Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian I)

Dekonstruksi Gandulan Sarunge Kiai (Bagian I)

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 27 Feb 2026
  • visibility 9.625
  • comment 0 komentar

Oleh Hamidulloh Ibda

Rekan saya kemarin turut membaca tulisan pada Mutiara Ramadan bertajuk Pendidikan Karakter Perspektif Ki Hajar Dewantara. Usai membaca, ia justru request tulisan khusus tentan sarung dan kiai. Dalam hati saya “Wah, dupeh arep bada, bahasane sarung”.

Ya, ia adalah Sofyan Bachri (Direktur PT. Suave Health Medika), sahabat saya yang makin rajin ikut tadarus Quran, salat tarawih dan witir, bahkan juga ziarah kubur. Hehe

Pokoke, tulisan yang saya ketik di pcnupati.or.id, pcnutemanggung.or.id dan inisnu.ac.id edisi Ramadan 1447 H ini bisa dari atensi, masukan, bahkan berupa bentuk misuh akademis. Ini lebih jujur daripada saya menyebut “kegelisahan intelektual.” Haha

Oke, kembali ke pokok bahasan. Dalam tradisi Islam di Jawa khususnya, ada pameo, adagium, atau unen-unen yaitu Gandulan Sarunge Kiai, Gendolan Sarunge Kiai, atau bahkan diucapkan dengan eksplisit “pokoke mati urip, aku gandulan sarunge kiai.”

Ini bagi orang yang tak pernah mambu pondok pesantren, tentu istilah gandulan sarunge kiai dimaknai secara sempit sebagai “praktik kultus individu,” dipandang sebagai manifestasi feodalisme kultural. Kok bisa? Padahal, akar konseptual dari fenomena ini jauh lebih kompleks dan perlu kita dekonstruksi.

Penghormatan kepada kiai, ulama, syekh, tak sekadar soal loyalitas personal, namun soal dengan epistemologi “sanad keilmuan,” yaitu sebuah mekanisme historis yang menjamin integritas dan keberlanjutan ilmu agama yang ketat. Melalui narasi ini, kita perlu menelusuri dua dimensi sentral, yaitu epistemologi di balik gandulan sarunge kiai dan dekonstruksi praktik sosial gandulan sarunge kiai. Intine ngono kira-kira!

Epistemologi Gandulan Sarunge Kiai

Sampai saya mengetik tulisan ini, secara historis dan tekstual belum saya temukan buku tunggal yang mengkaji gandulan sarunge kiai. Bisa jadi, istilah ini lahir dari oral tradition (tradisi lisan) di kalangan santri atau muslim Jawa.

Oral tradition ini erat berkaitan dengan konsep wasilah, syafaat, tabarukan, dan bentuk ketakziman santri/murid/siswa terhadap kiai/ulama/guru/pendidik. Hal ini juga diperkuat Hadis Nabi Muhammad SAW: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya (Al-mar’u ma’a man ahabba).” (HR. Bukhari & Muslim). Hadis ini merupakan alasan dan dasar fundamental mengapa santri ingin gandulan pada kiai/ulama, sebab mereka mencintai ulama sebagai pewaris Nabi dan berharap dibangkitkan bersama mereka di akhirat. Begitu!

Syeikh Burhanuddin az-Zarnuji al-Hanafi dalam Kitab Ta’limul Muta’allim meregulasi soal adab santri kepada guru/kiai/ulama. Di dalam kitab ini, Syekh Zanurji menegaskan keberkahan ilmu hanya didapat melalui rida seorang guru. Artinya, menghormati segala hal yang berkaitan dengan guru termasuk pakaiannya, sarungnya, bahkan cara pakai sorban, minyak wanginya secara kiasan menjadi bagian dari jalan mencari ilmu.

Dalam bahasa sehari-hari kita, atau saya lah, idiom gandulan sarunge kiai kerap diasosiasikan dengan menempelkan diri secara sosial pada figur kiai dalam pesantren, kiai sebagai penceramah, kiai di masjid, baik secara fisik (misalnya berseruput di dekat sarungnya), atau secara simbolik dalam relasi sosial.

Akan tetapi, ketika ditelaah secara tenanan mendalam, maka dalam tradisi pesantren, hal ini tak sebatas ekspresi sosial saja, namun menjadi manifestasi epistemik dari struktur ilmu tradisional, yaitu soal sanad keilmuan. Ada beberapa alasan mengapa tradisi gandulan sarunge kiai ini dipraktikkan.

Beberapa Alasan Gandulan Sarunge Kiai

Pertama, menjaga sanad keilmuan, dan jejak ketertelusuran ilmu dari guru kepada murid, dari kiai kepada santri. Sanad secara konspetual, dipahami lewat perspektif sosiologi pengetahuan. Artinya, ilmu tak pernah lahir di ruang hampa. Maksudnya, ilmu selalu terikat pada komunitas interpretatif termasuk dalam hal ini adalah pesantren, sekolah, dan madrasah. Sanad dalam konteks ini, menjadi mekanisme internal untuk menjaga kesinambungan (muttasil) makna dan otoritas dalam tradisi keilmuan Islam.

Dalam Kitab Ma’rifah Anwa’ ‘Ulum al-Hadis atau Muqaddimah Ibnu al-Salah karya Imam Ibnu al-Salah, dijelaskan bahwa sanad merupakan konsep fundamental dalam tradisi Islam klasik yang menunjuk pada rantai periwayatan atau transmisi ilmu dari generasi ke generasi. Dalam kajian hadis, fikih, dan tasawuf, sanad menjadi jaminan autentisitas ilmu. Tanpa sanad, ilmu dinilai lepas dari otoritas/legitimasi historisnya dan kehilangan pijakan otoritatifnya.

Konsep ini dalam studi modern tentang Islam tak hanya dipahami sebagai daftar nama periwayat tok til. Dalam Muslim Studies, Ignaz Goldziher (1966) dijelaskan sanad tak sekadar rantai klasifikasi tekstual, namun juga jaringan sosial yang menopang otoritas keilmuan seorang. Hal ini menegaskan sanad bekerja sebagai mekanisme legitimasi yang hidup dalam komunitas ilmiah seorang muslim.

Nancie Makdisi dalam The Qur’an in the Medieval Schools (1981) berpandangan sanad sebagai bentuk epistemic community antara guru dan murid, antara kiai dan santri. Sanad tak sekadar transfer informasi, namun juga pembentukan komunitas pengetahuan yang saling terikat secara spiritual dan intelektual. Maka dari itu sanad merupakan struktur epistemologis sekaligus struktur sosial.

Lewat buku The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West, George Makdisi (1981) mempertegas dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam klasik, fungsi sanad adalah sebagai mekanisme “validasi sosial.” Otoritas seorang alim tak hanya ditentukan kecerdasannya saja, gelar akademiknya saja, namun juga oleh keterhubungannya dengan rantai transmisi ilmu yang diakui. Makanya orang Jawa sering bertanya “Gurumu sapa?” “Sekolahmu ning endi?”, “Mondokmu neng endi?”, “Ngajimu ning endi?”, “Kamu lulusan endi?” dan bentuk lain untuk mempertegas kejelasan sanad keilmuan.

Kedua, sanad dan praktik sosial. Penghormatan fisik seperti merapat ketika pengajian, duduk sopan di hadapan kiai di pesantren, atau simbol-simbol kedekatan lainnya sering dipahami secara reduktif sebagai “ritual kosong tanpa isi”. Padahal praktik-praktik tersebut mengandung hal-hal epistemik. Hal itu juga menandakan nyambung dan tidaknya santri dengan sanad keilmuan.

Dalam tradisi sufi, Analogi fenomena ini dapat dimetaforkaan dengan konsep ijazah. Apa itu? yakni izin formal dari kiai kepada santri, mursyid kepada jemaah, guru kepada murid untuk melanjutkan transmisi ilmu tertentu yang ditekuni. Ijazah tak hanya selembar sertifikat, namun bentuk rekognisi/pengakuan atas kesiapan moral dan intelektual santri, murid, atau pencari ilmu.

Talal Asad lewat buku The Idea of an Anthropology of Islam (1986) memiliki pandangan bahwa struktur sosial keagamaan wajib dipahami lewat kerangka historis dan fungsionalnya. Artinya, relasi kiai-santri, guru-murid, pendidik-peserta didik, atau dosen-mahasiswa dalam Islam tak sebatas relasi kuasa belaka, melainkan relasi transmisi makna, ilmu, dan disiplin moral.

Clifford Geertz dalam The Interpretation of Cultures (1973), memiliki pandangan bahwa praktik sosial hanya bisa dimengerti lewat matriks budaya yang melahirkannya. Artinya, tanpa paham konteks pesantren sebagai komunitas ilmu dan agama, simbol-simbol penghormatan akan mudah disalahartikan sebagai feodalisme. Nah, jadi sudah jelas, bahwa gandulan sarunge kiai bukan bentuk feodalisme pesantren.

Ketiga, kiai atau ulama sebagai pewaris nabi. Rasulullah Saw bersabda:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

Artinya: Ulama adalah pewaris para nabi. (H.R. At-Tirmidzi, dari Abu Ad-Darda RA).

Dalam tradisi Islam di Indonesia, dalam sistem pesantren, kiai diposisikan tak sebatas pendidik, guru, pengajar, namun “pemegang sanad keilmuan yang sah.” Posisi ini merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi di atas. Arti pewaris di sini tidak dalam arti kenabian atau wahyu, namun pewarisan ilmu dan tanggung jawab moral. Pengakuan ilmu yang diajarkan oleh ulama mengandung relasi/keterhubungan historis dengan tradisi kenabian Nabi Muhammad. Inilah jika ditinjau secara epistemologis.

Muhammad Al-Ghazali dalam The Muslim Personality (Islamic Book Trust, 2009) menegaskan bahwa ulama berfungsi sebagai penjaga tradisi dan moralitas ilmu. Mereka bukan sekadar pengajar teks, tetapi penjaga etika pengetahuan.

Dalam Prolegomena to the Metaphysics of Islam, Syed Muhammad Naquib al-Attas (1995) mengutarakan ilmu dalam Islam merupakan tatanan spiritual dan epistemik yang terikat pada adab. Ketika menuntut ilmu tanpa adab kepada guru dan tradisi, maka ilmu tersebut kehilangan spirit atau ruhnya. Oleh karena itu, wujud penghormatan kepada kiai/ulama bukan merupakan kultus personal, namun menjadi wujud adab pada mata rantai ilmu pengetahuan yang ditekuni.

Bersambung

 

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ganjar Pranowo Buka Muskerwil PWNU

    Ganjar Pranowo Buka Muskerwil PWNU

    • calendar_month Kam, 10 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 598
    • 0Komentar

    Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyampaikan sambutannya dalam Pembukaan Muskerwil PWNU Jateng SEMARANG – Gubernur Ganjar Pranowo, hadir dalam acara pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jawa Tengah. Kamis (10/2) di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Selain Ganjar, acara tersebut juga dihafiri oleh para ulama NU se-Jateng dan beberapa tokoh lain seperti Pangdam, Kapolda dan […]

  • KH. M. Imamuddin : Guru Agama Harus Bersanad Sampai Rosulullah

    KH. M. Imamuddin : Guru Agama Harus Bersanad Sampai Rosulullah

    • calendar_month Rab, 14 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 557
    • 0Komentar

    CLUWAK-Ancaman generasi muda sekarang adalah narkoba dan radikalisme. Indonesia telah menjadi pasar terbesar narkoba di Asia Tenggara. Di sisi lain Radikalisme kini menyebar dengan massif, menembus batas sosial dan usia. Massifnya penyebaran ini dikarenakan kemajuan teknologi informasi sehingga siapapun termasuk generasi muda NU bisa mengakses segala informasi. KH. M. Imamuddin sedang menyampaikan pengajian dalam rangka […]

  • Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Sri Wahyu Susilowati Resmi Pimpin MTs Ma'arif Sapuran

    Estafet Kepemimpinan Berlanjut, Sri Wahyu Susilowati Resmi Pimpin MTs Ma’arif Sapuran

    • calendar_month Sen, 3 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.631
    • 0Komentar

    WONOSOBO – MTs Ma’arif Sapuran menggelar acara pelantikan Kepala Madrasah baru pada Sabtu (1/8/2026). Dalam prosesi tersebut, Sri Wahyu Susilowati, S.Pd. resmi dilantik sebagai Kepala MTs Ma’arif Sapuran, menggantikan Arif Muchtar, S.E. yang telah menuntaskan masa khidmahnya selama dua periode atau delapan tahun. Acara berlangsung khidmat dan dihadiri oleh Rois Syuriah MWCNU Sapuran KH. Yahya, […]

  • PAC Fatayat NU Winong Adakan Pelantikan

    PAC Fatayat NU Winong Adakan Pelantikan

    • calendar_month Sen, 16 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 660
    • 0Komentar

    Pati.Pelantikan Pimpinan Ranting dan Rapat kerja Pimpinan Anak Cabang Fatayat NU Kecamatan Winong  Masa Khidmad 2017-2021, acara tersebut bertempat di Aula  Madrasah Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong, 21/9 kemarin. Dengan menghadirkan tamu undangan yang meliputi Pimpinan Cabang Fatayat NU Pati, Camat Winong, Kapolsek Danranil, Ketua MWCNU Winong beserta Banom-banomnya, total keseluran yang menghadiri 185 orang. Sedangkan […]

  • PCNU-PATI

    PT Sukun Santuni Ribuan Anak Yatim, Ketua PCNU Pati Berikan Apresiasi

    • calendar_month Rab, 5 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 492
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Sebanyak 1.000 anak yatim di Kabupaten Pati mendapat santunan dari PT Sukun, Selasa (4/4/2023) sore. Mereka diundang untuk menerima santunan di Gedung Haji Pati.  Diketahui, Santunan 10 Ribu Anak Yatim PT Sukun diadakan di 10 kota/Kabupaten di Jawa Tengah. Seribu anak yatim di setiap kabupaten menerima santunan.  Pati merupakan Kabupaten kedelapan. Setelahnya, santunan bakal […]

  • Teken MoU, INISNU dan UniSHAMS Malaysia Langsung Gelar Seminar Konfoerensi Internasional Pcnupati.or.id Temanggung — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah (UniSHAMS) Malaysia, sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Penandatanganan ini dilaksanakan bertepatan dengan kegiatan Seminar Konferensi Internasional bertajuk “Multiculturalism and Religious Moderation: The Perspective of Islamic Studies in Indonesia and Malaysia”, yang digelar pada Kamis, 28 Agustus 2025 di UniSHAMS, Malaysia. Sedangkan tema yang dibawakan UniSHAMS adalah "Pengajian Islam di Nusantara: Cabaran dan Harapan" yang menjadi tindaklanjut konkret pelaksanaan MoU tersebut. MoU ini merupakan salah satu agenda penting dalam rangkaian program Pancadharma Internasional INISNU Temanggung yang diselenggarakan di tiga negara: Singapura, Malaysia, dan Thailand. Rektor INISNU Temanggung, Dr. Muh. Baehaqi, M.M., menyampaikan bahwa penandatanganan MoU ini menjadi langkah konkret dalam memperluas jaringan kerja sama global, khususnya dalam pengembangan studi Islam yang moderat dan berbasis pada nilai-nilai multikulturalisme. Konferensi yang mengiringi momen MoU ini menghadirkan Prof. Madya Dr. Mukhamad Hadi Musolin Subagio, Dekan Kulliyyah Usuluddin, Sains Al-Qur’an & Bahasa Arab UniSHAMS Malaysia, serta Dr. Eny Rahmawati, M.Pd., Dosen Magister Pendidikan Agama Islam INISNU Temanggung, sebagai pembicara utama. Selain itu, sejumlah dosen dan mahasiswa Magister INISNU Temanggung juga turut menjadi presenter, antara lain Dr. Fatmawati Sungkawaningrum, M.S.I. (Dosen Magister Hukum Keluarga Islam INISNU Temanggung), Khailani Khumairoh, Laila Salma, Muhamad Wahid Afiudin dan Agus Akhmat Yani (Mahasiswa Magister Pendidikan Agama Islam INISNU Temanggung). Ketua Panitia Pancadharma Internasional, Dr. Hamidulloh Ibda menegaskan bahwa kerja sama ini bukan hanya simbolik, melainkan akan ditindaklanjuti dengan program nyata seperti pertukaran pelajar, joint research, dan publikasi ilmiah bersama. “Melalui MoU ini, kami ingin membangun kolaborasi berkelanjutan dengan UniSHAMS, sebagai mitra strategis dalam membentuk generasi cendekiawan Muslim yang moderat dan mampu bersaing di level global,” ujarnya. Dekan Kulliyyah of Usuluddin, Quranic Sciences and Arabic Language (KUBRA), Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu'adzam Shah (UniSHAMS) Malaysia Prof Madya Hadi Musolin Subagio mengatakan bahwa Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu'adzam Shah (UniSHAMS) Malaysia adalah kampus hak milik pemerintah Provinsi Kedah, Malaysia. "Sejarahnya, pada tahun 1994 mengadaman kerjasama dengan Universitas Al Azhar. Salah satu programnya dulu adalah belajar 3 tahun di Malaysia dan 1 tahun di Mesir," jelasnya. Profesor asal Bojonegoro, Jawa Timur, Indonesia itu menambahkan bahwa pengembangan UniSHAMS 80 persen meminjam dari Al-Azhar, dan sampai saat ini ada 30 persen dosen masih native bahasa Arab Mesir. Selain penandatanganan MoU, seminar konferensi internasional, kegiatan di sana juga dilakukan visiting class antara dosen dan mahasiswa. "Silakan nanti masuk kelas untuk bertukar ilmu dan pengalaman," lanjutnya. Pihaknya juga menambahkan bahwa di UniSHAMS ada lima fakultas dari diploma sampai doktoral. Naib Canselor Pembangunan, Penyelidikan dan Inovasi UniSHAMS Malaysia Prof. Dr. Ahmad Rozelan Bin Yunus menyambut baik kedatangan enam perguruan tinggi dari Indonesia tersebut, yaitu INISNU Temanggung, IAI An Nawawi Purworejo, STAINU Purworejo, STAI Al Anwar Sarang, STAI Al Kamal Sarang, dan Ma'had Aly KH. Maemun Zubair Sarang. "Di sini, rata-rata yang datang adalah kampus yang fokus pada pengkajian Islam, nanti ke depan bisa bekerja sama dari urusan akademik, penyelidikan karena hampir semua yang datang di sini serumpun dengan pengkajian Islam," katanya. Prof Rozelan juga mengatakan bahwa singkatan KUBRA adalah Kulliyyah of Usuluddin, Quranic Sciences and Arabic Language. "Karena namanya panjang disingkat KUBRA," tegas dia. Penandatanganan MoU itu dilakukan di sela-sela Seminar Konferensi Internasional berpusat di Perpustakaan UniSHAMS. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari berbagai lembaga di lingkungan Nahdlatul Ulama serta sejumlah perguruan tinggi mitra, sebagai wujud sinergi dalam membangun peradaban Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

    • calendar_month Jum, 29 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 640
    • 0Komentar

    Teken MoU, INISNU dan UniSHAMS Malaysia Langsung Gelar Seminar Konfoerensi Internasional Pcnupati.or.id Temanggung — Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Universiti Islam Antarabangsa Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah (UniSHAMS) Malaysia, sebagai bagian dari penguatan kerja sama internasional di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Penandatanganan ini dilaksanakan bertepatan dengan […]

expand_less