Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Nur Sa’id Sosok Kyai Penebar Manfaat

Nur Sa’id Sosok Kyai Penebar Manfaat

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 17 Mar 2023
  • visibility 686
  • comment 0 komentar

Oleh : Zahra Aulia Nifatun Khasanah/Faiz Fikril Abror, M.Hum

KH. Nur Sa’id adalah tokoh agama masyarakat dan Ulama di daerah Pati Kidul. Sosok yang dikenal di masyarakat, terutama masyarakat Mojolawaran dan Kuryokalangan. Beliau lahir pada tahun 1936 di Desa Sundoluhur Kecamatan Kayen Kabupaten Pati dari pasangan Bapak Sujono dan Ibu Muzariah. Beliau memiliki 6 saudara tepatnya beliau anak sulung.

Nama kecil beliau adalah Slamet, Adapun Nur Sa’id adalah pemberian dari KH. Abdullah Siddiq Nawawie yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Sendang Senori dimana KH. Nur Sa’id mondok. KH. Ali Badruddin, putra sulung beliau, menuturkan bahwasanya KH. Nur Sa’id pernah mengatakan nama Slamet bagus, namun untuk seorang kyai kesannya kurang bagus. KH. Nur Sa’id adalah pendiri PPMT An-Nur.

Kejadian Yang Mengubah Hidup / Motivasi.

Sebelum merintis pesantren An-Nur, KH. Nur Sa’id mengawali tholabul Ilmi-nya dengan mengaji al-Qur’an kepada K. Masrum di Dukuh Mpelang. Kemudian ke pesantren Roudhotut Tholibin asuhan KH. Zuhdi Malangan Trimulyo-Kayen. Suka duka pernah beliau lewati mulai mengurus bebek hingga menjadi badal KH. Zuhdi.

Beliau pernah kehilangan semua bajunya saat di pesantren. Saat mengadukan kepada KH. Zuhdi, beliau diminta bertawassul dengan membaca Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani. Belum selesai manaqib dibaca baju-baju beliau ditemukan dalam keadaan utuh. Semenjak nyantri di Malangan, beliau terbiasa tirakat dengan berpuasa sunnah, sholat malam hingga membaca Aurod-aurod. Beliau juga memperdalam ilmu hikmah di Kirig, di bawah asuhan KH. Yasyhadi Nasran. Kemudian ketika bulan Ramadhan tiba, beliau nyantri Pasanan di Jekulo asuhan Hadrotus Syaikh KH. Yasin.

Beliau kemudian melanjutkan tholabul ilmi-nya di ponpes Mambaul Ulum asuhan KH. Abdullah Siddiq Nawawie kurang lebih 4 tahun. Saat akan mondok di Sendang Senori, sebenarnya ibunda beliau, Ibu Muzariah merasa berat hati untuk melepas putranya merantau jauh. Namun karena melihat ketekunan dalam belajar dan tirakatnya akhirnya ibundanya merelakan KH. Nur Sa’id untuk mondok.

Pada tahun 1965 tepatnya setelah selesai mondok dari Sendang Senori KH. Nur Sa’id melabuhkan hatinya kepada seorang perempuan bernama Siti Aminatun.

Melalui perkawinan tersebut beliau dikaruniai 8 orang anak yaitu, Sa’dullah, Ali Badruddin Sa’id, Mudrikah, Masmu’ah, Syamsuddin, Umi Nafia’ah, Ulin Nuha, dan Agus Qomaruddin. Namun untuk Sa’dullah telah meninggal terlebih dahulu ketika masih berusia seminggu.

Mengenai sosok Ibu Siti Aminatun, Gus Ulin (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id) menuturkan bahwa beliau adalah sosok ibu yang sangat mencintai anak-anaknya. Ketika KH. Nur Sa’id hendak menjual rumah agar dapat mengajak istrinya tersebut menunaikan Ibadah Haji bersama, Ibu Siti Aminatun tidak mengiyakan ajakan suaminya  tersebut. Karena masih memikirkan anak-anak. Apabila berangkat haji bersama maka siapa yang akan mengurus anak-anak. Nanti anak-anak tinggal dimana. Sungguh sosok ibu yang mencintai anak-anaknya.

Prestasi.

KH. Nur Sa’id mendirikan Pondok Pesantren An-Nur pada tahun 1980 dan diresmikan pada tahun 1982. Setelah diresmikan beliau mendapat tanggung jawab dari KH. Hamid Pasuruan untuk membangun bangunan ponpes karena dulu pondoknya masih di menjadi satu dengan rumah kyainya. Waktu itu sekitar lima belas santri. Sehingga kurang elok. Kala itu KH. Hamid dawuh, “ Nur tinggal bikin sarangnya, manuknya sudah siap”. Akhirnya Beliau membangun sebuah bangunan ponpes yang diberi nama Pondok Pesantren Majelis Taklim An-Nur. Saat ini santri An-Nur tercatat 260 santri/. Sedangkan santri Kalong kurang lebih 100 santri.

KH. Nur Sa’id mengajarkan beberapa kitab, yakni Taqrib, Bulughul Maram, Syifaul Jinan dan lainnya. Namun Gus Ulin menuturkan bahwa, beliau sangat istimewa ketika mengajarkan kitab Syifaul Jinan yang merupakan kitab Tajwid. Bahkan Gus Ulin sampai diharuskan untuk menghafalkan bait-baitnya. Gus Ulin juga menuturkan bahwa beliau istiqomah dalam membaca al-Qur’an satu juz setiap hari. Beliau juga terbiasa sowan kepada ulama dan kyai saat ingin melakukan sesuatu. 5

Selain Pondok Pesantren Majelis Taklim An-Nur, beliau juga mendirikan Perkumpulan Asmaul Husna Budi Suci. Perkumpulan ini juga legal karena mendapat SK dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Pati. Sampai sekarang SK tersebut masih disimpan dengan baik oleh keluarga beliau. Melalui perkumpulan tersebut, beliau mengajarkan ilmu hikmah dan bela diri. Anggotanya pun ribuah dimana berasal dari kecamatan lain seperti Winong dan Sukolilo. Waktu itu santri An-Nur dan santri Asmaul Husna Budi Suci masih tidur satu atap.

Namun terkait ilmu hikmah dan ilmu beladiri tersebut, beliau tidak mewariskannya kepada anak-anaknya. Karena bagi beliau cukup ilmu pengetahuan saja yang dipelajari dan diamalkan oleh anak-anaknya. Sehingga sampai sekarang anak-anak beliau fokus mengembangkan Pondok Pesantren Majelis Taklim An-Nur. Untuk Perkumpulan Asmaul Husna Budi Suci tidak berlanjut.

Pekerjaan, dan Peran di Masyarakat.

Sejak muda KH. Nur Sa’id sangat tekun dalam bekerja. Bahkan beliau pernah bejualan gabah sedangkan bu Nyai Aminatun ikut derep padi. Selain itu beliau juga mengajar di Madrasah Abadiyah sekaligus salah satu pendiri Madrasah tersebut.7 Kitab yang diajarkan beliau di Madrasah Abadiyah adalah Kitab Takrib dan kitab pesantren lainnya.

Metode beliau mengajar adalah memadukan sistem Bandongan dan Sorogan. Setelah materi disampaikan beliau meminta kepada murid untuk maju dan membaca kitab yang ada. Tidak jarang beliau menyelingi dengan cerita dan nasehat dengan tujuan memotivasi siswa. 8 Ketika mengajar beliau dikenal sebagai sosok yang bersahaja dan taat kepada aturan. Maka ketika mengajar di madrasah beliau juga menggunakan celana. Padahal saat itu beliau sudah sepuh.

Beliau juga mempunyai kepedulian dan perhatian terhadap perilaku segenap murid dan santrinya. Beliau tidak segan mengingatkan apabila ada murid perempuan yang duduknya kurang sopan seperti kakinya agak terbuka. Ketika masuk kelas beliau menyempatkan untuk memeriksa kuku dan rambut setiap murid. Beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kerapian.

Ketika di ponpes, beliau meminta segenap santrinya untuk selalu menjaga kebersihan. Beliau tidak segan melempar sapu kepada santri beliau yang tidak mau membersihkan lingkungan yang kotor. Selain mengaji, beliau juga membekali segenap santrinya keterampilan bekerja. Oleh karena itu segenap santri diminta pergi ke sawah ketika libur sekolah. Kerap kali beliau menghitung uang di depan santrinya dengan maksud memotivasi bahwa santri harus menjadi orang kaya. Beliau selalu berpesan agar semua santrinya melanggengkan sholat lima waktu berjamaah.

Dalam kehidupan bermasyarakat beliau sering diminta barokah doanya dalam acara- acara tertentu. Selain itu beliau juga kerap diminta solusi dalam beberapa permasalahan. Beliau dikenal juga sebagai sosok yang bisa mengobati orang yang terkena bisa ular. Beliau juga orang yang dermawan dan tidak segan membantu penduduk yang mengalami kesulitan. Seperti saat beliau meminjamkan sejumlah uang kepada tetangganya yang ingin membeli tanah. Beliau kasihan karena orang tersebut mempunyai banyak anak namun tanahnya sempit.

Pergi Haji.

Pada tahun 1979 KH. Nur Sa’id menunaikan haji atas dawuh dari KH. Hamid Pasuruan dan KH. Yasyhadi Nasran. Bahkan KH. Yasyhadi Nasran mengatakan, “Kapalmu Ues Cemawis Nur”. KH. Nur Sa’id juga diberi uang saku sejumlah Rp.

25.000 oleh KH. Hamid. Ketika beliau berangkat haji yang mendoakan adalah KH. Arwani Kudus. Awalnya beliau ingin berhaji bersama bu Nyai Siti Aminatun. Namun hal itu urung dilakukan karena tidak tega meninggalkan anak-anak.

Hari Duka.

Tepat pada Kamis Legi tanggal 4 Mei 2006 sekitar jam 02.00 KH. Nur Sa’id berpulang ke rahmatullah. Beliau meninggal karena faktor usia dan juga penyakit stroke yang diderita beliau. Sewaktu sakit beliau tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Karena bagi beliau, sehat beliau lebih banyak daripada sakitnya. Sebelum meninggal beliau berpesan kepada anak-anak beliau untuk tidak meninggalkan sholat berjamaah. Beliau juga berpesan agar anak dan cucunya untuk tidak terjun di dunia politik. Karena tentunya pondok tidak terurus. Beliau juga berpesan agar guru-guru Abadiyah selalu dihormati dan diperhatikan.

KH. Nur Sa’id adalah sosok kyai yang sangat mematuhi perkataan gurunya. Beliau seorang tokoh masyarakat, khususnya di daerah Pati Kidul. Semasa hidupnya digunakan untuk mengajar, mengabdi dan menebar manfaat. Tidak hanya bagi diri beliau, keluarga namun juga masyarakat luas. Sepanjang hidupnya beliau mengabdi di dunia pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Sangat banyak pelajaran yang dapat diteladani dari beliau.

Sumber :

Wawancara dengan KH. Ali Badruddin (pengasuh Ponpes An-Nur Mojolawaran) sekaligus putra sulung KH.Nur Sa’id, 22 Oktober 2022

Wawancara dengan KH. Ali Badruddin (Pengasuh Ponpes An-Nur Mojolawaran) sekaligus putra sulung KH. Nur Sa’id, 5 November 2022

Wawancara dengan Gus Ulin Nuha (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id), 23 Oktober 2022

Wawancara dengan KH. Ali Badruddin (Pengasuh Ponpes An-Nur Mojolawaran) sekaligus putra sulung KH. Nur Sa’id, 5 November 2022

Wawancara dengan Gus Ulin Nuha (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id), 23 Oktober 2022

Wawancara dengan Gus Ulin Nuha (Putra Bungsu KH. Nur Sa’id), 23 Oktober 2022

 Wawancara Kyai Marhum (Masyayikh MTs Abadiyah Kuryokalangan) , 1 November 2022

 Wancara dengan Ustad Irham Syaifuddin (Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, Kuryokalangan), 3 November 2022

 Wawancara dengan Drs. Saiful Islam, M.Pd (Kepala Mts Abadiyah, Kuryokalangan), 2 November 2022

Wancara dengan Ustad Irham Syaifuddin (Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum, Kuryokalangan), November 2022

Wawancara Mr. Kastomo (Santri KH. Nur Sa’id sekaligus PAC PKB Kecamatan Winong), 25 Oktober 2022

Wawancara dengan Drs. Saiful Islam, M.Pd (Kepala Mts Abadiyah, Kuryokalangan), 2 November 2022

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menangkap Cahaya Rayyan

    Menangkap Cahaya Rayyan

    • calendar_month Sel, 4 Jul 2017
    • account_circle admin
    • visibility 528
    • 0Komentar

    “Sesungguhnya di syurga ada satu pintu bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya…. Maka jika orang-orang yang berpuasa telah memasukinya, maka (Pintu Rayyan) akan ditutup dan taka da seorangpun lagi yang memasukinya.” Begitu spesialnya ibadah puasa, hingga diabadikan dalam banyak hadits. Salah […]

  • PAC IPNU IPPNU Wedarijaksa Audiensi dengan Pemerintah Kecamatan

    PAC IPNU IPPNU Wedarijaksa Audiensi dengan Pemerintah Kecamatan

    • calendar_month Jum, 10 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 652
    • 0Komentar

    Umar, Ketua PAC IPNU Wedarijaksa (kiri) sedang berdiskusi dengan Camat  Setempat, Eko Purwantoro  WEDARIJAKSA – PAC IPNU Wedarijaksa baru saja lakukan audiensi dengan Pemerintahan Kecamatan Wedarijaksa, Rabu (8/9). Perjumpaan yang berlangsung relatif singkat ini dilakukan di rumah dinas Camat Wedarijaksa.  Dalam kesempatan tersebut PAC IPNU IPPNU Wedarijaksa dalam hal ini ditandangi langsung oleh Umar, selaku […]

  • PCNU-PATI

    Muncul Gerakan Dukungan Calon Bupati Pati dari Kalangan NU, Ini Kata ketua PCNU

    • calendar_month Rab, 13 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Pcnupati.or id – Menjelang Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) Pati 2024, muncul gerakan dukungan terhadap Calon Bupati maupun Wakil Bupati dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Gerakan ini bertagar “2024 Wayahe Wong NU Mimpin Pati”. Rokib Ismail, inisiator gerakan tersebut mengatakan, sudah saatnya Kabupaten Pati ini dipimpin oleh warga Nahdliyin.   “Sudah saatnya Pati dipimpin oleh orang NU. […]

  • Demokrasi Ala IPNU IPPNU

    Demokrasi Ala IPNU IPPNU

    • calendar_month Jum, 18 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 440
    • 0Komentar

    Warta IPNU-IPPNU Pada Umum organisasi pelajar di sekolah adalah OSIS dan OSIM akan tetapi organisasi dai kalangan  lembaga pendidikan Ma’arif NU Hampir kesemuanya mengguanakn Komisariat IPNU IPPNU, sebagai slah satu wadah kaderisasi  NU yang menaungi ranah pelajar, kaderisasi IPNU IPPNU yang real di ranah pelajar dengan melakukan pemberdayan di kalangan pelajar sebagai wadah proses para […]

  • KH. Samu’in Jadi Ketua MWC-NU Margoyoso

    KH. Samu’in Jadi Ketua MWC-NU Margoyoso

    • calendar_month Ming, 16 Agu 2020
    • account_circle admin
    • visibility 540
    • 0Komentar

    Para pememandu Konferensi MWC-NU Kecamatan Margoyoso. Dalam hal ini hadir langsung ketua PCNU Pati, K. Yusuf Hasyim (kedua dari kanan)  memimpin jalannya konferensi MARGOYOSO-Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati sukses menggelar Konferensi Pemilihan Pengurus Baru di Ma’had Aly Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen pada Ahad (16/08/2020) mulai pukul 07.30 […]

  • Puluhan Peserta Ikuti Diklat Astronomi LF-NU

    Puluhan Peserta Ikuti Diklat Astronomi LF-NU

    • calendar_month Sen, 25 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

    KAYEN-Sabtu (23/11) Lembaga Falaqiyah (LF) NU Kabupaten Pati mengadakan Diklat. Dalam Kegiatan ini, Sanawi, M.Pd.I., Ketua PC LFNU Pati menegaskan bahwa pihaknya menggandeng LF PWNU Jawa Tengah dan Yayasan Joyokusumo, Pasuruhan, Kayen. Lembaga Falaqiyah merupakan lembaga di bawah naungan NU yang berkecimpung dalam dunia astronomi. Praktik pengukuran arah kiblat yang dipandu oleh Syaiful Mujab, M.Si., […]

expand_less