Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Puasa dari Hoaks

Puasa dari Hoaks

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 23 Feb 2026
  • visibility 9.082
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

Pentingkah puasa dari hoax (hoaks)? Jawabannya penting. Mengapa penting? Ya, data hoaks itu ribuan. Pada 8 Januari 2025, Komdigi merillis ada sebanyak 1.923 kontens hoaks yang mengerikan. PPID Dikomdigi Jawa Tengah tahun 2025 juga merillis banyak sekali konten hoaks menyebar ke mana-mana lewat data yang dirillis melalui “Rekap Isu Hoaks & Disinformasi Tahun 2025.” Cek saja coba!

Memang benar, sekali lagi memang benar, bahwa bulan suci Ramadan mendidik umat Islam untuk menahan lapar dan dahaga. Apakah sekada itu? Di era digital saat ini, ada satu jenis “makanan” yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar hidangan berbuka yang sedap, yaitu “hoaks”. Jika tubuh kita ini dapat merasakan sakit karena makanan yang tidak higienis, maka akal dan iman bisa rusak karena informasi yang tidak tervalidasi. Maka dari itu, tidak hanya puasa dari nasi dan air minum yang segar, umat Islam juga perlu berlatih puasa dari hoaks. Begitu!

Di tengah derasnya arus medsos saat ini, informasi datang tanpa jeda, gambar, foto, video selalu berseliweran, sebenarnya berisi konten yang harus kita filter. Sekali lagi harus difilter. Bayangkan saja, dalam satu menit, kita dapat mengonsumsi puluhan pesan dari berbagai grup WhatsApp di ponsel kita masing-masing, notifikasi medsos “mak klunting”, hingga tautan berita yang belum tentu benar dan tervalidasi kebenarannya. Kecepatan menjadi budaya, sedangkan budaya tabayun atau verifikasi sering dianggap tidak penting. Di sinilah ujian literasi digital kita bermula.

Hoaks dan Krisis Kesadaran Digital

Dalam sebuah buku bertajuk Network Society, Castells (ed) (2005) berpendapat bahwa warga modern hidup dalam jejaring informasi sangat cepat dan saling terhubung. Informasi tak sekadar lagi bergerak secara linear, akan tetapi menyebar bak air laut atau gelombang yang sulit dibendung. Di dalam jejaring ini, kebenaran sering kalah oleh sensasi, viralitas, dan juga popularitas.

Dalam buku Information Disorder: Toward An Interdisciplinary Framework For Research And Policy Making, Wardle & Derakhshan (2017) menegaskan “disinformasi dan misinformasi bukan sekadar kesalahan teknis, tetapi strategi sosial yang dapat memengaruhi opini publik”. Dalam konteks tulisan saya ini, bisa dikatakan bahwa hoaks didesain untuk memancing emosi, misuh, marah, takut, atau simpati. Tujuannya apa sih? Ya agar orang terdorong membagikannya tanpa berpikir panjang. Ngono!

Jika ditinjau dari perspektif psikologis, dinamika tersebut sangat diperkuat oleh apa yang disebut sebagai confirmation bias, atau sebuah kecenderungan menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan kita dan menolak yang berbeda. Dalam buku The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You, Eli Pariser (2011) menegaskan bahwa algoritma medsos sangat memperparah keadaan dengan sekadar mendisplay sebuah konten yang sejalan dengan preferensi publik. Dampaknya, manusia pengguna medsos “hidup dalam ruang gema (echo chamber)” yang membuat hoaks terasa seperti kebenaran. Kan semakin ruwet urip iki sakjane!

Lalu, apa solusinya agar kita bisa tetap puasa dari hoaks?

Tabayun sebagai Puasa Informasi

Sejak dahulu kala, agama kita (Islam) telah memberi fondasi etika ketika menghadapi informasi. Dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 6 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” Ayat ini menegaskan pentingnya tabayun (tabayyun), cekricek, klarifikasi, atau setidaknya konfirmasi, melalui memeriksa kebenaran berita sebelum mempercayainya apalagi membagikannya. Prinsip ini relevan sepanjang zaman, termasuk dalam era digital. Intinya, Intinya, menurut Prof Narisyah Hosen, dalam buku Saring Sebelum Sharing (2019), kita harus cekricek informasi sebelum membagikannya.

Lebih dalam lagi, pada Kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali berpesan bahwa lisan merupakan sumber kebaikan sekaligus kebinasaan. Jika dahulu lisan menyebarkan kabar dari mulut ke mulut, kini jempol kita menjadi “lisan digital”. Sekali klik tombol forward, kita dapat menyebarkan fitnah ke ratusan bahkan ribuan orang.

Saya pribadi berpendapat, bahwa puasa dari hoaks berarti menahan diri dari beragam hal. Pertama, puasa dari kegiatan apapun untuk membagikan informasi yang belum jelas sumbernya. Kedua, menahan diri untuk terpancing mengomentari isu tanpa memahami konteksnya. Ketiga, puasa untuk memprovokasi orang lain dengan berita yang belum tentu benar. Simpulannya apa? Ya, ini merupakan ikhtiar dari jihad literasi, yaitu dengan mengendalikan diri di tengah banjir informasi.

Literasi Digital dan Tanggung Jawab Moral

Dalam buku Confronting the Challenges of Participatory Culture, Henry Jenkins (2006) menegaskan manusia digital merupakan masyarakat partisipatif. Artinya, dalam konteks ini kita bukan lagi sekadar konsumen informasi belaka, namun juga produsen dan distributor. Setiap status, foto, video, unggahan, komentar, dan aktivitas membagikan menjadi kontribusi terhadap ekosistem informasi.

Melalui buku Digital Literacy, Paul Gilster menyebut literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat, akan tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital. Ingat ya, berpikir kritis. Saya ulang lagi “berpikir kritis”. Artinya apa sih? Seorang muslim yang melek digital tidak sekadar harus cerdas menggunakan gawai, namun juga harus mampu memilah mana yang fakta dan mana yang manipulasi.

Nah, di sini tanggung jawab moral menjadi penting dalam menggunakan media digital dalam bentuk apa saja. Dalam perspektif etika komunikasi Islam, setiap pesan yang kita sampaikan akan dimintai pertanggungjawaban. Nabi Muhammad SAW bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Artinya: “Cukuplah seseorang disebut pendusta ketika ia menceritakan setiap apa yang ia dengar.” (HR. Muslim).

Dalam konteks puasa Ramadan, tentu hadis ini sangat kontekstual dengan budaya forward tanpa baca. Apalagi di bulan puasa, masak ya masih “memakan” hoaks. Kan wagu!

Lalu, apa solusinya?

Ramadan: Momentum Detoks Informasi

Jika puasa membersihkan tubuh dari racun fisik dalam bentuk apa saja, maka dalam konteks puasa dari hoaks hakikatnya membersihkan jiwa dari racun informasi. Ramadan menjadi momentum tepat untuk melakukan digital detox spiritual.

Apa bentuknya? Kita harus membatasi konsumsi berita sensasional, mengganti kebiasaan scrolling dengan membaca Al-Qur’an atau buku bermutu, memastikan sumber informasi kredibel, dan tak kalah urgen yaitu mengedukasi keluarga dan mahasiswa tentang literasi digital berbasis nilai agama.

Puasa dari hoaks saya maknai juga sebagai momentum untuk memperbanyak konten positif, yaitu melalui aktivitas menulis refleksi, menyebarkan pesan damai, atau membagikan ilmu yang valid termasuk aktivitas saya menulis di pcnupati.or.id ini hampir sudah berjalan tiga tahun dalam Ramadan ini. Dengan demikian, semesta medsos di bulan Ramadan tidak sekadar menjadi ruang debat, tetapi juga ladang amal, ruang dakwah, dan berlomba dalam kebaikan. Begitu!

Prinsipnya, bagi saya adalah takwa tidak sebatas soal menahan lapar, namun menahan diri dari dosa digital. Di era banjir informasi haris, dosa bisa lahir dari satu klik. Maka dari itu, puasa dari hoaks adalah latihan kesadaran bahwa setiap informasi yang kita sebar adalah bagian dari jejak amal.

Seharusnya, Ramadan mampu membentuk kita sebagai muslim taat, muslim yang selalu lebih selektif, lebih tenang, slow, dan lebih bijak dalam bermedia sosial. Sebab pada akhirnya, yang kita pertanggungjawabkan bukan sekadar apa yang kita badog tok, namun juga apa yang kita baca, percaya, dan sebarkan. Ingat itu ya!

Mari berpuasa dengan bahagia tanpa hoaks! Tidak sekadar berpuasa dari yang membatalkan puasa atau merusak pahala puasa secara fikih, namun juga dari yang merusak secara moral dan etika kita sebagai umat Islam. Puasa dari hoaks adalah jalan sunyi menuju takwa digital. Bukankah demikian, Bro?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PCWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gandeng Gusdurian Prawoto, LPBINU Salurkan Ratusan Paket Sembako Kepada Warga

    Gandeng Gusdurian Prawoto, LPBINU Salurkan Ratusan Paket Sembako Kepada Warga

    • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 598
    • 0Komentar

    SUKOLILO – Memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-76, LPBI NU Kabupaten Pati bekerja sama dengan Komunitas GUSDURIAN Peduli Posko Prawoto menyerahkan ratusan paket sembako dan bantuan kesehatan kepada warga yang membutuhkan. Program tersebut merupakan kelanjutan dari program-program bantuan sebelumnya bagi masyarakat yang terdampak covid-19. Imam Rifai selaku ketua LPBI NU Kabupaten Pati, bahwa penyerahan bantuan ini […]

  • PCNU-PATI Photo by Yusuf Onuk

     Penyabar dan Ringan Tangan, Sosok Kiai Haji Anwar

    • calendar_month Jum, 6 Okt 2023
    • account_circle admin
    • visibility 919
    • 0Komentar

    Oleh: Umi Nur Hasanah Kyai Haji Anwar merupakan salah satu ulama karismatik yang ada di kawasan Pucakwangi Pati. Ia memiliki perhatian besar pada dakwah Islam di kalangan masyarakat pedesaan. Sosok kyai kelahiran 1871 di Dukuh Nganguk Desa Sidomulyo Kecamatan  Jakenan- Pati tersebut, berpindah ke Dukuh Gragalan Desa Sokopuluhan Pucakwangi karena mengikuti sang Istri, yakni Nyai […]

  • PCNU - PATI

    PC Fatayat NU Pati, Melakukan Sinergitas dengan RSI Pati

    • calendar_month Kam, 23 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 288
    • 0Komentar

    Pati, Pimpinan Cabang Fatayat NU Pati mengadakan audisi dengan Rumah Sakit Islam Pati (RSI)dengan maksud dan tujuan Program Tim GPSA Pati, 14 Juni 2022 kemarin. Program kami sudah berjalan 10 bulan. Program inikerjasama antara PP Fatayat NU Pati yang bekerjasama dengan Tim Akatiga. Kami mempunyai wilayah 5 kerja 5 kecamatan yaitu Dukuhseti, Gunungwungkal, Trangkil, Margorejo, […]

  • Peringati Hari Santri dan Maulid, Pemuda Desa Asempapan Gelar Jalan Sehat

    Peringati Hari Santri dan Maulid, Pemuda Desa Asempapan Gelar Jalan Sehat

    • calendar_month Sab, 16 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 317
    • 0Komentar

    IPNU IPPNU memimpin barisan jalan sehat pemuda Desa Asempapan Jumat (15/10) kemarin TRANGKIL – Dalam rangka memperingati hari santri dan maulid Nabi Muhammad SAW, para pemuda Desa Asempapan menggelar kegiatan jalan sehat, Jumat (15/10). Aditya Setia Wardani, Sekretaris Panitia mengatakan, kegiatan ini terselenggara atas kerjasama IJMA’ (Ikatan Jamaah Masjid  Warotsatul Anbiya’), Karang Taruna Panji Satria […]

  • Suluk Maleman Kali ini Menyoal Punjernya Peradaban

    Suluk Maleman Kali ini Menyoal Punjernya Peradaban

    • calendar_month Ming, 19 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id Suluk Maleman edisi ke-166 kembali mengulik hal-hal yang menarik. Lewat tema “Sejarah Dimulai Dari Rumah”, yang digelar pada Sabtu (18/10) ngaji budaya tersebut memantik persoalan keberadaan sosok ibu sebagai pusat peradaban. Bagi Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman, hadits “surga di bawah telapak kaki Ibu” tak hanya untuk dilihat dari sisi seorang anak ke […]

  • Pedagang Es Kopi Keliling di Pati Ketiban Rezeki

    Pedagang Es Kopi Keliling di Pati Ketiban Rezeki

    • calendar_month Rab, 16 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 332
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Cuaca di Kabupaten Pati akhir-akhir ini terasa sangat panas. Namun, rupanya hal ini justru membawa keuntungan bagi penjual es kopi keliling. Salah satu pedagang es kopi keliling yang ketiban berkah adalah Eko Sulistio (30). Dagangan dia laris karena banyak masyarakat yang mencari, terutama mereka yang beraktivitas di luar rumah. Warga Desa Mulyoharjo, […]

expand_less