Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Wakil Rakyat Kalo Gini Terus Kayaknya Perlu Nyantri Dulu Deh

Wakil Rakyat Kalo Gini Terus Kayaknya Perlu Nyantri Dulu Deh

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 17 Sep 2023
  • visibility 566
  • comment 0 komentar

Oleh : Irna Maifatur Rohmah

Bukan menjadi rahasia lagi, tak jarang wakil rakyat yang terjerat KPK. Ya mau apa lagi? Penggelapan dana untuk proyek ini dan itu. Segampang itu mereka mengklaim dana untuk rakyat menjadi milik pribadi. Segudang alasan klasik berulang-ulang dituturkan pada media. Tapi hal itu tidak bisa mengembalikan kepercayaan dan wibawa. Padahal sudah berkali-kali bahkan mungkin wartawan sampai bosan meliput di KPK terus. Tapi itulah kenyataan yang ada di negara kita.

Melihat realita yang demikian itu, sepertinya syarat untuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat perlu tambahan lagi, deh. Wajib nyantri terlebih dahulu, salaf kalo bisa. Lho, kok gitu? Yuk kita selami dikit dunia santri!

Eksistensi pesantren tak lepas dari para pengelola lembaga pendidikan tersebut, seperti Yai dan Ustadz-nya. Dengan sikap-sikap terpuji mereka sistem pendidikan pesantren dapat diterima oleh masyarakat dan memiliki keyakinan pada pesantren untuk mendidik para santri. Hal ini terbukti jika pesantren dapat survive dengan baik sehingga masih bertahan sampai detik ini. Keunikan pesantren dapat menempa santri yang jumlahnya tidak sedikit dan berhasil mencetak pribadi yang memiliki moral yang apik. Seperti yang dicitakan pendidikan di negeri ini, menciptakan generasi yang bermoral, berpikir kritis, berintelektual, bersosialisasi yang apik dan memiliki ketrampilan.

Menciptakan hal tersebut tentunya tidak instan dan mudah. Tentunya harus ditempa dan didorong dengan kelembutan. Sehingga terbentuklah insan yang tidak mudah mengklaim hal yang bukan hak miliknya. Hal tersebut terjadi karena hal di bawah ini.

Santri terbiasa dengan kehilangan. Hidup bersama dengan sesama santri, mau tidak mau harus menerima segala resiko hidup berdampingan. Di dalam pesantren sudah sangat akrab dengan yang namanya kehilangan. Entah itu kehilangan ember, sandal, baju, dan apapun yang menempel pada dhohir santri. Hal ini sangatlah wajar. Entah karena keteledoran diri sendiri atau santri yang iseng. Namun hal ini pasti menimpa tiap santri. Santri tak gampang jengkel atau marah ketika kehilangan sesuatu darinya. Sebab dari pesantren mereka paham apa yang dimilikinya tidak sempurna miliknya, di pesantren apa yang dimilikinya menjadi milik bersama.

Dari sebuah kehilangan, santri belajar hal lain dalam pesantren. Bagaimana cara bersosialisasi dengan baik, cara meminjam yang baik, memberikan kesan yang baik ketika meminjam. Seandainya santri tidak pernah kehilangan niscaya tak tau cara bersosialisasi yang baik, tak bisa meminjam dengan baik. Salah satu cara untuk menyadarkan diri santri akan sebuah rasa kebersamaan adalah dengan adanya kehilangan. Awal yang menyakitkan namun menimbulkan efek yang tidak terlalu buruk.

Bagaimana tidak, hampir semua yang dimiliki rela barter atau berbagi dengan yang lainnya. Rasa kebersamaan sangat kental di pesantren. Sabun, baju, sandal, buku, pensil, pulpen, dan masih banyak lagi seringkali dipakai ramai-ramai. Hal ini tidak akan mendapat solusi jika dihadapi dengan rasa marah atau tidak terima. Melalui hal-hal seperti ini justru akan menambah rasa kebersamaan santri dan mempererat kedekatan santri.

Rela berbagi, menjiwa dan mendarah daging pada santri. Justru santri yang tidak mau berbagi tidak memiliki teman dan mendapat pandangan negative dari lingkungan pesantren. Karena pada dasarnya pendidikan pesantren menegakkan arti kebersamaan yang sangat kental. Maka dari itu santri perlahan tidak merasa kehilangan atas hal ada pada dirinya.

Dari sini muncullah sikap santri yang tidak mudah meng-klaim apa yang ada di tangannya. Rasa ingin memiliki santri menurun ketika sudah merasakan sensasi kehilangan dan pendidikan di pesantren. Dalam pengajian rutinan, seringkali dijelaskan arti sebuah kehilangan. Bahwasanya kehilangan sebenarnya tidak ada sebab semua yang ada pada tiap diri hanyalah titipan bukan kepemilikan total. Maka ketika sesuatu diambil tidak kaget dan bisa mengikhlaskan dengan mudah. Santri tidak mudah meng-klaim yang ada pada diri santri. Semua hanya titipan padanya. Apalagi untuk hal yang ada di sekitar dirinya, tidak akan mudah meng-klaim bahwa ini milikku, itu milikku, tidak seperti itu. Santri sudah ditanamkan dalam dirinya tidak pantas bagi seorang santri untuk meng-klaim yang ada pada dirinya.

Ide bagus bukan? Pribadi-pribadi yang ingin mencalonkan diri harus nyantri dulu minimal satu tahun, deh, buat membentuk pribadi yang tidak mudah meng-klaim dan legowo. Mungkin ini bisa jadi pembentukan karakter pemimpin agar Indonesia memiliki tatanan dan sistem pemerintah yang lebih baik lagi. Atau alumni pesantren saja yang menjadi pemimpin? Ups.       

*UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Pondok Pesantren Nurul Iman Pasir

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gus Rozin Launching Program Magang Jepang LP Ma`arif NU Jateng 2025

    Gus Rozin Launching Program Magang Jepang LP Ma`arif NU Jateng 2025

    • calendar_month Rab, 16 Apr 2025
    • account_circle admin
    • visibility 657
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. Semarang – Di depan Kepala SMK Ma`arif NU Se Jawa Tengah, Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama`Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin secara resmi melaunching program Magang Jepang Kerjasama antara Lembaga Pendidikan Ma`arif NU PWNU Jawa Tengah dengan Kementerian Tenaga Kerja dan IM Japan pada Senin, 14 April 2025. Launching tersebut sekaligus menandai dibukanya pendaftaran […]

  • adn

    Ad Maiora Natus Sum

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
    • account_circle admin
    • visibility 906
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Di tengah-tengah kota Bandung, yang ramai dengan hiruk pikuk kehidupan modern, terdapat sebuah oasis keheningan dan warisan sejarah yang kaya, yaitu SMA Santo Aloysius. Didirikan pada tanggal 21 Juni 1930, sekolah Katolik ini merupakan saksi bisu perkembangan kota Bandung dari masa ke masa. Berdiri megah dengan arsitektur yang merefleksikan keanggunan masa […]

  • Mencari Hutang untuk Tahlilan

    Mencari Hutang untuk Tahlilan

    • calendar_month Sen, 8 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Sudah menjadi tradisi masyarakat, kalau ada keluarganya yang meninggal dunia, ahli warisnya mengumpulkan orang untuk bersama-sama membaca fatihah, surat ikhlas, tahlil dan lain-lain. Tepat pada satu hari, dua hari dan seterusnya.Dan semua itu tidak terlepas dari biaya, padahal ahli mayyit termasuk orang-orang yang tidak mampu dan mayyit sendiri tidak meninggalkan tirkah (harta peninggalan).   Pertanyaan […]

  • PCNU - PATI

    Festival Layang-Layang Dalam Rangka HUT RI Ke-77

    • calendar_month Sel, 16 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Jepara. Dalam memperingati kegiatan HUT RI Ke 77 PELANGI mengadakan acara  bertajuk Festival Layang layang sebagai salah satu bentuk memeriahkan HUT RI KE 77, di laksanakan di area persawahan Makam H. Ma’sum Dukuh Karagan, Desa Tunahan pada hari Sabtu, 13/8 kemarin Acara tersebut menghadirkan Petinggi Desa Tunahan, Ketua RT 13 RW 04 Desa Tunahan, Swastika […]

  • Menjawab sholawat dalam Khotbah Jumah

    Menjawab sholawat dalam Khotbah Jumah

    • calendar_month Sel, 27 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 526
    • 0Komentar

     Pertanyaan : Bagaimana hukumnya membaca/menjawab sholawat ketika khotbah sedang berlangsung, padahal kita tahu bahwa disaat Khotib khutbah hukumnya harom berbicara?   Jawaban :Hukumnya membaca sholawat tersebut hukumnya sunnah selama tidak dengan suara yang berlebihan, walaupun menurut pendapat ulama’ yang berpendapat haram berbicara diwaktu khutbah, karena sholawat tersebut termasuk pengecualian.   Referensi : & Ibânat al-Ahkâm, […]

  • Dapur Ndalem Mbah Kiai Abdullah Zein Salam

    Cerita Lucu dan Unik Dua Abdi Ndalem Mbah Sah

    • calendar_month Sab, 6 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 495
    • 0Komentar

    Oleh : Sahal Japara  Peringatan Haul Syekh Mutamakkin Kajen (Suronan) bagi santri Kajen biasanya menjadi ajang pertemuan Alumni. Dalam pertemuan Alumni, selain kangen-kangenan, biasanya akan ada cerita-cerita kenangan waktu mondok. Pagi ini saya akan menceritakan kisah lucu dan unik Abdi Ndalem Mbah Sah/Ibunyai Hafshah/Aisyah Abdullah Salam, gara-gara ketemu dan njagong di sela-sela acara Khotmil Qur’an […]

expand_less