapi yang dibicarakan justru tentang manusia secara keseluruhan, yang tidak memiliki sifat memaksa, yang terdapat dalam setiap negara. Islam cukup menjadi mata air yang mengairi Pancasila dengan nilai-nilai luhur agama dan budaya bangsa, sehingga Islam bisa bersatu dengan kearifan budaya bangsa. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa agama dan budaya menjadi entitas yang membentuk ideologi negara berupa Pancasila.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pingin Syahid kok Pakai Syahwat. Photo by Everton Vila on Unsplash.

    Pingin Syahid kok Pakai Syahwat

    • calendar_month Kam, 8 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 407
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Agama mana yang memperbolehkan pertumpahan darah sebagai media syiar? Pertanyaan ini tampak klise, tapi nyatanya hingga sekarang, masih banyak kekerasan atas nama agama. Syi’ar katanya! Memusuhi para pembangkang agama. Lantas seperti apa kriteria pembangkang yang dimaksud? Apa itu thaghut? Apakah semua kafir layak dibunuh? Semua serba abu-abu. Aksi terorisme dengan kedok […]

  • Sambil Manaqiban, NU Jatisari Jakenan Adakan Musyawarah Ranting

    Sambil Manaqiban, NU Jatisari Jakenan Adakan Musyawarah Ranting

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

    JAKENAN – Secara kultural dan jamaah, Nahdlatul Ulama telah mengakar kuat di berbagai desa di Jakenan. Termasuk di Ranting NU Desa Jatisari. Sehingga tidak mengherankan jika kemudian terjadi Musyawarah Ranting untuk membentuk kepengurusan baru yang dilaksanakan berbarengan dengan acara manaqiban rutin. Ranting NU Desa Jatisari Kecamatan Jakenan, Selasa (10/9/2019) berhasil menggelar Musyawarah Ranting dan menyusun […]

  • PCNU PATI - Eratkan Silaturahmi, PAC IPNU IPPNU Cluwak Gelar Pertemuan Triwulan

    Eratkan Silaturahmi, PAC IPNU IPPNU Cluwak Gelar Pertemuan Triwulan

    • calendar_month Rab, 20 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 415
    • 0Komentar

    CLUWAK – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Cluwak melaksanakan pertemuan Triwulan di Gedung Muslimat Payak Tengah pada Ahad (17/4/2022). Ketua PAC IPNU Kecamatan Cluwak, Abdul Majid mengatakan forum triwulan digelar untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota IPNU-IPPNU se-Kecamatan Cluwak, baik dari tingkat Pimpinan […]

  • MTs Banin Gelar Beragam Acara untuk Peringati HUT

    MTs Banin Gelar Beragam Acara untuk Peringati HUT

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 560
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-60 MTs Tarbiyatul Banin Madrasah Tahfidz & Sains Boarding School Pekalongan Winong Pati, menggelar ajang kompetisi bergengsi Banin Olympiad of Science and Sholawat tingkat nasional. Acara ini ditujukan untuk siswa SD/MI di berbagai belahan wilayah se-Indonesia. Selain itu, Geliat Harlah ke-60 MTs Tarbiyatul Banin ini bertujuan […]

  • PC GP Ansor Pati Ikuti Apel Kebangsaan Virtual

    PC GP Ansor Pati Ikuti Apel Kebangsaan Virtual

    • calendar_month Ming, 29 Nov 2020
    • account_circle admin
    • visibility 359
    • 0Komentar

    PATI –  PC GP Ansor Pati bertempat di kantor PCNU Pati mengikuti Apel Kebangsaan yang digelar secara virtual oleh Pimpinan Pusat GP Ansor dipimpin langsung oleh Gus Yaqut Cholil Qoumas. Ahad, (29/11/2020) Dalam sambutannya, Gus Yaqut menyampaikan bahwa GP Ansor selalu di depan dalam masalah – masalah kebangsaan dan siap berpartisipasi dalam keamanan dengan membantu […]

  • PCNU-PATI

    Haji

    • calendar_month Rab, 28 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 759
    • 0Komentar

    Oleh: Niam At Majha Seorang teman yang pada tahun ini menyempurnakan rukun Islam ke lima yaitu ibadah haji. Sebelum berangkat tasyakuran telah dilaksanakan, menerima sumbangan baik gula atau jajanan dari tetangga, saudara, kolega kerja teman sebaya sudah diterimanya. Efuria tentang musim haji telah menghiasi berbagai lini. Karena menurut sebagian teman saya berhaji bukan lagi menjadi […]

expand_less