Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Laki-laki Cadasari Tersesat di Juwana

Laki-laki Cadasari Tersesat di Juwana

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 30 Jan 2023
  • visibility 270
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Di dalam Bus PO Selamet, sewaktu perjalanan mudik ke Pandeglang, saya berkenalan dengan seorang penumpang laki-laki dengan perawakan kurus. Dia bersama istri dan anak laki-lakinya, kira-kira usianya sama dengan usia putriku, 4 tahunan. 

“Turun di mana, mas?” tanya dia ke saya.

“Di Serang, mas,”jawabku.

“Sama atuh, saya juga di Serang. Mudiknya kemana?”

            “Ke Pandeglang.”

            “Lho, sama, aku juga ke Pandelang. Pandeglangnya mana?”

            “Bojong, mas. Bojong yang ke arah Malingping. Masnya Pandeglangnya mana?” saya balik tanya.

            “Cadasari, mas.”

            Oalah, ternyata kami sedaerah, lebih tepatnya se-kabupaten. Bertemu dengan orang yang satu daerah di perantauan selalu memberikan perasaan lain. Ada kehangatan dan antusias yang besar. Ya, ada kehangatan dan keakraban yang mungkin tidak dirasakan sewaktu bertemu di daerah sendiri. Dari perkenalan itu kami mulai mengobrol panjang lebar. Rupanya dia tinggal di Juwana, dekat Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Aku menyimak baik-baik setiap perkataannya. Lantas, aku bertanya perihal dirinya bisa sampai ke Pati.

“Gak sengaja saya bisa sampai ke Pati, mas. Berbekal nekat saja saya berangkat dari rumah. Di Cadasari saya merasa gak berkembang. Kerjaan gak jelas. Malu sama orangtua dan tetangga. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi dari rumah, terserah mau kemana, pokoknya keluar dari rumah, dari desa sendiri.”

Laki-laki itu terus bercerita dengan logat sunda Bantennya yang masih kental. Dia, katanya, memutuskan pergi ke Jakarta meski belum ada bayangan sama sekali hendak kerja apa. Berbekal duit pas-pasan, dia naik bus PO ASLI jurusan Kalideres (Jakarta Barat). Di sana dia melihat bus yang ke Jawa (Tengah). Berhubung belum ada tujuan, dia naik saja bus tersebut.

“Turun mana, mas?” tanya kondektur, saat bus sudah sampai tol Cikampek.

“Ini bis sampai mana, mas?”

Lha, ditanya malah balik tanya, mungkin ujar si kondektur dalam hati.

“Sampai Pati, mas,” jawab kondektur.

“Kalau begitu saya sampai Pati juga.”

Keesokan harinya pada saat bus sudah sampai perbatasan Kudus – Pati, kondektur menghampiri laki-laki Cadasari itu.

“Patinya mana, mas? Ini sudah sampai Pati. Bus ini akan langsung ke Rembang, tidak masuk terminal Pati.”

Turun mana, ya? Laki-laki itu sedikit tercenung. Bimbang. Maklum, dia tidak punya tujuan sama sekali. Dia kemudian ingat seorang kawan asal Pati, tepatnya Juwana.

“Juwana, mas.”

Sesampainya di Juwana dia kemudian menghubungi temannya. Singkat cerita dia kemudian ikut dengan temannya, yakni berjualan onderdil motor. Kurang lebih 1 tahun. Setelah dia punya modal, dia memutuskan untuk membuka toko sendiri. Dan berkat kerja keras, usahanya mengalami kemajuan yang lumayan pesat. Dia kemudian memutuskan untuk menikah. Setahuan kemudian dia dikaruniai seorang putra.

5 tahun sudah dia tinggal di Juwana. Dan tahun 2013 dia ingin berlebaran di kampung halamannya, Cadasari Pandeglang. Selama 5 tahun itu dia tidak pernah pulang. Jadi, ini adalah mudik pertama kalinya ke Pandeglang, dengan membawa anak dan istri, tentu saja membawa kesuksesannya juga. Ketika kami sama-sama turun dari bus, kulihat barang bawaannya menggunung. Mungkin dia bawa oleh-oleh untuk orangtua dan saudara-saudaranya. Ah, betapa bahagianya dia pulang dengan penuh percaya diri, karena dia berhasil menjalani hidup dengan layak dan bermakna. Dan saya yakin orangtuanya pun akan bangga padanya. Dia akan bercerita panjang lebar kepada saudara, tetangga, dan teman-temannya di kampung, cerita pengalaman hidupnya di perantauan.

Saya pikir ini adalah hikmah dan faedah dari merantau. Seandainya dia tidak mengambil keputusan untuk pergi merantau mungkin dia tidak akan sesukses itu. Tentu jalan hidup setiap orang berbeda-beda. Dan mungkin jalan hidup lelaki Cadasari itu untuk sukses adalah dengan merantau. Tidak ada jaminan memang bahwa dengan merantau kita bisa menjadi hidup sukses. Perangkat dan piranti kesuksesan tetap menjadi sesuatu yang terpenting untuk dilakukan. Di antaranya kerja keras, disiplin, sabar, istikamah, dan lain-lain.

            Teringat sebuah dialog dalam novel Rantau 1 Muara (2013) karya Ahmad Fuadi. Waktu itu Fikri—tokoh utama—sedang melakukan pendekatan kepada ayah Dinara—perempuan yang dicintainya—untuk meraih simpatik darinya.

“Apa yang paling Bapak kenang dalam perjalanan hidup selama 55 tahun ini?” tanya Fikri.

Ayah Dinara menjawab dengan antusias, “Yang pertama adalah keputusan untuk merantau di usia muda. Mencoba peruntungan nasib di ranah orang. Jatuh-bangun membangun usaha dengan keringat sendiri. Rasa aman, asin, pahit yang harus dilalui sebelum berakhir manis.”

Dari jawaban ayah Dinara di atas tersirat bahwa dengan merantau kita akan terpacu untuk bekerja keras. Jauh dari tanah kelahiran, lingkungan baru, “manusia baru”, dan tinggal di tanah orang membuat kita kreatif dan selalu bergerak. Ibaratnya kita meninggalkan zona nyaman menuju zona tak nyaman alias tanpa ada kepastian. Bagaimana tidak, kondisi ketidakpastian “esok makan apa” akan selalu merongrong setiap hari dalam benak kita. Kalau sudah begitu apalagi yang harus dilakukan selain kerja keras dan keberanian untuk melakukan segala hal.  

Orang yang merantau dengan penuh antusias akan mendapatkan apa yang diharapkannya. Ada beberapa sampel contoh orang-orang daerah tertentu yang sudah dikenal lantaran berhasil menjalankan usahanya sehingga yang dikenal adalah daerahnya, yakni Orang Tegal dengan warteg-nya, Orang Wonogiri dengan penjual bakso-nya, Orang Wonosari dengan bakmi-nya, Orang Padang dengan masakan Padang-nya, dan lain-lain. Itu semua sukses lantaran mereka merantau yang dipupuk dengan kerja keras dan keberanian.

            Imam Syafii adalah satu-satunya tokoh yang mengampanyekan agar manusia merantau, entah itu untuk bekerja maupun menuntun ilmu. Beliau menjadi teladan bahwa dengan merantau kita akan berhasil. Beliau sudah membuktikannya dengan merantau ke pelbagai negeri muslim, seperti Mekah dan Mesir. Walhasil, beliau menjadi hakim, ahli fiqih, dan pendiri mazhab syafiiyah. Berikut ini adalah salah satu syairnya yang terkenal perihal merantau:

ما في المقامِ لذي عقلٍ وذي أدبِ مِنْ رَاحَة ٍ فَدعِ الأَوْطَانَ واغْتَرِبِ

سافر تجد عوضاً عمَّن تفارقهُ وَانْصِبْ فَإنَّ لَذِيذَ الْعَيْشِ فِي النَّصَبِ

إني رأيتُ وقوفَ الماء يفسدهُ إِنْ سَاحَ طَابَ وَإنْ لَمْ يَجْرِ لَمْ يَطِبِ

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست

والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يُصِبِ

والشمس لو وقفت في الفلكِ دائمة ً لَمَلَّهَا النَّاسُ مِنْ عُجْمٍ وَمِنَ عَرَبِ

والتَّبْرَ كالتُّرْبَ مُلْقَىً في أَمَاكِنِهِ والعودُ في أرضه نوعً من الحطب

فإن تغرَّب هذا عزَّ مطلبهُ وإنْ تَغَرَّبَ ذَاكَ عَزَّ كالذَّهَبِ

Tidaklah berdiam di tempatnya orang-orang berakal dan beradab, dari rehatnya dia berpisah dan dari negerinya dia mengasingkan diri

Berpergianlah, akan kau temukan pengganti yang telah engkau tinggalkan, berusahalah, sungguh kenikmatan hidup ada pada kerasnya usaha

Sungguh aku melihat diamnya air merusakkannya, bila bergerak ia jernih, bila tak mengalir maka ia tak menyehatkan

Dan singa yang tak tinggalkan sarangnya takkan memangsa, dan panah yang tak terlepas dari busurnya takkan mengena

Dan matahari yang bertetap pada peredarannya, tentu akan menjemukan manusia, baik dari ajam maupun arab

Dan biji emas tak ada bedanya dengan biji tanah saat tercampur di tempatnya, kayu gaharu terserak di tanah pun serupa dengan kayu bakar

Dila kau pisahkan biji emas dari tanah, maka mulia dia dan dicari, bila kau pisahkan kayu gaharu dari kayu bakar, ia akan seharga emas

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GP Ansor Gagas Agenda-Agenda Besar

    GP Ansor Gagas Agenda-Agenda Besar

    • calendar_month Sen, 2 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 318
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Cabang Ansor Kabupaten Pati menggelar Rapat Koordinasi (Rakor), Senin (2/9). Ada beberapa agenda yang dibahas dalam rakor tersebut. Diantaranya adalah koordinasi Selametan Bumi Pesantenan, Pembaretan seribu Banser, istighotsah kubro dan khotmil qur’an bil ghoib sebanyak seratus khataman. “Banyak program kerja yang harus kita selesaikan. Ada proker jangka pendek dan jangka panjang. Dan […]

  • Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking. Photo by Yudha Aprilian on Unsplash.

    Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking

    • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Dari bacaan yang ada, orang jawa memiliki khazanah yang tak lazim. Kalau kita telusur di literasi-literasi tentang masuknya islam di pulau jawa, tentu kita temukan fakta bahwa, ‘merayu’ orang jawa untuk masuk islam—atau setidaknya ramah terhadap islam—bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan skill marketing tingkat dewa untuk bisa menembus rapatnya dinding kepercayaan yang […]

  • Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.270
    • 0Komentar

    Aceh Timur — Banjir bandang itu datang tanpa memberi waktu. Dalam hitungan menit, air setinggi enam meter menyeret rumah, sawah, ternak, kendaraan, dan seluruh harta warga Dukuh Dataran Indah, Kecamatan Peunaron. Di antara ratusan korban, rumah milik Maslukin, Wagiran, Adnan, dan Efendy ikut tergeser puluhan meter dari tempat semula. Hari itu, Jumat 16 Januari 2026, […]

  • Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa

    Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Pati. Perpustakaan Darul Hadlanah mengadakan bedah buku rutin setiap tiga bulan sekali, hal tersebut dilakukan untuk menumbuhkan daya kritis para santrinya dan  menumbuhkan minat baca para santri,  bertempat di aula, pada Senin, 7/8 kemarin Bedah buku yang berjudul Zero To Hero dengan tema Mendahsyatkan pribadi biasa menjadi luar biasa” ini menjelasakan bahwa menjadi orang pintar, […]

  • PCNU-PATI Photo by Toa Heftiba

    Anak Bukan Boneka

    • calendar_month Jum, 16 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 299
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan sebuah kisah. Tentang pengabdian seorang anak perempuan kepada ibunya. Pengabdian menurut saya sangat berlebihan, hingga membuatnya tak berani bahkan takut untuk bertindak atas pilihannya sendiri. Awal kisah bermula saat anak ini masih duduk di bangku SMA. Ia dipaksa untuk menikah oleh sang ibu dengan laki-laki yang […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Masjid dan Media Sosial

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.455
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Masjid menjadi penting dalam pembangunan spiritualitas masyarakat muslim. Perannya sudah kentara dan jelas sejak zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Dalam konteks Ramadan, banyak sekali dakwah-dakwah berbasis digital berseliweran di gawai kita. Namun masalahnya, apakah masjid masih memiliki otoritas dibandingkan media sosial? Secara tradisional, masjid dilihat sebagai ruang fisik, bangunan, tempat untuk bersujud, […]

expand_less