Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Lebaran adalah Awal!

Lebaran adalah Awal!

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 20 Mar 2026
  • visibility 10.713
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Banyak orang beranggapan Lebaran Idulfitri adalah Hari Kemenangan dan akhir dari Ramadan. Nah, ini sih pandangan umum, padahal sing bener dudu ngunu kuwi. Bahkan, Lebaran dan Idulfitri itu berbeda. Apa perbedaannya? Lebaran bisa didapatkan semua orang termasuk orang yang tak berpuasa, ini wilayahnya adalah budaya dan sosial. Jika Idulfitri, tak semua orang mendapatkannya, karena hakikatnya ini adalah ke fitrah, suci, dan tidak semua orang berpuasa mencapai derajata itu.

 

Realitasnya, banyak orang menilai kewajiban spiritual telah usai. Ya, mereka memaknai puasa berakhir, tarawih ditutup, witir tamat, tadarus pension, dan rutinitas ibadah kembali seperti biasa. Kembali ke setelan pabrik. Akan tetapi, ketika ditelaah secara mendalam, Idulfitri hakikatnya bukan garis akhir, namun titik awal bagi perjalanan spiritual yang baru.

 

Ramadan laiknya proses pembaruan diri. Sedangkan Lebaran merupakan peluncuran kembali manusia dengan kualitas spiritual yang diperbarui. Ramadan dalam bahasa manajemen modern merupakan proses upgrading. Sementara Lebaran merupakan fase implementasi dari sistem nilai yang telah diperbarui itu.

 

Fitri: Kembali ke Suci

Konsep ini secara teologis merujuk pada makna dasar Idulfitri yang merujuk pada kata fitrah. Apa itu fitrah? Yaitu keadaan asli manusia yang bersih dan cenderung kepada kebenaran. Prinsip tersebut dijelaskan dalam firman Allah Swt melalui Al-Qur’an QS. Ar-Rum ayat 30:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ ۝٣٠

 

Artinya: “Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30).

 

Ayat ini menegaskan manusia diciptakan sesuai dengan fitrah Ilahi. Dalam Tafsir Al-Misbah, Prof Dr KH M. Quraish Shihab menyatakan fitrah adalah potensi dasar manusia dalam menerima kebenaran dan kebaikan. Melalui hal tersebut, kembali ke fitrah tidak berarti kembali ke masa lalu dengan pasif, namun mengawali perjalanan baru lewat kesadaran moral lebih jernih. Pada manusia modern yang dipenuhi arus informasi, mbalik ning fitrah bisa diterjemahkan sebagai upaya membersihkan kesadaran dari polusi kemunafikan, kebencian, hoaks, syirik, dan egoisme yang merusak kualitas kehidupan sosial bermasyarakat.

 

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim No. 860).

 

Maghfirah (pengampunan) ini bisa dimaknai sebagai pemberian modal spiritual baru bagi manusia. Modal dalam perspektif ekonomi tak dikasihkan untuk disimpan tanpa aktivitas, namun harus diolah agar menghasilkan nilai yang lebih besar. Logika seperti ini bisa dijelaskan lewata teori modal dalam buku karya Thomas Piketty bertajuk Capital in the Twenty-First Century (2014) yang menyatakan modal akan berkembang ketika terus diputar dalam aktivitas yang produktif. Hal sama pada ampunan di hari Lebaran Idulfitri tak hanya menjadi simbol religius, namun merupakan energi spiritual yang wajib diinvestasikan dalam amal kebajikan usai Ramadan.

 

Konsep Lebaran Idulfitri dalam khazanah literatur Islam, bahwa Lebaran merupakan awal perjalanan. Ada ungkapan hikmah dari Ibnu Rajab berkata.

لَيْسَ الْعِيْدُ مَنْ لَبِسَ الْجَدِيدَ وَلكِنَّ الْعِيْدَ مَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ

Artinya: (Hakikat) Idul Fitri bukan bagi orang-orang yang hanya mengandalkan) pakaian baru Tetapi, (hakikat) Idul Fitri itu bagi orang-orang yang bertambah ketaatannya

 

Ramadan Selamanya?

Pesan moral ini menegaskan makna Idulfitri tidak terletak pada simbol sosial (baju baru, gawai baru, kerudung baru, sepatu baru, mobil baru), tetapi pada transformasi moral yang berkelanjutan. Dalam kitab Irsyadul ‘Ibad, Zainuddin al-Malibari berpandangan tanda diterimanya ibadah seorang yaitu munculnya istikamah usai Ramadan. Ketika perubahan moral stop, mandek, alias tak berlanjut, maka Idulfitri sekadar menjadi peristiwa seremonial tanpa dampak transformasional yang serius.

 

Dalam Kitab Tafsir Marah Labid Li Kasyfi Ma’na Al-Qur’an Majid  (Jilid I) dan (Jilid II), Syekh Nawawi al-Bantani menyebut Idulfitri sebagai Yaumul Jaa-izah, yaitu hari pembagian hadiah dari Allah Swt kepada hamba-hamba-Nya yang telah menjalani latihan spiritual saat bulan suci Ramadan. Hadiah dalam logika edukasi diberikan dalam rangka mendorong peningkatan motivasi belajar dan belajar. Artinya, ampunan dan keberkahan di hari Lebaran merupakan hadiah spiritual yang selaiknya memotivasi umat Islam meningkatkan kualitas ibadah dan akhlaknya pada masa usai Ramadan.

 

Ramadan ketika dilihat dari perspektif psikologi modern hakikatnya bisa dimaknai sebagai proses pembentukan kebiasaan baru (new habit). Tindakan manusia dalam teori habit formation bisa berubah lewat latihan berulang dalam jangka waktu tertentu. Dalam buku karya Maxwell Maltz bertajuk Psycho-Cybernetics (2001) menyatakan perubahan perilaku membutuhkan periode latihan yang istikamah (konsisten) sampai pola baru terbentuk dalam sistem psikologis seorang individu. Selama sekitar tiga puluh hari, Ramadan memfasilitasi ruang latihan intens dalam rangka membangun kedisiplinan, empati sosial, pengendalian diri melalui puasa, infak, sedekah, dan bentuk ibadah yang lain.

 

Uniknya, makna simbolik ini tercermin dalam nama bulan usai Ramadan, yaitu Syawal. Idiom Syawal secara etimologis dari akar kata yang bermakna meningkat / terangkat. Artinya, penamaan nomenklatur ini memberikan makna simbolik bahwa usai Ramadan, kualitas spiritual umat manusia selaiknya terjadi peningkatan, bukan penurunan drastis. Maka puasa enam hari saat bulan Syawal dipahami sebagai kelanjutan latihan spiritual yang menjaga momentum Ramadan agar tak mandek jegreg alias berhenti begitu saja.

 

Di akhir tulisan saya ini, intinya Idulfitri hakikatnya merupakan “awal dari perjalanan panjang” untuk menjadi muslim dan muslimat lebih baik. Sejatinya, kemenangan hakikat tidak saat seorang muslim berhasil menuntaskan puasa Ramadan secara kuantitatif, namun saat mereka bisa mempertahankan spirit Ramadan dalam seluruh dimensi kehidupan usai Ramadan berlalu. Lebaran Idulfitri harus menjadi titik awal bagi lahirnya manusia baru lebih jujur, adil, bertanggung jawab, egaliter, sederhana, juga lebih disiplin, dan lebih peduli terhadap sesama manusia.

 

Dalam pandangan spiritual maupun ilmiah, transformasi inil menjadi tujuan sejati dari perjalanan Ramadan. Lalu, apakah Anda memilih Lebaran Idulfitri sebagai awal atau akhir? Ya, karepem dewe, Bro!

 

Sing penting sak iki, mohon maaf lahir dan batin. Sampai ketemu di Ramadan 1448 H tahun 2027 mendatang di pcnupati.or.id. Oke!

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Mufid Majnun

    Jodoh Buat Bu Bidan Cantik

    • calendar_month Ming, 22 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 395
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Chapter 4 “Suami?” “Iya, dengar, Shanaya. Aku ….” “Stop! Jangan berani mendekat!” Kepala Shanaya tetiba terasa berdenyar. Tangannya terkulai lemas bagai pelepah daun pisang yang layu. Kakinya terasa meleot seperti karet gelang dan jantungnya menggelosor sampai ke ujung kaki. Wajahnya yang sepucat kapas masih beradu dengan wajah kusut dan kaku di […]

  • Saifullah Kembali Pimpin MWC NU Gabus

    Saifullah Kembali Pimpin MWC NU Gabus

    • calendar_month Sen, 25 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 612
    • 0Komentar

    Jumat malam 15 Januari 2016, kemarin. Bertempat di Masjid Al-Iman desa Plumbungan Kecamatan Gabus, berlangsung acara pelantikan Pengurus MWC NU Gabus sekaligus maudhoh khasanah dari KH. M Aniq Muhammadun Rois Syuriah PCNU Pati.             “Setelah pelantikan ini, saya sebagai ketua akan berusaha membawa MWC NU menjadi lebih baik dari periode sebelumnya, meskipun periode sebelumnya saya […]

  • PCNU-PATI

    Sekretaris PC GP Ansor Singgung Prinsip Menolong Kaum Anshor Yatsrib

    • calendar_month Jum, 30 Sep 2022
    • account_circle admin
    • visibility 354
    • 0Komentar

    GEMBONG – Konferensi Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Kecamatan Gembong dilaksanakan pada Jumat (30/9) siang. Pelaksanaannya dilakukan di Gedung MWC NU Kecamatan Gembong.  Dalam proses sakral tersebut, Sekretaris PC GP Ansor  Kabupaten Pati, Gus Muammar, memberikan sambutan singkat dan mendalam. Ia menyamakan GP Ansor dengan Kaum Anshor Yatsrib (Madinah).  “Prinsip utamanya adalah menolong,” tegas dia.  […]

  • Pelajar NU Margorejo Gelar Konferensi Luar Biasa

    Pelajar NU Margorejo Gelar Konferensi Luar Biasa

    • calendar_month Rab, 10 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 495
    • 0Komentar

      Suasana Konferensi luar biasa PAC IPNU IPPNU Kecamatan Margorejo MARGOREJO- PAC IPNU IPPNU Kecamatan Margorejo usai adakan Orientasi Kepengurusan dan Konferensi Anak Cabang Luar Biasa pemilihan ketua IPNU pada Ahad, (7/11). Kegiatan ini diselenggarakan di kantor sekretariat PAC IPNU IPPNU Margorejo di desa Pegandan.   Dengan diadakanya Konferensi Anak Cabang luar biasa, harus dilaksanakan karena […]

  • JQHNU Pati Gelar Khatmil Quran Serentak di 33 Lokasi

    JQHNU Pati Gelar Khatmil Quran Serentak di 33 Lokasi

    • calendar_month Ming, 22 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 469
    • 0Komentar

    Suasana Pembukaan majelis khatmil qur’an PC. Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kab. Pati yang acaranya dilaksanakan serentak di 33 lokasi yang berbeda, Ahad 22 Agustus 2021 (foto: istimewa) WINONG – Pimpinan Cabang Jam’iyyatul Qurra’ wal Huffaz Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kabupaten Pati menggelar acara khatmil quran serentak di 33 lokasi yang berbeda, Ahad, 22 Agustus […]

  • PCNU-PATI

    Fiqih Pemulasaran Jenazah Covid 19

    • calendar_month Sab, 13 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Menurut penelitian medis, Covid-19 termasuk jenis penyakit berbahaya dan dapatmenular kepada yang melakukan kontak dengan orang yang terpapar Covid-19 atau carapenularan lainnya. Lebih berbahaya lagi jika tubuh kita tidak memiliki kesiapanmemproduksi antibodi sebagaimana layaknya antibodi terhadap virus lainnya.Dalam kondisi demikian orang dapat dengan mudah tertular Covid-19. Meskipenyakit ini jika ditangani dengan baik dapat disembuhkan, namun […]

expand_less