Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Nur Sa’id Sosok Kyai Penebar Manfaat

Nur Sa’id Sosok Kyai Penebar Manfaat

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 17 Mar 2023
  • visibility 509
  • comment 0 komentar

Oleh : Zahra Aulia Nifatun Khasanah/Faiz Fikril Abror, M.Hum

KH. Nur Sa’id adalah tokoh agama masyarakat dan Ulama di daerah Pati Kidul. Sosok yang dikenal di masyarakat, terutama masyarakat Mojolawaran dan Kuryokalangan. Beliau lahir pada tahun 1936 di Desa Sundoluhur Kecamatan Kayen Kabupaten Pati dari pasangan Bapak Sujono dan Ibu Muzariah. Beliau memiliki 6 saudara tepatnya beliau anak sulung.

Nama kecil beliau adalah Slamet, Adapun Nur Sa’id adalah pemberian dari KH. Abdullah Siddiq Nawawie yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sendang Senori dimana KH. Nur Sa’id mondok. KH. Ali Badruddin, putra sulung beliau, menuturkan bahwasanya KH. Nur Sa’id pernah mengatakan nama Slamet bagus, namun untuk seorang kyai kesannya kurang bagus. KH. Nur Sa’id adalah pendiri PPMT An-Nur.

Kejadian Yang Mengubah Hidup / Motivasi.

Sebelum merintis pesantren An-Nur, KH. Nur Sa’id mengawali tholabul Ilmi-nya dengan mengaji al-Qur’an kepada K. Masrum di Dukuh Mpelang. Kemudian ke pesantren Roudhotut Tholibin asuhan KH. Zuhdi Malangan Trimulyo-Kayen. Suka duka pernah beliau lewati mulai mengurus bebek hingga menjadi badal KH. Zuhdi.

Beliau pernah kehilangan semua bajunya saat di pesantren. Saat mengadukan kepada KH. Zuhdi, beliau diminta bertawassul dengan membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Belum selesai manaqib dibaca baju-baju beliau ditemukan dalam keadaan utuh. Semenjak nyantri di Malangan, beliau terbiasa tirakat dengan berpuasa sunnah, sholat malam hingga membaca Aurod-aurod. Beliau juga memperdalam ilmu hikmah di Kirig, di bawah asuhan KH. Yasyhadi Nasran. Kemudian ketika bulan Ramadhan tiba, beliau nyantri Pasanan di Jekulo asuhan Hadrotus Syaikh KH. Yasin.

Beliau kemudian melanjutkan tholabul ilmi-nya di ponpes Mambaul Ulum asuhan KH. Abdullah Siddiq Nawawie kurang lebih 4 tahun. Saat akan mondok di Sendang Senori, sebenarnya ibunda beliau, Ibu Muzariah merasa berat hati untuk melepas putranya merantau jauh. Namun karena melihat ketekunan dalam belajar dan tirakatnya akhirnya ibundanya merelakan KH. Nur Sa’id untuk mondok.

Pada tahun 1965 tepatnya setelah selesai mondok dari Sendang Senori KH. Nur Sa’id melabuhkan hatinya kepada seorang perempuan bernama Siti Aminatun.

Melalui perkawinan tersebut beliau dikaruniai 8 orang anak yaitu, Sa’dullah, Ali Badruddin Sa’id, Mudrikah, Masmu’ah, Syamsuddin, Umi Nafia’ah, Ulin Nuha, dan Agus Qomaruddin. Namun untuk Sa’dullah telah meninggal terlebih dahulu ketika masih berusia seminggu.

Mengenai sosok Ibu Siti Aminatun, Gus Ulin (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id) menuturkan bahwa beliau adalah sosok ibu yang sangat mencintai anak-anaknya. Ketika KH. Nur Sa’id hendak menjual rumah agar dapat mengajak istrinya tersebut menunaikan Ibadah Haji bersama, Ibu Siti Aminatun tidak mengiyakan ajakan suaminya  tersebut. Karena masih memikirkan anak-anak. Apabila berangkat haji bersama maka siapa yang akan mengurus anak-anak. Nanti anak-anak tinggal dimana. Sungguh sosok ibu yang mencintai anak-anaknya.

Prestasi.

KH. Nur Sa’id mendirikan Pondok Pesantren An-Nur pada tahun 1980 dan diresmikan pada tahun 1982. Setelah diresmikan beliau mendapat tanggung jawab dari KH. Hamid Pasuruan untuk membangun bangunan ponpes karena dulu pondoknya masih di menjadi satu dengan rumah kyainya. Waktu itu sekitar lima belas santri. Sehingga kurang elok. Kala itu KH. Hamid dawuh, “ Nur tinggal bikin sarangnya, manuknya sudah siap”. Akhirnya Beliau membangun sebuah bangunan ponpes yang diberi nama Pondok Pesantren Majelis Taklim An-Nur. Saat ini santri An-Nur tercatat 260 santri/. Sedangkan santri Kalong kurang lebih 100 santri.

KH. Nur Sa’id mengajarkan beberapa kitab, yakni Taqrib, Bulughul Maram, Syifaul Jinan dan lainnya. Namun Gus Ulin menuturkan bahwa, beliau sangat istimewa ketika mengajarkan kitab Syifaul Jinan yang merupakan kitab Tajwid. Bahkan Gus Ulin sampai diharuskan untuk menghafalkan bait-baitnya. Gus Ulin juga menuturkan bahwa beliau istiqomah dalam membaca al-Qur’an satu juz setiap hari. Beliau juga terbiasa sowan kepada ulama dan kyai saat ingin melakukan sesuatu. 5

Selain Pondok Pesantren Majelis Taklim An-Nur, beliau juga mendirikan Perkumpulan Asmaul Husna Budi Suci. Perkumpulan ini juga legal karena mendapat SK dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Pati. Sampai sekarang SK tersebut masih disimpan dengan baik oleh keluarga beliau. Melalui perkumpulan tersebut, beliau mengajarkan ilmu hikmah dan bela diri. Anggotanya pun ribuah dimana berasal dari kecamatan lain seperti Winong dan Sukolilo. Waktu itu santri An-Nur dan santri Asmaul Husna Budi Suci masih tidur satu atap.

Namun terkait ilmu hikmah dan ilmu beladiri tersebut, beliau tidak mewariskannya kepada anak-anaknya. Karena bagi beliau cukup ilmu pengetahuan saja yang dipelajari dan diamalkan oleh anak-anaknya. Sehingga sampai sekarang anak-anak beliau fokus mengembangkan Pondok Pesantren Majelis Taklim An-Nur. Untuk Perkumpulan Asmaul Husna Budi Suci tidak berlanjut.

Pekerjaan, dan Peran di Masyarakat.

Sejak muda KH. Nur Sa’id sangat tekun dalam bekerja. Bahkan beliau pernah bejualan gabah sedangkan bu Nyai Aminatun ikut derep padi. Selain itu beliau juga mengajar di Madrasah Abadiyah sekaligus salah satu pendiri Madrasah tersebut.7 Kitab yang diajarkan beliau di Madrasah Abadiyah adalah Kitab Takrib dan kitab pesantren lainnya.

Metode beliau mengajar adalah memadukan sistem Bandongan dan Sorogan. Setelah materi disampaikan beliau meminta kepada murid untuk maju dan membaca kitab yang ada. Tidak jarang beliau menyelingi dengan cerita dan nasehat dengan tujuan memotivasi siswa. 8 Ketika mengajar beliau dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan taat kepada aturan. Maka ketika mengajar di madrasah beliau juga menggunakan celana. Padahal saat itu beliau sudah sepuh.

Beliau juga mempunyai kepedulian dan perhatian terhadap perilaku segenap murid dan santrinya. Beliau tidak segan mengingatkan apabila ada murid perempuan yang duduknya kurang sopan seperti kakinya agak terbuka. Ketika masuk kelas beliau menyempatkan untuk memeriksa kuku dan rambut setiap murid. Beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kerapian.

Ketika di ponpes, beliau meminta segenap santrinya untuk selalu menjaga kebersihan. Beliau tidak segan melempar sapu kepada santri beliau yang tidak mau membersihkan lingkungan yang kotor. Selain mengaji, beliau juga membekali segenap santrinya keterampilan bekerja. Oleh karena itu segenap santri diminta pergi ke sawah ketika libur sekolah. Kerap kali beliau menghitung uang di depan santrinya dengan maksud memotivasi bahwa santri harus menjadi orang kaya. Beliau selalu berpesan agar semua santrinya melanggengkan sholat lima waktu berjamaah.

Dalam kehidupan bermasyarakat beliau sering diminta barokah doanya dalam acara- acara tertentu. Selain itu beliau juga kerap diminta solusi dalam beberapa permasalahan. Beliau dikenal juga sebagai sosok yang bisa mengobati orang yang terkena bisa ular. Beliau juga orang yang dermawan dan tidak segan membantu penduduk yang mengalami kesulitan. Seperti saat beliau meminjamkan sejumlah uang kepada tetangganya yang ingin membeli tanah. Beliau kasihan karena orang tersebut mempunyai banyak anak namun tanahnya sempit.

Pergi Haji.

Pada tahun 1979 KH. Nur Sa’id menunaikan haji atas dawuh dari KH. Hamid Pasuruan dan KH. Yasyhadi Nasran. Bahkan KH. Yasyhadi Nasran mengatakan, “Kapalmu Ues Cemawis Nur”. KH. Nur Sa’id juga diberi uang saku sejumlah Rp.

25.000 oleh KH. Hamid. Ketika beliau berangkat haji yang mendoakan adalah KH. Arwani Kudus. Awalnya beliau ingin berhaji bersama bu Nyai Siti Aminatun. Namun hal itu urung dilakukan karena tidak tega meninggalkan anak-anak.

Hari Duka.

Tepat pada Kamis Legi tanggal 4 Mei 2006 sekitar jam 02.00 KH. Nur Sa’id berpulang ke rahmatullah. Beliau meninggal karena faktor usia dan juga penyakit stroke yang diderita beliau. Sewaktu sakit beliau tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Karena bagi beliau, sehat beliau lebih banyak daripada sakitnya. Sebelum meninggal beliau berpesan kepada anak-anak beliau untuk tidak meninggalkan sholat berjamaah. Beliau juga berpesan agar anak dan cucunya untuk tidak terjun di dunia politik. Karena tentunya pondok tidak terurus. Beliau juga berpesan agar guru-guru Abadiyah selalu dihormati dan diperhatikan.

KH. Nur Sa’id adalah sosok kyai yang sangat mematuhi perkataan gurunya. Beliau seorang tokoh masyarakat, khususnya di daerah Pati Kidul. Semasa hidupnya digunakan untuk mengajar, mengabdi dan menebar manfaat. Tidak hanya bagi diri beliau, keluarga namun juga masyarakat luas. Sepanjang hidupnya beliau mengabdi di dunia pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Sangat banyak pelajaran yang dapat diteladani dari beliau.

Sumber :

Wawancara dengan KH. Ali Badruddin (pengasuh Ponpes An-Nur Mojolawaran) sekaligus putra sulung KH.Nur Sa’id, 22 Oktober 2022

Wawancara dengan KH. Ali Badruddin (Pengasuh Ponpes An-Nur Mojolawaran) sekaligus putra sulung KH. Nur Sa’id, 5 November 2022

Wawancara dengan Gus Ulin Nuha (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id), 23 Oktober 2022

Wawancara dengan KH. Ali Badruddin (Pengasuh Ponpes An-Nur Mojolawaran) sekaligus putra sulung KH. Nur Sa’id, 5 November 2022

Wawancara dengan Gus Ulin Nuha (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id), 23 Oktober 2022

Wawancara dengan Gus Ulin Nuha (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id), 23 Oktober 2022

 Wawancara Kyai Marhum (Masyayikh MTs Abadiyah Kuryokalangan) , 1 November 2022

 Wancara dengan Ustad Irham Syaifuddin (Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, Kuryokalangan), 3 November 2022

 Wawancara dengan Drs. Saiful Islam, M.Pd (Kepala Mts Abadiyah, Kuryokalangan), 2 November 2022

Wancara dengan Ustad Irham Syaifuddin (Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, Kuryokalangan), November 2022

Wawancara Mr. Kastomo (Santri KH. Nur Sa’id sekaligus PAC PKB Kecamatan Winong), 25 Oktober 2022

Wawancara dengan Drs. Saiful Islam, M.Pd (Kepala Mts Abadiyah, Kuryokalangan), 2 November 2022

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tantangan NU Menuju Satu Abad

    Tantangan NU Menuju Satu Abad

    • calendar_month Kam, 18 Feb 2016
    • account_circle admin
    • visibility 423
    • 0Komentar

                Pada tanggal 31 Januari 2015 lalu, Nahdlatul Ulama baru saja berulang tahun yang ke 90tahun, dan kurang 10 tahun lagi NU akan memasuki usia satu abad. 90 tahun adalah usia kematangan suatu oragnisasi seperti NU. Kendati demikian, NU ke depan memiliki tantangan yang cukup serius yang perlu direspon dan dicarikan solusi secara konkrit, yaitu […]

  • Siswa MAN 1 Pati Kunjungi KPU, Ini Tujuannya

    Siswa MAN 1 Pati Kunjungi KPU, Ini Tujuannya

    • calendar_month Jum, 9 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 404
    • 0Komentar

    PATI – Puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kabupaten Pati mendatangi kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, pada Kamis (8/9/2022) pagi. Di dampingi oleh para guru, mereka belajar memahami pendidikan politik. Hal itu agar nantinya mereka dapat berperan aktif di masyarakat ketika sudah mempunyai hak pilih.  Salah satu siswa kelas X MAN 1 Pati, […]

  • Panitia Gelar Manaqiban dan Doa Bersama, Jelang Pelaksanaan Porsema

    Panitia Gelar Manaqiban dan Doa Bersama, Jelang Pelaksanaan Porsema

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 408
    • 0Komentar

    Semarang – Bertempat di kantor PCNU Kabupaten Semarang, Pengurus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah dan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PCNU Kabupaten Semarang sebagai panitia menggelar kegiatan tumpengan dan doa bersama, Rabu malam (8/2/2023). Hal itu dilaksanakan menjelang pelaksanaan Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) XII pada 9-12 Februari 2023 besuk. Seperti diketahui, Porsema […]

  • Kiai Minanurrohman Tegaskan Kunci Kebahagiaan di Depan 120 Pemudi

    Kiai Minanurrohman Tegaskan Kunci Kebahagiaan di Depan 120 Pemudi

    • calendar_month Jum, 6 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    DUKUHSETI – Pertemuan Rutin PAC Fatayat NU Dukuhseti edisi Januari, dilaksanakan pada Jumat (6/1). Kali ini, Ranting Fatayat NU Kembang yang ketiban jatah menjadi tuan rumah. Dalam rutinan tersebut, pengurus mengundang KH. Minanurrohman untuk menyampaikan mauidhah hasanah. Bukan hanya menuturi 120-an pemudi Dukuhseti, Kiai Minan juga menjadi narasumber dialog interaktif dalam agenda itu. “Memang agenda […]

  • Memandang Indonesia Saat Ini

    Memandang Indonesia Saat Ini

    • calendar_month Jum, 3 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 334
    • 0Komentar

    Pati. Para Dosen Institut Pesantren Mathali’ul Falah guna mempertajam wawasan dan pola pikir agar lebih maju dan berkembang. Maka pada kesempatan kali ini menghadirkan Dr. M. Imdadun Rahmat Ketua LAKSPEDAM NU pusat untuk mendiskusikan isu-isu terkini yang berada di Indonesia,kemarin. Moderatisme adalah masa depan politik Islam Indonesia. Moderatisme dalam politik meniscayakan power sharing (pembagian kekuasaan, […]

  • KH. Abdul Kholiq : Ulama Tasawuf, Pendiri Madrasah Abadiyah Gabus

    KH. Abdul Kholiq : Ulama Tasawuf, Pendiri Madrasah Abadiyah Gabus

    • calendar_month Rab, 21 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 919
    • 0Komentar

    Oleh : Agus Salim* Potret KH. Abdul Kholiq Mojolawaran KH. Abdul Kholiq merupakan ulama yang  lahir di Pati Jawa Tengah. Sejarah panjang yang menceritakan tentang gigihnya ulama yang satu ini dalam mendampingi masyarakat pedesaan, untuk memperkenalkan agama Islam. Telah termaktub dalam buku yang ditulis oleh Agus Salim yang berjudul “Berkhidmat Mengarungi dan Menyemai Jejak-Jejak Zaman […]

expand_less