Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Wakil Rakyat Kalo Gini Terus Kayaknya Perlu Nyantri Dulu Deh

Wakil Rakyat Kalo Gini Terus Kayaknya Perlu Nyantri Dulu Deh

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 17 Sep 2023
  • visibility 653
  • comment 0 komentar

Oleh : Irna Maifatur Rohmah

Bukan menjadi rahasia lagi, tak jarang wakil rakyat yang terjerat KPK. Ya mau apa lagi? Penggelapan dana untuk proyek ini dan itu. Segampang itu mereka mengklaim dana untuk rakyat menjadi milik pribadi. Segudang alasan klasik berulang-ulang dituturkan pada media. Tapi hal itu tidak bisa mengembalikan kepercayaan dan wibawa. Padahal sudah berkali-kali bahkan mungkin wartawan sampai bosan meliput di KPK terus. Tapi itulah kenyataan yang ada di negara kita.

Melihat realita yang demikian itu, sepertinya syarat untuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat perlu tambahan lagi, deh. Wajib nyantri terlebih dahulu, salaf kalo bisa. Lho, kok gitu? Yuk kita selami dikit dunia santri!

Eksistensi pesantren tak lepas dari para pengelola lembaga pendidikan tersebut, seperti Yai dan Ustadz-nya. Dengan sikap-sikap terpuji mereka sistem pendidikan pesantren dapat diterima oleh masyarakat dan memiliki keyakinan pada pesantren untuk mendidik para santri. Hal ini terbukti jika pesantren dapat survive dengan baik sehingga masih bertahan sampai detik ini. Keunikan pesantren dapat menempa santri yang jumlahnya tidak sedikit dan berhasil mencetak pribadi yang memiliki moral yang apik. Seperti yang dicitakan pendidikan di negeri ini, menciptakan generasi yang bermoral, berpikir kritis, berintelektual, bersosialisasi yang apik dan memiliki ketrampilan.

Menciptakan hal tersebut tentunya tidak instan dan mudah. Tentunya harus ditempa dan didorong dengan kelembutan. Sehingga terbentuklah insan yang tidak mudah mengklaim hal yang bukan hak miliknya. Hal tersebut terjadi karena hal di bawah ini.

Santri terbiasa dengan kehilangan. Hidup bersama dengan sesama santri, mau tidak mau harus menerima segala resiko hidup berdampingan. Di dalam pesantren sudah sangat akrab dengan yang namanya kehilangan. Entah itu kehilangan ember, sandal, baju, dan apapun yang menempel pada dhohir santri. Hal ini sangatlah wajar. Entah karena keteledoran diri sendiri atau santri yang iseng. Namun hal ini pasti menimpa tiap santri. Santri tak gampang jengkel atau marah ketika kehilangan sesuatu darinya. Sebab dari pesantren mereka paham apa yang dimilikinya tidak sempurna miliknya, di pesantren apa yang dimilikinya menjadi milik bersama.

Dari sebuah kehilangan, santri belajar hal lain dalam pesantren. Bagaimana cara bersosialisasi dengan baik, cara meminjam yang baik, memberikan kesan yang baik ketika meminjam. Seandainya santri tidak pernah kehilangan niscaya tak tau cara bersosialisasi yang baik, tak bisa meminjam dengan baik. Salah satu cara untuk menyadarkan diri santri akan sebuah rasa kebersamaan adalah dengan adanya kehilangan. Awal yang menyakitkan namun menimbulkan efek yang tidak terlalu buruk.

Bagaimana tidak, hampir semua yang dimiliki rela barter atau berbagi dengan yang lainnya. Rasa kebersamaan sangat kental di pesantren. Sabun, baju, sandal, buku, pensil, pulpen, dan masih banyak lagi seringkali dipakai ramai-ramai. Hal ini tidak akan mendapat solusi jika dihadapi dengan rasa marah atau tidak terima. Melalui hal-hal seperti ini justru akan menambah rasa kebersamaan santri dan mempererat kedekatan santri.

Rela berbagi, menjiwa dan mendarah daging pada santri. Justru santri yang tidak mau berbagi tidak memiliki teman dan mendapat pandangan negative dari lingkungan pesantren. Karena pada dasarnya pendidikan pesantren menegakkan arti kebersamaan yang sangat kental. Maka dari itu santri perlahan tidak merasa kehilangan atas hal ada pada dirinya.

Dari sini muncullah sikap santri yang tidak mudah meng-klaim apa yang ada di tangannya. Rasa ingin memiliki santri menurun ketika sudah merasakan sensasi kehilangan dan pendidikan di pesantren. Dalam pengajian rutinan, seringkali dijelaskan arti sebuah kehilangan. Bahwasanya kehilangan sebenarnya tidak ada sebab semua yang ada pada tiap diri hanyalah titipan bukan kepemilikan total. Maka ketika sesuatu diambil tidak kaget dan bisa mengikhlaskan dengan mudah. Santri tidak mudah meng-klaim yang ada pada diri santri. Semua hanya titipan padanya. Apalagi untuk hal yang ada di sekitar dirinya, tidak akan mudah meng-klaim bahwa ini milikku, itu milikku, tidak seperti itu. Santri sudah ditanamkan dalam dirinya tidak pantas bagi seorang santri untuk meng-klaim yang ada pada dirinya.

Ide bagus bukan? Pribadi-pribadi yang ingin mencalonkan diri harus nyantri dulu minimal satu tahun, deh, buat membentuk pribadi yang tidak mudah meng-klaim dan legowo. Mungkin ini bisa jadi pembentukan karakter pemimpin agar Indonesia memiliki tatanan dan sistem pemerintah yang lebih baik lagi. Atau alumni pesantren saja yang menjadi pemimpin? Ups.       

*UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto, Pondok Pesantren Nurul Iman Pasir

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menangkap Cahaya Rayyan

    Menangkap Cahaya Rayyan

    • calendar_month Sel, 4 Jul 2017
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

    “Sesungguhnya di syurga ada satu pintu bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya…. Maka jika orang-orang yang berpuasa telah memasukinya, maka (Pintu Rayyan) akan ditutup dan taka da seorangpun lagi yang memasukinya.” Begitu spesialnya ibadah puasa, hingga diabadikan dalam banyak hadits. Salah […]

  • PCNU-PATI

    PC Fatayat NU Cabang Pati, Adakan Rutinan Triwulan

    • calendar_month Sen, 29 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 581
    • 0Komentar

    Gembong. Bertempat di Desa Sitiluhur Kecamatan Gembong Pimpinan Cabang Fatayat NU  Kabupaten Pati mengadakan kegiatan Triwulan Ahad, 28 Agustus 2022, kemarin Turut hadir dalam kegiatan tersebut meliputi Camat Gembong, Kapolsek, Koramil, MWC NU, Banser, Anshor, IPNU, Kades Sitiluhur. “Kegiatan Triwulan PC Fatayat NU Kabupaten Pati diikuti oleh semua pengurus, PAC Fatayat NU Se-kabupaten Pati sekaligus […]

  • Lazisnu Ajak Warga Peduli Kekeringan

    Lazisnu Ajak Warga Peduli Kekeringan

    • calendar_month Sen, 16 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 392
    • 0Komentar

    WINONG-LAZISNU, LKKNU  dan LPBINU tak henti-henti melancarkan distribusi air bersih bagi warga Kabupaten Pati yang membutuhkan. Hal ini mengingat matinya sumber air di beberapa daerah. Terhitung sejak Minggu (15/9) sudah lebih dari 80.000 liter air didistribusikan untuk warga.  “Kami akan terus bergerak demi tersalurnya air bersih untuk saudara-saudara kita” tutur Edi Fitrianto, pengurus cabang LPBI […]

  • a table topped with lots of papers on top of a wooden table

    Penulis dan Pejalan Kaki

    • calendar_month Sen, 26 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 602
    • 0Komentar

    Oleh: M. Iqbal Dawami Aku, yang selalu terpaku pada layar dan tumpukan buku, menyulam kata demi kata, sering kali lupa bahwa tubuh ini juga butuh gerak dan ruang untuk bernapas. Hari demi hari, aku terjebak dalam rutinitas yang sama: duduk berjam-jam, mengolah pikiran yang tak pernah berhenti berputar, mencoba menerjemahkan kerumunan ide menjadi kalimat-kalimat yang […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan bersama Hamidulloh Ibda

    • calendar_month Sen, 8 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 443
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Tidak ada yang menyuruh, meminta, atensi, apalagi intimidasi. Semua tulisan yang saya kirim di NU Online Pati (pcnupati.or.id) murni karena saya sendiri. Bergerak karena ingin bergerak. Terdorong karena dorongan sendiri. Semua tergerak sendiri sehingga saya bisa menulis 30 artikel full selama bulan Ramadan tahun ini. Di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia modern, […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Ramadan Produktif Berliterasi

    • calendar_month Rab, 25 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.340
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Pada Kolom Ramadan 2024, saya telah menulis di Pcnupati.or.id sebuah tulisan sederhana berjudul Ramadan: Bulan Literasi dan Numerasi” pada 30 Maret 2024. Pada 5 Maret 2025, saya menulis Puasa dan Produktivitas Kerja. Pada 19 Maret 2025, saya menulis kolom berjudul Ramadan itu Bulan Produktif!. Selama Ramadan 2025 kemarin, saya menginisiasi GLM Ramadan […]

expand_less