Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Dear, Zaujiy

Dear, Zaujiy

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 24 Jul 2022
  • visibility 403
  • comment 0 komentar

Aku tidak akan mengatakan kisahku ini adalah kisah langka, lain daripada yang lain, atau extraordinary. Karena kenyataannya begitu banyak perempuan di dunia ini yang dibebat takdir menyedihkan sepertiku. Menikah bertahun-tahun tapi tak kunjung dianugerahi rejeki berupa keturunan. Menjadi pihak yang harus mau tidak mau memaklumi perasaan mertua dan suami yang ingin sekali menimang bayi. Apalagi suami adalah anak sulung dan memiliki adik janda yang tak kunjung terlepas dari belitan status sosialnya itu. Lalu pada siapa lagi harapan ibunya memiliki cucu harus bermuara kalau bukan pada suamiku?

Perempuan semacamku harus rela perasaannya terabaikan dan tidak perlu dicemaskan sebab memang vonis dokter adalah takdir ilahi. Jika bersuara keras di depan suami bukanlah sebuah dosa, aku juga ingin menyuarakan hak asasiku. Aku ingin menumpahkan semua kesedihanku. Seperti; siapa sih yang tidak ingin punya anak, Mas? Istri mana yang tidak ingin mengandung benih suaminya? kamu pikir aku tidak hancur dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa memberi keturunan? Kamu pikir kamu saja yang ingin mendengar suara tangis bayi dari darah daging sendiri? Atau kalimat bantahan lainnya. Sungguh sudah lama aku ingin menyembur muka suamiku dengan kalimat-kalimat itu. Begitu pula malam ini, saat tubuh kami berada di atas peraduan kasih kami selama berpuluh tahun. Kucoba untuk berbicara dari hati ke hati. Kuturunkan egoku dan kulirihkan suaraku. Kutekan rasa perih yang mengonggok dalam sukma sekuat tenaga. Berharap tanda-tanda suami ingin berpoligami hanyalah kekhawatiran belaka.

“Mas.”

“Hem?”

Hening sebentar. Tubuh Mas Naufal telentang dengan mata terpejam. Kedua tangannya dilipat di atas dada. Aku tahu dia belum tidur karena bulu matanya masih bergerak-gerak. Sedangkan aku nyata-nyata menatap suamiku dengan poisisi menghadapnya dan pipi bertumpu pada telapak tangan kanan.

“Mas.”

“Apa, Dek Husna?”

“Jangan tinggalkan aku ya, Mas?” suaraku lirih dan berat, seberat beban dalam dadaku.

“Maksudmu?” tanya Mas Naufal. Kini matanya terbuka. Menatap langit-langit kamar yang remang-remang.

“Ya, Mas Naufal jangan ada pikiran menikah lagi. Aku tidak siap diduakan.”

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dek. Tak pernah ada dalam kamus hidupku menceraikanmu. Kamu adalah cinta pertamaku dan akan selamanya begitu.”

Mawar-mawar di hatiku bermekaran. Rasanya begitu membahagiakan. Aku semakin menatapnya lekat.

“Tapi Mas Naufal nggak ada akan berpoligami kan?”

Aku sudah bersiap memasang senyum lalu sigap memeluknya karena yakin Mas Naufal akan menjawab dengan kalimat manis yang menenangkan seperti; jangan khawatir, Dek meskipun kita tidak memiliki anak toh kita sudah punya banyak santri yang kita sayangi seperti anak kita sendiri dan menyayangi kita seperti orang tua mereka sendiri. Tidak memiliki keturunan bukanlah pencapaian tertinggi. Pencapaian tertinggi adalah bisa dekat dengan Allah dan mati dalam keadaan khusnul khotimah. Kiai Sahal Mahfudz yang merupakan ulama besar dan jelas-jelas butuh kader untuk memegang tongkat estafet kepemimpinan pesantren saja tidak berpoligami. Kiai Sahal memilih setia meski beliau dan istrinya, Bu Nyai Nafisah belum dikaruniai keturunan seperti kita. Masa aku yang mantan preman begini berani-beraninya menikung prinsip beliau. Anak memanglah sebuah pengikat yang menjadikan tali pernikahan semakin erat. Tapi banyak pula di luar sana yang memiliki banyak anak akhirnya bercerai juga. Atau punya banyak anak tapi anaknya nakal-nakal, suka membangkang dan menyakiti hati orang tuanya. Anak bukanlah jaminan bahagia.

Tak kusangka jawaban suamiku di luar prediksi. Setelah menarik napas panjang ia dengan tega melontarkan kalimat serupa pisau tajam, “Lha emang kamu nggak pengen aku punya anak?”

Lalu dengan bodohnya aku menjawab, “Ya, pengen lah, Mas.” Karena aku memang ingin memiliki anak. Tapi anak yang hidup sembilan bulan di perutku, anak yang lahir dari rahimku. Bukan anak dari benih suamiku tapi lahir dari rahim perempuan lain. Bukan. Aku tidak bisa seperti Siti Sarah rela yang Nabi Ibrahim menikah lagi. Aku tidak mampu menerima kehadiran Siti Hajar yang lain di kehidupanku.

“Emang kamu nggak pengen emakku punya cucu? Kamu nggak kasihan?” tanyanya lagi. Seolah memberi penegasan bahwa dia dan ibunya lah yang paling nelangsa di muka bumi.

“Iya, Mas. Pengen.”

“Kamu tidak usah khawatir, Dek. Ketahuilah! yang pertama tidak akan tergantikan sampai kapanpun.”

Setelah itu aku tak mampu bersuara lagi. Sambil menekan dada aku berguling memunggungi. Kami saling beradu punggung setelah percakapan singkat tadi. Ternyata ide menikah lagi suamiku adalah nyata. Bukan sebuah mimpi buruk atau kekhawatiranku saja. Jawabannya tadi sudah cukup menjadi bukti bahwa dia menginginkan kehadiran bayi dari rahim perempuan lain. Cairan bening yang sejak tadi menggelayut di ujung mataku berubah hujan deras yang membasahi pipi serta bantalku. Namun aku bertekad dalam bisu tak akan membiarkan suamiku tahu bahwa aku sedang menangis dan tergugu. Aku takkan membiarkan dia atau bahkan diriku sendiri menilai lemah hati ini.

Apapun yang akan terjadi di masa depan, siap tidak siap harus kuhadapi. Beruntung aku adalah seorang santri yang punya bekal cukup untuk mengarungi lautan pahit kehidupan. Salah satunya nasehat ini.

“Kunci kebahagiaan hidup itu ada tiga; sabar, ikhlas dan syukur.”

Jika aku tidak bisa ikhlas jika kenyataannya suamiku menikah lagi, aku masih punya sabar dan syukur. Karena aku tahu, bersyukur itu lebih baik dan bersabar itu lebih didamba. Aku yakin jika kita menitipkan urusan pada Allah, maka Allah akan mengganti yang lebih baik dari apa yang kita harapkan. Semakin kita bersyukur maka Allah akan menambah nikmat-Nya, tapi jika kita mengkufuri nikmat itu, azab Allah sangat pedih. Di tengah kepungan ujian ini, Allah masih mempercayakan sebuah pesantren yang kurintis dari nol, majlis ta’lim Al-quran, Jami’iyah Tartilan, Bimbel AnNaufal Children. Semua itu adalah keberuntungan dan kebahagiaan yang tidak bisa dibeli apapun.

“Husna … kamu kuat, Husna. Allah tidak akan menguji diluar kemampuan hamba-Nya.”

Saat ini siapa yang akan menguatkan aku jika bukan diriku sendiri. Bukan Mas Naufal yang kini sudah terdengar dengkur halusnya. Bukan adekku Yasalil yang sudah jauh di mata, hidup bahagia bersama suami dan ketiga anaknya. Bukan bapak yang sudah senja, bukan pula jangrik dan katak yang berdendang bersahutan di luar sana, apalagi ibuku yang sudah kembali pada Yang Maha Esa. 

Kuambil mushaf di atas nakas dan mendekapnya erat. Daripada tak bisa tidur dan menangis seperti anak kecil, lebih baik aku menderas. Teman yang kubutuhkan dan bisa mengobati lukaku hanyalah Al-quran. Ayat yang berbunyi والذ ين اوتوالعلم درجات bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat berhasil menyertetku ke masa lalu. Masa yang sangat kuat terpatri dalam hatiku. (Elin Khanin)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IAIN Kudus PPL di PC Lazisnu Pati

    IAIN Kudus PPL di PC Lazisnu Pati

    • calendar_month Rab, 10 Jul 2024
    • account_circle admin
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PC Lazisnu Pati kembali menerima mahasiswa PPL (Praktik Profesi Lapangan) dari kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus pada rabu (10/07). Acara tersebut berlangsung di kantor PC Lazisnu Pati. Dalam pelaksanaan program profesu pengalaman lapangan (PPL) dimaksudkan untuk menciptakan mahasiswa yang unggul dalam bidangnya yaitu manajemen zakat dan wakaf. Dalam hal ini IAIN Kudus […]

  • Bangun Kepemimpinan Bisnis Era Digital, MWC NU Susukan Gandeng Fakultas Dakwah UIN Saizu Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Bangun Kepemimpinan Bisnis Era Digital, MWC NU Susukan Gandeng Fakultas Dakwah UIN Saizu Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    • calendar_month Sen, 20 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.791
    • 0Komentar

      BANJARNEGARA, 19 Juli 2026 – Guna mencetak kader yang adaptif dan berdaya saing di era teknologi, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, menggelar Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik. Acara strategis yang mengusung tema “Membangun Kepemimpinan Bisnis yang Kuat di Era Manajemen Digital” ini dilaksanakan di Gedung MTs Ma’arif NU […]

  • Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    Relawan NU dan Warga Gotong Royong Pindahkan Rumah Pasca Banjir Bandang di Peunaron Aceh

    • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.435
    • 0Komentar

    Aceh Timur — Banjir bandang itu datang tanpa memberi waktu. Dalam hitungan menit, air setinggi enam meter menyeret rumah, sawah, ternak, kendaraan, dan seluruh harta warga Dukuh Dataran Indah, Kecamatan Peunaron. Di antara ratusan korban, rumah milik Maslukin, Wagiran, Adnan, dan Efendy ikut tergeser puluhan meter dari tempat semula. Hari itu, Jumat 16 Januari 2026, […]

  • Keterangan foto: Anis Sholeh Ba’asyin dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman ‘Merayakan Kemiskinan Dengan Bahagia’ yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (21/6).

    Ngaji NgAllah Suluk Maleman Menyoal Merayakan Kemiskinan dengan Bahagia

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 448
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Universitas Harvard pada Mei lalu, berdasar penelitiannya, menyebut Indonesia sebagai negara paling bahagia di dunia. Anugerah itu memiliki keterkaitan dengan tingkat kesejahteraan masyarakatnya. Kajian inilah yang kemudian dijadikan salah satu topik pembahasan dalam Suluk Maleman edisi ke 162 pada Sabtu (21/6) malam. Budayawan yang juga penggagas Suluk Maleman Anis Sholeh Ba’asyin menyebut hal itu […]

  • Tanya Jawab Bersama Syuriah

    Tanya Jawab Bersama Syuriah

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 361
    • 0Komentar

    Assalamu’alaikum Wr Wb. Sekarang ini sudah umum atau biasa dikalangan masyarakat, apabila ada pengajian yang diisi oleh seorang muballigh, sebelum ia sampai ke tempat untuk berceramah, maka akan disambut dan diiringi dengan bacaan : طلع البدر علينا من ثنيات الوداع وجب الشكر علينا ما دعا لله داع dengan tujuan penghormatan terhadap muballigh tersebut. Padahal dalam […]

  • PCNU-PATI

    Sirah Mulia Ummul Mukminin

    • calendar_month Ming, 5 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 509
    • 0Komentar

    Syaikh Mahmud Al-Mishri, penulis yang biasa dipanggil Abu Ammar ini merupakan seorang dai kelahiran Kairo, Mesir. Lulus Sarjana dari Fakultas  Pekerjaan Sosial (Sosiatri), Universitas Helwan, Mesir. Belajar ilmu syar’i kepada para ulama Mesir. Kemudian melanjutkan belajar Ushuluddin dan Dakwah Islamiyyah secara talaqqi kepada para ulama Arab Saudi. Berhasil meraih Ijazah Ilmiah di bidang kajian  kitab-kitab […]

expand_less