Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Menjadi Guru untuk Diri Sendiri, Syukur-syukur Orang Lain

Menjadi Guru untuk Diri Sendiri, Syukur-syukur Orang Lain

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 19 Des 2022
  • visibility 486
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Dulu, saya sering resah saat memberi ceramah, entah itu bentuknya khutbah jumat, idul fitri, idul adha, maupun kultum. Resah karena merasa tidak pantas menceramahi orang, sedang diri sendiri masih belangsakan. Tapi setelah mendapat nasihat dari dua orang guru, perasaan itu menjadi hilang. Guru pertama mengatakan bahwa penceramah sama halnya profesi lainnya. Ia tidak jauh beda dengan guru di sekolah, ustadz di pesantren, maupun penulis sekalipun.

Apa karena penulis, misalnya, tidak punya tanggung jawab seperti halnya penceramah? Ujar sang guru. Penulis juga dibebankan tanggung jawab atas apa yang ditulisnya. Karena notabene-nya sama saja dengan ceramah, yakni menyampaikan sesuatu kepada orang lain, cuma bedanya ini dalam bentuk tulisan, bukan tuturan. Hakikat tulisan sebenarnya ceramah dalam bentuk tulisan bukan lisan. Jadi, sama sekali tidak ada bedanya.

Kedua, menurut sang guru, seandainya bukan semacam aku maka kedudukan penceramah akan diisi oleh orang-orang yang kurang bermutu. Kasihan masyarakat tidak mendapatkan pencerahan dan pengetahuan yang memadai. Untuk hal ini sebenarnya aku kurang setuju dengan sang guru, karena masing-masing penceramah mempunyai gaya dan kemampuan yang berbeda. Sifatnya sungguh relatif.

Tapi, memang kita tidak menutup mata kalau ada tipe penceramah yang tidak “mencerdaskan”, malahan yang ada adalah provokasi terhadap sesuatu yang tidak sejalan/semazhab dengan si penceramahnya. Ini mungkin yang dimaksud sang guru, sehingga orang-orang yang berpendidikan dalam agama harus turun tangan. Jika tidak, maka akan diisi oleh orang-orang yang berperangai provokatif seperti itu.

Adapun guru kedua mengatakan bahwa salah satu jenis guru pencerahan adalah guru yang belajar menjadi penggembala domba. Artinya tidak harus tercerahkan dulu untuk memberi pencerahan. Jenis guru ini adalah membimbing dan membimbing. Setelah semuanya tercerahkan barulah dirinya mengikuti. Atau bisa jadi tercerahkan secara bersama-sama. Saya menangkap perkataan guru kedua ini adalah bahwa kita meniatkan diri kita mengajari orang adalah dengan belajar.

Ya, belajar dengan cara mengajar. Jadi, kita mengajar pada hakikatnya adalah belajar juga. Kalau dalam khutbah jumat kita mendengar, “Usikum wa iyyaya bitaqwallah—saya berwasiat kepada kalian dan kepadaku sendiri agar bertakwa kepada Allah,” itu artinya bahwa kita boleh menyampaikan pesan kepada orang lain karena sejatinya kita berpesan kepada diri sendiri juga.

Kedua guru itu memantapkan hati saya untuk memberikan ceramah kepada orang lain, baik itu khutbah jumat, idul fitri, idul adha, kultum, pengajian, atau pun ceramah lainnya. Kini saya tidak ada keraguan lagi untuk melakukannya, karena sejatinya saya sedang menceramahi diri sendiri juga, dan juga sedang belajar untuk menjadi pribadi yang baik. Simpel. Soal tanggung jawab, kita semua mempunyai tanggung jawab.

Apa pun profesinya. Semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, kelak di akhirat. Saya menyandarkan hal ini pada sabda Nabi Saw. “Setiap di antara kalian adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkannya.” Ya, kita semua adalah pemimpin, karena kita adalah khalifah.

Mungkin bisa saja kita mengelak dengan mengatakan bahwa kita belum pantas menceramahi, mendidik, atau mengajari orang, karena berbagai alasan. Misalnya, karena ilmu kita yang masih dangkal, masih muda, masih belum menjadi muslim yang baik, dan seabrek dalih lainnya. Tapi, itu bukan alasan yang logis. Dengan prinsip dasar yang telah dikemukakan di atas bahwa masing-masing di antara kita semua adalah guru, belajar dari orang lain dan mengajar kepada orang lain.

Mungkin hadis nabi ini akan menjelaskan bahwa kita sebenarnya dituntut untuk saling memberi pengetahuan, “Ballighu anni walau ayatan—sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.” Dari sabda Nabi tersebut kita telah diberi legitimasi perihal mengajarkan sesuatu kepada orang lain. Pengetahuan adalah sesuatu hal penting karena dapat membantu orang lain dari yang tadinya tidak tahu akhirnya menjadi tahu. Maka tidak aneh apabila ada yang mengatakan Knowledge is power—pengetahuan adalah kekuatan.

Jadi, orang yang sudah mengajarkan sesuatu kepada orang lain sejatinya ia sedang mengamalkan hadis nabi di atas. Ketika kita memberi ceramah bukan berarti mau sok-sokan, sok tahu, dan sok pintar, tetapi memang Nabi menyuruh kita untuk menyampaikan pengetahuan yang kita dapat. Bahkan orang yang tahu sebenarnya wajib menyampaikan kepada yang belum tahu, selain mengamalkannya atas apa yang disampaikannya. Di sinilah fungsinya orang yang berpengetahuan, tidak saja untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk orang lain. Karena dengan begitu ilmu pengetahuan yang didapatkannya benar-benar bermanfaat dan berkah, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Saya teringat dengan perkataan Imam Ali bin Abi Thalib yang mengatakan, “Unzur ma qala wa la tanzur man qala—lihatlah apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan.” Perkataan Imam Ali tersebut menekankan kepada obyek bukan subyek. Secara tidak langsung kata mutiara itu agar kita menghindari egoisme diri. Kita harus welcome dengan siapa saja yang menyampaikan suatu kebaikan. Gengsi harus dihindari. Toh manfaatnya untuk diri sendiri juga. So, jangan sampai keegoan kita dikalahkan oleh nilai-nilai kebenaran yang disampaikan orang lain, siapa pun itu.

Maka, di sinilah pentingnya mendengar. Orang yang mau mendengar adalah pintu gerbang menuju pencerahan. Tentu saja mendengarkan perkataan-perkataan yang baik, bukan yang buruk. Allah berfirman: Yang mendengarkan Perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS. Az-Zumar: 18).

Sangat jelas, orang yang disebut berakal ialah yang mau mendengar perkataan baik orang lain dan lalu mengamalkannya. Inilah landasan normatif yang dibuat oleh Allah agar kita mau belajar dan mengajar kepada orang lain. Mendengar adalah wasilah untuk belajar kepada orang lain dimana kemudian hasilnya harus kita ajarkan kepada orang lain lagi. Begitulah hukum alam (Sunnatullah) yang dibuat Allah untuk kemaslahatan manusia dan alam semesta ini.  

Telinga adalah alat kita untuk mendengar. Allah menciptakan dua telinga, sedang mulut sebagai alat wicara, diciptakan hanya satu. Mungkin itu sebagai petanda bahwa kita harus banyak mendengar ketimbang bicara. Dengan mendengar kita akan lebih banyak menyerap informasi, sedang dengan bicara kita hanya sedikit menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Bahkan, kita dapat menyampaikan pengetahuan sesuatu kebanyakan berdasarkan pendengaran (di samping penglihatan).

Oleh karena itu tidak aneh apabila Allah menyebut telinga lebih dulu dari yang lainnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Isra: 36). []

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Santri Salafiyah Kajen Juara Pencak Silat Nasional

    Santri Salafiyah Kajen Juara Pencak Silat Nasional

    • calendar_month Sen, 16 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

    SEMARANG-Ikatan Pencak Silat NU yang dikenal dengan Pagar Nusa, dalam perkembangannya telah banyak mengalami perkembangan. Dari yang semula berfungsi sebagai pelindung para ulama, sekarang juga mengarah ke arah prestasi. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pelatih pencak silat Pagar Nusa di Madrasah Salafiyah, Zaenal Abidin. “Dulu para santri-santri jawara silat bertugas untuk menjaga ulama saja, […]

  • PCNU PATI. Fatayat NU Ranting Desa Tanjungrejo, Mengadakan Pelatihan Sabun Herbal Susu

    Fatayat NU Ranting Desa Tanjungrejo, Mengadakan Pelatihan Sabun Herbal Susu

    • calendar_month Sab, 25 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pimpinan Ranting Fatayat NU desa Tanjungrejo kecamatan Margoyoso, mengadakan kegiatan rutinan sekaligus pelatihan pembuatan sabun herbal susu Whitening, Jumat, 10/6 kemarin. “Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama satu hari, hal ini adalah tindak lanjut dari kegiatan beberapa waktu lalu yang telah di adakan oleh pimpinan cabang Fatayat NU Pati,”jelas Nining Ketua Pimpinan Fayatat NU […]

  • IPNU/IPPNU Galakkan Sambung Silaturrohim Alumni

    IPNU/IPPNU Galakkan Sambung Silaturrohim Alumni

    • calendar_month Rab, 31 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 421
    • 0Komentar

    KAYEN-Pengurus Cabang IPNU/IPPBU melakukan kegiatan sambung silaturrohim alumni. Acara ini dimaksudkan agar hubungan antara pengurus dengan para alumni IPNU/IPPNU senantiasa terhubung. Foto bersama PC IPNU/IPPNU Pati dengan Ummi Nadziroh, salah satu alumni IPPNU Hal ini sangat penting untuk memahami jejak pergerakan organisasi dari masa ke masa. Selain itu, agenda ini bertujuan agar para kader IPNU/IPPNU […]

  • PCNU-PATI

    Pedagogi Ramadan

    • calendar_month Rab, 27 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 670
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Beragam sebutan untuk bulan Ramadan. Mulai dari Ramadhan Syahrul Mubarak (Ramadan bulan penuh berkah), Ramadhan Syahrul Adhim (Ramadan bulan agung), Ramadhan Syahrul Maghfiroh (Ramadan bulan penuh ampunan), Ramadhan Syahrul Quran (Ramadan bulan Al-Quran karena bulan Nuzulul Quran), dan sebutan lain. Bagi saya, yang paling berkesan selain sebutan-sebutan atau fungsi-fungsi di atas adalah […]

  • Instruktur Kaderisasi IPNU-IPPNU Kabupaten Turun Gunung

    Instruktur Kaderisasi IPNU-IPPNU Kabupaten Turun Gunung

    • calendar_month Kam, 18 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 562
    • 0Komentar

    Instruktur kaderisasi PC IPNU IPPNU KAB. PATI lakukan breefing untuk memaksimalkan kader IPNU IPPNU di tingkatan MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) PATI-Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) adalah salah satu pendidikan kaderisasi tingkatan awal atau pintu masuk untuk menjadi anggota IPNU dan IPPNU. Madrasah Miftahul Huda (MMH) Tayu adalah salah satu madrasah yang memiliki Pimpinan komisariat IPNU IPPNU […]

  • PCNU-PATI

    TPA (Tempat Penitipan Anak)

    • calendar_month Jum, 16 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 807
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Pada percakapan sore hari bersama orang-orang terkasih, saya mendapat ide untuk tulisan hari ini. Kami membicarakan tema yang cukup penting didalam kehidupan. Lebih tepatnya sesuatu yang bersinggungan dengan dunia parenting. Dimana makin kesini makin banyak sekolah tingkat PAUD yang juga didalamnya mencakup tempat penitipan anak. Data dari kemdikbud (kementerian Pendidikan, Kebudayaan, […]

expand_less