Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Iqra’, Perintah yang Terlupakan

Iqra’, Perintah yang Terlupakan

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 11 Feb 2015
  • visibility 450
  • comment 0 komentar
Kata Iqra’ dalam Al Qur’an memiliki kandungan yang luar biasa, karena ia menjadi kata pertama dari wahyu pertama Surat Al ‘Alaq yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW.  Begitu pentingnya kata Iqra’, sehingga Allah swt mengulang sampai dua kali dalam rangkaian surat Al ‘Alaq.
Rahasia dibalik makna kata Iqra’ telah banyak dikaji dalam berbagai konteks disiplin keilmuan, keimanan, maupun pendidikan. Mengapa Allah swt menurunkan ayat iqra’ (baca) dan qalam (pena/tulisan) dalam satu paket dan kemudian ayat-ayat tersebut diletakkan di paling awal dari wahyu yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Saw.?
Kerangka  non-Qur’anic yang melatarbelakangi turunnya Surah Al ‘Alaq secara tradisional seringkali berhubungan dengan kisah dimana pada saat penunjukan awal Muhammad sebagai rasul,
kemudian malaikat Jibril terlihat olehnya seakan memberikannya satu naskah dan memintanya untuk membacanya dengan situasi dan kondisi yang sangat dramatis. Dari kisah ini penafsiran dua imperatif (kata perintah) awal “iqra“, yang diterjemahkan sebagai “baca!“, dalam 96:1-5 ditetapkan. 
Dalam kisah historis turunnya ayat ini,Nabi Muhammad rasul terakhir yang diangkat Allah, tidak saja gemetar ketika Jibril mendekapnya sembari meminta, ”Bacalah!” Suami Khadijah itu juga bingung. Bagaimana tidak, seorang yang ummi atau tak bisa baca tulis, tiba-tiba diminta membaca. Jibril, sang penyampai wahyu itu tetap menyampaikan dengan perintah, ”Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang mencipta segala sesuatu. Iqra bismi rabbikalladzi khalaq.”
Dalam Tafsir Al-Mishbah, Quraish Shihab menunjukkan secara jelas bahwa ayat-ayat Surah Al-`Alaq, terutama lima ayat awalnya, mengandung kata iqra’ dan qalam. Hal ini menunjukkan bahwa Surah Al-`Alaq tidak hanya berkaitan dengan perintah membaca, ada kemungkinan besar kegiatan membaca itu perlu dikaitkan dengan kegiatan menulis. Bahkan, kegiatan menulis itu menjadi sangat penting diperhatikan karena setelah turun kelima ayat dari Surah Al-`Alaq, turunlah kemudian ayat Nuun demi qalam dan apa yang mereka tulis..” (QS Al-Qalam [68]: 1).
Secara etimologis Iqra’ diambil dari akar kata qara’ayang berarti ‘menghimpun’, sehingga tidak selalu harus diartikan ‘membaca sebuah teks yang tertulis dengan aksara tertentu’. Selain bermakna ‘menghimpun’, kata qara’a juga memiliki sekumpulan makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak. Allah swt. berfirman : (“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”).
Dalam kamus Al Munawir kata Iqradengan berbagai macam bentukannya memiliki makna yang beraneka ragam, antara lain  dari akar kata qara’a – qiraatan – qur’anan memiliki makna waqtara’a, tathaqa bil maktuubi fiihi  (membaca), atau bermakna thala’a (menelaah, mempelajari), jika dihubungkan dengan kata asysyaia bermakna jama’ahu (mengumpulkan). Sedangkan dari bentukan aqra’a bermakna ja’alahu yaqra’u(membacakan, mengajar, menyuruh membaca).
Kata qara’a di dalam Alqur’an terulang sampai 3 kali, yaitu  pada surat Al Isra’ ayat 14 : (“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu Ini sebagai penghisab terhadapmu”). Kemudian dalam surat Al ‘Alaq ayat 1 dan ayat 3 : (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,  Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,)
Dalam tafsir Al Maraghi, kata Iqra’  di dalam ayat pertama surat Al ‘Alaq bermakna Shir Qari’an (jadilah pembaca), walaupun sebelumnya bukanlah pembaca, bukan pula penulis, dan telah dating titah Ilahi agar dia menjadi seorang pembaca walaupun bukan penulis; akan dinuzulkan kepadanya (Muhammad saw) sebuah kitab yang akan dibacanya, walaupun tidak ditulisnya sendiri.
Sementara Al Hanafi menafsirkannya dengan If’al ma umirtu bihi minal Qur’ani artinya laksanakanlah apa yang telah Ku-perintahkan  kepada kamu di dalam Al qur’an. Menurut Ar Razi bermakna Iqra’ awalan li nafsika, wa tsani litabligh, maksudnya “Bacalah, pertama untuk dirimu sendiri, dan kedua untuk tabligh”. Selanjutnya “Bacalah! pertama untuk ta’allum (belajar) dari Jibril, dan kedua untuk ta’lim (mengajarkan) kepada orang lain.
Terlepas dari perdebatan para mufasir terhadap maksud Allah menurunkan ayat “Iqra'” sebagai wahyu pertama kepada Nabi Muhammad saw, perlu kiranya dilakukan kajian secara khusus konteks histories melalui berbagai pendekatan tafsir Al Qur’an, terutama ayat-ayat yang memiliki Kerangka  non-Qur’anic melalui kisah-kisah dramatis.
Tradisi Iqra’, Peletak Dasar Peradaban Manusia
Secara menarik, Prof. Dr. Quraish Shihab juga menunjukkan bahwa akar kata iqra’, yaitu qara’a, itu artinya bukan sekadar membaca. Qara’aberarti meneliti, mendalami, menghimpun, dan menemukan sesuatu yang bermakna. Bahkan kegiatan yang bertumpu pada makna kata qalam-lah yang kemudian dapat mengefektifkan kegiatan yang bertumpu pada makna kata iqra`. walaupun secara eksplisit tidak mengaitkan kata iqra’ dan qalam, namun sebenarnya kedua kata tersebut memiliki keterkaitan yang kuat.
Mari kita baca apa yang disampaikan oleh Quraish Shihab tentang  makna kata qalam: Kata qalam di sini dapat berarti hasil dari penggunaan alat tersebut’, yakni tulisan. Ini karena bahasa sering kali menggunakan kata yang berarti ‘alat’ atau penyebab untuk menunjuk ˜akibat’ atau ˜hasil’ dari penyebab atau penggunaan alat tersebut. Misalnya, jika seseorang berkata, ˜saya khawatir hujan’, maka yang dimaksud dengan kata ‘hujan’ adalah basah atau sakit, dan hujan adalah penyebab semata.
Apa yang harus dibaca? Dalam satu riwayat, Nabi saw setelah mengalami kepayahan karena dirangkul dan diperintah membaca oleh malaikat Jibril a.s. beliau lantas bertanya: Ma aqra’ ya jibril? namun pertanyaan tersebut tidak dijawab oleh malaikat Jibril a.s., karena Allah menghendaki agar beliau dan umatnya membaca apa saja, selama membaca tersebut dilandasi bismirabbika(atas nama Allah), dalam arti bermanfaat untuk kemaslahatan sosial.
Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain mampu memilih bahan-bahan bacaan yang tidak menghantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan ‘nama Allah’ itu.
Jika begitu kata Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, bacalah tanda-tanda zaman, sejarah, diri sendiri baik yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau.
Sungguh, perintah membaca merupakan sesuatu yang paling berharga yang pernah dan dapat diberikan kepada umat manusia. ‘Membaca’ dalam aneka maknanya adalah syarat pertama dalam pengembangan ilmu dan tekhnologi, serta syarat utama membangun peradaban.
Semua peradaban yang berhasil bertahan lama, justru dimulai dari satu kitab (bacaan). Peradaban Yunani dimulai dengan Iliad karya Homer pada abad ke-9 sebelum Masehi. Ia berakhir dengan hadirnya Kitab Perjanjian Baru. Peradaban Eropa dimulai dengan karya Newton (1641-1727) dan berakhir dengan filsafat Hegel (1770-1831) . Peradaban Islam lahir dengan kehadiran al-Qur’an.
Pengulangan perintah membaca dalam wahyu pertama ini, bukan sekedar menunjukkan bahwa kecakapan membaca tidak diperoleh kecuali mengulang-mengulangi bacaan, atau membaca hendaknya dilakukan sampai mencapai batas maksimal kemampuan. Tetapi juga untuk mengisyaratkan bahwa mengulang-ulangi bacaan dengan bismirabbika (atas nama Allah) akan menghasilkan pengetahuan dan wawasan baru walaupun yang dibaca hal itu juga. Mengulang-ulang membaca al-Qur’an tentunya akan menimbulkan penafsiran baru, pengembangan gagasan, dan menambah kesucian jiwa serta kesejahteraan batin. Berulang-ulang ‘membaca ‘ alam raya, membuka tabir rahasianyadan memperluas wawasan serta menambah kesejahteraan lahir.
Objek iqra’ yang sedemikian luas itu, memang seolah-olah dapat menyempit apabila hanya dilihat dari rangkainnya perintah membaca dengan qalam. Namun harus diingat bahwa sekian pakar tafsir kontemporer memahami kata qalam sebagai segala macam alat tulis-menulis sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih dan juga harus diingat bahwa qalam bukan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan.

Dengan kontekstualisasi makna iqra’ di atas, kita dapat memahami bahwa pengetahuan dan peradaban yang dirancang oleh Alqur’an adalah pengetahuan terpadu yang melibatkan akal dan kalbu dalam perolehannya (output).  Betapa al-Qur’an sejak dini telah memadukan usaha dan pertolongan Allah, akal dan budi, pikir dan zikir, iman dan ilmu. Akal tanpa kalbu menjadikan manusia seperti setan. Iman tanpa ilmu sama dengan pelita di tangan bayi, sedangkan ilmu tanpa iman bagaikan pelita di tangan pencuri. Dan al-Qur’an sebagai sebuah kitab terpadu, tentunya menghadapi dan memperlakukan peserta didiknya dengan memperhatikan keseluruhan unsur manusiawi, jiwa, akal, dan jasmaninya. (Yusuf Hasyim Addakhil)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Relisensi LSP P2 Ma'arif PWNU Jawa Tengah

    Relisensi LSP P2 Ma’arif PWNU Jawa Tengah

    • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.867
    • 0Komentar

      Relisensi LSP P2 Ma’arif NU Jawa Tengah merupakan proses penilaian ulang yang dilakukan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk memastikan bahwa LSP tetap memenuhi standar mutu, tata kelola, dan kompetensi dalam pelaksanaan sertifikasi. Melalui relisensi ini, LSP P2 Ma’arif NU Jawa Tengah menunjukkan komitmennya dalam menjaga kualitas layanan sertifikasi, meningkatkan profesionalisme asesor, serta […]

  • LKNU Pati Gelar Tes Kesehatan Gratis, Warga Antusias Mengikuti Pemeriksaan

    LKNU Pati Gelar Tes Kesehatan Gratis, Warga Antusias Mengikuti Pemeriksaan

    • calendar_month Rab, 26 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 368
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id Pati – Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Pati mengadakan tes kesehatan gratis bagi warga pada Selasa (26/2). Kegiatan yang berlangsung di Dukuh Wonokerto, Desa Pasucen, Kecamatan Trangkil ini mendapat dukungan dari berbagai organisasi sayap NU, seperti Banser Husada, LazizNU Pati, Ranting NU Wonokerto, IPNU, IPPNU, Fatayat, dan Muslimat Ranting Wonokerto. Program ini […]

  • IPMAFA Bersholawat: Habib Bidin Ajak Para Jamaah Cinta Rasul

    IPMAFA Bersholawat: Habib Bidin Ajak Para Jamaah Cinta Rasul

    • calendar_month Kam, 29 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 342
    • 0Komentar

    “Monggo, sholawat sing banter. Ojo nonton sholawat, tapi sareng-sareng nderek maos sholawat sing banter. Insya Allah sing paling banter, utange ndang lunas (Mari berselawat yang keras. Jangan menonton selawat, tapi bersama-samalah membaca selawat yang keras. Insya Allah yang paling keras bacaannya, hutangnya segera lunas).” Demikian disampaikan Habib Ali Zainal Abidin bin Segaf Assegaf sesaat sebelum […]

  • PCNU PATI - Gandeng Lazisnu, Karang Taruna Desa Lahar Santuni Puluhan Anak Yatim

    Gandeng Lazisnu, Karang Taruna Desa Lahar Santuni Puluhan Anak Yatim

    • calendar_month Ming, 24 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 342
    • 0Komentar

    TLOGOWUNGU  – Ramadan memang menjadi momen untuk berlomba-lomba dalam menebar kebaikan. Salah satunya, Karang Taruna Mandala Desa Lahar, Kecamatan Tlogowungu, Pati yang ikut ambil bagian. Para anggota Karang Taruna Lahar ini membagikan ratusan takjil kepada masyarakat yang melintasi jalan depan balai desa setempat. Selain itu, mereka juga memberikan santunan kepada puluhan anak yatim piatu.  Ketua Karang Taruna Desa […]

  • LP Ma'arif NU Jateng Berencana Kerja sama dengan Atase Pendidikan KBRI Malaysia

    LP Ma’arif NU Jateng Berencana Kerja sama dengan Atase Pendidikan KBRI Malaysia

    • calendar_month Sel, 14 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 507
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id-Malaysia – Sekretaris LP Ma’arif Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Tengah, Dr M Ahsanul Husna melakukan kunjungan ke luar negeri, bertemu dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Malaysia Prof Muhammad Firdaus di Kuala Lumpur Malaysia, Selasa (14/1/2025). Diskusi dengan Atase pendidikan KBRI Malaysia menjajaki Kerjasama dengan LP Ma’arif Jawa Tengah dalam hal studi lanjut, para […]

  • calendar

    3 Kriteria Pemimpin

    • calendar_month Kam, 2 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 406
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Shalikhin* “Jika tiga orang keluar untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat satu dari mereka sebagai pemimpin rombongan” (HR. Abu Dawud). Hadits ini begitu menghujam dada, lantaran, penulis baru menyadari bahwa, ungkapan ini hanyalah satu pemantik. Sedangkan efek domino filolofisnya bisa begitu panjang. Maksudnya, begini, Nabi menyabdakan hal remeh temeh itu, agar ummatnya […]

expand_less