Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tahlilan Wah Ala Kampung

Tahlilan Wah Ala Kampung

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 13 Okt 2022
  • visibility 629
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Sholikhin* 

Mengejutkan! Kata pertama yang terlontar saat mendengar bahwa ada sebuah desa yang mungkin belum dijamah Google Street View, biaya kematiannya begitu mahal. Bahkan bisa lebih mahal daripada di kota-kota besar. 

Cerita ini bermula saat penulis mengantar seorang ustadz untuk mengisi ceramah dalam acara tujuh hari kematian. Tentu cuma orang NU yang mengamalkan upacara ini. 

Setelah sampai lokasi, memang tidak ada yang aneh. Hanya sebuah rumah yang teramat sangat sederhana dengan tenda kematian di depannya yang berisi kurang lebih 300-an bapak-bapak. 

Kejanggalan mulai terasa jelang pulang, tepatnya saat berkatan tiba. Seperti umumnya di pantura timur, berkat tujuh hari berisi sebungkus mie instan, sedikit gula, sedikit beras dan juga teh celup. 

Namun yang mengherankan adalah, di atas berkatan itu ada sebuah sarung merk sitting elephant (gajah lungguh) yang–penulis tau–harganya cukup mahal. Sampai di mobil, si Ustadz ternyata juga merasakan kejanggalan itu. “Rumahnya sederhana, tapi berkatnya mewah banget, ya, kang”. 

Karena penasaran, kami memutuskan untuk mampir  ke sebuah warung demi mendapatkan informasi lebih. Bak main detektif-detektifan, kami berpura-pura membeli rokok sambil bincang basa basi dengan empunya warung, sampai tak terasa obrolan mulai menjurus ke tema yang berputar-putar di otak kami sejak tadi. “Sudah jadi tradisi sini, pak”, kata pemilik warung. 

“Ibu-ibu dapat kain sama kerudung, bapak-bapak dapat sarung”, si ahli warung melanjutkan uraiannya, kami semakin ternganga. 

Satu hal yang lebih mengguncang sanubari kami, pemilik warung itu juga bilang kalau Shohibul Mushibah yang kami datangi tadi, menjual sebidang tanah satu-satunya demi membiayai kebutuhan tahlil 7 hari. 

Ngeri-ngeri sedap, sang ustadz segera mengajak penulis mengembalikan amplop yang sudah diterima, namun penulis menolaknya. Alih-alih diterima baik-baik, bagaimana kalau si empunya marah, dikira menghina dan lain sebagainya. 

Kasus ini bukan sebatas gengsi saja lho ya. Justru fenomena ini adalah domino effect dari sifat dasar masyarakat desa yang serba pekewuh (baca: sungkan). “Sebenarnya saya ngga suka budaya ini, tapi kami terlanjur menerima sarung je. Kalau kami memutus adat, apa kata tetangga,” begitu kira-kira. 

Runyam kan? Kalau boleh usul, tradisi ini seharusnya dihapuskan. Bukan tahlilannya, tapi berkatan yang wah itu lho yang perlu ditinjau kembali. Mengingat kekuatan ekonomi masyarakat sangat hetero alias beda-beda. 

Pun pihak terkait seperti tokoh agama dan pemerintah saatnya ambil peran. Kalau biasanya warga yang demo ‘turunkan harga BBM’, giliran pemerintah menyuarakan ‘turunkan harga tahlilan’. Agar apa? Agar tahlilan tak menjadi beban. 

Sebab jika dibiarkan efek dominonya bisa meluber kemana-mana. Tradisi kena, NU pun kena. 

Padahal standar minimal suguhannya nabi sudah jelas, walaw bi syurbi maa’in, seteguk air minum. Ya minimal secangkir kopi lah bisa ndak ngisin-ngisini banget. 

*Penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ dan MI Hidayatul Islam Gembong

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Permudah Akses Literasi, IPNU-IPPNU Pati Luncurkan Perpustakaan Online

    Permudah Akses Literasi, IPNU-IPPNU Pati Luncurkan Perpustakaan Online

    • calendar_month Sen, 4 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 504
    • 0Komentar

    PATI-Pemuda memang selalu identik dengan gagasan gemilang untuk masa depan. pemikiran yang masih jernih serta wawasan tekhnologi yang mumpuni, membuat mereka selalu memiliki pemikiran yang lebih maju dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya. IPNU-IPPNU Pati, sebagai pelopor pelajar NU, baru-baru ini melakukan gebrakan di bidang jurnalistik dan multimedia. Sebagai pelopor pemuda di Kabupaten Pati, sepasang organisasi Banom […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan: Bulan Tata-tata

    • calendar_month Sel, 26 Mar 2024
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda*  Iki arep ning omahe mbahe, awakmu wes tata-tata durung, Nduk? Ya, saya ingat almarhum mertua saya ketika tanya kepada istriku. “Ini mau pergi ke rumah si mbah, kamu sudah siap-siap belum, Nduk?” Ya, begitu artinya. Kata “tata” sesuai KBBI (2024) berarti aturan, hukum, kaidah, susunan, cara menyusun, sistem. Kalau dalam bahasa Jawa, […]

  • BIN Bersama NU Pati Gelar Sosialisasi Kebiasaan Baru

    BIN Bersama NU Pati Gelar Sosialisasi Kebiasaan Baru

    • calendar_month Jum, 17 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 511
    • 0Komentar

    Tim Velox BIN sedang memaparkab materi edukasi kebiasaan baru di aula lantai tiga PCNU Pati, Jumat (17/9) pagi tadi. PATI – Tim Velox Badan Intelejen Negara (BIN) menggelar kegiatan sosialisasi terkait edukasi adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi covid-19. Kali ini mereka menggandeng NU Pati sebagai mitra.  Berlokasi di aula PCNU Kabupaten Pati, Jumat, (17/09), […]

  • PCNU-PATI

    Launching Buku ke-39, Dosen PGMI INISNU Produktif Menulis

    • calendar_month Sab, 24 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 437
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – Temanggung – Bertempat di ruang rapat Wakil Rektor, dosen Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung Hamidulloh Ibda melaunching buku “Pendidikan Inklusi Berbasis GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion)” pada Sabtu (24/6/2023) yang merupakan karya bukynya ke-39. Sebelumnya, Hamidulloh Ibda menulis buku sejak […]

  • Tuntutan Zaman, Ibda Dorong Guru SD Kuasai Kompetensi Digital

    Tuntutan Zaman, Ibda Dorong Guru SD Kuasai Kompetensi Digital

    • calendar_month Kam, 20 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.634
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Temanggung – SD Negeri 1 Banyuurip Temanggung menggelar kegiatan In House Training (IHT) bertema “Penguatan Literasi dan Digitalisasi” pada Selasa-Rabu, 18-19 November 2025, sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menghadapi tuntutan pembelajaran abad 21. Kegiatan yang dilaksanakan di ruang laboratorium SD Negeri 1 Banyuurip tersebut menghadirkan Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd, Koordinator Bidang Literasi, […]

  • PCNU- PATI Photo by Sergiu Jurca

    Puisi-Puisi Ngadi Nugroho

    • calendar_month Ming, 2 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Tak Pernah Kembali Tak terpikir waktu hanyalah benar-benar sekejap Kita sekumpulan sunyi yang numpang lewat Kemarin ada yang datang Tiba-tiba ada yang pamit untuk segera pulang Belum terlalu genaplah kecupan ini mendingin Di dahimu yang menyimpan kerutan hari-hari kemarin Di bawah temaram, batu-batu murung Mencari jejak sirip-sirip kehidupan Ingin ditanamnya sekali lagi ingatan itu Di […]

expand_less