Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Tuan Muda Albana

Tuan Muda Albana

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 18 Sep 2022
  • visibility 574
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Sepasang mata berbingkai kacamata itu sedikit membeliak ketika menemukan wajah pucat tapi cantik dari jarak yang begitu dekat.

“Lepas!” Gadis berhidung mancung itu berteriak dengan suara parau yang berat.

“Kalau takut ngapain mau bunuh diri? Sudah gila kamu? Sudah nggak punya iman?” Balas lelaki itu tak kalah emosional.

Lelaki bersarung biru membela diri. Amarah tetiba menguasai. Jantungnya bertalu-talu. Ia hanya tak habis pikir. Bukankah sudah sejak tadi ia telah melepaskan pelukan daruratnya? Gadis itu sendiri yang masih mencengkram kuat lengan kekarnya sebab ketakutan.

“Itu urusanku. Ngapain kamu ikut campur? Ngapain nyelametin?”

Gadis berambut hitam legam masih tak mau kalah. Meski terkesan awut-awutan, tapi tetap terlihat menawan. Bahkan saat marah pun aura cantiknya tetap terpancar. Kulitnya yang cerah semakin berkilau dengan gaun pengantin sutra putih yang ia kenakan.

“Oh gitu? Ya sudah sana bunuh diri. Mau kamu hancur berkeping-keping ditabrak kereta api aku nggak peduli. Kereta api nanti lewat lagi jam enam. Tunggu saja disini.”

Pemuda itu bersiap pergi. Amarahnya memuncak. Percuma tadi ia berlari seperti dikejar gorila. Ia sungguh tak habis pikir dengan gadis di depannya. Begitulah jika iman telah terkikis. Tak kuat dengan masalah, bunuh diri dianggap sebagai solusi.

“Asal kamu tahu. orang yang melakukan bunuh diri dosanya lebih besar dibanding orang yang membunuh orang lain. Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi yang tergenggam di tangannya akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya dalam neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya.”

Faris menunjuk perut gadis itu seolah ada besi tertancap di sana. Reflek sang gadis memegangi perutnya, menaikkan ujung bibir. Ngeri.

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka Jahannam dan ia kekal di dalamnya.”

Lagi. Si gadis reflek memegangi lehernya. Seolah ada racun mengalir di sana. Merampas saluran pernafasannya.

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya. Begitu pula kalau kamu bunuh diri dengan cara menabrakkan diri pada kereta. Maka kamu di neraka jahanam akan ditabrak kereta berkali-kali dan kamu kekal di sana.”

Faris menatap tajam sang lawan bicara. Gadis itu bergidik. Bara api yang sempat menyala-nyala di matanya redup seketika. Berganti bayangan api neraka menjilat-jilat dan kereta super besar menabrak tubuhnya berkali-kali.

“Nggak usah ceramah! Kamu pasti ustadz sok-sokkan seperti yang di tivi-tivi.”

Si gadis cantik mencibir sambil memindai lelaki di depannya dari atas ke bawah. Ia berusaha menata harga dirinya yang terserak dan hancur berkeping-keping di depan Faris.

Lelaki itu terlihat agamis. Ia memakai sarung hitam dengan sulur kebiruan serta koko warna navy. Bagi gadis itu lelaki model seperti ini sangat kolot. Tidak keren sama sekali. Tidak seperti Samuel-pacarnya, sang dosen di fakultas kedokteran.

“Terserah kamu lah. Aku menyesal sudah….”

Tiba-tiba saja mendung yang sejak tadi menggelayut pekat menjadi hujan deras. Faris segera berlari kembali menuju bangunan bertingkat yang tak jauh dari rel. Meninggalkan gadis bergaun pengantin di belakangnya sendirian.

Peluru air dari langit pun membuat keduanya basah. Gaun pengantin putih yang si gadis kenakan menjadi kuyup. Membuat bra merah yang membingkai dadanya tercetak jelas. Dengan cepat si gadis menyilangkan kedua tangannya.

“Hey.” Akhirnya ia berteriak. Faris menoleh. Lalu secepatnya mengalihkan pandangan. Ada banyak pertanyaan bergelayut dalam benaknya.

“Berteduhlah di sana kalau mau. Tapi jangan lama-lama,” seru Faris menunjuk bangunan bertingkat di seberang jalan sambil berjalan cepat.

Semoga ini beneran manusia. Bukan hantu. Atau bangsa dedemit lainnya, lanjut lelaki itu dalam hati. Ia mengusap dadanya. Entah kenapa.

—–

Gadis bergaun pengantin berjalan di belakang Faris dengan perasaan masygul. Sejenak ia berhenti di depan plang bertulisan “Darul Hadlonah” yang ada di depan bangunan. Sayup-sayup terdengar celoteh riang di dalam sana. Mata si gadis memicing. Ia berjalan mengikuti Faris sambil tetap menyilangkan kedua tangan pada dada.

“Kak Faris hujan-hujanan cama ciapa?” Tanya Nadia polos. Si gadis bergaun pengantin mematung. Hanya senyum tipis terukir di bibir pucat itu.

Faris? nama itu terdengar familiar. Ia termangu sejenak, tapi fokusnya segera beralih pada gadis kecil berjilbab merah yang masuk ke ruang tamu. Sepasang mata kecoklatan itu menatapnya ramah. Gadis bergaun pengantin terpukau dan semakin takjub kala beberapa anak kecil seusia Nadia menyusul ke ruangan cukup luas itu. Mereka berebut perhatian Faris.

Faris tersenyum simpul. “Kita kedatangan tamu.”

“Kak Faris sudah menikah? kok istrinya gak pakai jilbab?” Lagi, Nadia nyeletuk. Membuat gadis di belakang Faris salah tingkah. Tanpa sadar ia mengelus rambutnya yang lepek. Hanya dia-perempuan satu-satunya di ruangan itu yang tak memakai jilbab.

“Belum, Sayang. Itu bukan istri Kak Faris. Kak Faris tadi nggak sengaja ketemu kakak itu.” Faris menjelaskan.

“Oooh.”

“Tolong Nadia panggilin Bik Misih ya.”

Nadia mengangguk, kaki-kaki kecilnya segera melangkah ke belakang. Mencari keberadaan perempuan yang mereka panggil Bik Misih.

Tak berapa lama muncul seorang perempuan paruh baya dari arah dalam. Ia mengenakan gamis warna ungu dengan jilbab senada bermotif bunga krisan. Perempuan berwajah bulat dan berhidung pesek itu mengangguk dan tersenyum ramah. Lalu menyapa gadis di belakang Faris.

Beberapa anak kecil tampak berlalu lalang. Membuat ruangan panti begitu semarak. Seruan para pengasuh terdengar. Meminta mereka agar  segera berwudlu dan menuju musola. Wajah langit semakin kelam menandakan adzan maghrib sebentar lagi berkumandang.

 Najiya termangu. Ia teringat lagi perkataan Faris di rel tentang dosa orang yang melakukan bunuh diri. Bertemu dengan para anak panti membuatnya malu. Siapapun yang menatap wajah-wajah polos itu akan gemas sekaligus terharu. Anak sekecil itu sudah harus berpisah dengan orang tua mereka dan berkumpul dan hidup bersama dengan teman sebaya. Diasuh oleh orang asing yang mau tak mau harus mereka anggap seperti orang tua. Namun jika melihat keriangan di wajah imut itu, sungguh tak pantas rasanya jika harus mengeluhkan tentang hidup.

“Iya, Den?” Tanya Bik Misih. Sepasang netranya segera beralih pada perempuan menggigil yang mematung di depan pintu.

“Ada tamu to?” Kedua mata Bik Misih berbinar.

“Iya, Bik. Tolong layani dan bantu tamu saya,” pinta Faris singkat. Lelaki berambut ikal itu segera melenggang masuk ke dalam. Ia Juga perlu membersihkan dirinya sendiri yang tampak berantakan.

Tanpa banyak kata Bik Misih menggiring gadis bergaun pengantin yang ditemukan tuannya masuk ke dalam. Perempuan yang sudah bertahun-tahun mengabdi di Darul Hadlonah Albana Pengapon itu paham apa yang harus ia lakukan. Meski di benaknya muncul banyak tanda tanya. Seperti, darimana dan bagaimana Faris menemukan perempuan itu? Kenapa perempuan ini memakai pakaian pengantin?

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jamaah dan Jam’iyyah Harus Sinergi

    Jamaah dan Jam’iyyah Harus Sinergi

    • calendar_month Sen, 8 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 620
    • 0Komentar

    Pati, Jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati memaparkan secara garis besar tentang program program selama lima tahun mendatang pada Ahad (7/7/2019) dalam musyawarah kerja cabang. Ketua PCNU Pati Yusuf Hasyim mengemukakan bahwa jamaah dan jam’iyyah dalam NU harus bersinergi.”Kenapa Jamaah jamaah kita diajak bergerak kok susah, ketika kita bertanya kepada jamaah, lha pengurus […]

  • Pengurus 17 Lembaga PCNU Pati Resmi Lantik

    Pengurus 17 Lembaga PCNU Pati Resmi Lantik

    • calendar_month Rab, 25 Des 2024
    • account_circle admin
    • visibility 755
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id- Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati, melantik para pengurus dari 17 lembaga di bawah naungannya. Pelantikan itu digelar dalam Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) 1 di Aula Institut Pesantren Matholi’ul Falah (Ipmafa), Margoyoso, Rabu (25/12/2024). Adapun lembaga-lembaga itu antara lain LDNU, LP Ma’arif NU, Lakpesdam NU, RMI NU, Lesbumi NU, LTN NU, LF […]

  • Kiai Karismatik Dari Kajen

    Kiai Karismatik Dari Kajen

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 585
    • 0Komentar

    Tokoh Ulama; Orang pertama yang disowani Gus Dur segera setelah dia jadi presiden adalah Almarhum Kiai Abdullah Salam di Kajen, Pati, yang lebih akrab dipanggil Mbah Dullah. Saat mendengar Gus Dur hendak bertandang ke rumahnya, awalnya Mbah Dullah keberatan, sebab saat itu Gus Dur sudah jadi umara (penguasa). Tetapi pada akhirnya Mbah Dullah bilang: “Kalau […]

  • Suluk Maleman Menyoal Tuhan dalam Pemahaman Manusia

    Suluk Maleman Menyoal Tuhan dalam Pemahaman Manusia

    • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 535
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Pemahaman manusia tentang Tuhan, karena perbedaan sudut pandang, acap menjadi rumit dalam banyak pembahasan. Masalah inilah yang mencoba dibedah di forum NgAllah Suluk Maleman yang digelar pada Sabtu (19/7) di Rumah Adab Indonesia Mulia. Awalnya Anis Sholeh Ba’asyin menggaris-bawahi bahwa apa yang disebut ateisme bukanlah gejala baru. “Dalam sejumlah teori, ditegaskan bahwa pada […]

  • Korban Kebakaran dapat Bantuan dari NU

    Korban Kebakaran dapat Bantuan dari NU

    • calendar_month Jum, 1 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 605
    • 0Komentar

    NU Care- LAZISNU Kabupaten Pati telah melaksanakan pendistribusian bantuan untuk korban kebakaran di desa Pagerharjo, Rabu (30/10). Pada kegiatan tersebut LAZISNU Pati turut serta menggandeng Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Wedarijaksa beserta banomnya. Diketahui kebakaran terjadi hari selasa sekira pukul 14.00 WIB di desa Pagerharjo dukuh Prapeyan Rt 03 Rw 02 Kecamatan Wedarijaksa. Akibat […]

  • Kiai Zulfa Mustofa Apresiasi Wisuda Pascasarjana IPMAFA Pati yang Gunakan Bahasa Arab

    Kiai Zulfa Mustofa Apresiasi Wisuda Pascasarjana IPMAFA Pati yang Gunakan Bahasa Arab

    • calendar_month Sab, 8 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.516
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Dr. (H.C.) K.H. Zulfa Mustofa, memberikan apresiasi tinggi pada pelaksanaan Wisuda Perdana Program Pascasarjana Magister Pendidikan Bahasa Arab IPMAFA 2025, yang digelar di Aula 2 Kampus IPMAFA, Sabtu (8/11/2025). Kiai Zulfa menilai bahwa penggunaan bahasa Arab dalam prosesi wisuda merupakan hal yang membanggakan dan mencerminkan ruh pesantren yang melekat kuat pada IPMAFA. […]

expand_less