Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU dan Nasionalisme Kebangsaan

NU dan Nasionalisme Kebangsaan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 13 Mei 2023
  • visibility 477
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Di tengah arus gerakan formalisasi syariat Islam pada era reformasi, Nahdlatul Ulama (NU) yang kita kenal membuat ketetapan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk final dari sistem kebangsaan di negri ini. Hal ini, sebagaimana telah ditetapkan dalam Muktamar NU ke-31 di Boyolali dan Solo 2004 tentang tausyiah Muktamar di bidang politik nasional yang berbunyai.

“Dalam situasi sekarang penguatan komitmen kebangsaan tidak bisa dijalankan dengan cara paksaan apalagi dengan cara kekerasan, tetapi perlu strategi kebudayaan baru untuk menata hubungan sosial dan hubungan antar bangsa berdasarkan kesetaraan dan kesukarelaan, sehingga solidaritas sosial dan solidaritas kebangsaan bisa diwujudkan. Bagi warga Nhdliyin serta NKRI sebagai bentuk final dari sistem kebangsaan.”    

Oleh sebab itu, NU berupaya untuk mengukuhkan Kembali komitmen kebangsaan yang muali pudar diakibatkan oleh situasi krisis dan semangat reformasi yang berlebihan. Situasi dan kondisi tersebut tidak hanya mengakibatkan hilangnya integritas bangsa dengan munculnya gerakan federalisme,bahkan sampai gerakan separatisme yang mengancam NKRI.

Selain itu, gerakan tersebut juga menghanjurkan struktur sosial yang sudah mapan dan merusak relasi sosial, kemudian memunculkan rasa saling curiga dan saling membenci yang berujung pada terjadinya konflik sosial di masyarakat.

Sementara itu,pada sisi lain muncul problem filosofis yang kita hadapi hari ini adalah masih kaburnya dan belum kunjung jernihnya memposisikan dua terminologi yang sesungguhnya berbeda, namun cenderung kita anggap sama. Dan terminologi yang dimaksud adalah bangsa dan negara.

Secara terminologi dua istilah tersebut sesungguhnya jika kita renungkan memiliki makna yang berbeda. Karena bangsa adalah sebuah kelompok masyarakat yang terikat sebab memiliki rasa kesamaan antara satu dengan yang lain. Sementara negara adalah organisasi pada sebuah wilayah yang memiliki supremasi tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.  Jika istilah pertama merujuk pada rasa maka istilah kedua lebih bernuansa administrative dan legal formal.

Oleh sebab itu,penjelasan kedua istilah tersebut akan berguna bagi kita untuk menjawab pertanyaan mengenai Indonesia sebagai sebuah negara yang kita kenal sampai hari ini. Dan siapakah sesungguhnya yang melahirkan sert yang membidaninya? Jawabannya tentu saja bukan bangsa Indonesia, melainkan jawaban yang tepat adalah bangsa Jawa, Maluku, Sumatra, kalimatan, dan semua ras lainnya yang bersemangat serta memiliki kesamaan nasib yang kala itu ingin terbebas dari penjajahan. Sehingga semua ras tersebut meminjam istilahnya sejarawan Agus Sunyoto dapat diringkas dalam kata, yakni bangsa Nusantara.

Dengan demikian, dalam perjalanannya melahirkan Indonesia, dan penetapan Pancasila sebagai dasar negara merupakan suatu modal yang sangat penting sebagai tunggak sejarah bangsa sekaligus sebagai bentuk menjaga keanekaragaman budaya, adat-istiadat, ras, agama dan golongan yang begitu plural.

Maka, dalam konteks ini, NU dengan ormas terbesar di Indonesia sudah saatnya kembali menampilkan karakter Islam Indonesia. Dimana sebelumnya sudah dipraktikkan oleh para founding fanthers kita.

Oleh karena itu, agar corak Islam keindonesiaan tetap terjaga dan tetap eksis. Maka, cara berfikir NU untuk mempertahankan tradisi tidak lain adalah menjaga warisan leluhur yang telah mengembangkan Islam sambal terus melakukan perubahan yang lebih baik.

Dalamhal ini, kaidah yang sering kita dan akrab di kalangan Nahdliyin yaitu ‘mempertahankan warisan lama yang masih baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik dan relevan’ (almuhafazhatu ‘ala qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah). Inilah yang menjadi fondasi NU tetap mempertahankan tradisi meski tetap melahirkan sesuatu yang baru.        

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

    Pernyataan Ketum PBNU Terkait Pilpres 2014

    • calendar_month Sel, 10 Jun 2014
    • account_circle admin
    • visibility 462
    • 0Komentar

    NU–Online. NU merupakan jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah, organisasi masyarakat keagamaan. Sejak awal didirikan oleh para Kyai, NU mengemban tugas besar menjaga, merawat, dan mengembangkan ajaran Islam ala Ahlissunnah wal Jama’ah di bumi Nusantara. Karenanya sudah teramat jelas bahwa NU tidak bertujuan meraih kekuasaan politik. Kalaupun harus menyebut istilah politik, maka politik NU adalah politik kebangsaan dan […]

  • PENGUATAN KADER, PENDIDIK SEBAYA  (LELAKI BERESIKO TINGGI DAN PEKERJA SEKS) HIV&AIDS.

    PENGUATAN KADER, PENDIDIK SEBAYA (LELAKI BERESIKO TINGGI DAN PEKERJA SEKS) HIV&AIDS.

    • calendar_month Sel, 27 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Peran dan keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan Progam Pencegahan dan Penanggulangan  HIV& AIDS di Kabupaten Pati secara promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative yang berkesinambungan dapat mempertajam kepekaan dan tindakan terhadap kasus HIV-AIDS sejak dini oleh masyarakat . Menindaklanjuti hal tersebut diatas KPA Kabupaten Pati mengoptimalkan  koordinasi  penguatan progam pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS KPA Kab. Pati dengan […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi Menikah Tepat dan Akurat. Photo by Jeremy Wong Weddings on Unsplash.

    Menikah Tepat dan Akurat

    • calendar_month Jum, 22 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 558
    • 0Komentar

    Menikah muda, bahagia di saat malam pertama, setelahnya dilema. Menikah di usia dini saat ini telah menyebar masif dikalangan masyarakat. Dalihnya supaya tak menimbulkan fitnah dan uh ah, selanjutnya terjadilah penambahan populasi manusia, tanpa harus sah. Namun sepertinya menikah di usia belia bisa jadi hanya untuk topeng semata, atau memang secara sengaja dilakukan untuk segera […]

  • Kabar Duka, Pentolan Ruqyah Aswaja Jateng Wafat

    Kabar Duka, Pentolan Ruqyah Aswaja Jateng Wafat

    • calendar_month Kam, 15 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 637
    • 0Komentar

    Ali Shodiqun, ketua PW JRA Jawa Tengah KOTA-M. Ali Shodiqun, Ketua Pengurus Wilayah Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) Jawa Tengah tutup usia hari ini, Kamis (15/7). Kabar duka meninggalnya dalah satu organisasi di bawah Lembaga Dakwah NU ini awalnya menyebar melalui grup Whatsapp.  Informasi ini telah dikonfirmasi kebenarannya oleh ketua PC JRA Pati, M. Shofiyullah. Ia […]

  • Jika Kematian Menjadi Impian

    Jika Kematian Menjadi Impian

    • calendar_month Kam, 22 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 562
    • 0Komentar

    Kehidupan dan kematian adalah kepastian dan titah Allah bagi semua umat manusia di dunia ini. Kematian merupakan misteri dan momok bagi kebanyakan orang. Tak jarang dari mereka yang lari ketakutan dengan berbagai alasan karena menghindari kematian. Benarkah kematian itu menakutkan, atau justru kematian adalah kenikmatan?Buku karya Prof. Dr. M. Qurasy Shihab ini menjelaskan tentang hakikat hidup […]

  • Melacak Nasionalisme KH Maimun Zubair

    Melacak Nasionalisme KH Maimun Zubair

    • calendar_month Ming, 18 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 593
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani* Foto : Zahir Media Hari ini, Sabtu, 17 Agustus 2019 – 16 Dzulhijjah 1440 adalah Hari kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 74. Usia yang tidak muda lagi untuk ukuran manusia. Diharapkan di usia 74 ini, Indonesia semakin matang demokrasinya, nasionalismenya, Dan mampu menegakkan sila ke 5 Pancasila, yaitu keadilan sosial bagi […]

expand_less