Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Menjadi Guru untuk Diri Sendiri, Syukur-syukur Orang Lain

Menjadi Guru untuk Diri Sendiri, Syukur-syukur Orang Lain

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 19 Des 2022
  • visibility 414
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Dulu, saya sering resah saat memberi ceramah, entah itu bentuknya khutbah jumat, idul fitri, idul adha, maupun kultum. Resah karena merasa tidak pantas menceramahi orang, sedang diri sendiri masih belangsakan. Tapi setelah mendapat nasihat dari dua orang guru, perasaan itu menjadi hilang. Guru pertama mengatakan bahwa penceramah sama halnya profesi lainnya. Ia tidak jauh beda dengan guru di sekolah, ustadz di pesantren, maupun penulis sekalipun.

Apa karena penulis, misalnya, tidak punya tanggung jawab seperti halnya penceramah? Ujar sang guru. Penulis juga dibebankan tanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Karena notabene-nya sama saja dengan ceramah, yakni menyampaikan sesuatu kepada orang lain, cuma bedanya ini dalam bentuk tulisan, bukan tuturan. Hakikat tulisan sebenarnya ceramah dalam bentuk tulisan bukan lisan. Jadi, sama sekali tidak ada bedanya.

Kedua, menurut sang guru, seandainya bukan semacam aku maka kedudukan penceramah akan diisi oleh orang-orang yang kurang bermutu. Kasihan masyarakat tidak mendapatkan pencerahan dan pengetahuan yang memadai. Untuk hal ini sebenarnya aku kurang setuju dengan sang guru, karena masing-masing penceramah mempunyai gaya dan kemampuan yang berbeda. Sifatnya sungguh relatif.

Tapi, memang kita tidak menutup mata kalau ada tipe penceramah yang tidak “mencerdaskan”, malahan yang ada adalah provokasi terhadap sesuatu yang tidak sejalan/semazhab dengan si penceramahnya. Ini mungkin yang dimaksud sang guru, sehingga orang-orang yang berpendidikan dalam agama harus turun tangan. Jika tidak, maka akan diisi oleh orang-orang yang berperangai provokatif seperti itu.

Adapun guru kedua mengatakan bahwa salah satu jenis guru pencerahan adalah guru yang belajar menjadi penggembala domba. Artinya tidak harus tercerahkan dulu untuk memberi pencerahan. Jenis guru ini adalah membimbing dan membimbing. Setelah semuanya tercerahkan barulah dirinya mengikuti. Atau bisa jadi tercerahkan secara bersama-sama. Saya menangkap perkataan guru kedua ini adalah bahwa kita meniatkan diri kita mengajari orang adalah dengan belajar.

Ya, belajar dengan cara mengajar. Jadi, kita mengajar pada hakikatnya adalah belajar juga. Kalau dalam khutbah jumat kita mendengar, “Usikum wa iyyaya bitaqwallah—saya berwasiat kepada kalian dan kepadaku sendiri agar bertakwa kepada Allah,” itu artinya bahwa kita boleh menyampaikan pesan kepada orang lain karena sejatinya kita berpesan kepada diri sendiri juga.

Kedua guru itu memantapkan hati saya untuk memberikan ceramah kepada orang lain, baik itu khutbah jumat, idul fitri, idul adha, kultum, pengajian, atau pun ceramah lainnya. Kini saya tidak ada keraguan lagi untuk melakukannya, karena sejatinya saya sedang menceramahi diri sendiri juga, dan juga sedang belajar untuk menjadi pribadi yang baik. Simpel. Soal tanggung jawab, kita semua mempunyai tanggung jawab.

Apa pun profesinya. Semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, kelak di akhirat. Saya menyandarkan hal ini pada sabda Nabi Saw. “Setiap di antara kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkannya.” Ya, kita semua adalah pemimpin, karena kita adalah khalifah.

Mungkin bisa saja kita mengelak dengan mengatakan bahwa kita belum pantas menceramahi, mendidik, atau mengajari orang, karena berbagai alasan. Misalnya, karena ilmu kita yang masih dangkal, masih muda, masih belum menjadi muslim yang baik, dan seabrek dalih lainnya. Tapi, itu bukan alasan yang logis. Dengan prinsip dasar yang telah dikemukakan di atas bahwa masing-masing di antara kita semua adalah guru, belajar dari orang lain dan mengajar kepada orang lain.

Mungkin hadis nabi ini akan menjelaskan bahwa kita sebenarnya dituntut untuk saling memberi pengetahuan, “Ballighu anni walau ayatan—sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” Dari sabda Nabi tersebut kita telah diberi legitimasi perihal mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Pengetahuan adalah sesuatu hal penting karena dapat membantu orang lain dari yang tadinya tidak tahu akhirnya menjadi tahu. Maka tidak aneh apabila ada yang mengatakan Knowledge is power—pengetahuan adalah kekuatan.

Jadi, orang yang sudah mengajarkan sesuatu kepada orang lain sejatinya ia sedang mengamalkan hadis nabi di atas. Ketika kita memberi ceramah bukan berarti mau sok-sokan, sok tahu, dan sok pintar, tetapi memang Nabi menyuruh kita untuk menyampaikan pengetahuan yang kita dapat. Bahkan orang yang tahu sebenarnya wajib menyampaikan kepada yang belum tahu, selain mengamalkannya atas apa yang disampaikannya. Di sinilah fungsinya orang yang berpengetahuan, tidak saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Karena dengan begitu ilmu pengetahuan yang didapatkannya benar-benar bermanfaat dan berkah, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Saya teringat dengan perkataan Imam Ali bin Abi Thalib yang mengatakan, “Unzur ma qala wa la tanzur man qala—lihatlah apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan.” Perkataan Imam Ali tersebut menekankan kepada obyek bukan subyek. Secara tidak langsung kata mutiara itu agar kita menghindari egoisme diri. Kita harus welcome dengan siapa saja yang menyampaikan suatu kebaikan. Gengsi harus dihindari. Toh manfaatnya untuk diri sendiri juga. So, jangan sampai keegoan kita dikalahkan oleh nilai-nilai kebenaran yang disampaikan orang lain, siapa pun itu.

Maka, di sinilah pentingnya mendengar. Orang yang mau mendengar adalah pintu gerbang menuju pencerahan. Tentu saja mendengarkan perkataan-perkataan yang baik, bukan yang buruk. Allah berfirman: Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS. Az-Zumar: 18).

Sangat jelas, orang yang disebut berakal ialah yang mau mendengar perkataan baik orang lain dan lalu mengamalkannya. Inilah landasan normatif yang dibuat oleh Allah agar kita mau belajar dan mengajar kepada orang lain. Mendengar adalah wasilah untuk belajar kepada orang lain dimana kemudian hasilnya harus kita ajarkan kepada orang lain lagi. Begitulah hukum alam (Sunnatullah) yang dibuat Allah untuk kemaslahatan manusia dan alam semesta ini.  

Telinga adalah alat kita untuk mendengar. Allah menciptakan dua telinga, sedang mulut sebagai alat wicara, diciptakan hanya satu. Mungkin itu sebagai petanda bahwa kita harus banyak mendengar ketimbang bicara. Dengan mendengar kita akan lebih banyak menyerap informasi, sedang dengan bicara kita hanya sedikit menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Bahkan, kita dapat menyampaikan pengetahuan sesuatu kebanyakan berdasarkan pendengaran (di samping penglihatan).

Oleh karena itu tidak aneh apabila Allah menyebut telinga lebih dulu dari yang lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Isra: 36). []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MA Salafiyah Kajen Pati Gelar Praktik Rukyah Hilal di Pantai Kartini

    MA Salafiyah Kajen Pati Gelar Praktik Rukyah Hilal di Pantai Kartini

    • calendar_month Jum, 4 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 463
    • 0Komentar

    Beberapa peserta didik MA Salafiyah Kajen sedang memantau hilal menggunakan alat bantu teleskop  PATI – Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Pati menyelenggarakan praktik Rukyat Hilal di Pantai Kartini Jepara, (3/3/2022). Kegiatan itu dilakukan guna penentuan awal Bulan Syaban 1443 H.  Kegiatan tersebut diikuti oleh 57 siswa siswi program studi IPA dan IPS konsentrasi Kitab. Pada […]

  • Siswi MA Salafiyah Kajen Pati Lolos Seleksi Presentasi Draf Rencana Aksi Pemilihan Inisiator Muda Moderasi Beragama Tingkat Nasional Tahun 2023

    Siswi MA Salafiyah Kajen Pati Lolos Seleksi Presentasi Draf Rencana Aksi Pemilihan Inisiator Muda Moderasi Beragama Tingkat Nasional Tahun 2023

    • calendar_month Kam, 6 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 427
    • 0Komentar

    Siswi MA Salafiyah Kajen Pati atas nama Zulfa Farikha berhasil lolos seleksi tahap presentasi dan terpilih mengikuti pelatihan dalam Pemilihan Inisiator Muda Moderasi Beragama Madrasah Tingkat Nasional Tahun 2023 yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia Kegiatan yang diikuti oleh ratusan peserta dari perwakilan madrasah se-Indonesia ini diawali dengan seleksi naskah dan […]

  • Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking. Photo by Yudha Aprilian on Unsplash.

    Misi Mulia Kiai Jawa yang Multitasking

    • calendar_month Kam, 10 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 510
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Dari bacaan yang ada, orang jawa memiliki khazanah yang tak lazim. Kalau kita telusur di literasi-literasi tentang masuknya islam di pulau jawa, tentu kita temukan fakta bahwa, ‘merayu’ orang jawa untuk masuk islam—atau setidaknya ramah terhadap islam—bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan skill marketing tingkat dewa untuk bisa menembus rapatnya dinding kepercayaan yang […]

  • Cerita Aku dan Kau

    Cerita Aku dan Kau

    • calendar_month Ming, 12 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

      27 Juli 2011 Wisudawan berkumpul dan berbaris memasuki sidang senat terbuka. Hari itu dia kan menyandang gelar sarjana S1 nya. Genap 8 semester dia tempuh pendidikan. Dan aku tak bisa berbuat apa – apa melihatnya akan pergi. Seperti semuanya yang memiliki keinginan dan kemauan. Mencari yang terbaik untuk masa depan dirinya. Entah mengapa egoku […]

  • Kepala Desa Wonosekar Sah Jadi Ketua Ranting NU

    Kepala Desa Wonosekar Sah Jadi Ketua Ranting NU

    • calendar_month Jum, 10 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 615
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Kabar menggembirakan datang dari Desa Wonosekar, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Pasalnya, Muhammad Zaenuri, Kepala Desa Wonosekar terpilih sebagai Ketua Ranting NU desa tersebut melalui musyawarah ranting beberapa waktu lalu. Sebelumnya, Nur Kholis, ketua ranting periode sebelumnya, naik sebagai Wakil Ketua MWC-NU Gembong. Sedangkan tampuk kepemimpinan dipegang oleh wakilnya. Namun, dalam pemilihan ketua Ranting […]

  • Bebas Buta Huruf Al Qur’an Diterapkan Mahasiswa KKN IPMAFA di Sentul

    Bebas Buta Huruf Al Qur’an Diterapkan Mahasiswa KKN IPMAFA di Sentul

    • calendar_month Jum, 26 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 522
    • 0Komentar

    CLUWAK-Masih adanya beberapa warga Desa Sentul, Cluwak terutama kalangan lansia membuat mahasiswa KKN IPMAFA tancap gas memberikan wadah pembelajaran al-quran. Hal ini senada dengan tema KKN 2019, ‘Optimalisasi Peran Komunitas Menuju Masyarakat yang Berdaya, Berbudaya dan Religius’. Kegiatan tersebut bernama : #2019 bebas buta huruf al Qur’an. Banyaknya kalangan lansia yang ikut disebabkan mahalnya biaya […]

expand_less