Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pendidikan Perdamaian dalam Perspektif Abdurrahman Wahid

Pendidikan Perdamaian dalam Perspektif Abdurrahman Wahid

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 19 Mei 2022
  • visibility 421
  • comment 0 komentar

KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur lahir dan dibesarkan dalam lingkungan pesantren yang kental dengan pendidikan keislaman. Sejak kanak-kanak Gus Dur mendapatkan bimbingan dari orang tuanya. Sehingga dari keluarga pesantren dan tumbuh kembang dari pendidikan pesantren kelak akan memberikan warna bagi perkembangan intelektualitasnya hingga tumbuh dewasa.


Sejak menuntut ilmu di berbagai pesantren baik dari lingkungan keluarganya, maupun nyantri di Krapyak Yogyakarta dan di Tegalrejo Magelang. Gus Dur menghabiskan banyak waktunya dengan membaca buku-buku Barat, seperti Das Kapital, Filsafat Plato, Thales, novel-novel Willem Bochner, serta Romantisme Revolusioner. Sehingga membuat Gus Dur semakin dewasa dalam berfikir dan semakin lihai dalam diplomasi.


Selain itu, Gus Dur memiliki kelebihan dalam menggunakan bahasa asing yang bagus, sehingga membuatnya sangat mudah dalam memahami pemikiran ilmuan kelas dunia, seperti Karl Marx, Lenin, Gramsci, Mao Zedong, dan karya-karya pemikiran Islam progresif. Hal inilah yang berpengaruh pada pemikiran dan kiprahnya kelak.


Dari situlah Gus Dur tumbuh kembang menjadi manusia yang multitalenta. Dalam hal ini misalnya Gus Dur melakukan pembelaan terhadap jemaah Ahmadiyah, ketika itu banyak kelompok mengecam dan menghujat, serta berusaha menyingkirkan kelompok lain yang dianggap sesat dengan cara-cara kekerasan dan penistaan sebagaimana yang kerap dialami jemahaan Ahmadiyah. Gus Dur selalu tampil sebagai pembelanya. Adapun yang dibela Gus Dur bukan keyakinan mereka, tetapi keberadaan mereka sebagai manusia. Bukan pula berarti Gus Dur setuju dengan keyakinan Ahmadiyah. Namun, ia sangat menghormati keyakinan seseorang. Penghormatan inilah sebagai landasan penting bagi terciptanya kerukunan dan perdamaian antarumat beragama.


Dalam kasus Ahmadiyah di atas, pendirian Gus Dur sangat jelas dan tuntas. “Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah. Ngerti, nggak ngerti terserah” (Detik.com,9/6/2008). Pertanyaan itulah yang dilontarkannya ketika kelompok pengikut Mirza Ghulam ini diserang Front Pembela Islam dan muncul desakan agar Ahmadiyah dibubarkan. Pada kesempatan lain, Gus Dur menawarkan kepada kelompok Ahmadiyah berlindung di Ciganjur, lingkungan kediamannya, jika pemerintah dianggap tak lagi bisa melindungi mereka. Di hadapan ratusan anggota Anshor, sayap kepemudaaan NU, Gus Dur juga sempat berpesan untuk melindungi kelompok minoritas seperti Ahmadiyah.


Sedangkan dalam mengimplementasikan pendidikan perdamaian, Gus Dur tak sekedar berhenti pada tataran wacana. Justru, Gus Dur secara konsisten menerapkannya dalam kehidupan nyata, meski kadang-kadang langkah-langkah yang dilakukannya banyak mengandung kontroversi. Secara garis besar, gagasan pendidikan perdamaian Gus Dur diimplementasikan dalam dua ranah utama, yaitu: dimensi wacana dan praktik nyata di tengah masyarakat.


Dalam poin pertama, Gus Dur merupakan pegiat perdamaian yang tak pernah berhenti mewacanakan gagasan dan mengomunikasikannya secara terbuka, baik melalui tulisan-tulisan di media massa maupun melalui diskusi-diskusi baik formal maupun nonformal. Ini yang menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan perdamaian bagi Gus Dur tak cukup hanya sekedar digagas sendirian, tetapi harus dikomunikasikan di ruang publik, agar mendapatkan respon balik dan pengayaan gagasan dari individu-individu lain yang memiliki perhatian yang sama.


Sedangkan dalam poin kedua, Gus Dur tak mau berhenti pada tataran wacana yang melangit. Dia ingin mengimplementasikannya dalam ranah kehidupan masyarakat yang bergerak secara dinamis. Oleh karena itu, bagi Gus Dur, konsep dan implementasi dilaksanakan secara beriringan, bahkan kerap dilakukan secara bersamaan.


Dengan demikian, melalui pendidikan perdamaian kita dapat memandang pluralitas, multikultur dalam berbagai aspek social, ekonomi, politik, dan agama sebagai kekayaan spiritual bangsa yang harus dijaga keberadaannya. (Siswanto)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU Sebut Lazisnu Bakal Jadi Bank Sentral NU

    PCNU Sebut Lazisnu Bakal Jadi Bank Sentral NU

    • calendar_month Rab, 2 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 380
    • 0Komentar

    Ketua PCNU Pati (kiri) berpose dengan ketua PC Lazisnu usai acara Rakercab PC Lazisnu Pati PATI – PC Lazisnu Pati adakan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) di Room Meeting Hotel Safin. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (1/2) lalu.  Dalam Rakercab tersebut, NU Care Lazinu Kabupaten Pati mantab mengusung tema ‘Menuju Lazisnu Pati MANTAP (Modern, Akuntable, Transparan, […]

  • PCNU - PATI

    PCNU Pati Donasi Uang Tunai Rp. 300 Juta Korban Semeru 

    • calendar_month Sel, 19 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    PCNU Kabupaten Pati berkunjung ke PCNU Kabupaten Lumajang pada sabtu (16/7) lalu. Maksud kunjungan ini adalah untuk menyerahkan donasi bagi warga yang terdampak erupsi Semeru akhir tahun 2021.  Pihak PCNU Kabupaten Pati terdiri dari Dr. Choiron selaku wakil ketua, Maskan selaku sekretaris, Dr. Qosim selaku ketua LKNU dan ketua NU Peduli Pati, serta perwakilan LAZISNU […]

  • PC IPNU Sowan ke MWC-NU Gembong

    PC IPNU Sowan ke MWC-NU Gembong

    • calendar_month Sel, 23 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 0Komentar

    GEMBONG-Pengurus Cabang IPNU/IPPNU Pati secara masif menggalang keaktifan ditingkat bawah. Program utamanya adalah pembentukan pengurus sampai di tingkat ranting. Dari total 21 PAC di Kabupaten Pati, hanya Kecamatan Gembong yang belum memiliki Pengurus Anak Cabang IPNU/IPPNU. Koordinasi PC IPNU/IPPNU Pati dengan MWC-NU Gembong Oleh sebab itu, Selasa (23/7) sore, Pengurus Cabang IPNU/IPPNU melakukan silaturrohim di […]

  • PKD PMII, Mabincab : Selalu Bergerak!

    PKD PMII, Mabincab : Selalu Bergerak!

    • calendar_month Sab, 24 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 430
    • 0Komentar

    Drs. H. Ahmad Farid, M.Ag saat memberikan sambutan secara virtual atas nama Mabincab PC PMII Pati dalam acara Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Launching Kepengurusan PC PMII Pati Masa Khidmat 2021-2022 pada hari Kamis (22/07). PATI-Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Pati melaksanakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) dan Launching Kepengurusan PC PMII Pati […]

  • MWC-NU Gembong Dukung Pemerintah Desa Gembong Melestarikan Sejarah

    MWC-NU Gembong Dukung Pemerintah Desa Gembong Melestarikan Sejarah

    • calendar_month Jum, 19 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 637
    • 0Komentar

    GEMBONG-Pelaksanaan kegiatan sedekah bumi Desa Gembong dibuka dengan khotmil qur’an bin nadhor Jumat (19/7) malam. Agenda tersebut dipimpin langsung oleh ketua MWC-NU Gembong K. Sholikhin dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Ust. Shofyan Noor al Hafidz. Seperti kebiasaan yang sudah berjalan, peringatan sedekah bumi ini dipysatkan di Balai Desa Gembong dan Masjid As Sholah […]

  • Perdana, LP Ma’arif Jateng Buka Kelas Sastra Khusus Guru

    Perdana, LP Ma’arif Jateng Buka Kelas Sastra Khusus Guru

    • calendar_month Sab, 19 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    SEMARANG–Pengurus Bidang Diklat dan Litbang LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah, di akhir tahun 2019 akan menggelar Sekolah Menulis Sastra (SMS) #1. Penanggungjawab acara, Hamidulloh Ibda, mengatakan bahwa kegiatan itu diperuntukkan guru dan umum dari semua unsur. “Program ini merupakan bagian dari tindaklanjut Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) yang sudah kami launching pada bulan ini. Menulis dan […]

expand_less