Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Tuan Muda Albana

Tuan Muda Albana

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 18 Sep 2022
  • visibility 560
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

Sepasang mata berbingkai kacamata itu sedikit membeliak ketika menemukan wajah pucat tapi cantik dari jarak yang begitu dekat.

“Lepas!” Gadis berhidung mancung itu berteriak dengan suara parau yang berat.

“Kalau takut ngapain mau bunuh diri? Sudah gila kamu? Sudah nggak punya iman?” Balas lelaki itu tak kalah emosional.

Lelaki bersarung biru membela diri. Amarah tetiba menguasai. Jantungnya bertalu-talu. Ia hanya tak habis pikir. Bukankah sudah sejak tadi ia telah melepaskan pelukan daruratnya? Gadis itu sendiri yang masih mencengkram kuat lengan kekarnya sebab ketakutan.

“Itu urusanku. Ngapain kamu ikut campur? Ngapain nyelametin?”

Gadis berambut hitam legam masih tak mau kalah. Meski terkesan awut-awutan, tapi tetap terlihat menawan. Bahkan saat marah pun aura cantiknya tetap terpancar. Kulitnya yang cerah semakin berkilau dengan gaun pengantin sutra putih yang ia kenakan.

“Oh gitu? Ya sudah sana bunuh diri. Mau kamu hancur berkeping-keping ditabrak kereta api aku nggak peduli. Kereta api nanti lewat lagi jam enam. Tunggu saja disini.”

Pemuda itu bersiap pergi. Amarahnya memuncak. Percuma tadi ia berlari seperti dikejar gorila. Ia sungguh tak habis pikir dengan gadis di depannya. Begitulah jika iman telah terkikis. Tak kuat dengan masalah, bunuh diri dianggap sebagai solusi.

“Asal kamu tahu. orang yang melakukan bunuh diri dosanya lebih besar dibanding orang yang membunuh orang lain. Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi yang tergenggam di tangannya akan selalu ia arahkan untuk menikam perutnya dalam neraka Jahanam secara terus-menerus dan ia kekal di dalamnya.”

Faris menunjuk perut gadis itu seolah ada besi tertancap di sana. Reflek sang gadis memegangi perutnya, menaikkan ujung bibir. Ngeri.

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara meminum racun maka ia akan selalu menghirupnya di neraka Jahannam dan ia kekal di dalamnya.”

Lagi. Si gadis reflek memegangi lehernya. Seolah ada racun mengalir di sana. Merampas saluran pernafasannya.

“Barangsiapa yang bunuh diri dengan cara terjun dari atas gunung, maka ia akan selalu terjun ke neraka Jahanam dan dia kekal di dalamnya. Begitu pula kalau kamu bunuh diri dengan cara menabrakkan diri pada kereta. Maka kamu di neraka jahanam akan ditabrak kereta berkali-kali dan kamu kekal di sana.”

Faris menatap tajam sang lawan bicara. Gadis itu bergidik. Bara api yang sempat menyala-nyala di matanya redup seketika. Berganti bayangan api neraka menjilat-jilat dan kereta super besar menabrak tubuhnya berkali-kali.

“Nggak usah ceramah! Kamu pasti ustadz sok-sokkan seperti yang di tivi-tivi.”

Si gadis cantik mencibir sambil memindai lelaki di depannya dari atas ke bawah. Ia berusaha menata harga dirinya yang terserak dan hancur berkeping-keping di depan Faris.

Lelaki itu terlihat agamis. Ia memakai sarung hitam dengan sulur kebiruan serta koko warna navy. Bagi gadis itu lelaki model seperti ini sangat kolot. Tidak keren sama sekali. Tidak seperti Samuel-pacarnya, sang dosen di fakultas kedokteran.

“Terserah kamu lah. Aku menyesal sudah….”

Tiba-tiba saja mendung yang sejak tadi menggelayut pekat menjadi hujan deras. Faris segera berlari kembali menuju bangunan bertingkat yang tak jauh dari rel. Meninggalkan gadis bergaun pengantin di belakangnya sendirian.

Peluru air dari langit pun membuat keduanya basah. Gaun pengantin putih yang si gadis kenakan menjadi kuyup. Membuat bra merah yang membingkai dadanya tercetak jelas. Dengan cepat si gadis menyilangkan kedua tangannya.

“Hey.” Akhirnya ia berteriak. Faris menoleh. Lalu secepatnya mengalihkan pandangan. Ada banyak pertanyaan bergelayut dalam benaknya.

“Berteduhlah di sana kalau mau. Tapi jangan lama-lama,” seru Faris menunjuk bangunan bertingkat di seberang jalan sambil berjalan cepat.

Semoga ini beneran manusia. Bukan hantu. Atau bangsa dedemit lainnya, lanjut lelaki itu dalam hati. Ia mengusap dadanya. Entah kenapa.

—–

Gadis bergaun pengantin berjalan di belakang Faris dengan perasaan masygul. Sejenak ia berhenti di depan plang bertulisan “Darul Hadlonah” yang ada di depan bangunan. Sayup-sayup terdengar celoteh riang di dalam sana. Mata si gadis memicing. Ia berjalan mengikuti Faris sambil tetap menyilangkan kedua tangan pada dada.

“Kak Faris hujan-hujanan cama ciapa?” Tanya Nadia polos. Si gadis bergaun pengantin mematung. Hanya senyum tipis terukir di bibir pucat itu.

Faris? nama itu terdengar familiar. Ia termangu sejenak, tapi fokusnya segera beralih pada gadis kecil berjilbab merah yang masuk ke ruang tamu. Sepasang mata kecoklatan itu menatapnya ramah. Gadis bergaun pengantin terpukau dan semakin takjub kala beberapa anak kecil seusia Nadia menyusul ke ruangan cukup luas itu. Mereka berebut perhatian Faris.

Faris tersenyum simpul. “Kita kedatangan tamu.”

“Kak Faris sudah menikah? kok istrinya gak pakai jilbab?” Lagi, Nadia nyeletuk. Membuat gadis di belakang Faris salah tingkah. Tanpa sadar ia mengelus rambutnya yang lepek. Hanya dia-perempuan satu-satunya di ruangan itu yang tak memakai jilbab.

“Belum, Sayang. Itu bukan istri Kak Faris. Kak Faris tadi nggak sengaja ketemu kakak itu.” Faris menjelaskan.

“Oooh.”

“Tolong Nadia panggilin Bik Misih ya.”

Nadia mengangguk, kaki-kaki kecilnya segera melangkah ke belakang. Mencari keberadaan perempuan yang mereka panggil Bik Misih.

Tak berapa lama muncul seorang perempuan paruh baya dari arah dalam. Ia mengenakan gamis warna ungu dengan jilbab senada bermotif bunga krisan. Perempuan berwajah bulat dan berhidung pesek itu mengangguk dan tersenyum ramah. Lalu menyapa gadis di belakang Faris.

Beberapa anak kecil tampak berlalu lalang. Membuat ruangan panti begitu semarak. Seruan para pengasuh terdengar. Meminta mereka agar  segera berwudlu dan menuju musola. Wajah langit semakin kelam menandakan adzan maghrib sebentar lagi berkumandang.

 Najiya termangu. Ia teringat lagi perkataan Faris di rel tentang dosa orang yang melakukan bunuh diri. Bertemu dengan para anak panti membuatnya malu. Siapapun yang menatap wajah-wajah polos itu akan gemas sekaligus terharu. Anak sekecil itu sudah harus berpisah dengan orang tua mereka dan berkumpul dan hidup bersama dengan teman sebaya. Diasuh oleh orang asing yang mau tak mau harus mereka anggap seperti orang tua. Namun jika melihat keriangan di wajah imut itu, sungguh tak pantas rasanya jika harus mengeluhkan tentang hidup.

“Iya, Den?” Tanya Bik Misih. Sepasang netranya segera beralih pada perempuan menggigil yang mematung di depan pintu.

“Ada tamu to?” Kedua mata Bik Misih berbinar.

“Iya, Bik. Tolong layani dan bantu tamu saya,” pinta Faris singkat. Lelaki berambut ikal itu segera melenggang masuk ke dalam. Ia Juga perlu membersihkan dirinya sendiri yang tampak berantakan.

Tanpa banyak kata Bik Misih menggiring gadis bergaun pengantin yang ditemukan tuannya masuk ke dalam. Perempuan yang sudah bertahun-tahun mengabdi di Darul Hadlonah Albana Pengapon itu paham apa yang harus ia lakukan. Meski di benaknya muncul banyak tanda tanya. Seperti, darimana dan bagaimana Faris menemukan perempuan itu? Kenapa perempuan ini memakai pakaian pengantin?

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • NU Pati Hadir Setiap Jumat

    NU Pati Hadir Setiap Jumat

    • calendar_month Kam, 17 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 577
    • 0Komentar

    Kabar NU. Pengurus Cabang Nadlatul Ulama Kabupaten Pati telah bekerjasama dengan Pati Pos untuk menyuarakan kegiatan-kegiatan warga Nahdliyin seluruh Kabupaten Pati. Pati Pos termasuk Jawa Pos Group. Silahkan di nikmati di setiap hari Jumatnya.

  • PCNU-PATI

    Ilusi Negara Islam

    • calendar_month Sen, 26 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 522
    • 0Komentar

    Buku ini dieditori oleh KH. Abdurrahman Wahid atau yang akrab kita sapa dengan sebutan Gus Dur. Buku ini berjudul lengkap “Ilusi Negara Islam – Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”. Buku ini sepertinya dikerjakan secara urunan oleh beberapa peneliti yang tergabung dalam Gerakan Bhineka Tunggal Ika, the Wahid Institute, dan Maarif Institute dimana ketiga lembaga […]

  • Rundown Acara Muktamar ke-34 NU Tahun 2021

    Rundown Acara Muktamar ke-34 NU Tahun 2021

    • calendar_month Sel, 21 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 1.081
    • 0Komentar

    Rundown Muktamar ke-34 NU Pati – Muktamar ke-34 Nahdlatul Ulama (NU) segera dilaksanakan besok 22 hingga 23 Desember 2021. Berdasar Rundown Acara yang diterima NU Pati, pembukaannya digelar pada Rabu (22/12) mulai pukul 10.00 hingga 12.00 dan akan dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.  Selain acara pembukaan, pelaksanaan Muktamar ke-34 […]

  • Ucapan Nadzar

    Ucapan Nadzar

    • calendar_month Sel, 28 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 847
    • 0Komentar

    Sebagian orang Jawa, kalau punya hajat sering mengucapkan lafadz tertentu yang yang menyatakan kesanggupannya melakukan sesuatu apabila hajatnya terpenuhi, misalnya : do`akan aku kalau aku berhasil kamu saya beri uang atau besok hari raya qurban aku menyembelih kerbau. Pertanyaan : Termasuk nadzarkah ucapan-ucapan tersebut ? Jawaban : Ucapan seperti itu tidak termasuk nadzar, kecuali bila […]

  • Photo by Prabu Panji

    Peran NU dalam Menanggulangi Bencana

    • calendar_month Sab, 9 Des 2023
    • account_circle admin
    • visibility 597
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Lingkungan pada dasarnya merupakan tempat untuk tempat tinggal maupun bisa juga diartikan tempat untuk bercocok tanam. Sehingga lingkungan memiliki arti yang sangat luas. Oleh karena itu, lebih spesifik lingkungan di sini yang dimaksud adalah lingkungan ekosistem yang ada di sekitar kita. Dimana dalam hal ini, penting sekali untuk menjaga ekosistem dari […]

  • Hadiri Apel Hari Ibu, Ini Pesan Ketua Muslimat NU Pati

    Hadiri Apel Hari Ibu, Ini Pesan Ketua Muslimat NU Pati

    • calendar_month Kam, 22 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 499
    • 0Komentar

    PATI – Para pengurus PC Muslimat NU dan Fatayat NU menghadiri apel Hari Ibu, Kamis (22/12) pagi. Agenda ini diadakan oleh pemerintah Kabupaten Pati dan berlokasi di halaman Pendopo Kabupaten. Kehadiran lima puluhan ibu-ibu NU tersebut atas undangan dari Pemkab Pati. Selain Fatayat dan Muslimat, turut juga ratusan kaum hawa baik dari elemen pemerintah maupun […]

expand_less