Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lebaran adalah Awal!

Lebaran adalah Awal!

  • account_circle admin
  • calendar_month 2 jam yang lalu
  • visibility 10.059
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Banyak orang beranggapan Lebaran Idulfitri adalah Hari Kemenangan dan akhir dari Ramadan. Nah, ini sih pandangan umum, padahal sing bener dudu ngunu kuwi. Bahkan, Lebaran dan Idulfitri itu berbeda. Apa perbedaannya? Lebaran bisa didapatkan semua orang termasuk orang yang tak berpuasa, ini wilayahnya adalah budaya dan sosial. Jika Idulfitri, tak semua orang mendapatkannya, karena hakikatnya ini adalah ke fitrah, suci, dan tidak semua orang berpuasa mencapai derajata itu.

 

Realitasnya, banyak orang menilai kewajiban spiritual telah usai. Ya, mereka memaknai puasa berakhir, tarawih ditutup, witir tamat, tadarus pension, dan rutinitas ibadah kembali seperti biasa. Kembali ke setelan pabrik. Akan tetapi, ketika ditelaah secara mendalam, Idulfitri hakikatnya bukan garis akhir, namun titik awal bagi perjalanan spiritual yang baru.

 

Ramadan laiknya proses pembaruan diri. Sedangkan Lebaran merupakan peluncuran kembali manusia dengan kualitas spiritual yang diperbarui. Ramadan dalam bahasa manajemen modern merupakan proses upgrading. Sementara Lebaran merupakan fase implementasi dari sistem nilai yang telah diperbarui itu.

 

Fitri: Kembali ke Suci

Konsep ini secara teologis merujuk pada makna dasar Idulfitri yang merujuk pada kata fitrah. Apa itu fitrah? Yaitu keadaan asli manusia yang bersih dan cenderung kepada kebenaran. Prinsip tersebut dijelaskan dalam firman Allah Swt melalui Al-Qur’an QS. Ar-Rum ayat 30:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠

 

Artinya: “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30).

 

Ayat ini menegaskan manusia diciptakan sesuai dengan fitrah Ilahi. Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof Dr KH M. Quraish Shihab menyatakan fitrah adalah potensi dasar manusia dalam menerima kebenaran dan kebaikan. Melalui hal tersebut, kembali ke fitrah tidak berarti kembali ke masa lalu dengan pasif, namun mengawali perjalanan baru lewat kesadaran moral lebih jernih. Pada manusia modern yang dipenuhi arus informasi, mbalik ning fitrah bisa diterjemahkan sebagai upaya membersihkan kesadaran dari polusi kemunafikan, kebencian, hoaks, syirik, dan egoisme yang merusak kualitas kehidupan sosial bermasyarakat.

 

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim No. 860).

 

Maghfirah (pengampunan) ini bisa dimaknai sebagai pemberian modal spiritual baru bagi manusia. Modal dalam perspektif ekonomi tak dikasihkan untuk disimpan tanpa aktivitas, namun harus diolah agar menghasilkan nilai yang lebih besar. Logika seperti ini bisa dijelaskan lewata teori modal dalam buku karya Thomas Piketty bertajuk Capital in the Twenty-First Century (2014) yang menyatakan modal akan berkembang ketika terus diputar dalam aktivitas yang produktif. Hal sama pada ampunan di hari Lebaran Idulfitri tak hanya menjadi simbol religius, namun merupakan energi spiritual yang wajib diinvestasikan dalam amal kebajikan usai Ramadan.

 

Konsep Lebaran Idulfitri dalam khazanah literatur Islam, bahwa Lebaran merupakan awal perjalanan. Ada ungkapan hikmah dari Ibnu Rajab berkata.

لَيْسَ الْعِيْدُ مَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ وَلكِنَّ الْعِيْدَ مَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

Artinya: (Hakikat) Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang hanya mengandalkan) pakaian baru Tetapi, (hakikat) Idul Fitri itu bagi orang-orang yang bertambah ketaatannya

 

Ramadan Selamanya?

Pesan moral ini menegaskan makna Idulfitri tidak terletak pada simbol sosial (baju baru, gawai baru, kerudung baru, sepatu baru, mobil baru), tetapi pada transformasi moral yang berkelanjutan. Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, Zainuddin al-Malibari berpandangan tanda diterimanya ibadah seorang yaitu munculnya istikamah usai Ramadan. Ketika perubahan moral stop, mandek, alias tak berlanjut, maka Idulfitri sekadar menjadi peristiwa seremonial tanpa dampak transformasional yang serius.

 

Dalam Kitab Tafsir Marah Labid Li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Majid  (Jilid I) dan (Jilid II), Syekh Nawawi al-Bantani menyebut Idulfitri sebagai Yaumul Jaa-izah, yaitu hari pembagian hadiah dari Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang telah menjalani latihan spiritual saat bulan suci Ramadan. Hadiah dalam logika edukasi diberikan dalam rangka mendorong peningkatan motivasi belajar dan belajar. Artinya, ampunan dan keberkahan di hari Lebaran merupakan hadiah spiritual yang selaiknya memotivasi umat Islam meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya pada masa usai Ramadan.

 

Ramadan ketika dilihat dari perspektif psikologi modern hakikatnya bisa dimaknai sebagai proses pembentukan kebiasaan baru (new habit). Tindakan manusia dalam teori habit formation bisa berubah lewat latihan berulang dalam jangka waktu tertentu. Dalam buku karya Maxwell Maltz bertajuk Psycho-Cybernetics (2001) menyatakan perubahan perilaku membutuhkan periode latihan yang istikamah (konsisten) sampai pola baru terbentuk dalam sistem psikologis seorang individu. Selama sekitar tiga puluh hari, Ramadan memfasilitasi ruang latihan intens dalam rangka membangun kedisiplinan, empati sosial, pengendalian diri melalui puasa, infak, sedekah, dan bentuk ibadah yang lain.

 

Uniknya, makna simbolik ini tercermin dalam nama bulan usai Ramadan, yaitu Syawal. Idiom Syawal secara etimologis dari akar kata yang bermakna meningkat / terangkat. Artinya, penamaan nomenklatur ini memberikan makna simbolik bahwa usai Ramadan, kualitas spiritual umat manusia selaiknya terjadi peningkatan, bukan penurunan drastis. Maka puasa enam hari saat bulan Syawal dipahami sebagai kelanjutan latihan spiritual yang menjaga momentum Ramadan agar tak mandek jegreg alias berhenti begitu saja.

 

Di akhir tulisan saya ini, intinya Idulfitri hakikatnya merupakan “awal dari perjalanan panjang” untuk menjadi muslim dan muslimat lebih baik. Sejatinya, kemenangan hakikat tidak saat seorang muslim berhasil menuntaskan puasa Ramadan secara kuantitatif, namun saat mereka bisa mempertahankan spirit Ramadan dalam seluruh dimensi kehidupan usai Ramadan berlalu. Lebaran Idulfitri harus menjadi titik awal bagi lahirnya manusia baru lebih jujur, adil, bertanggung jawab, egaliter, sederhana, juga lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap sesama manusia.

 

Dalam pandangan spiritual maupun ilmiah, transformasi inil menjadi tujuan sejati dari perjalanan Ramadan. Lalu, apakah Anda memilih Lebaran Idulfitri sebagai awal atau akhir? Ya, karepem dewe, Bro!

 

Sing penting sak iki, mohon maaf lahir dan batin. Sampai ketemu di Ramadan 1448 H tahun 2027 mendatang di pcnupati.or.id. Oke!

 

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Naharul Ijtima’ di “Kampung Ace” Cabak Tlogowungu

    Naharul Ijtima’ di “Kampung Ace” Cabak Tlogowungu

    • calendar_month Kam, 12 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Warta NU; Sehabis sholat Jum’at,6 Maret 2015 Pengurus Harian PCNU Pati bergegas menuju kantor untuk Turba ke ranting dan MWC se-kab. Pati. Kebetulan pada acara Naharul Ijtima’ yang pada jum’at kali ini giliran di MWC Tlogowungu. Masjid yang dipilih sebagai tempat pertemuan adalah Masjid Al Ikhlas Ds. Cabak Kec. Tlogowungu yg merupakan desa penghasil buah […]

  • Kali ini Suluk Maleman membahas Kedholiman Mencipta Kegelapan

    Kali ini Suluk Maleman membahas Kedholiman Mencipta Kegelapan

    • calendar_month Ming, 16 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 163
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id- Ngaji NgAllah Suluk Maleman kembali digelar di rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (15/3) malam, dengan mengangkat tema “Menyibak Kegelapan” sebagai bahan renungan bersama. Penggagas Suluk Maleman, Anis Sholeh Ba’asyin menyebut dalam Qur’an dijelaskan bahwa Allah mengeluarkan orang-orang mukmin dari kegelapan menuju cahaya. “Manusia memiliki kemampuan untuk membaca realitas karena diberi alat baca […]

  • Perkuat Orgnisasi, PKPT IPNU IPPNU IPMAFA Gelar Orientasi Pengurus

    Perkuat Orgnisasi, PKPT IPNU IPPNU IPMAFA Gelar Orientasi Pengurus

    • calendar_month Sel, 12 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 164
    • 0Komentar

    PKPT IPNU IPPNU Ipmafa berpose di masjid kampus usai menggelar orientasi pengurus MARGOYOSO – PKPT (Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi) IPMAFA Pati. menyelenggarakan Orientasi Pengurus PKPT IPNU IPPNU IPMAFA masa bakti 2021-2022 pada Minggu, (10/10). Dengan mengusung tema “Membentuk Pelajar Militan Berintelektual Ideologis Aswaja An-Nahdliyah”. Kegiatan ini menghadirkan LKPT PC IPNU IPPNU Pati sebagai narasumber. Kegiatan […]

  • Relawan NU Peduli Jawa Tengah Bergerak ke Aceh, Menapak Jejak Sejarah Ratu Kalinyamat

    Relawan NU Peduli Jawa Tengah Bergerak ke Aceh, Menapak Jejak Sejarah Ratu Kalinyamat

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.895
    • 0Komentar

      Aceh — Relawan NU Peduli Jawa Tengah diberangkatkan ke Aceh untuk membantu pemulihan masyarakat pasca banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025. Misi kemanusiaan ini tidak hanya membawa bantuan, tetapi juga menegaskan kembali ikatan sejarah dan emosional antara Jawa dan Aceh yang telah terjalin sejak ratusan tahun lalu. Sejarah mencatat, pada […]

  • LP Ma’arif PWNU Jateng Bersama Pearson Tingkatkan Kapasitas Guru Bahasa Inggris

    LP Ma’arif PWNU Jateng Bersama Pearson Tingkatkan Kapasitas Guru Bahasa Inggris

    • calendar_month Kam, 15 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 6.968
    • 0Komentar

      Semarang, 15102026. LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah menjalin kerja sama dengan Pearson Indonesia dalam program pendampingan Bahasa Inggris bagi guru-guru sekolah dan madrasah di lingkungan LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah. Program ini diikuti oleh 29 guru dari 26 sekolah dan madrasah. Kegiatan diawali dengan pelatihan tatap muka yang dilaksanakan pada 14–15 Januari 2026 di […]

  • 2 Santri YPRU Dapat Bonus Total 50 Juta dari Gubernur

    2 Santri YPRU Dapat Bonus Total 50 Juta dari Gubernur

    • calendar_month Sel, 30 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 263
    • 0Komentar

    SEMARANG-Senin (29/7) mungkin menjadi momen tak terlupakan bagi Arinal Husna dan Adminurana. Selain bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, keduanya juga mendapat apresiasi masing-masing Rp 40.000.000 dan Rp 10.000.000 dari Gubernur. Para peraih juara dalam ajang STQ XXV Nasional kontingen Jawa Tengah. Sumber foto : fp Pesantren Raudlotul Ulum   Sebelumnya, dua santri YPRU (Yayasan […]

expand_less