Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Meraba Lagi Deruku

Meraba Lagi Deruku

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 23 Jul 2023
  • visibility 668
  • comment 0 komentar

Oleh : Nurul Badriyah

Jum’at ini udara sangat dingin menusuk sampai kesendi –sendi tulang. Ngilu. Persis seperti hatiku. Huffft. Di tengah musim hujan seperti ini aku sering menemukan sebuah kenangan dalam setiap genangan, mengaliri hatiku yang terluka sebab cinta. Menghembuskan udara dingin dan sepi dalam setiap kerinduan. Yah, begitulah saat ini perasaanku. Hujan mewakili air mataku yang turun semaunya. Oh Salsa begitu teganya dirimu meninggalkanku.

“Eh, junnn… koe ki ngopo tah, tak sawang kaet mau amen ngalamun wae,  kuwi ora apek.. wes tah seng wes kedaden. Yowis ben… mesakke kuwi lo awakmu..” aku hanya melengos mendengar penuturan Aji. sahabat karibku. Dia juga yang telah mengetahui semua tentang kisahku dan Salsa.

“Ji kok loru yo tibo kuwi.. rasane mak jlebb.. perihh.”

“Sakjane ora ono seng keno disalahno, amargo opo??”

“Jun, dungokno aku. “ia memegang mukaku.

“Opo sih kue iki!! yo krungu aku..  ndungokno gak nganggo mripat a…kupingku iseh kanggo ji”

“Lha iyo,  Pancen kuwi kabeh wes dadi sifate ati.. nek durung mantep milih.. yo panci isih gonta – ganti.. ati kuwi molak malik.. witing tresno jalaran soko ndongo… jaluk’o kunu karo pengeran, ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ala ddinika wa’ala tha’atik.. mugo di teguhno imanmu”

“He’e” jawabku sekenanya. Walaupun dia gak pernah merasakan cinta, dan berkelana ke tepi hati wanita. tapi Aji bagiku sohib yang solutif. Peka juga terhadap perasaan sahabatnya.

Kini pada kenangan aku tak lagi bersembunyi, apalagi menutup hati, sekarang ku biarkan mata ini tetap terbuka, bagai angin lepas di tepi pantai.. membawa semua yang ada. Sementara saat itu yang ku tahu hanyalah berburu waktu agar dunia tahu apakah cinta berujung rindu atau berakhir pada sembilu.dan surat cinta itu, akhirnya kau tawarkan padaku, penuh cinta meski meyimpan air mata.

“Wes ayo ndang adus, trus mangkat jum’atan. Rausah dipikir..”

“Ji.. bar Jum’atan balik pondok yokk, rasane aku kok kangen pondok karo kangen arek – arek..”

“Tenane??  Tenangno sek pikiranmu.. masalah kuwi gampang iso di atur..”

Jum’atan kali ini aku dan Aji, memilih berangkat lebih awal dari biasanya, sebab rasanya hatiku pengen deket dengan khotib agar bisa mendengarkan khutbahnya dengan jarak dekat. Entah mengapa aku ingin mencari kedamaian dan ketenangan hati diantara ribuan jama’ah lainnya.

“Seseorang hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang yang dapat mengotorinya, seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat. Serta perangai yang buruk. Ketauhilah jama’ah yang di rahmati Allah, hati yang diliputi oleh dendam menjadikan seseorang kesulitan merasakan kedamaian hidup. Seperti apa yang di katakan oleh Yusuf al-Qardhawi beliau mengingatkan dalam salah satu nasehatnya bahwa manusia hendaknya harus hidup dengan sikap saling mencintai, saling menolong.”

“Orang yang didalam hatinya terdapat rasa dengki akan selalu merasa tidak senang ketika orang lain memperoleh kebahagiaan. Terkait sifat ini, Allah menegaskan dalam firman-Nya.. jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

Ucapan khotib rasanya seperti menohok hatiku.Tema khutbah kali ini cukup membuatku berpikir tentang pola perasaan hatiku yang sedang kacau. Di tambah lagi tentang sifat hati yang banyak sekali macamnya. Memang ada rasa sedikit belum ikhlas bila Salsa kekasihku dulu, bersanding dengan orang lain, apalagi dia bahagia bukan bersamaku. Ada sedikit perasaan tidak suka jika ia memilih bahagianya bersama orang lain bukan lagi dalam kisah cintaku. Tapi sepertinya Tuhan menegurku sekaligus menasehatiku lewat khutbah pada Jum’at hari ini.

Bis jurusan Sarang Tayu akhirnya mengantarkanku menuju desa Kajen. Tempat dimana bermacam santri dari berbagai daerah penjuru Nusantara menimba kaweruhan disana. Kajen yang menjadi saksi perjuangan dakwah Syaikh Mutamakkin.

Sejak dulu aku sama sekali tidak pernah berniat ke Kajen ataupun malah nyantri disitu. Sebab cita – cita ku sedari kecil adalah ingin menjadi polisi. Tapi Tuhan sepertinya lebih meridhai aku mengabdi kepada para kyai daripada menjadi polisi. Kakekku  juga yang dulu jebolan santri Kajen berpesan bahwa

“Urip Kuwi Ngabdi nang. Neng ndi wae panggonanmu kudu ono manfaate.. sebab puncake mahabbah kuwi mbalik ing ngersane Pengeran. Dadi wong iku seng jejeg ajeg. Ojo mlangkah yen ora njangkah. Yen mlangkah tekano mekkah“ . keningku berkerut , menatap bingung pada kakek. Seolah paham isi hatiku, kakek pun menjelaskan.

“Wong kuwi kudu istiqomah nglakoni urip. Berjuang sekuat tenaga lan sepenuh jiwa kanggo cita-citamu. Nek awake wes istiqomah mlaku neng tujuanmu. Usahakno tekan tujuan sejatimu. Yo kuwi mekkah lan ka’bah. Ka’bah kuwi baitullah. Baitullah ora rupo bangunan sing ono ning mekkah”.

“Sing tak maksud kuwi, wujude Allah ning jero Atimu. Mung gusti Allah tujuanmu.”. itulah sedikit pesan kakekku yang selalu ku ingat. Ketika dulu aku sedang nakal – nakalnya mbedal dari pondok dan mbolos sekolah. Yah itulah kelakuan ku dulu. Mungkin saat itu pikiranku sedang di penuhi amarah akibat peraturan ketat serta hal – hal lain yang tidak aku sukai selama aku masih jadi anak baru di pesantren. Aku pulang ber modal nekat. Tanpa sepeserpun uang ku pegang.

Aku nyantri disalah satu pondok yang terkenal di Kajen. Berguru tidak dengan sembarang guru. Semua orang mungkin sudah tahu bahwa kyai Joyo adalah kyai yang sangat derma dan sangat tawadu’. Beliau sudah beberapa kali menyumbangkan material kesejumlah masjid – masjid, panti asuhan dan gedung madrasah. Terkadang beliau juga mengajak seseorang untuk pergi umroh. Dari kebiasaan inilah orang kampung menjulukinya kyai Lumo.

Dibalik kedermawanan tersebut kyai Joyo memang sangat akrab dengan siapa saja. Tak lupa dengan selingan guyonannya yang hangat. Hingga banyak dari kalangan rendah maupun yang tinggi sekalipun datang kepada beliau hanya sekedar untuk berbincang – bincang sekaligus meminta solusi. Hingga tak jarang alumni Pesantren Biru selalu merindukan celetukan kyai yang memiliki ribuan santri tersebut.

Seperti pagi ini, disela sela pengaosan kitab beliau ngendikan,

 “Bahwa seorang santri itu harus mempunyai prinsip dalam kehidupannya. Tak hanya itu ia juga harus mempunyai sebuah karakter ” semua terlihat hening mendengarkan beliau.  Tak terlihat satu pun santri yang mengantuk apalagi tidur.

Kemudian beliau melanjutkan, “ santri harus bisa seperti paku . walaupun di pukul terus, tapi jelas menfaatnya. Ketika membuat rumah, yang bisa menyatukan antara reng, usuk dan papan lainnya, ya, paku. Jika rumah sudah jadi dan berdiri tegak, tak ada yang memuji paku, karena memang tak terlihat menonjol, paku akan dipukul lagi sampai tidak terlihat.” Semua santri terkesan menyimak uraian kyai Joyo tersebut.

“Santri itu seperti paku. Walaupun disepelekan, tapi jelas bermanfaat. Sebab yang bisa berbaur dan peduli terhadap sesama ya santri. Santri sejati tidak ingin di puji manusia, karena yang dicari itu ridla Allah SWT. Santri biasanya juga tidak ingin tampil di depan. Yang terpenting masyarakat tentram dan damai. Itulah santri.. santri adalah paku bumi…”

Arjuna mencerna tiap kata yang disampaikan kyai Joyo. Ia patri dalam hatinya begitu dalam.

Waktu terus berjalan, seperti roda yang terus berputar. Arjuna Asyik kembali dengan kegiatan rutinitas pondok. Ia tenggelam dengan berbagai kesibukan. Dan tak terasa sudah satu bulan lebih ia meninggalkan rumah serta  kesakitan hatinya akibat cinta. Terkadang manusia akan di hadapkan oleh suatu keadaan yang akan membuatnya terlena dan lupa jati dirinya. Santri Kini Yang katanya ngrekso Tapi nyatanya malah sembrono Yang katanya ngamalno Ngalakoni wae nek pas wayah ono yang katanya santri iku mulyo tapi nyatane ora podo seng di karepno ruh lan jiwane lungo kuwi santri saiki..

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU PATI - PKD GP Ansor Margoyoso Diikuti Kalangan Akademisi

    PKD GP Ansor Margoyoso Diikuti Kalangan Akademisi

    • calendar_month Sab, 13 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 607
    • 0Komentar

    MARGOYOSO – Pelatihan Kepemimpinan sudah menjadi hal pokok bagi setiap organisasi. Tak terkecuali, sayap pemuda NU, Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Jumat (12/8) pagi, PAC GP Ansor Kecamatan Margoyoso baru saja melangsungkan agenda pembukaan PKD (Pelatihan Kepemimpinan dasar). Kegiatan yang rencanannya berlangsung sampai Minggu (14/8) tersebut, digelar di Kampus Institut Pesantren Matholi’ul Falah (Ipmafa), Margoyoso. Dalam […]

  • KH. Samu’in Jadi Ketua MWC-NU Margoyoso

    KH. Samu’in Jadi Ketua MWC-NU Margoyoso

    • calendar_month Ming, 16 Agu 2020
    • account_circle admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

    Para pememandu Konferensi MWC-NU Kecamatan Margoyoso. Dalam hal ini hadir langsung ketua PCNU Pati, K. Yusuf Hasyim (kedua dari kanan)  memimpin jalannya konferensi MARGOYOSO-Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati sukses menggelar Konferensi Pemilihan Pengurus Baru di Ma’had Aly Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen pada Ahad (16/08/2020) mulai pukul 07.30 […]

  • Mandi dan Memakai Wangi-Wangian, ketika Khotib Sudah Khotbah

    Mandi dan Memakai Wangi-Wangian, ketika Khotib Sudah Khotbah

    • calendar_month Jum, 13 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 444
    • 0Komentar

      Pertanyaan : Bagaimana hukumnya mandi dan memakai wangi-wangian, ketika khotib sudah mulai khotbah (Jum`at)?   Jawaban :Hukumnya mandi dan memakai wangi-wangian tetap disunnahkan, apabila aman dari tafwit al-jum`ah (menghabiskan waktu jum`ah).   Referensi : & Nihâyat az-Zain, hal. 142 & Muhadzdzab, vol. 1 hal. 113 & As-syarwâni, vol. 2 hal. 465 & Tausyîh, hal. […]

  • Memandikan Jenazah sambil Membaca Dzikir

    Memandikan Jenazah sambil Membaca Dzikir

    • calendar_month Ming, 14 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 852
    • 0Komentar

      Pertanyaan : Disuatu daerah ada orang yang saat memandikan jenazah sambil membaca asma’ul husna, tasbih dan dzikir-dzikir yang lain.Apakah hal itu diperbolehkan syara`? Jawaban :Syeikh isma’il zain al-yamaniy al-makkiymenyebutkan dalam kitab kumpulan fatwanya ;Qurrotul ‘Ain : Bahwa membaca tahlil, tasbih dan dzikir-dzikir yang lain saat memandikan jenazah dan prosesi tajhiz yang lain ( seperti […]

  • Puasa dari Kecerdasan Buatan

    Puasa dari Kecerdasan Buatan

    • calendar_month Sab, 8 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 881
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Seperti tulisan sebelumnya berjudul “Puasa dari Media Sosial”, sebenarnya kecerdasan buatan atau AI pun sama. Apakah AI mengganggu puasa kita? Saya menjawab, jika kecandungan, mbangeti, ya berarti menganggu, dan kita harus berpuasa dari AI. Artinya, puasa itu tidak harus dari sesuatu yang merugikan, ngerusak, tapi memang dari sesuatu yang mengakibatkan […]

  • Gus Mus Ijazahkan Tiga Sholawat

    Gus Mus Ijazahkan Tiga Sholawat

    • calendar_month Ming, 4 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 852
    • 0Komentar

    KH. Musthofa Bisri (Gus Mus) (sumber : Instagram @s.kakung) REMBANG-KH. Musthofa Bisri atau Gus Mus baru-baru ini mengijazahkan amalan sholawat kepada ummat islam. Ijazah ini disampaikan langsung melalui postingan Instagramnya, @s.kakung Kamis (1/7). Dalam video berdurasi tujuh menit dua puluh detik tersebut, Gus Mus memaparkan sekaligus mengijazahkan tiga sholawat sekaligus. Kiai asal Rembang tersebut juga […]

expand_less