Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pustaka » Sebuah Visi Hidup Kaum Santri

Sebuah Visi Hidup Kaum Santri

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 8 Mei 2017
  • visibility 375
  • comment 0 komentar

Buku yang bertajuk kisah keseharian di pesantren ini, penulis mencoba memberikan informasi terkait kegiatan yang di lakukan oleh para kaum sarungan. Bisa dikatakan sebagai pembuka jendela kecil pembuka cerita-cerita yang tersimpan pendam di pesantren. (hal vi)
Malamatiyyah, istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh seorang sufi asal Naisabur Khurasan, yaitu Syaikh Hamdun bin Ahmad al-Qashshar (wafat 271 H). Karena yang pertama kali membumikan istilah ini adalah Syaikh Hamdun al-Qashshar, dalam Kasyful Mahjub, Syaikh al-Hujwiri menyebut golongan ini dengan julukan al-Qashshariyyah.
Secara etimologi, Malamatiyyah diambil dari kata bahasa Arab al-Malamah, yang artinya adalah cacian dan hinaan. Secara terminologis, kata ini bisa dimaknai sebagai sebuah faham, aliran, atau golongan yang memiliki kecenderungan merendahkan diri mereka di mata manusia, untuk mencapai derajat tinggi di sisi Allah Yang Maha Esa. Malamatiyyah adalah golongan yang majhul fil ardhi ma’ruf fis-sama’, tidak populer di bumi namun sangat terkenal di langit. Mereka berjuang di jalan Allah secara sembunyi-sembunyi dalam jalan yang sunyi, tanpa pernah terpengaruh sedikit pun oleh puji atau pun caci. Yujahiduna fi sabilillah wala yakhafuna lawmata laim.
Malamatiyyah muncul sebagai kritik sekaligus antitesa atas polarisasi atribut bagi kaum sufi yang terjadi di Irak pada sekitar abad ke-2 dan ke-3 Hijriah. Pada mulanya, yang pertama kali muncul dari gerakan kaum sufi adalah sikap zuhudnya. Diantara cara mengungkapkan sikap zuhud bagi kaum sufi adalah dengan mengenakan pakaian sederhana, yang kala itu diekspresikan dengan mengenakan pakaian yang terbuat dari kain wol (shuf). Ketika pakaian yang terbuat dari kain wol itu familiar dan menjadi atribut bagi kaum sufi, muncullah gerakan atau faham Malamatiyyah ini, yang sangat tidak sepakat dengan adanya atribut kaum sufi (zayy ash-shufiyyah). Bagi mereka, sufi seharusnya menyembunyikan jatidiri dan rahasianya dari pandangan mata manusia. Kaum Malamatiyyah memiliki komitmen kuat untuk memerangi sifat keakuan (ananiyyah), ujub, takabbur, riya’ dan penyakit-penyakit hati lain yang sering hinggap di hati manusia.
Malamatiyyah bagi kaum santri, adalah ketika ia mampu menjadi air samudera, yang tak terpengaruh rasanya, baik ketika air hujan menimpa atau air sungai menerpa. Air samudera yang lantang mengatakan sakit kepada setiap yang terluka, namun lekas menjadi penawar bagi segala luka-luka.
Serumpun kumpulan cerpen ini layak untuk dijadikan konsumsi bagi siapa saja, terutama kaum santri. Akan tetapi dalam bunga rampai Malamatiyyah penulis tidak mengindahkan sumber karya sebelumnya. Karena sebagian judul cerpen pernah dimuat dimedia lain, atau bahkan ada dalam kumpulan cerpen bersama. Meskipun ini antologi tunggal hal tersebut perlu di perhatikan.
Judul                            : Malamatiyyah
Penulis                          : Sahal Japara
Penerbit                       : Mutamakkin Pres
Tahun Terbit                : Pertama, April 2017
Tebal                            : 226 halaman
ISBN                           :  978-773-62862-3-3
Peresensi                     : Pujianto
                                                 
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

    Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

    • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.323
    • 0Komentar

      Semarang — Ruang Oval lantai dua Dinas Pendidikan Kota Semarang, Selasa (11/11/2025), menjadi pusat perhatian dunia pendidikan daerah. Di tempat inilah, Dr. Hamidulloh Ibda, Wakil Rektor INISNU Temanggung, tampil sebagai reviewer utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembuatan Buku Numerasi Berbasis EVI MAP (Ethnoscience Village Map) yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kota Semarang bekerja […]

  • Sempat Hina Koin NU, Kadus Botok Winong Akhirnya Minta Maaf

    Sempat Hina Koin NU, Kadus Botok Winong Akhirnya Minta Maaf

    • calendar_month Ming, 30 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 243
    • 0Komentar

    PATI-Seorang perangkat desa di Kecamatan Winong nyaris dipolisikan lantaran dianggap menghina Nahdlatul Ulama (NU). Itu buntut dari postingannya di media sosial facebook tentang Koin NU.Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Winong Sabar Halim mengemukakan, pria yang menjabat sebagai Kadus Botok, Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong sempat mengunggah foto kaleng Koin NU dengan narasi yang cenderung […]

  • PCNU-PATI Photo by Boxed Water Is Better

    Love Is Stupid Part 7

    • calendar_month Ming, 26 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin ————- Dengan wajah serius lelaki itu menyusuri koridor rumah sakit Sultan Hasanudin. Sorot matanya tak lepas dari layar ponsel. Sesekali ia berhenti lalu menempelkan ponsel pada telinga, beralih mengirim pesan dan kembali melangkah. Berkali-kali pasang netranya mencocokkan nama bagian rumah sakit dengan isi chat di aplikasi hijaunya. Ia lega saat menemukan […]

  • PCNU PATI. Ilustrasi Dakwah Secara Santun dan Damai. Photo by Muhammad Adil on Unsplash.

    Dakwah Secara Santun dan Damai

    • calendar_month Kam, 21 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Dakwah erat kaitannya dengan orang yang berceramah di atas mimbar untuk mengajak mad’u (jama’ah) ke jalan yang lebih baik. Dakwah juga bisa diartikan sebagai seruan dan propaganda. Dalam bahasa aslinya, dakwah mempunyai makna mengajak, memanggil, mengundang, meminta, dan memohon. Karena esensi dakwah adalah mengajak ke jalan Allah dengan bijaksana (bil-hikmah), menasihati dengan baik (bil-mau’idzhatil hasanah), […]

  • Ramadan itu Bulan Produktif!

    Ramadan itu Bulan Produktif!

    • calendar_month Rab, 19 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 313
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Gambaran kita pasti selama Ramadan itu nglemprek, lemes, lemah, letih, lesu, lunglai, letoi, dan sejenisnya. Ada yang demikian, ada yang tidak. Tapi bagi saya, Ramadan itu bulan produktif.   Bulan Ramadan sering kali dipandang sebagai bulan yang penuh dengan ibadah dan refleksi diri dengan “lemahnya” fisik kita. Namun, lebih dari […]

  • Membumikan Green Ramadan

    Membumikan Green Ramadan

    • calendar_month Sab, 15 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 455
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Kemarin, saya menulis Ramadan Ramah Lingkungan. Tulisan ini sebenarnya lanjutan dari ide pokoknya. Ramadan sebagai bulan yang penuh berkah, di mana umat Islam berpuasa sebagai bentuk ibadah, refleksi diri, dan peningkatan spiritualitas harus diwujudkan serratus persen. Namun, di balik ibadah yang mulia, ada tantangan besar yang harus dihadapi, yaitu bagaimana menjaga keseimbangan […]

expand_less