Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Kalau Ada Fetish, Jangan Digeneralisasi

Kalau Ada Fetish, Jangan Digeneralisasi

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
  • visibility 1.876
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Shalikhin*

“Wow, coba lihat, susunya besar dan kencang,” kata seorang pria yang fetish pada payudara. Setiap melihat wanita dengan body montok, dia selalu berseloroh soal susu kepada siapapun yang berada di dekatnya. Dirinya beranggapan bahwa, semua lelaki sama, fetish pada susu. Ini namanya generalisasi.

Padahal kenyataannya kan tidak demikian. Ada lelaki yang ‘fetish’ pada intelektualitas daripaada sekadar body. Adapula yang senang kalau melihat wanita keibuan. Tidak semua ketertarikan itu sama. Ini namanya diferensiasi.

‘Oknum’ di Trans7 barang kali sedang mengalami hal yang pertama tadi. Mereka mungkin terlalu birahi terhadap popularitas, kemewahan, harta benda, sensasi dan narsisme. Ga masalah. Tapi problemnya ada pada kecenderungan berasumsi menyamakan apa yang ada di otakku dan otakmu.

Kalau kalian fetish pada kemewahan, bukan berarti orang lain juga begitu lepas syahwat pada hal-hal serupa. Kalau kalian susah payah, jungkir balik cari pinjaman demi membeli kendaraan impian, sementara di luar sana ada orang yang justru menerima hadiah mobil mewah dari muhibbin (fans) secara cuma-cuma, lantas, apakah si penerima hadiah itu salah?.

Di satu sisi, ada yang begitu kesengsem dengan sesuatu, di sisi lainnya, ada sosok yang bahkan tidak menginginkan namun justru mendapatkannya dengan ‘mudah’. Sekali lagi, apakah jenis ke dua ini salah? Jawabannya tidak. Hanya kebencian, kedengkian dan ketidaktahuan–untuk tidak menyebut: kebodohan–lah yang mengecam ‘penikmat’ reward.

Mungkin pembaca sudah mengetahui bahwa konteks tulisan ini terkait dengan tayangan di Trans7 yang mengolok-olok para ulama’. Oke, kita kupas satu per satu.

Di mulai dari amplop yang diterima oleh para kiai. Sebenarnya hal ini wajar dan hampir di lakukan oleh siapa saja. Ibu memberi rendang kepada tetangga sebelah, karena beberapa hari lalu, ibu menerima semur jengkol darinya.

Konteksnya adalah, kebaikan dibalas kebaikan. Semur jengkol saja dibalas dengan rendang, apalagi pengetahuan dan hikmah yang telah dicurahkan oleh kiai kepada santri. Amplop yang mereka berikan jelas tak sebanding dengan ilmu dan jasa.

Toh, misal seorang kiai mendapat banyak amplop, penulis yakin, maslahatnya akan jauh lebih besar daripada (amplop itu) diberikan kepada orang-orang fasik. Membangun pesantren, membuka lapangan pekerjaan, menyubsidi santri yang tidak mampu, bahkan mengecor jalan, misalnya.

Ke dua, soal mobil mewah. Misal ada seorang kiai membeli ataupun menerima hadiah kendaraan miliaran rupiah, juga mereka gunakan untuk berdakwah, menebar hikmah dari satu tempat ke tempat lain. Apakah kendaraan yang kalian miliki itu lebih berfaedah daripada mobil mewah para kiai Sehingga kalian sampai hati mengolok-olok tunggangan mereka?. Sebut saja Kiai Anwar Zahid, Gus Iqdam dan ustadz-ustadz terkenal di TV lainnya juga menggunakan mobil mewah bukan untuk kebutuhan prestisius seperti kita. Lebih jauh, dalam safari dakwah yang menembus ratusan kilo meter setiap hari, tentu membutuhkan kendaraan yang nyaman dan aman.

Kalau dalam sehari mereka melakukan dakwah di lima tempat, apakah harus mengendarai Honda Beat? Tentu tidak. Minimal Innova, kalaupun ada kiai yang memakai Alphard, Lexus LM, atau kendaraan apapun, itu hanyalah sebatas merk dan angka, selebihnya kenyamanan, keselamatan dan yang terpenting, bukan atas nama gengsi.

Lagipula banyak ulama’ yang mendapatkan mobil-mobil itu sebagai hadiah, mereka tidak membeli dari kantongnya sendiri yang berarti ada kemungkinan para kiai tidak terlalu kepincut dengan barang mewah itu. Sebagai referensi saja, Gus Mus pernah dihadiahi Kijang Innova dari seorang muhibbin. Gus Dur, bahkan bahkan menerima Mercy S-class dan masih banyak lagi kasus-kasus seperti itu.

Ke tiga, Sarung mahal yang mereka kenakan juga belum tentu mereka beli sendiri, lhoh. Banyak muhibbin yang mengirim hadiah semacam itu. Kalau muhibbin-nya macam saya, ya paling mentok menghadiahi doa, tapi kalau muhibbinnya pengusaha-pengusaha besar, ya pasti hadiahnya besar juga. Stop-lah menyamakan standar hidup kalian dengan para ulama. Kalau kalian membeli sepatu kets branded ori untuk flexing atau demi fomo, monggo. Tapi kiai sejati tidak akan terpengaruh hanya dengan price tag selembar sarung.

Mau wadimor, cendana, Ketjubung atau BHS, tidak memberi pengaruh apa-apa, sebab–tidak seperti kalian oknum Trans7– kualitas ulama’ kami ada pada intelektualitas dan spiritualitas, bukan pada syahwat narsis dan fetish akan sensasi.

Intinya, kalau kalian naksir abis dengan kemewahan tapi belum berkesempatan mendapatkannya, ga perlu mengambinghitamkan kiai, yang tidak menginginkan tapi justru mendapatkan. Akhirul kalam, dibalik tembok-tembok pesantren, ada berjuta anomali yang tidak kalian ketahui. Jika ingin tahu, ya mondok (titik).

boikottrans7

*penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Siraj Al Huda

    • calendar_month Jum, 19 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 629
    • 0Komentar
  • IPNU IPPNU Juwana Gandeng Kiai Dalang Adakan Ngaji Budaya

    IPNU IPPNU Juwana Gandeng Kiai Dalang Adakan Ngaji Budaya

    • calendar_month Jum, 12 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 509
    • 0Komentar

      KH. Ilham Supriyanto sedang mengisi ngaji budaya di Juwana dengan gaya uniknya, yaitu dakwah menggunakan wayang JUWANA- Hari Pahlawan menjadi momen bersejarah bagi Bangsa Indonesia. 10 November diperingati sebagai bentuk rasa hormat atas jasa para Pahlawan yang telah gugur dan berkorban demi Negara. Inilah yang disampaikan oleh KH  Ilham Supriyanto, ketu LDNU Pati.  ungkapan […]

  • Kakanwil Kemenag Jateng Monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen

    Kakanwil Kemenag Jateng Monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen

    • calendar_month Rab, 15 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 508
    • 0Komentar

      H. Mustain Ahmad, Kakanwil Krmenag Jateng memberikan pembinaan dan monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen PATI – Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah melaksanakan Pembinaan dan Monitoring BOSDA di MA Salafiyah Kajen, dengan di dampingi oleh Kepala Kemenag, Kasubag TU dan Kasi Penmad Kemenag Kabupaten Pati, Selasa (14/12).  Dalam sambutannya, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi […]

  • Silaturrahim dan Koordinasi PCNU ke Eks Kawedanan Jakenan

    Silaturrahim dan Koordinasi PCNU ke Eks Kawedanan Jakenan

    • calendar_month Ming, 22 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 582
    • 0Komentar

    JAKENAN – Roashow Turba Pengurus Cabang NU (PCNU) Kabupaten Pati kembali berlanjut. Ahad (22/9/2019) pagi, giliran MWCNU dan Ranting se-eks Kawedanan Jakenan yang dikunjungi menyusul dua gelaran serupa di eks-Kawedanan Tayu dan Pati Kota. Bertempat di Aula Kantor Camat Jakenan, PCNU Pati bertemu dengan jajaran pengurus MWCNU dan Ranting dari empat kecamatan sekaligus, Jakenan, Jaken, […]

  • Komisariat MTs Miftahul Ulum Tambakromo Gelar Makesta Dan Reorganisasi

    Komisariat MTs Miftahul Ulum Tambakromo Gelar Makesta Dan Reorganisasi

    • calendar_month Ming, 13 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 579
    • 0Komentar

    TAMBAKROMO – PAC IPNU IPPNU Tambakromo Kemarin (Jum’at, 11/02/2022) Mengawal pelaksanaan Makesta dan reorganisasi Komisariat IPNU IPPNU MTs Miftahul Ulum Tambakromo. Kegiatan yang dilaksanakan di gedung MTs tersebut pada tanggal 10-11 Februari 2022 dihadiri pengurus PAC, Kepala Madrasah dan di ikuti 43 siswa dari kelas VIII. Dalam kegiatan Makesta yang merupakan tingkatan kaderisasi pertama agar […]

  • PCNU PATI. Ilustrasi Perempuan, Puasa dan Mestruasi. Photo by Aziz Acharki on Unsplash

    Perempuan, Puasa dan Menstruasi

    • calendar_month Jum, 15 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 643
    • 0Komentar

    Puasa adalah ibadah wajib bagi umat Islam selama bulan Ramadhan. Dengan syarat yang menjalankan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani wajib menjalani rukun Islam tersebut. Namun, ada beberapa golongan yang boleh meninggalkan puasa dapat dispensasi salah satunya yaitu perempuan sedang menstruasi. Perempuan yang sedang menjalankan fitrahnya ini (menstruasi), selama bulan ramadhanbseharusnya mendapatkan ruang privasi. Bukan […]

expand_less