Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

Intelektual dan Karir Sosial KH. Ahmad Nafi’ Abdillah

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 1 Mar 2017
  • visibility 193
  • comment 0 komentar

Kedalaman ilmu, kebeningan hati, keagungan moral, dan kearifan hidup tidak lahir tiba-tiba. Ia membutuhkan asupan ilmu, bimbingan rohani, dan pancaran cahaya Ilahi dari orang-orang di sekitarnya. Peran keluarga dan lingkungan sangat vital untuk membentuk pribadi agung di atas. Salah pribadi agung tersebut adalah KH. Ahmad Nafi’ Abdillah. Beliau lahir dari lingkungan keluarga yang sangat religius, keluarga yang mengutamakan internalisasi nilai-nilai karakter religi yang sangat dalam. KH. Abdullah Zein Salam (Mbah Dullah) adalah sosok yang sangat tegas dan teguh memegang prinsip. Sebagaimana penuturan al-Marhum dan al-Maghfurlah KH. MA. Sahal Mahfudh ketika penulis wawancarai, KH. Abdullah Zein Salam selalu masang target kepada anak didiknya dalam belajar. Ketika Kiai Sahal belajar di Pondok Pesantren Bendo Kediri, Mbah Dullah memasang target yang tinggi kepada Kiai Sahal untuk menguasai fan ilmu ini dan itu. Kiai Sahal menjadi terpacu dengan target tinggi ini untuk terus meningkatkan kapasitas keilmuan dari waktu ke waktu, sehingga tidak ada waktu luang kecuali digunakan untuk muthala’ah, muthala’ah, dan muthala’ah.
Mbah Dullah sebagaimana penuturan murid beliau al-Marhum al-Maghfurlah KH. Syafi’uddin (Pengasuh Pondok Pesantren Dhiyaul Qur’an Kajen) ketika mengajar al-Qur’an menerapkan prinsip disiplin dan tegas. Ketika santrinya kurang cepat menyerap ilmu yang diberikan atau dalam membaca al-Qur’an banyak kesalahan, maka tidak segan-segan Mbah Dullah menegur dan memberikan peringatan. Dalam mendidik putra-putrinya, Mbah Dullah juga sangat tegas dan jauh dari kesan memanjakan. Beberapa sumber yang penulis ingat mengatakan, Mbah Dullah tidak memanggil putra-putrinya dengan panggilan Gus-Neng, tapi langsung dengan namanya, supaya tidak ada rasa sombong dalam hati putra-putrinya. Mbah Dullah juga tidak segan-segan menghukum anaknya ketika melakukan pelanggaran. Hal sama juga dilakukan KH. Mahfudh Salam, ayahanda KH. MA. Sahal Mahfudh dan kakak KH. Abdullah Zein Salam dalam mendidik anak-anaknya. Menurut Kiai Sahal, ketika beliau membaca al-Qur’an ternyata banyak kesalahan, maka ayahandanya langsung menegur dan memberi hukuman, tentu yang mendidik. Kiai Sahal ketika takut, maka beliau langsung lari menuju kediaman kakeknya KH. Abdussalam dan ketika lari ke pangkuan kakeknya, maka KH. Mahfudh Salam tidak berani menyusul Kiai Sahal karena hormatnya kepada ayahanda.
KH. Ahmad Nafi’ Abdillah tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius, disiplin, dan ketat, baik dalam lapangan ilmu, akhlak, dan perjuangan seperti gambaran di atas. Lahir dari ayahanda KH. Abdullah Zein Salam dan Hj. Aisyah, Kiai Nafi’ Abdillah mendapatkan asupan gizi pengetahuan, spiritual, dan sosial yang sangat dalam. Pengaruh pendidikan ayahnya sangat melekat dalam kepribadiannya. Di samping itu, pengaruh guru-guru beliau di Perguruan Islam Mathali’ul Falah juga sangat besar membentuk karakter beliau yang kuat. KH. Muhammadun Abdul Hadi dan KH. MA. Sahal Mahfudh adalah guru-guru istimewa beliau di Kajen yang menumbuhkan ghirah ilmiyyah dalam diri Kiai Nafi’ untuk mencintai ilmu, mengamalkan ilmu, dan menyebarluaskannya kepada masyarakat.
Guru berpengaruh lainnya adalah KH. Maimun Zubair ketika Kiai Nafi’ meneruskan jenjang pendidikannya ke Pondok Pesantren Sarang. Pondok Sarang secara umum adalah pondok yang orientasi tafaqquh fiddin-nya sangat kuat, khususnya dalam bidang fiqh. Pondok Sarang dikenal sebagai pendekarnya Bahtsul Masail (forum diskusi keagamaan untuk membahas dan memutuskan status hukum masalah aktual yang terjadi dengan tendensi kitab kuning) dari dulu sampai sekarang. Kedalaman aspek gramatikal bahasa (nahwu-sharaf) sangat diperhatikan di Pondok Sarang ini sebelum naik ke jenjang fiqh dan ushul fiqh serta balaghah. Kiai Nafi’ tentu mengalami pergulatan keilmuan yang sangat intens selama di Sarang, bergumul dengan berbagai karya ulama yang dikenal dengan istilah kitab kuning, baik dalam bidang nahwu-sharaf, fiqh-ushul fiqh, balaghah, tafsir, hadis, akhlak, tasawuf, dan lain-lain.
Pergulatan intelektual intens dengan banyak muthala’ah ini menjadi sebuah keniscayaan, tidak hanya mengharap barakah tanpa belajar. Ketika penulis kelas 1 Aliyah PIM, Kiai Nafi’ memberikan wejangan kepada siswa-siswa bahwa barakah sekarang tidak bisa didapatkan tanpa belajar yang tekun. Jika ingin mendapatkan berkah para wali dan guru PIM, maka syaratnya adalah belajar tekun harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bahasa al-Marhum al-Maghfurlah KH. Ali Fattah Ya’qub “waqaddimid dirayah ala ar-riwayah” dahulukan belajar dari riwayat harus selalu dijadikan prinsip utama siswa-siswa PIM untuk mendapatkan keberkahan ilmu. Kiai Mu’adz Thohir sering menceritakan hikayat KH. Muhammadun Abdul Hadi yang belajar sampai lupa waktu ketika diajak munadharah kitab Jam’ul Jawami’ bersama gurunya KH. Mahfudh Salam setelah mengkhatamkan kitab Jam’ul Jawami’ bersama gurunya tersebut.
Thariqah Bersama Habib Luthfi
Pergulatan intelektual Kiai Nafi’ semakin lengkap ketika beliau mengikuti jalan thariqah dengan mursyid Habib Luthfi Pekalongan. Ketika penulis wawancara beliau bersama Mas Ratna Andi Irawan dalam momentum satu abad PIM (2012), Kiai Nafi’ menceritakan pengalaman pendidikan thariqahnya dengan Habib Luthfi yang pada akhirnya beliau diangkat menjadi Mursyid Thariqah dengan tugas yang sangat berat dan agung, yaitu membai’at dan membimbing santri-santri untuk mengambah jalan (suluk) mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam konteks bekerja, Kiai Nafi’ sering mengingatkan kepada orang-orang, khususnya ketika kami shilaturrahim saat lebaran (badan dalam istilah jawa) supaya tetap bertawakkal kepada Allah dan jangan menghitung keuntungan dan memastikannya. Kiai Nafi’ menceritakan pengalaman pribadinya ketika beliau bisnis kapuk dengan kalkulasi keuntungan yang besar, misalnya membeli kapuk dengan harga sekian, kemudian dijual dengan harga sekian, maka keuntungan yang didapat sekian dalam jumlah besar. Apa yang terjadi ? setelah kapuk dibeli, ternyata harga jatuh, akhirnya tidak jadi untung. Hal ini untuk mengingatkan supaya dalam ber-ikhtiyar (bekerja) tidak melupakan aspek tawakkal dan i’timad kepada Allah sebagai Sang Pemberi Rizki dan Pemberi Anugerah satu-satunya, bukan yang lain. Hal ini sebagaimana prinsip kaum Ahlussunnah Wal Jama’ah, khususnya Imam Al-Asy’ari yang melahirkan konsep al-kasb (usaha) sebagai antitesa paham qadariyyah (free will) dan jabariyah (fatalistic). Kasb ini menjadi kompetensi manusia yang bisa digunakan, tapi hasil akhirnya ada dalam genggaman Allah SWT.
Aktivis Organisasi NU
Ketika penulis masih di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kajen Tengah, penulis sering dereake (menemani) Al-Marhum Al-Maghfurlah KH. Ahmad Fayumi Munji mengikuti forum bahtsul masail MWCNU Margoyoso yang saat itu moderatornya adalah al-Marhum al-Maghfurlah KH. Ma’mun Muzayyin. Ketika bahtsul masail dalam rangka Haul Mbah Ronggokusumo, Kiai Nafi’ hadir dan membacakan ta’bir. Kiai Nafi’ juga sering ke Pondok Raudlatul Ulum untuk mengikuti persiapan Bahtsul Masail di tingkat Wilayah bersama KH. Ahmad Fayumi Munji. Penulis sering menyaksikan hal ini. Informasi lain yang penulis himpun dari Bapak Salamun, aktivis PCNU Pati, KH. Ahmad Nafi’ Abdillah pernah menjadi pengurus PCNU Pati dan saat itu beliau aktif ngantor (masuk kantor) untuk menjalankan amanah tersebut. Sampai akhir hayatnya, KH. Ahmad Nafi’ Abdillah menjadi Mustasyar PCNU Pati sebagai sesepuh yang bertugas membimbing pengurus NU supaya berada di jalan yang benar. Sebuah keteladan Sang Kiai kepada kader-kader muda supaya serius mengurus NU dalam rangka khidmah kepada ulama dan umat. NU tidak boleh dibuat mainan, apalagi batu loncatan untuk hal-hal yang sifatnya material dan kedudukan.
Direktur PIM
Sejak meninggalnya KH. MA. Sahal Mahfudh tahun 2014, KH. Ahmad Nafi’ Abdillah meneruskan estafet kepemimpinan PIM sebagai Direktur. Pada masa kepemimpinan beliau, kedisiplinan guru dan murid terjadi peningkatan tajam. Kaidah al-wajib la yutraku illa lil-wajib, kewajiban mengajar tidak boleh ditinggalkan kecuali dengan sesuatu yang wajib, dipraktekkan guru dan siswa dengan tertib. Bimbingan spiritual kepada guru sebagai pengukir karakter anak ditingkatkan dengan pengajian Al-Hikam kepada para guru di gedung PIM. Jika guru baik, maka insya Allah anak didik baik, karena kata guru bermakna filosofis, yaitu digugu ucapannya dan ditiru perilakunya.(Penulis Alumnus PIM 1997 dan Wakil Ketua PCNU Pati)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Semua akan NU pada Waktunya

    • calendar_month Kam, 15 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Oleh : Maulana Karim Sholikhin* Dulu, dulu sekali, diceritakan bahwa Imam Syafi’i sudah mengajar di Masjidil Haram sebelum usianya genap 12 tahun. Santrinya bukan anak-anak yang masih belajar a-ba-ta, melainkan para syaikh, pemuka agama. Bukan main! Al kisah, di suatu hari di Bulan Ramadhan, Imam Syafi’i mengajar sejak pagi sampai siang bolong. Saat mencapai tengah […]

  • Mojo Bersholawat dalam Rangka Sedekah Bumi

    Mojo Bersholawat dalam Rangka Sedekah Bumi

    • calendar_month Rab, 31 Agu 2016
    • account_circle admin
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Pati. Perangkat Desa Mojo berkerjasama dengan Pengurus NU Ranting Mojo Cluwak Pati, Ansor, Banser, Fatayat, Muslimat dan Pemuda Dermo Wongsho mengadakan Sholawat bersama yang bertempat di Balai Desa Mojo,  19/8 kemarin.             “Acara sholawatan bersama di daerah kami memang belum populer akan tetapi kami akan terus berusaha mengadakannya sedikit demi sedikit, ini adalah kali pertama […]

  • PCNU-PATI

    Ilusi Negara Islam

    • calendar_month Sen, 26 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Buku ini dieditori oleh KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab kita sapa dengan sebutan Gus Dur. Buku ini berjudul lengkap “Ilusi Negara Islam – Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”. Buku ini sepertinya dikerjakan secara urunan oleh beberapa peneliti yang tergabung dalam Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute, dan Maarif Institute dimana ketiga lembaga […]

  • PCNU- PATI

    Keistimewaan Puasa Tarwiyah dan Arafah di Bulan Dzulhijjah

    • calendar_month Jum, 8 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 120
    • 0Komentar

    Bulan Dzulhijjah adalah bulan di mana umat muslim di dunia diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji bagi yang mampu. Karena ibadah haji merupakan salah satu bentuk rukun Islam yang ke lima, sehingga bagi umat muslim yang mampu dan sudah memenuhi syarat diwajibkan untuk menjalankan ibadah haji tersebut. Sedangkan bagi umat muslim yang tidak mampu dalam melaksanakan […]

  • PCNU- PATI

    SMPIT Al Masyhur Kayen Pati, Gelar LDK

    • calendar_month Sen, 29 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 196
    • 0Komentar

    OSIS Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Al Masyhur Kayen Pati, Bertempat di Mushola Sekolah tersebut menggelar LDK kepada Seluruh Pengurus OSIS. Sabtu (27/08/2022) kemarin. Kepala SMPIT Al Masyhur Kayen, Luluk Alfiatin, S.Pd mengatakan, Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) untuk pengurus OSIS tersebut agar para pengurus OSIS memiliki Sifat Kepemimpinan dan mampu menggerakan roda organisasi OSIS. […]

  • PCNU-PATI

    Banjir di Bulan Ramadhan

    • calendar_month Sen, 18 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Bulan Ramadhan selalu disambut dengan sukacita oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan penuh berkah ini menjadi momen untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, melalui ibadah puasa, shalat tarawih, dan berbagai amalan baik lainnya. Namun, tak jarang ujian dan cobaan datang di saat-saat seperti ini, seperti musibah banjir yang kerap […]

expand_less