Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Jodoh Buat Bu Bidan Cantik

Jodoh Buat Bu Bidan Cantik

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 1 Jan 2023
  • visibility 107
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Chapter 1

Lengkap sudah penderitaan Shanaya. Masalah yang datang seperti gulungan ombak yang saling bersusul-susulan menghantam kerikil dan karang-karang. Bertubi-tubi. Hanya surut sebentar lalu pasang lagi. Jika seorang perwira perlu bertahun-tahun meraih pangkat sebagai jenderal dengan bintang empat di kedua bahu baret hijaunya, maka ia hanya butuh sepuluh jam saja.

Oh, God ….

Seharusnya semua orang mengucapkan selamat padanya.

Congratulation, Sufu Shanaya. Anda berhasil meraih pangkat sebagai jenderal. Jenderal masalah. Lupakan masa depan cerah dengan cita-cita luhurmu. Bidan delima? Omong kosong.

Bagai melihat seorang Algojo dengan pedang berkilat-kilat seperti petir di tangan—saat ia masuk list sebagai peserta hukuman pancung. Tinggal menunggu waktu saja, pedang itu akan melibas lehernya dalam sekali ayun.

Pedang itu bernama “Drop Out.”

Ya, dia terancam di drop out dari kampus karena telah melalaikan tugasnya di kamar persalinan dan nyaris membuat nyawa seorang ibu dan bayinya melayang. Semua hanya karena menuruti keinginan absurd seorang laki-laki. Lelaki yang ia gilai setengah mati yang bahkan tak pernah memberinya kepastian kapan ia akan dinikahi.

Bucin. Shanaya adalah definisi budak cinta yang sesungguhnya ketika dengan sukarela melakukan apapun, kapan pun . Blade, begitu para fans di Tik Tok dan Instagram menyebut lelaki itu. Lelaki yang telah berhasil mengombang-ambingkan perasaan Shanaya. Membuat gadis itu berhasil meraih gelar pacar gelap, pelacur pribadi, istri simpanan dan segudang julukan negatif lain.

Belum cukup sampai disitu, seorang lelaki asing bagai Alien dari luar angkasa tiba-tiba datang dengan membawa kabar mengejutkan.

“Assalamu’alaikum ….”

“Wa’alaikumsalam … maaf, anda siapa?”

“Kenalkan, Aku Nikhil … suamimu.”

What? suami? Kapan nikahnya?

Bagai gunung yang siap menyemburkan lava, kepala Shanaya seperti mau meletus.

Ia hirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan sambil berhitung. Satu … dua … tiga.

 Mungkin aku sedang berada di alam mimpi. Atau sedang berada di dalam scene salah satu novel favorite-ku. Shanaya mencoba menghibur diri sendiri. 

Tapi kemudian ia tersentak. Tidak! Ini nyata. Buktinya cubitan kecil pun mampu membuatku meringis kesakitan.

Wahai, Manusia di seluruh dunia—yang kebanyakan mengeluh hidupnya paling susah dan menderita. Hey, bangun! Mungkin kalian belum kenalan dengan bidan cantik satu ini. Sufu Shanaya, mahasiswi akhir jurusan Kebidanan yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan di Rumah Bersalin Bidan Delima di daerah Wonoasih—salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang menyimpan banyak kekayaan berupa gunung, lembah, bukit, sawah, perkebunan, air terjun dan masih banyak lagi.

Tinggal di pegununan sepertinya tetap membuatnya gerah saat ini. Setidaknya sejak jam empat subuh tadi—saat kedua matanya harus terbuka dengan terpaksa oleh sebuah lagu yang ia setting sebagai nada alarm.

Atas nama cinta

Kurelakan jalanku merana

Asal engkau akhirnya denganku

Ku bersumpah atas nama cinta

Shanaya seharusnya sadar jika lagu favorite-nya itu tidak hanya sedang membangunkannya dari alam mimpi. Tapi juga tengah memberinya sinyal, bahwa satu jam ke depan setelah alarm itu ia non-aktifkan, ada beberapa masalah menunggunya.

Semua berawal saat door bell  rumah bersalin Bidan Eko itu berdenging-denging. Lalu ia tergopoh-gopoh menyibak pintu garasi dan mendapati dua orang pasutri berdiri di sana.

 “Tolong, Bu Bidan ini istri saya mau melahirkan,” ucap seorang lelaki berperawakan tinggi besar dengan muka panik. Ia tercenung sesaat sebelum buru-buru mempersilahkan pasutri itu masuk ke dalam.

“Baik, mari saya cek dulu.”

Shanaya menggiring ibu muda itu masuk ke dalam kamar periksa untuk dilakukan pemeriksaan dalam. Dengan cekatan ia memakai handscoon setelah membersihkan tangan. Lalu memasukkan dua jarinya ke dalam alat kelamin hingga menyentuh mulut rahim. Terdengar erangan sebentar.

“Masih pembukaan satu, Bun. Masih fase laten. Masih harus nunggu sekitar dua sampai tiga jam sekali di setiap pembukaan. Mau pulang dulu atau gimana?” Shanaya menawarkan opsi sambil melepas handscoon-nya yang sudah berlumur lendir darah.

“Kalau langsung disini saja boleh nggak, Mbak? Saya udah nggak kuat. Sakit banget,” erang si ibu lagi.

“Oh, baiklah kalau begitu. Silahkan tunggu di kamar dulu ya.”

Baru saja Shanaya membawa perempuan berperut buncit itu menuju salah satu kamar inap, ponsel dalam saku roknya sudah merengak-rengek. Nama Blade menguasai layar ponselnya yang berpendar terang. Shanaya melirik jam dinding. Baru jam lima.

“Halo, Juan.”

Nama asli lelaki itu Juan Saifurrahman. Terkenal dengan julukan Blade karena ia seorang gamer sejati yang menggandrungi game Blade, juga seorang gadis bernama Shanaya. Jika Blade artinya pedang, maka Shanaya artinya cahaya matahari. Pedang dan cahaya matahari adalah perpaduan sempurna bagi Juan. Keduanya adalah candu hingga sepagi itu sudah menelepon.

“Halo, Bidan cantikku. Kangen nih.”

Shanaya berdecak. Tapi tak urung rayuan itu membuat pipinya merona. Ia melirihkan suara saat Tita—asisten bidan melintas dan ber-cie-cie ria padanya.

“Kan kemarin baru ketemu.”

“Aku kan kangennya setiap detik. Jadi nggak ngaruh lah kemarin udah ketemu,” gombal Juan.

“Aku dapet pasien nih. Ibu-ibu muda baru hamil anak pertama. Mungkin sore atau malam nanti melahirkan.”

“Oh ya? kamu sendiri kapan hamil anak pertama?” goda Juan.

“Ya, kamu kapan dong lamar aku? Bilang sama Ayah dan Ibu.”

“Insyallah secepatnya ya, Cinta. Yang penting jam enam pagi udah kesini. Pengen dimasakin Cinta.”

“Oke, insyallah.”

Shanaya memutus sambungan telepon, lalu bergegas mandi sebelum meluncur ke kos Juan yang terletak tak jauh dari tempat tugas PKL-nya. Mungkin hanya sekitar dua puluh menitan.

Ia pikir tak masalah meninggalkan pasiennya sebentar. Lagipula dari fase laten menuju fase aktif biasanya butuh waktu berjam-jam. Pembukaan juga baru satu. Sekedar memasak dan menikmati sarapan berdua dengan Juan, sambil membahas masa depan tidak akan butuh waktu lama.

Sejenak, senyum Shanaya mengembang ketika ekor matanya tertuju pada jendela kaca kamar Cempaka. Tampak di sana seorang lelaki dengan sabar mengelus-elus punggung dan perut istrinya. Ia seperti melihat masa depan dimana ada Juan yang tengah mengelus perutnya yang buncit. Ah, kapan angan-angannya itu akan menjadi nyata?

“Hai, ngalamun apa sih?”

Juan mengibaskan tangannya di depan wajah Shanaya. Perempuan itu tergeragap sebentar. Pemandangan di kamar Cempaka kembali melintas di benaknya. Ia setengah fokus menandaskan kopi susunya. Shanaya senang kali ini Juan tak banyak protes tentang masakannya saat sarapan tadi. Nasi goreng dan telur dadar. Biasanya lelaki itu menghujani masakannya dengan kritikan. Seolah-olah dia adalah Chef Juna yang terkenal itu. Kabar baik, Juan bahkan menghabiskan dua piring nasi lalu menyanderanya hingga berjam-jam.

“Nggak apa-apa,” jawab Shanaya berbohong. Ia melirik jam tangannya dan baru sadar jika sudah lima jam berada di kos lelaki itu. Entahlah, jika sudah bersama Juan, rasanya waktu bergulir begitu cepat.

“Aku balik dulu ya?”

Shanaya semakin panik ketika mendapati puluhan missed call di handphone-nya. Nama Tita pencetak rekor missed call terbanyak.

“Oh my God,” pekiknya sambil bangkit.

“Ada apa?”

“Nggak tahu nih. Mbak Tita nelpon mulu.”

Shanaya bergegas memakai jaket dan menyambar kunci motor. Perasaan tak enak tiba-tiba menyerangnya. Apa terjadi sesuatu dengan pasiennya?

Penyesalan memang selalu datang di akhir. Tak hanya menyesal, tapi Shanaya juga dicekam ketakutan. Pasalnya begitu kakinya menjejak kembali di halaman RB Bidan Eko, ia melihat berbagai macam keributan. Sebuah ambulan sudah siap di depan. Orang-orang berwajah panik tampak berlalu-lalang. Tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam. Dengan segera Bidan Eko menyemburnya dengan sebuah teriakan.

————————-

RB : Rumah Bersalin.

PKL : Praktik Kerja Lapangan

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aktivis Sejati! Biar Sukses Tetap Ingat IPPNU-nya

    Aktivis Sejati! Biar Sukses Tetap Ingat IPPNU-nya

    • calendar_month Ming, 25 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Muhimmatul Aliyah dan suami, sosok pengusaha sekaligus aktifis yang inspiratif.  JEPARA-Pandemi Global yang melanda dunia termasuk Indonesia pada awal tahun 2020 sangat berdampak pada segala sektor, terutama sektor ekonomi. Bisnis yang pada mulanya berjalan lancar tanpa hambatan, kini harus menanggung imbas dari aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Tentunya, peraturan dari pemangku kebijakan tersebut bertujuan […]

  • Memburu Lailatul Qodar. Photo by Kym MacKinnon on Unsplash.

    Memburu Lailatul Qodar

    • calendar_month Kam, 6 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Ramadhan merupakan bulan istimewa yang dilengkapi fitur canggih, lailatul qadr. Satu malam pada lailatul qadr, bernilai setara atau bahkan lebih dari seribu bulan. Artinya–menurut sebagian ulama–shalat satu rakaat pada malam ini, berpeluang memdapat jackpot keutamaan shalat satu rakaat selama seribu bulan atau 83 tahun penuh. Hanya saja, Allah tidak memberi bocoran […]

  • Tingkatkan Kualitas Pendidik, LP Ma’arif PCNU Pati Gandeng STT Pati dalam Ma’arif English Community

    Tingkatkan Kualitas Pendidik, LP Ma’arif PCNU Pati Gandeng STT Pati dalam Ma’arif English Community

    • calendar_month Ming, 4 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 6.361
    • 0Komentar

      ​pcnupati. or.id – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif PCNU Kabupaten Pati resmi meluncurkan program Ma’arif English Community (MEC) melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Sekolah Tinggi Teknik (STT) Pati. Kegiatan yang berfokus pada peningkatan kualitas pengajaran guru Bahasa Inggris di lingkungan Madrasah dan Sekolah Ma’arif se-Kabupaten Pati ini digelar pada Sabtu, (3/1/2026) pagi di […]

  • PCNU-PATI

    Karang Taruna Desa Lahar Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Desa Gunungpanti Winong

    • calendar_month Jum, 9 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Delapan hari pascabanjir bandang menerjang sejumlah desa di wilayah Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, kini masyarakat di desa-desa terdampak sudah mulai melakukan perbaikan rumah yang sebelumnya rusak diterjang banjir. Adapun salah satu desa di Kecamatan Winong yang terdampak banjir bandang cukup parah adalah Gunungpanti.  Di Desa Gunungpanti, warga sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Sementara […]

  • PCNU- PATI Photo by geralt

    “Wuih Kompak Amat”

    • calendar_month Sen, 7 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Oleh : M Iqbal Dawami Cerita lucu ini berawal ketika menjelang Isya beberapa warga bergegas ke masjid untuk azan. Belum lagi sampai masjid terlihat seorang pemuda dengan tampang klimis dan dihiasi jenggot sedang menyapu di lantai masjid. Azan dimulai, jamaah pun berdatangan dan siap mendirikan shalat Isya berjamaah. Sang pemuda yang tadi menyapu segera saja […]

  • PCNU PATI - Maraknya Pelecehan Seksual, Forum Rekanita Gelar Edukasi Kesehatan Reproduksi

    Maraknya Pelecehan Seksual, Forum Rekanita Gelar Edukasi Kesehatan Reproduksi

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 120
    • 0Komentar

    DUKUHSETI – Forum Rekanita Bergerak (FRB) menggandeng Lembaga Konseling Pelajar Putri (LKPP) PC IPPNU Pati, Lembaga Komunikasi Perguruan Tinggi (LKPT), Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi (PKPT IPPNU IPMAFA dan Pelajar NU Dukuhseti mengadakan Sosialisasi Edukasi mengenai Kesehatan Reproduksi dan Pelecehan Seksual pada Sabtu (23/4/2022), di Gedung Haji Kecamatan Dukuhseti.  Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah sebagai bentuk […]

expand_less