Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Kiai Kampung Yang Rendah Hati

Kiai Kampung Yang Rendah Hati

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 25 Mar 2015
  • visibility 465
  • comment 0 komentar

Almaghfurlah KH Ahmad Suyuthi merupakan sosok kiai yang alim tetapi rendah hati. Kontribusinya dalam forum Sidang Syuriah Bulanan di pendopo maqbaroh Syeikh KH Ahmad Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, diakui para ulama dan tokoh masyarakat. Khususnya ketika PCNU dipimpin oleh sahabat karibnya, KH Suyuthi Abdul Qodir, Pendiri Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan.
Katib Syuriah KH Abdul Hadi Kurdi menceritakan hal tersebut kepada NU Online usai pengajian dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul KH Ahmad Suyuthi ke-27 di Masjid Sabilal Muhtadin Langgenharjo-Margoyoso-Pati, (19/1) Ahad malam. Dalam perjalanan menggunakan mobil panitia menuju kediamannya, Kiai Hadi menceritakan sekelumit cerita tentang peran Mbah Suyuthi di ormas Nahdlatul Ulama.
“Ketika saya ditunjuk Kiai Suyuthi Guyangan menjadi Katib Syuriah pada tahun 1978, waktu itu saya masih lajang, saya sering satu majlis dengan Kiai Suyuthi Langgen. Beliau sangat aktif saat sidang syuriah di Kajen,” ujar Kiai Hadi mengawali ceritanya.
Menurutnya, Mbah Suyuthi merupakan salah satu kiai kampung yang bersahaja dan kharismatik. Senada dengan Kiai Hadi, salah seorang santri yang kini menjadi guru senior di Guyangan, Kiai Muhammad Salim, menyatakan bahwa penguasaan Mbah Suyuthi terhadap kitab kuning sangat mumpuni. “Kiai Suyuthi itu orang alim. Beliau itu ‘macan’ bagi masyarakat Langgen dan sekitarnya,” ujar Kiai Salim suatu ketika.
Ada cerita menarik tentang Mbah Suyuthi dari putranya yang kelima, Kiai Moh Asrori (67). Suyuthi muda awalnya menimba ilmu kepada KH Syamsul Hadi di daerah Pati selatan, tepatnya di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken, 25 kilometer tenggara kota Pati. Karena kecerdasannya, oleh sang guru Suyuthi disarankan melanjutkan ngaji kepada Hadratusy Syaikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng. Di sana, Suyuthi Langgen berjumpa Suyuthi Guyangan.
Anehnya, lanjut Asrori, Mbah Suyuthi kembali mondok lagi di Sumberejo, tempat pertamanya menuntut ilmu. Suatu ketika, usai ngaji kitab di serambi masjid, Mbah Syamsul Hadi yang ketika mengajar ngaji kerap membawa serta putri pertamanya, Sholihati. Mbah Syamsul lalu bertanya kepada Sholihati yang duduk di pangkuannya. “Nduk, siapa yang kamu pilih sebagai calon suamimu?” Sholihati yang masih kecil dan lugu tiba-tiba mengarahkan jari telunjuk mungilnya tepat ke arah Suyuthi muda.
Singkat cerita, pernikahan antara Suyuthi dan Sholihati yang saat itu berusia 9 tahun pun dilaksanakan. Meski demikian, Suyuthi tetap melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke beberapa pesantren di Rembang dan Jombang. Sholihati kecil dengan setia menunggu kedatangan sang suami dengan menyimpan telur ayam untuk bekal kembali ke pondok. Hal ini dilakukannya untuk membantu meringankan sang suami dalam mencari ilmu.
Setelah Nyai Sholihati cukup usia untuk diajak membangun rumah tangga, diboyonglah sang istri menuju kampung halamannya di Langgenharjo usai boyongan dari pesantren. Hal ini dilakukan Mbah Suyuthi setelah dipanggil pulang kedua kakaknya, Haji Abdus Shomad dan Haji Markhaban, untuk menyebarkan agama Islam. Pasalnya, kakak pertama yang menjabat petinggi desa (birokrat) dan kakak kedua yang anggota militer itu bersepakat jika sang adik bungsu menjadi tokoh agama di kampungnya.
Dari pernikahannya dengan Nyai Sholihati, Mbah Suyuthi dikaruniai delapan orang putra dan putri: Moh Ma’shum, Ummi Kaltsum, Asiyah, Romlah, Moh Asrori, Moh Asyhari, Moh Asy’ari, dan Moh Masykuri. “Yang saya tidak habis pikir, kenapa bapak tidak mendirikan pesantren. Padahal, kealiman beliau sangat diakui. Peninggalan beliau itu ya masjid Langgen yang kini telah direhab total itu,” ujar Kiai Asrori.
Ketika ditanya mengapa Mbah Suyuthi tidak mendirikan pesantren sebagaimana sahabat karibnya, KH Suyuthi AQ, yang mendirikan Pesantren Raudlatul Ulum di Guyangan, Asrori menjawab bahwa Mbah Suyuthi merasa tidak layak membangun pesantren lantaran sudah ada di Guyangan dan Kajen. Rasa ta’dzimnya kepada KH Suyuthi Guyangan dan KH Abdullah Salam Kajen membuat Mbah Suyuthi menempuh jalan lain.

Meski demikian, lanjut bapak lima anak ini, Mbah Suyuthi menekankan kepada anak cucunya untuk rajin mengaji dan belajar agar bisa berkhidmat kepada masyarakat. Jalan khidmat itu, bagi Mbah Suyuthi sebagaimana dikutip Asrori, tidak hanya melalui pesantren. Tetapi bisa juga melalui masjid, madrasah, atau lembaga pendidikan lainnya.

Di akhir penelusuran sejarah perjuangan Mbah Suyuthi dalam ngemongmasyarakat inilah Wakil Rais Syuriah PCNU Pati KH Abdul Hadi secara khusus berpesan agar anak cucu ulama yang wafat akhir tahun 1982 itu melanjutkan jalan spiritualnya yang sunyi. “Saya salut atas kesederhanaan dan sikap rendah hati beliau. Pesan saya, lanjutkan rintisan Kiai Suyuthi,” pungkasnya. ( NU Online Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Kuli Bangunan Hijrah ke ‘Peng-Anggur-an’

    Dari Kuli Bangunan Hijrah ke ‘Peng-Anggur-an’

    • calendar_month Sen, 2 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 504
    • 0Komentar

    Juliono dan anggur-anggur hasil budi dayanya PATI – Berbagai cara ditempuh masyarakat Kabupaten Pati untuk bertahan hidup di masa pandemi ini. Tak terkecuali Juliono (25), pemuda asal Desa Sokopuluhan, Kecamatan Pucakwangi yang memilih banting setir dari pekeja proyek bangunan menjadi pembudidaya tanaman anggur.  Pria yang merupakan anggota Barisan Ansor Sebaguna (Banser) sekaligus staf Lembaga Amil […]

  • Mbah Arwani Amin Kudus Sang Penjaga Ilmu Qiraat

    Mbah Arwani Amin Kudus Sang Penjaga Ilmu Qiraat Sab’ah

    • calendar_month Rab, 6 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 520
    • 0Komentar

    “Sesungguhnya Alquran diturunkan dalam tujuh huruf, Maka bacalah apa yang mudah darinya menurutmu.” (al-Hadits) Diskursus tentang ragam membaca Alquran tentunya banyak sekali jenisnya. Hal ini tentunya sangat menarik untuk dikaji dan diteliti. Sebagaimana lazimnya diskursus ragam membaca Alquran sudah disepakti oleh para jumhur ulama yang jumlahnya ada tujuh ragam bacaan. Hal ini juga ditegaskan oleh […]

  • Membaca Surat Cinta Emha Ainun Najib

    Membaca Surat Cinta Emha Ainun Najib

    • calendar_month Sab, 5 Des 2015
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

    Muhammad SAW diutus ke dunia untuk menyempurnakan budi pekerti manusia. Lewat pribadi dan sikap yang menawan Muhammad berhasil menyampaikan risalah dari Tuhannya dengan damai. Selain seorang nabi, ia adalah pemimpin yang bijaksana, pengatur strategi perang yang handal, politikus sejati, pebisnis yang sukses dan sebagainya. Sampai-sampai dalam bukunya 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia pembaca menyelami […]

  • Innalillahi, Ketua MWC-NU Tlogowungu Wafat

    Innalillahi, Ketua MWC-NU Tlogowungu Wafat

    • calendar_month Ming, 4 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 553
    • 0Komentar

    KH. Slamet Nasrullah, M.Pd., bersama istri TLOGOWUNGU-Kabar duka kembali datang bagi NU Pati. Salah satu tokoh Nahdlatul Ulama berpulang ke Rahmatullah.  KH. Slamet Nashrullah, M.Pd., yang sedang menjabat sebagai ketua MWC NU Tlogowungu meninggal dunia Minggu (4/7). Kabarnya, sosok yang penuh semangat ini menghembuskan nafas terakhir pada pukul 14.00 WIB.  Wafatnya KH. Slamet menjadi pukulan […]

  • PCNU-Lazisnu Ajak Warga Bantu Korban Gempa Cianjur

    PCNU-Lazisnu Ajak Warga Bantu Korban Gempa Cianjur

    • calendar_month Rab, 23 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 372
    • 0Komentar

    PATI – Lazisnu (Lembaga Amil Zakat Infak Sedekah Nahdlatul Ulama) Kabupaten Pati menggelar donasi untuk para korban gempa bumi di Cianjur beberapa waktu lalu. Hal ini dikonfirmasi oleh Niam Sutaman, Ketua Lazisnu PCNU Pati. Menurutnya, para donatur yang hendak memberi kontribusi bisa langsung mentransfer ke rekening Lazisnu Pati. “Ini soal kemanusiaan. Jadi kami berharap melalui […]

  • Buka GLM Part 3, Ketua Ma’arif NU: Kita Darurat Literasi

    Buka GLM Part 3, Ketua Ma’arif NU: Kita Darurat Literasi

    • calendar_month Sel, 12 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 511
    • 0Komentar

      Ketua Ma’arif NU Jateng Sebut Literasi Indonesia Darurat Semarang – Melalui Zoom Meeting, Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus Part 3 Gerakan Literasi Karya Tulis Ilmiah pada Selasa (12/11/2024) dibuka resmi oleh Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhrudin Karmani. Pihaknya menyampaikan bahwa hasil asesmen kompetensi guru di madrasah Kemenag RI, tingkat literasi […]

expand_less