Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
  • visibility 406
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Dalam Khittah Nahdlatul Ulama (NU), istilah NU merujuk pada dua makna yang saling terkait, yaitu NU sebagai sebuah organisasi dan NU sebagai komunitas anggotanya. KH. Abdul Muchit Muzadi dalam buku, Ensiklopedia Khittah NU, dijelaskan bahwa istilah NU Jam’iyyah (NU secara struktural) dan NU Jamaah (NU secara kultural) sering kali digunakan untuk membedakan keduanya. Istilah-istilah ini tidak hanya dipahami di kalangan pengurus NU, tetapi juga sangat akrab di kalangan kaum muda Nahdliyin, yang semakin memahami dan mengapresiasi peran keduanya dalam keberlangsungan dan pengembangan NU.

NU kultural, pada dasarnya, merujuk pada kelompok individu yang merasa terhubung dengan nilai-nilai, tradisi, dan semangat yang dijunjung oleh NU, meskipun mereka tidak terlibat secara langsung sebagai pengurus atau bagian dari struktur organisasi formal NU. Kelompok ini merasa menjadi bagian integral dari komunitas besar Nahdliyin, meskipun tidak terikat dalam kerangka organisasi yang lebih formal.

Mereka mencakup berbagai kalangan, mulai dari para kiai, anak muda, hingga masyarakat umum yang memiliki kedekatan emosional dan spiritual dengan NU. Meski tidak terdaftar sebagai anggota struktural, mereka tetap menjaga dan mengamalkan prinsip-prinsip ajaran NU dalam kehidupan sehari-hari, dan ini menjadikan mereka bagian yang tak terpisahkan dari kekuatan dan semangat gerakan NU.

Meskipun mereka tidak terikat dalam struktur organisasi formal, kelompok NU kultural berperan penting dalam mengembangkan dan memperkuat pengorganisasian berbasis agama yang menjadi ciri khas NU. Keberadaan mereka sangat penting dalam memelihara dan memperkaya jaringan sosial, budaya, dan keagamaan yang mencerminkan nilai-nilai NU.

Mereka terlibat aktif dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat, membentuk berbagai jaringan yang saling menguatkan, baik dalam konteks sosial, pendidikan, maupun ekonomi. Banyak dari mereka yang menjalani profesi sebagai cendekiawan, pengasuh pesantren, akademisi, petani, pedagang, dan profesi lainnya, namun dengan tetap membawa nilai-nilai dan semangat NU dalam aktivitas mereka.

Melihat kenyataan ini, NU kultural dapat dipahami sebagai sebuah gerakan yang muncul dari dalam masyarakat sipil NU, yang berkembang dengan inisiatif lokal dan mandiri pada setiap tingkatan yang ada. Mereka tidak terikat pada satu pola atau bentuk tertentu, sehingga dapat bervariasi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Keberadaan mereka sangat penting dalam keberlanjutan dan perkembangan NU, dan sangat disayangkan jika harus dijauhi atau dimusuhi oleh NU struktural. Sebaliknya, level NU kultural menjadi tempat bagi proses kaderisasi yang berlangsung secara alami dan berkelanjutan.

Melalui proses ini, muncul individu-individu yang memiliki potensi besar untuk memberikan kontribusi di berbagai bidang dalam NU, baik dalam ranah kultural, sosial, maupun struktural, dan bahkan terlibat dalam organisasi NU itu sendiri.

Kontribusi mereka dalam menyebarkan dan membumikan ajaran NU di luar struktur formal organisasi memberikan warna dan dinamika tersendiri bagi perkembangan NU secara keseluruhan. Keberagaman peran mereka memperkaya khazanah kultural yang ada, menguatkan identitas NU, serta menegaskan bahwa NU bukan sekadar sebuah organisasi, tetapi sebuah gerakan yang inklusif, berakar kuat dalam tradisi, dan tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan demikian, NU kultural berperan urgent dalam memperkaya dan melestarikan tradisi NU, serta memastikan bahwa semangat dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh NU tetap hidup dan berkembang. Meskipun berada di luar batasan struktur organisasi, NU kultural mampu menjangkau masyarakat luas, memperkuat kesadaran kolektif akan ajaran-ajaran NU, dan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadikan NU kultural sebagai penggerak utama dalam menjaga kelangsungan dan relevansi NU di tengah dinamika sosial dan budaya yang terus berkembang.

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Syuriyah NU Pati Ingatkan Kembali Warga untuk Taat Prokes

    Syuriyah NU Pati Ingatkan Kembali Warga untuk Taat Prokes

    • calendar_month Sen, 19 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 163
    • 0Komentar

    KH. Aniq Muhammadun, Ro’is Syuriyah PCNU Pati.  KOTA-Pengurus Cabang NU Pati kembali membuka suara mengenai kebijakan pemerintah selama pandemi. Hal ini disampaikan oleh KH. Aniq Muhammadun, Ro’is Syuriyah NU Pati.  Melalui video berdurasi sekitar tiga menit, kiai yang akrab disapa Yi Aniq ini menegaskan bahwa aturan pemerintah mengenai protokol kesehatan sudah sangat tepat.  Bahkan, KH. […]

  • PCNU Pati Berharap Pembahasan Raperda Pesantren Segera Dituntaskan

    PCNU Pati Berharap Pembahasan Raperda Pesantren Segera Dituntaskan

    • calendar_month Rab, 26 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 83
    • 0Komentar

    PATI – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati berharap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Fasilitasi Penyelenggaraan Pesantren yang tengah dibahas oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati, segera disahkan.  Hal itu diungkap oleh Ketua PCNU Pati, KH Yusuf Hasyim. Pihaknya mendesak agar Raperda tersebut segera dibahas dan diselesaikan. Pihaknya juga akan mengadakan audiensi dengan […]

  • Kasatkorcab Pati: Banser Harus Siap dengan Satgas Covid-19

    Kasatkorcab Pati: Banser Harus Siap dengan Satgas Covid-19

    • calendar_month Ming, 12 Apr 2020
    • account_circle admin
    • visibility 139
    • 0Komentar

    WEDARIJAKSA. Pertemuan selapanan PAC Ansor Wedarijaksa dan Satkoryon Banser Wedarijaksa di rumah Masrukin, Desa Tluwuk Kecamatan Wedarijaksa, (12/04/2020). Agenda pertama perkenalan Kasatkorcab Banser Pati, Ashadi, yang baru menjabat dan memimpin dua tahun kedepan sampai 2022. Acara dimulai dengan pembacaan Rotibul Hadad, tahlilan, dan yasinan yang dipimpin oleh Fikrul Umam. “Perkenalkan nama saya Ashadi, saya sebagai […]

  • Pesantren di Pati Diharapkan Bentuk Satgas Pencegahan Covid-19

    Pesantren di Pati Diharapkan Bentuk Satgas Pencegahan Covid-19

    • calendar_month Sel, 30 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 131
    • 0Komentar

    PATI – Dalam rangka Pencegahan penyebaran virus covid-19 di kalangan pesantren dan  menyiapkan new normal yang telah ditetapkan oleh pemerintah, RMI PCNU Kabupaten Pati melaksanakan sosialisasi yang akan dilaksanakan diseluruh kecamatan Se-kabupaten Pati. RMI PCNU Pati bersama pengurus PCNU Pati, Team Satgas Covid-19 PCNU Pati melakukan Sosialisasi New Normal yang kemarin dilaksanakan (Senin, 29/06/2020)  di Ponpes […]

  • SAATNYA WARGA NU BERGABUNG  DENGAN BADAN HUKUM PERKUMPULAN NU

    SAATNYA WARGA NU BERGABUNG DENGAN BADAN HUKUM PERKUMPULAN NU

    • calendar_month Ming, 4 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 214
    • 0Komentar

    Warta NU, Pengurus Cabang Nahdlatul  Ulama Kab. Pati pada hari Ahad, 4 Oktober 2015 bertempat di Aula PCNU Kab. Pati menyelenggarakan Rapat Koordinasi dan Sosialisasi tentang Badan Hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama. Undangan yang hadir dalam acara  tersebut antara lain dari unsur Ketua-Ketua Yayasan, Kepala-Kepala Madrasah atau Sekolah yang didirikan oleh warga NU. ada sekitar 100 […]

  • PCNU-PATI Photo by Surface

    Bahagiakah dengan Pekerjaan Anda?

    • calendar_month Sen, 12 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami “Setiap orang punya waktu untuk melakukannya. Tapi mereka tak punya keberanian. Pekerjaan merupakan berkah kalau bisa membantu kita berpikir tentang tindakan-tindakan kita, tetapi pekerjaan itu menjadi kutukan kalau hanya digunakan sebagai alasan supaya kita tidak perlu berpikir tentang makna kehidupan kita” (Paulo Coelho) “Setelah gak kerja di situ lagi, terus […]

expand_less