Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Inisnu Lestarikan Nyadran, Ketua PCNU Sebut “Ben Ora Kepaten Obor”

Inisnu Lestarikan Nyadran, Ketua PCNU Sebut “Ben Ora Kepaten Obor”

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 22 Feb 2025
  • visibility 453
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id-Temanggung – Dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan 1446 H tahun 2025, keluarga besar Kampus Hijau yang terdiri atas Inisnu Temanggung, Akper Alkautsar, TK/PAUD ELPIST, MI ELPIST, KBIHU Babussalam NU Temanggung menggelar Nyandran Kampus Hijau bertajuk “Menjaga dan Melestarikan Tradisi, Mempererat Silaturahmi” pada Jumat (21/2/2025).

Kegiatan yang berlokasi di halaman rektorat Inisnu Temanggung itu dihadiri ratusan peserta dengan narasumber Ketua PCNU Temanggung KH. Muchamad Nurul Yaqin, Pengasuh Pondok Pesantren Ridho Allah Kaloran KH. Achmad Syafi Yahya, dan Ketua BPP dan YAPTINU Temanggung KH. Nur Makhsun.

Ketua BPP dan YAPTINU Temanggung KH. Nur Makhsun mengatakan bahwa nyadran tersebut merupakan inisiasi mahasiswa Inisnu dalam menyambut bulan suci Ramadan. “Benar kata pewara tadi, nyadran di komplek Kampus Hijau ini adalah nyadran pertama di Indonesia bahkan di dunia, kok ada kampus melaksanakan nyadran,” tegas dia usai pembacaan tahlil dan doa bersama.

Sebagai kampus di bawah NU, Inisnu maupun Akper Alkautsar senantiasa menjaga dan melestarikan tradisi Islam dan tradisi Jawa agar tidak kehilangan jati diri. Maka dalam kesempatan yang sama, semua siswa-siswi TK/PAUD ELPIST, MI ELPIST sebagai lembaga laboratorium di bawah program studi PIAUD dan PGMI INISNU Temanggung juga turu melaksanakan nyadran secara bersamaan.

Ketua PCNU Temanggung KH. Muchamad Nurul Yaqin menyampaikan bahwa di antara inti dari kegiatan nyadran adalah berkumpul dengan keluarga, berkumpul dengan tetangga untuk mendoakan kepada keluarga yang sudah meninggal.

“Apakah masih ada sesuatu yang bisa saya lakukan bagi kedua orang tua setelah meninggal? Ya salah satunya melalui nyadran ini, karena ini sebagai bukti kita untuk mendoakan mereka,” ujarnya.

Pihaknya juga menegaskan, bahwa nguri-nguri tradisi warisan ulama dan leluhur menjadi penting agar tidak kehilangan dan lupa asal. “Kalau dalam bahasa Jawa ya ‘ben ora kepaten obor’. Biar tidak tercerabut dari asalnya, dari akarnya,” tegas dia.

Dalam Islam sendiri, katanya, banyak sekali amaliyah mulai dari amaliyah harian, amaliyah mingguan, amaliyah bulanan, amaliyah tahunan. “Termasuk juga bulan Syakban, Ruwah atau Arwah yang menyarankan kita agar ingat leluhur dan mendoakannya,” beber pria yang akrab disapa Gus Nurul tersebut.

Pihaknya menegaskan bahwa semua badan otonom dan lembaga di bawah PCNU Temanggung terus melestarikan tradisi ala Ahlussunnah Waljamaah termasuk nyadran.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Ridho Allah Kaloran KH. Achmad Syafi Yahya mengatakan bahwa dari literatur yang dibaca, nyadran dan atau sadranan adalah murni tradisi Jawa. “Sebelum agama Hindu masuk, agama Buddha masuk, bahkan sebelum Islam masuk yang dibawa oleh para ulama dari Gujarat, dan Timur Tengah, nyadran sejak dulu sudah ada dan asli Jawa,” beber anggota DPRD Kabupaten Temanggung tersebut.

Ada dua poin penting dalam nyadran, menurut Gus Yahya, yaitu birrul walidain (berbuat baik kepada kedua orang tua) dan sedekah. Sebab, birrul walidain menjadi kewajiban setiap muslim dan diperintankah Allah di dalam Al-Qur’an surah Al-Isrā’ ayat 23-24 yang memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.

“Dua hal inilah yang mengalahkan kehebatan para nabi, yaitu birrul walidain dan loman atau dermawan dalam sedekah yang itu menjadi inti dari nyadran,” tegas dia.

Pihakanya juga menceritakan Uwais al-Qarni, seorang tabi’in yang hidup di zaman Rasulullah yang akhirnya ia hidup mulia karena berbakti kepada ibunya. Begitu pula kisah Nabi Musa dan beberapa nabi lain yang sangat dikalhkan dengan birrul walidain dan sedekah. “Jangan pernah berharap surga kalau tidak birrul walidain,” tegas penulis buku Ngaji Toleransi tersebut.

Dari tausiyahnya, pihaknya berharap semua sivitas akademika Inisnu dan Akper Alkautsar dapat mengambil nilai-nilai nyadrah adalah nilai birrul walidain dan nilai sedekah.

Dalam kesempatan itu, hadir Wakil Katib PWNU Jawa Tengah Dr. KH. Muhammad Syakur, Rektor Inisnu Dr. Muh. Baehaqi, Wakil Rektor Dr. Hamidulloh Ibda, Direktur Akper Alkautsar Tri Suraning Wulandari, Kepala PAUD ELPIST, Kepala MI ELPIST, ratusan mahasiswa dan dosen. (*)

  • Penulis: admin
Tags

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Agama Versus Agama

    • calendar_month Ming, 6 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 377
    • 0Komentar

    Dr. Ali Syariati adalah seorang Sosiolog dan Martir yang terbunuh atas perjuangannya menyalakan api revolusi di Kerajaan Syah Pahlevi di Tanah Persia. Api revolusi yang dikobarkannya menyala terang dan berhasil meruntuhkan tembok kerajaan Syah yang sudah berumur ribuan tahun. Namun beliau tidak sempat menyaksikan hasil perjuangannya tersebut dikarenakan kesyahidannya tepat 3 tahun sebelum revolusi. Meskipun […]

  • Bilik Bilik Pesantren

    Bilik Bilik Pesantren

    • calendar_month Sen, 11 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Membaca pesantren dalam paradigma modernis merupakan sebuah kajian yang sangat urgen sekaligus menarik. Karena, kita bisa mengetahui sejauh mana gaung pesantren dalam menghadapi cakrawala kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hal itu juga bisa dihadapkan dengan kritikan-kritikan yang muncul terhadap pesantren. Kritikan berupa kredibilitasnya sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional Nusantara dalam menghadapi kemajuan teknologi dan merespon persoalan-persoalan kontemporer yang jamak […]

  • Foto: Polisi inspiratif, Aipda Hartono mengajar para santri di TPQ gratis. (PCNU Pati/Polresta Pati)

    Cerita Inspiratif, Polisi Ini Dirikan TPQ Gratis di Pati

    • calendar_month Sen, 3 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 505
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id, Pati – Kisah Aipda Hartono patut menjadi inspirasi. Anggota Polresta Pati ini mendirikan TPQ gratis di Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Di tengah kesibukannya sebagai personel kepolisian, Aipda Hartono masih menyisihkan sebagian waktunya mengelola dan mendirikan TPQ Arroyyan. Dengan berseragam polisi dan berkopiah kain goni, Aipda Hartono tampak cekatan mengajari anak didiknya […]

  • Tebasan padi

    Tebasan padi

    • calendar_month Sel, 24 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Sering kita dengar praktek penjualan padi yang masih ada di sawah dengan sistem tebasan (borongan) pada saat musim panen tiba, hal itu dilakukan karena para petani tidak mau mengambil resiko ongkos panen yang cukup besar. Pertanyaan : Bolehkah praktek jual beli secara tebasan tersebut ? Jawaban : Tafsil : Ø Boleh bila belum mencapai nishob, Tidak boleh […]

  • PCNU-PATI

     “Seduluran Selawase” Jadi Jargon Ketua PCNU untuk ‘Merayu’ Masyarakat

    • calendar_month Kam, 12 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 390
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Menjelang Pemilu 2024, beragam indikasi sudah bisa dirasakan oleh penduduk Indonesia. Hal ini memicu beragam respon dari masyarakat. Namun yang paling berbahaya adalah perilaku berlebihan yang menimbulkan fanatisme. “Ini yang sering memicu perpecahan,” kata K.H. Yusuf Hasyim, Ketua PCNU Pati.  Menanggapi fenomena rutin jelang Pemilu ini, Kiai Yusuf, lewat jejaring Youtube NU Pati, Rabu […]

  • Nalar Penguasa Hari Ini

    Nalar Penguasa Hari Ini

    • calendar_month Kam, 14 Agu 2025
    • account_circle admin
    • visibility 332
    • 0Komentar

      Oleh: Maulana Karim Shalihin Nun jauh di sana, beberapa abad lalu, ada seorang ksatria yang mengundurkan diri lantaran merasa belum becus menerima amanah sebagai kepala negara. Ya, seperti kita fahami, pada era khalifah, kekuasaan memang bersifat dinasti. Namun khalifah yang satu ini agak lain. Di atas podium, ia dengan ksatria berujar: “Wahai manusia, aku […]

expand_less