Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pakaian Terbaik Era 4.0

Pakaian Terbaik Era 4.0

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 4 Agu 2021
  • visibility 336
  • comment 0 komentar

 Oleh : Maulana Karim Shalihin*


Tren busana muslim di Indonesia akhir akhir ini memang sedang hangat-hangatnya. Khusus  dalam urusan pakaian muslimah, peminatnya membludak hebat. Menurut asumsi Penulis, demam baju muslim ini bukan hanya urusan menjalankan syariat, tapi juga fesyen dan gaya hidup.

Saking hebohnya jagat per-fesyen-an muslimah saat ini, hampir seluruh Ibu muda Nusantara memiliki toko busana berbasis online, meskipun hanya berstatus reseller. Setidaknya argumen ini memiliki dasar rasional.  

Penulis diam-diam melakukan riset kecil-kecilan. Dari lima puluh kontak wanita (sebagian Ibu muda dan sebagian perawan ting-ting) yang aktif di WA, sekitar tiga puluhan lebih, pernah memposting dagangan busana muslimah. Sementara sepuluh diantaranya merupakan pedagang aktif. Tidak stop di situ saja, para papa muda juga tak mau ketinggalan soal posting-memposting busana muslimah ini. 

Melihat fakta ini, plus jumlah warga muslim dan antusiasme masyarakat Indonesia khususnya kaum hawa soal fesyen, penulis haqqul yaqin, Indonesia akan memimpin tren busana muslim dunia. Setidaknya kaum ibu memiliki peluang mengharumkan nama bangsa di sektor ini.  

Tidak ada angin tidak ada hujan, Sandiaga Salahuddin Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, juga punya firasat sama. Menurutnya, nilai eksport fesyen Indonesia mencapai 15 juta dolar AS, dan sebagian besar di dominasi oleh fesyen muslimah. Sama seperti Penulis, Sandiaga menilai, industri pakaian muslimah Indonesia sangat memiliki masa depan indah kelak. 

Jilbab dan Pandangan Masyarakat

Seperti hipotesa awal, antusiasme terhadap pakaian yang disebut syar’i ini tidak semata soal syariat, namun lebih pada semacam gaya hidup. Potensi agama harus rela berbagi poin dengan potensi lifestyle. Maka dari itu, sejak awal, Penulis memang rada skeptis soal tren hijab.  

Meski pandangan ini banyak bertolak belakang dengan generasi hijrah yang mengiringi laju ekspres busana muslimah, tapi penulis memiliki alasan lain untuk tidak ‘beriman’ seratus persen terhadap ‘dimensi ketuhanan’ dalam perkembangan tren baju syar’i yang begitu moncernya. 

Pada 2014, penulis pernah menulis esai yang hampir mirip dengan pembahasan kali ini. Masih ingat betul quote andalan penulis saat itu, bahwa kesalahan memilih pakaian hanyalah dosa fesyen, tapi kesalahan memaknai pakaian bisa menjadi–dalam istilah Gus Mus–dosa sosial. 

Sebelum secara serius membahas ini, penulis ingin mengawalinya dengan cerita ringan. Kisah nyata ini dialami Ibunda Penulis ketika masih mondok kurang lebih tahun 1988-an. Pada saat itu tren busana muslimah tidak se booming sekarang. Bahkan Jilbab dianggap tabu oleh sebagian masyarakat. 

Singkat cerita, anak laki-laki Sang Kiai yang masih berusia lima tahunan, ngotot, sampai-sampai marah tak terkendali karena minta diantarkan ke pasar malam. Namun karena kesibukan dan status sebagai Kyai-Bu Nyai, kedua orang tuanya ogah pergi ke tempat hiburan tersebut. Akhirnya, sebagai santri ndalem, ibunda penulis bersama tiga orang temannya mau tak mau harus mengantarkan si Gus kecil tersebut ke pasar malam dengan protokol ketat dari Bu Nyai. 

Setibanya di lokasi, mereka menjadi pusat perhatian publik. Bukan sebab kecantikannya, namun karena fesyen mereka bisa dibilang aneh bahkan cupu pada masanya. kerudung ala kadar, gamis yang berhenti di atas lutut dan bawahan rok dari kain sarung yang menutupi kaki mereka menjadi hidangan hambar namun lezat untuk di bully kaum ‘modern’ kala itu. Seisi pasar malam mendadak seperti kritikus fesyen internasional. 

Ibunda penulis mengaku seperti berjalan diatas duri yang menyuntikkan racun hujatan. Tapi apa daya, mereka hanya mampu menahan malu sambil menuruti kemauan Si Gus yang tak kunjung mau pulang. 

Ketika Ibunda penulis menceritakan hal konyol ini dengan penuh canda, penulis justru gelisah karena penulis mencoba menyandingkan kisah tersebut dengan kenyataan yang terhampar sekarang. Kalau dulu, santri dengan outfit nya dianggap kuper (kurang pergaulan), bukan suatu masalah karena mungkin SDM dan tingkat pendidikan masyarakat masih rendah serta faktor budaya. Jadi wajar saja orang menilai orang lain dari kostumnya. Hanya saja, mengapa di era 4.0 ini kebiasaan itu masih terbawa di tengah zaman serba terbuka dan akses pendidikan yang begitu mudahnya. 

Dari gerbong pemikiran ini, penulis mencatat telah terjadi tiga gejala sosial dalam masyarakat kita. Pertama, masyarakat masih banyak yang ‘menilai buku dari sampulnya’. Meski tak seluruhnya salah, namun ‘kegiatan’ ini sebisa mungkin dihindari (setidaknya untuk saat-saat ini), sebab dampaknya destruktifnya bisa luar biasa terutama terhadap agama. 

Contoh kecil, premis pertama, ada seorang berjilbab menari-nari seksi di depan kamera. Premis selanjutnya, jilbab selalu diidentikkan dengan islam. Konklusinya, islam yang kena batunya. Jadi, hemat penulis bagi semua warga yang budiman, untuk saat ini tidak perlu memaksakan kehendak bahwa yang berjilbab selalu islami. Anggap sajalah jilbab seperti pakaian-pakaian lain agar nantinya, agama tak dimintai pertanggungjawaban atas ulah negatif oknum jilbaber.  

Jika dulu, seperti kisah ibunda penulis tadi, faktor budaya dan identitas ‘ketaqwaan’ masih kuat, yang mana pakaian bisa menjadi simbol keberadaban, beda halnya dengan era milenial ini. Jika tidak percaya, perhatikan koruptor, semua berdasi. 

Kedua, berangkat dari gejala pertama yang sulit disembuhkan, kita semua hendaknya arif dan bijaksana, terutama dalam bermedsos. Pose bohay dengan mengenakan jilbab dan pakaian-pakaian yang dinilai lekat dengan simbol keislaman tersebut, baiknya dihindari. Kalau perlu, tidak usah posting yang ‘aneh-aneh’ di sosial media.  

Intinya, gejala sosial kedua ini adalah narsisme generasi muda karena telah terjadi semacam cultural shock. Agak miris menyebutnya, tapi agar lebih jelas dan tidak menimbulkan salah faham, penulis hendak mengatakan bahwa warga kita belum siap dengan ‘racun’ sosmed yang begitu bebasnya.  

Generasi muda ingin mendapat perhatian lebih dan lebih dari khalayak dengan konten-konten tak senonoh. Sebab diakui atau tidak, konten seksi memang sarana pelambung viewer paling dahsyat. Di sisi lain, mereka masih takut dengan adzab Tuhan, atau setidaknya masih ada kekhawatiran jika orang tua mereka menonton. Akhirnya, diambillah langkah ‘wasathiyah’, yang sebenarnya adalah langkah kebimbangan, biar tampil tak senonoh, yang penting masih pakai jilbab, begitu pembelaan normatif mereka. 

Gejala sosial berikutnya yakni tren hijrah yang menurut pantauan penulis justru malah menjadi kejumudan yang nyata. Jika diperhatikan, banyak pengasong hijrah yang hanya mengeksplorasi tampilah luar. tentu ini menjadi syurga bagi pelaku bisnis busana muslimah. Tapi bagi pengamat seperti penulis, fenomena ini adalah satu bahaya laten dalam beragama. 

Kaum awam agama, mencoba memperbaiki bangunan akhirat mereka melalui jalur yang mereka sebut hijrah, yaitu dengan mengikuti kajian-kajian serta membeli beberapa stel gamis dan jilbab untuk dikenakan sehari-hari. Sungguh ini bukan perkara yang buruk.Hanya saja, banyak kaum hijrah yang terlalu baper dengan agama lama yang baru ia pelajari, sehingga mereka malah terjebak dalam lubang-lubang kejumudan nalar. 

Memang, hijrah pakaian sudah selayaknya diiringi dengan hijrah pemikiran. Dari rasio sempit yang hanya dikendalikan oleh segelintir ustadz, menuju logika yang lebih luwes, yang berdasarkan akal sehat dan open minded. Penulis yakin, jika semua orang awam yang baru belajar islam memiliki pola pemikiran terbuka, maka peristiwa terorisme, saling kafir mengkafirkan, bid’ah membid’ahkan, satu pihak merasa paling benar di atas pihak lain, pasti bisa tereduksi. Sebab, diakui atau tidak, inilah kesalahan yang lazim dilakukan kaum hijrah. 

Suatu kesalahan yang dibiasakan, akan dianggap benar secara gradual seiring berjalannya waktu, dan lama kelamaan, kesalahan itu menjadi kebenaran, padahal esensinya tetaplah sebuah kesalahan. Begitu kurang lebih dalil yang pernah dilontarkan oleh Adolf Hitler. Salah memaknai pakaian, bisa salah memaknai agama, bisa salah memaknai Tuhan.  

Singkat kata, berpikiran terbuka, tidak mudah menjustifikasi orang dari tampilan, melakukan hal-hal baik semampunya serta tidak lebay dalam beragama dan tidak merasa paling benar sendiri adalah ‘pakaian’ terbaik di era yang 4.0 ini. Wallahu a’lamu bisshowab.

 

*Penggerak Literasi, Redaktur PC LTN NU Pati, Mudir di Ponpes Shofa Az Zahro’ Gembong-Pati


  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antara Ayat Suci dan Stetoskop, Perjuangan Siswi MA Salafiyah Kajen Wujudkan Harapan Jadi Dokter

    Antara Ayat Suci dan Stetoskop, Perjuangan Siswi MA Salafiyah Kajen Wujudkan Harapan Jadi Dokter

    • calendar_month Sab, 25 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.377
    • 0Komentar

      ​Pcnupati.or.id– Langkah hidup seseorang sering kali dipandu oleh perpaduan antara mimpi, nilai spiritual, dan restu orang tua. Bagi Shaloom Syahra Zahdy, siswi kelas XII MIPA Reguler MA Salafiyah Kajen Pati, memilih program studi Kedokteran bukanlah sekadar mengejar gengsi atau ambisi pribadi. Itu adalah sebuah panggilan hati yang lahir dari harapan besar keluarga. ​Sebagai seorang […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Lebaran: Berdosa di Kota, Meminta Maaf di Desa!

    • calendar_month Rab, 18 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.381
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Ramadan tahun 2025 lalu, sekira h-3 Idulfitri saya nyetatus di WA. “Hidupnya di kota. Berbuat dosa di kota. Mudiknya ke desa. Meminta maafnya di desa.”   Ada sekira empat rekan mengomentari seingat saya. Komentarnya tidak ada yang serius. Malah tertawa semua. “Hahahahaha…..” ada yang agak panjang “Ha…. Benar, mas!.” That’s […]

  • Semarak Pesantren Ramadhan di MTs Madrasatul Qur’an Salafiyah Pati, Integrasikan Kurikulum Madrasah dan Pondok

    Semarak Pesantren Ramadhan di MTs Madrasatul Qur’an Salafiyah Pati, Integrasikan Kurikulum Madrasah dan Pondok

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.933
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id — Nuansa religius menyelimuti lingkungan MTs Madrasatul Qur’an Salafiyah di Desa Bulumanis Kidul, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati. Madrasah yang terintegrasi dengan Pondok Pesantren Bunyanun Marshush ini kembali menggelar program Pesantren Ramadhan dengan konsep pembinaan penuh selama 24 jam. ​Program ini mengusung visi mendalam: menyatukan aktivitas akademik madrasah dan spiritualitas pesantren dalam satu napas […]

  • Pengurus PC Lazisnu Pati ditemui tokoh agama dan keluarga saat menyerahkan bantuan kepada untuk Warsito, korban kecelakaan lerja yang membutuhkan uluran tangan

    Lagi, Lazisnu Sumbangkan Dana untuk Warga Membutuhkan

    • calendar_month Sab, 9 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 322
    • 0Komentar

    PATI – PC Lazisnu Pati menyalurkan bantuan kepada Warsito, warga desa Trangkil Kecamatan Trangkil beberapa waktu yang lalu. Warsito merupakan kepala rumah tangga yang menghidupi 1 orang anak dengan ekonomi yang pas-pasan dan kondisi kejiwaan yang sedikit terganggu. Sebelumnya PC Lazisnu Pati mendapatkan kabar bahwa ada warga yang sangat membutuhkan bantuan. Warga tersebut tak lain […]

  • Dosen Inisnu Jadi Narasumber Dialog Interaktif di MA. Madarijul Huda Pati

    Dosen Inisnu Jadi Narasumber Dialog Interaktif di MA. Madarijul Huda Pati

    • calendar_month Ming, 26 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 461
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Pati – Himpunan Mahasiswa Alumni MA. Madarijul Huda (HIMAMADA) menggelar Expo Campus HIMAMADA 2025 di komplek MA. Madarijul Huda Kembang, Dukuhseti, Pati pada Sabtu (25/1/2025). Kegiatan diawali dengan pembukaan, dialog, dan Expo Campus yang menghadirkan 24 kampus di Indonesia. Dalam pembukaan, selain Kepala Yayasan Pengembangan Madarijul Huda KH. Fuad Abdillah, SE., hadir jajaran dewan […]

  • Kiai Kampung Yang Rendah Hati

    Kiai Kampung Yang Rendah Hati

    • calendar_month Rab, 25 Mar 2015
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Almaghfurlah KH Ahmad Suyuthi merupakan sosok kiai yang alim tetapi rendah hati. Kontribusinya dalam forum Sidang Syuriah Bulanan di pendopo maqbaroh Syeikh KH Ahmad Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, diakui para ulama dan tokoh masyarakat. Khususnya ketika PCNU dipimpin oleh sahabat karibnya, KH Suyuthi Abdul Qodir, Pendiri Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan.Katib Syuriah KH Abdul […]

expand_less