Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

Gus Dur, Toleransi dan Pribumisasi Islam

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 24 Des 2025
  • visibility 6.769
  • comment 0 komentar

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

KH. Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur, kemarin dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto. Tentu sangat layak Gus Dur mendapat gelar Pahlawan Nasional karena pemikiran dan perjuangannya yang luar biasa. Dalam konteks pemikiran, banyak sekali gagasan besar yang dilahirkan Gus Dur. Antara lain:
Pertama, pribumisasi Islam. Islam adalah doktrin universal-kosmopolit yang harus diekspresikan dalam ruang lokalitas yang spesifik. Inilah yang dimaksud dengan pribumisasi Islam. Keberhasilan dakwah Islam yang dilakukan Wali Songo adalah kecerdasannya dalam mengakomodir budaya lokal dalam bingkai doktrin universal Islam.
Sedekah misalnya adalah doktrin Islam universal yang diejawantahkan Wali Songo dalam bentuk selametan dalam momentum tertentu, misalnya tujuh hari kematian, menjelang Ramadlan, menjelang idul fithri, empat bulan dan tujuh bulan usia kehamilan, manakiban, dan lain-lain. Berkat adalah istilah sedekah yang dibawa pulang warga dari acara selametan. Ziarah kubur adalah doktrin universal yang dilakukan untuk mendoakan leluhur, khususnya orangtua, juga untuk tabarrukan (mengambil berkah) dan i’tibar (mengambil teladan), khususnya kepada para ulama dan kekasih Allah. Ziarah kubur ini diekspresikan dalam bentuk nyekar dan nyadran menjelang Ramadlan dan Idul Fithri. Berbakti kepada orangtua yang sudah meninggal adalah doktrin universal Islam yang diekspresikan dalam bentuk tahlilan sampai tujuh hari, empat puluh hari, satu tahun, dan sampai seribu hari wafatnya.
Kecerdasan Wali Songo yang merawat tradisi lokal dalam bingkai doktrin Islam universal inilah yang membuat warga simpatik dan kemudian berbondong-bondong masuk Islam. Islam tidak menghapus tradisi lokal, tapi mengakomodirnya sebagai wahana implementasi doktrin Islam. Bahkan, menurut Gus Dur, Wali Songo berhasil mengintegrasikan Islam dengan budaya lokal dalam bentuk penamaan malam jum’at kliwon, wage, pahing, dan pon. Masyarakat merasa dipayungi dan dilindungi budayanya oleh Islam.
Strategi dakwah pribumisasi Islam ala Wali Songo inilah yang harus dirawat dan dikembangkan supaya Islam dan budaya lokal bisa hidup bersama-sama dalam bingkai keislaman dan kebangsaan sekaligus. Budaya berjalan dalam bingkai agama dan agama kokoh terimplementasi dalam budaya. Sebuah kombinasi dan integrasi yang sangat kokoh.
Kedua, rukun tetangga. Menurut Gus Dur, umat Islam tidak sempurna jika hanya mengamalkan rukun iman dan Islam tanpa rukun tetangga. Gagasan rukun tetangga Gus Dur diambil dari Q.S. al-Baqarah ayat 177. Intinya, umat Islam tidak hanya beriman kepada Allah, RasulNya, kitab-kitabNya, dan para MalaikatNya, tapi harus aktif membantu dan menolong orang-orang yang membutuhkan, seperti para kerabat, anak yatim, fakir miskin, orang bepergian yang kehabisan bekal, orang-orang yang minta-minta dan para budak. Kesalehan ritual umat Islam harus dilengkapi dengan kesalehan sosial sehingga syariat Islam tidak hanya ada di masjid, mushalla, majlis ta’lim, dan lain-lain, tapi juga mewarnai dalam kehidupan riil masyarakat yang membutuhkan.
Ketiga, Islam harus menjadi rahmat bagi seluruh alam, tidak hanya bagi umat Islam. Hal ini ditegaskan dalam Q.S. al-Anbiya’ ayat 107. Rahmat adalah kasih sayang dalam bentuk menjaga persaudaraan, melindungi, mengayomi, dan menolong satu dengan yang lain. Umat Islam tidak boleh memusuhi nonmuslim. Justru, umat Islam sebagai kaum mayoritas bangsa Indonesia harus melindungi nonmuslim yang minoritas sebagai manifestasi rahmah yang harus dijaga.
Tiga pemikiran besar Gus Dur di atas menjadikan Islam sebagai agama fungsional produktif di Indonesia, tidak hanya simbol dan formalitas. Islam Indonesia harus mampu menjadi penjaga pluralitas bangsa dan menjadi energi kemajuan.
Adapun perjuangan Gus Dur secara riil di lapangan sosial tidak terhitung jumlahnya. Antara lain:
Pertama, shilaturrahim dan sedekah. Gus Dur adalah sosok yang ahli shilaturrahim, baik kepada yang suka maupun yang benci. Di samping itu, Gus Dur juga sosok yang sangat dermawan. Bahkan, rela berbagi kepada orang lain, meskipun keluarganya sendiri sedang membutuhkan. Dalam hadis yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah disebutkan bahwa orang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan manusia dan dekat dengan surga. Hadis ini benar-benar dipraktekkan Gus Dur secara total.
Kedua, kaderisasi. Gus Dur adalah sosok pemimpin yang sukses mengorbitkan orang-orang sehingga menjadi tokoh publik. Tidak terhitung tokoh publik yang dipromosikan Gus Dur. Di antara adalah KH. Said Aqil Siradj, KH. A. Mustafa Bisri, dan KH. Yahya Cholil Tsaquf. Inilah salah satu jasa besar Gus Dur sehingga Islam moderat progresif senantiasa menjadi mainstream Islam Indonesia yang mampu merawat kemajemukan bangsa.
Ketiga, melindungi kaum minoritas. Perjuangan Gus Dur melindungi kaum minoritas yang sering teraniaya ini sungguh dahsyat. Gara-gara perjuangan maha berat ini, Gus Dur sering dituduh sebagai pembela nonmuslim dalam pengertian negatif. Namun keikhlasan Gus Dur dalam membumikan Islam yang membawa rahmat bagi semesta alam membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu toleransi umat beragama. Kaum mayoritas muslim tidak berbuat sewenang-wenang kepada kaum minoritas dan kaum minoritas selalu menjaga dan menghargai kaum mayoritas. Kolaborasi mayoritas dan minoritas inilah yang menjadikan bangsa Indonesia maju di segala aspek kehidupan.
Pemikiran besar dan perjuangan riil Gus Dur di atas menjadi teladan bagi generasi penerus untuk selalu melanjutkan dan mengembangkan pemikiran dan perjuangan Gus Dur demi keberlangsungan Islam nusantara yang selalu menjaga kebinnekaan dalam kerangka religiusitas yang menjadi identitas bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang dan yang akan datang.
*Dosen IPMAFA, Penulis Buku

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PKPNU 2025 Tinggal Menghitung Hari, Sekretaris PCNU: Sudah Siap!

    PKPNU 2025 Tinggal Menghitung Hari, Sekretaris PCNU: Sudah Siap!

    • calendar_month Rab, 29 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.512
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Pelaksanaan kegiatan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP-NU) Kabupaten Pati tinggal menghitung hari. Kecamatan Gembong menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan acara tersebut. Rencananya, PKP NU tahun 2025 ini akan diselenggarakan di ponpes Raudlatul Falah dan Pondok Thoriqoh Tanwirul Qulub, Bermi, Gembong Pati mulai 31 Oktober hingga 2 Nopember 2025. Dedi Syarif, Sekretaris […]

  • Pelantikan Fatayat NU Gembong, MWC : Pemudi Harus Melek Politik

    Pelantikan Fatayat NU Gembong, MWC : Pemudi Harus Melek Politik

    • calendar_month Ming, 12 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 499
    • 0Komentar

    Para pengurus baru PAC Fatayat NU Gembong yang baru saja dilantik, tampak bersemangat untuk mewujudkan program-program kerja mereka GEMBONG – PAC Fatayat NU Gembong baru saja melangsungkan pelantikan pengurus pada Minggu (12/12) pagi tadi. Pelaksanaan kegiatan pengukuhan pengurus hasil konferensi Oktober lalu ini dilaksanakan di aula lantai dua Ponpes Shofa Az Zahro’.  Sederet tokoh agama […]

  • LAZISNU Pati Salurkan Donasi Tahap I Sebesar Rp 121.322.000 ke NUCARE LAZISNU PWNU Jateng untuk Korban Bencana Sumatera

    LAZISNU Pati Salurkan Donasi Tahap I Sebesar Rp 121.322.000 ke NUCARE LAZISNU PWNU Jateng untuk Korban Bencana Sumatera

    • calendar_month Ming, 21 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.571
    • 0Komentar

      SEMARANG – Sebagai wujud kepedulian dan solidaritas kemanusiaan, NUCARE-LAZISNU PCNU Kabupaten Pati secara resmi menyerahkan donasi kemanusiaan tahap I untuk membantu saudara-saudara yang terdampak bencana di wilayah Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Penyerahan donasi ini dilakukan di sela-sela acara Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) LAZISNU PWNU Jawa Tengah yang berlangsung di Hotel Candi Indah, […]

  • PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking

    PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking

    • calendar_month Jum, 12 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 357
    • 0Komentar

    PR IPNU IPPNU Kadilang Ajak Anggota Untuk Berlatih Public Speaking Pati, 13 Maret 2021 PR IPNU IPPNU gelar pelatihan Public Speaking guna untuk menambah mental dan wawasan anggota. Kegiatan yang di gelar pada 12 Maret 2021 berlangsung selama 1 jam. Berlokasi di Madrasah Mansyaul Ulum Kadilangu melibatkan kurang lebi 30 anggota sebagi peserta kegiatan. dengan […]

  • PCNU-PATI

    Zakat sebagai Alternatif Pemberdayaan Umat

    • calendar_month Sab, 20 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagain dari hasil usahamu yang baik-baik dan Sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan mengalihkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha […]

  • Kaffarot (Denda) Orang yang Sudah Tua

    Kaffarot (Denda) Orang yang Sudah Tua

    • calendar_month Rab, 28 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 565
    • 0Komentar

      Ilustrasi : Pixabay Pertanyaan : Zainab mempunyai kakek yang usianya sudah tua dan juga sudah pikun. Karena pikunnya sudah agak parah, kakeknya sering lupa terhadap kesibukannya, kewajiban-kewajibannya, bahkan anak cucunya. Bolehkah kewajiban yang ditinggalkan kakek Zainab  diganti bayar kaffârot ? Jawaban : Jika kewajiban yang ditinggal berupa sholat maka sholatnya tidak bisa diganti dengan kaffârot jika […]

expand_less