Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Meraba Lagi Deruku

Meraba Lagi Deruku

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 23 Jul 2023
  • visibility 707
  • comment 0 komentar

Oleh : Nurul Badriyah

Jum’at ini udara sangat dingin menusuk sampai kesendi –sendi tulang. Ngilu. Persis seperti hatiku. Huffft. Di tengah musim hujan seperti ini aku sering menemukan sebuah kenangan dalam setiap genangan, mengaliri hatiku yang terluka sebab cinta. Menghembuskan udara dingin dan sepi dalam setiap kerinduan. Yah, begitulah saat ini perasaanku. Hujan mewakili air mataku yang turun semaunya. Oh Salsa begitu teganya dirimu meninggalkanku.

“Eh, junnn… koe ki ngopo tah, tak sawang kaet mau amen ngalamun wae,  kuwi ora apek.. wes tah seng wes kedaden. Yowis ben… mesakke kuwi lo awakmu..” aku hanya melengos mendengar penuturan Aji. sahabat karibku. Dia juga yang telah mengetahui semua tentang kisahku dan Salsa.

“Ji kok loru yo tibo kuwi.. rasane mak jlebb.. perihh.”

“Sakjane ora ono seng keno disalahno, amargo opo??”

“Jun, dungokno aku. “ia memegang mukaku.

“Opo sih kue iki!! yo krungu aku..  ndungokno gak nganggo mripat a…kupingku iseh kanggo ji”

“Lha iyo,  Pancen kuwi kabeh wes dadi sifate ati.. nek durung mantep milih.. yo panci isih gonta – ganti.. ati kuwi molak malik.. witing tresno jalaran soko ndongo… jaluk’o kunu karo pengeran, ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ala ddinika wa’ala tha’atik.. mugo di teguhno imanmu”

“He’e” jawabku sekenanya. Walaupun dia gak pernah merasakan cinta, dan berkelana ke tepi hati wanita. tapi Aji bagiku sohib yang solutif. Peka juga terhadap perasaan sahabatnya.

Kini pada kenangan aku tak lagi bersembunyi, apalagi menutup hati, sekarang ku biarkan mata ini tetap terbuka, bagai angin lepas di tepi pantai.. membawa semua yang ada. Sementara saat itu yang ku tahu hanyalah berburu waktu agar dunia tahu apakah cinta berujung rindu atau berakhir pada sembilu.dan surat cinta itu, akhirnya kau tawarkan padaku, penuh cinta meski meyimpan air mata.

“Wes ayo ndang adus, trus mangkat jum’atan. Rausah dipikir..”

“Ji.. bar Jum’atan balik pondok yokk, rasane aku kok kangen pondok karo kangen arek – arek..”

“Tenane??  Tenangno sek pikiranmu.. masalah kuwi gampang iso di atur..”

Jum’atan kali ini aku dan Aji, memilih berangkat lebih awal dari biasanya, sebab rasanya hatiku pengen deket dengan khotib agar bisa mendengarkan khutbahnya dengan jarak dekat. Entah mengapa aku ingin mencari kedamaian dan ketenangan hati diantara ribuan jama’ah lainnya.

“Seseorang hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang yang dapat mengotorinya, seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat. Serta perangai yang buruk. Ketauhilah jama’ah yang di rahmati Allah, hati yang diliputi oleh dendam menjadikan seseorang kesulitan merasakan kedamaian hidup. Seperti apa yang di katakan oleh Yusuf al-Qardhawi beliau mengingatkan dalam salah satu nasehatnya bahwa manusia hendaknya harus hidup dengan sikap saling mencintai, saling menolong.”

“Orang yang didalam hatinya terdapat rasa dengki akan selalu merasa tidak senang ketika orang lain memperoleh kebahagiaan. Terkait sifat ini, Allah menegaskan dalam firman-Nya.. jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

Ucapan khotib rasanya seperti menohok hatiku.Tema khutbah kali ini cukup membuatku berpikir tentang pola perasaan hatiku yang sedang kacau. Di tambah lagi tentang sifat hati yang banyak sekali macamnya. Memang ada rasa sedikit belum ikhlas bila Salsa kekasihku dulu, bersanding dengan orang lain, apalagi dia bahagia bukan bersamaku. Ada sedikit perasaan tidak suka jika ia memilih bahagianya bersama orang lain bukan lagi dalam kisah cintaku. Tapi sepertinya Tuhan menegurku sekaligus menasehatiku lewat khutbah pada Jum’at hari ini.

Bis jurusan Sarang Tayu akhirnya mengantarkanku menuju desa Kajen. Tempat dimana bermacam santri dari berbagai daerah penjuru Nusantara menimba kaweruhan disana. Kajen yang menjadi saksi perjuangan dakwah Syaikh Mutamakkin.

Sejak dulu aku sama sekali tidak pernah berniat ke Kajen ataupun malah nyantri disitu. Sebab cita – cita ku sedari kecil adalah ingin menjadi polisi. Tapi Tuhan sepertinya lebih meridhai aku mengabdi kepada para kyai daripada menjadi polisi. Kakekku  juga yang dulu jebolan santri Kajen berpesan bahwa

“Urip Kuwi Ngabdi nang. Neng ndi wae panggonanmu kudu ono manfaate.. sebab puncake mahabbah kuwi mbalik ing ngersane Pengeran. Dadi wong iku seng jejeg ajeg. Ojo mlangkah yen ora njangkah. Yen mlangkah tekano mekkah“ . keningku berkerut , menatap bingung pada kakek. Seolah paham isi hatiku, kakek pun menjelaskan.

“Wong kuwi kudu istiqomah nglakoni urip. Berjuang sekuat tenaga lan sepenuh jiwa kanggo cita-citamu. Nek awake wes istiqomah mlaku neng tujuanmu. Usahakno tekan tujuan sejatimu. Yo kuwi mekkah lan ka’bah. Ka’bah kuwi baitullah. Baitullah ora rupo bangunan sing ono ning mekkah”.

“Sing tak maksud kuwi, wujude Allah ning jero Atimu. Mung gusti Allah tujuanmu.”. itulah sedikit pesan kakekku yang selalu ku ingat. Ketika dulu aku sedang nakal – nakalnya mbedal dari pondok dan mbolos sekolah. Yah itulah kelakuan ku dulu. Mungkin saat itu pikiranku sedang di penuhi amarah akibat peraturan ketat serta hal – hal lain yang tidak aku sukai selama aku masih jadi anak baru di pesantren. Aku pulang ber modal nekat. Tanpa sepeserpun uang ku pegang.

Aku nyantri disalah satu pondok yang terkenal di Kajen. Berguru tidak dengan sembarang guru. Semua orang mungkin sudah tahu bahwa kyai Joyo adalah kyai yang sangat derma dan sangat tawadu’. Beliau sudah beberapa kali menyumbangkan material kesejumlah masjid – masjid, panti asuhan dan gedung madrasah. Terkadang beliau juga mengajak seseorang untuk pergi umroh. Dari kebiasaan inilah orang kampung menjulukinya kyai Lumo.

Dibalik kedermawanan tersebut kyai Joyo memang sangat akrab dengan siapa saja. Tak lupa dengan selingan guyonannya yang hangat. Hingga banyak dari kalangan rendah maupun yang tinggi sekalipun datang kepada beliau hanya sekedar untuk berbincang – bincang sekaligus meminta solusi. Hingga tak jarang alumni Pesantren Biru selalu merindukan celetukan kyai yang memiliki ribuan santri tersebut.

Seperti pagi ini, disela sela pengaosan kitab beliau ngendikan,

 “Bahwa seorang santri itu harus mempunyai prinsip dalam kehidupannya. Tak hanya itu ia juga harus mempunyai sebuah karakter ” semua terlihat hening mendengarkan beliau.  Tak terlihat satu pun santri yang mengantuk apalagi tidur.

Kemudian beliau melanjutkan, “ santri harus bisa seperti paku . walaupun di pukul terus, tapi jelas menfaatnya. Ketika membuat rumah, yang bisa menyatukan antara reng, usuk dan papan lainnya, ya, paku. Jika rumah sudah jadi dan berdiri tegak, tak ada yang memuji paku, karena memang tak terlihat menonjol, paku akan dipukul lagi sampai tidak terlihat.” Semua santri terkesan menyimak uraian kyai Joyo tersebut.

“Santri itu seperti paku. Walaupun disepelekan, tapi jelas bermanfaat. Sebab yang bisa berbaur dan peduli terhadap sesama ya santri. Santri sejati tidak ingin di puji manusia, karena yang dicari itu ridla Allah SWT. Santri biasanya juga tidak ingin tampil di depan. Yang terpenting masyarakat tentram dan damai. Itulah santri.. santri adalah paku bumi…”

Arjuna mencerna tiap kata yang disampaikan kyai Joyo. Ia patri dalam hatinya begitu dalam.

Waktu terus berjalan, seperti roda yang terus berputar. Arjuna Asyik kembali dengan kegiatan rutinitas pondok. Ia tenggelam dengan berbagai kesibukan. Dan tak terasa sudah satu bulan lebih ia meninggalkan rumah serta  kesakitan hatinya akibat cinta. Terkadang manusia akan di hadapkan oleh suatu keadaan yang akan membuatnya terlena dan lupa jati dirinya. Santri Kini Yang katanya ngrekso Tapi nyatanya malah sembrono Yang katanya ngamalno Ngalakoni wae nek pas wayah ono yang katanya santri iku mulyo tapi nyatane ora podo seng di karepno ruh lan jiwane lungo kuwi santri saiki..

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MI Tarbiyatul Banin Winong Raih 43 Medali Nasional

    MI Tarbiyatul Banin Winong Raih 43 Medali Nasional

    • calendar_month Sab, 4 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    Kabar prestasi kembali datang dari Madrasah Ibtidaiyah Tarbiyatul Banin Pekalongan Winong Pati ini. Kali ini tidak tangung-tanggung dalam satu even berhasil memboyong 43 medali beberapa waktu lalu tepatnya tanggal 27 Nopember 2021 dalam ajang Olimpiade Sains dan PAI Nasional (OSPN) Tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Edupreneur Global Indonesia. “Pertama tentu Alhamdulillah atas karunia Allah ini. […]

  • Fiqih Sebagai Etika Bersosial

    Fiqih Sebagai Etika Bersosial

    • calendar_month Sel, 3 Feb 2015
    • account_circle admin
    • visibility 550
    • 0Komentar

    KH.Abdul Ghoffar Rozien (Ketua Staimafa, Pati) mengatakan; “Meskipun KH. MA Sahal Mahfudh telah wafat, Kiai Sahal seolah-olah masih terasa menemani. Pemikiran dan ide-ide segar beliau masih terasa relevan untuk kondisi bangsa saat ini. Gagasan tentang fiqh sosial yang menjadi keahlian beliau merupakan kontribusi berharga bagi komunitas pesantren dan Umat Islam di negeri ini.” Pemikiran dan tindakan Kiai Sahal […]

  • Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    Ketika Peradaban dikendalikan Amarah dan Syahwat

    • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.212
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Suluk Maleman yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia pada Sabtu (18/4) malam kembali mengajak kita merenung: bagaimana menjaga kemanusiaan di tengah zaman yang tak malu memamerkan kekejaman secara telanjang. Dengan mengangkat tema “Manusia, O Manusia”, kita diajak mengritisi proses de-humanisasi yang sedang berlangsung. Salah satunya seperti yang ditunjukkan dalam peperangan yang saat […]

  • Pembinaan Dai dan Daiyah di Pati: Meningkatkan Kemampuan Dakwah di Era Digital

    Pembinaan Dai dan Daiyah di Pati: Meningkatkan Kemampuan Dakwah di Era Digital

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 581
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id –  Sebanyak 60 dai dan daiyah dari berbagai elemen keagamaan se-Kabupaten Pati mengikuti kegiatan pembinaan yang diselenggarakan oleh Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pati. Kegiatan berlangsung di Gedung Islamic Center Masjid Baitunnur Pati, Rabu (9/7/2025). Peserta yang hadir berasal dari unsur mubaligh-mubalighah, pembina majelis taklim, serta penyuluh agama Islam. Pembinaan ini bertujuan meningkatkan […]

  • Korban Kebakaran dapat Bantuan dari NU

    Korban Kebakaran dapat Bantuan dari NU

    • calendar_month Jum, 1 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 584
    • 0Komentar

    NU Care- LAZISNU Kabupaten Pati telah melaksanakan pendistribusian bantuan untuk korban kebakaran di desa Pagerharjo, Rabu (30/10). Pada kegiatan tersebut LAZISNU Pati turut serta menggandeng Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Wedarijaksa beserta banomnya. Diketahui kebakaran terjadi hari selasa sekira pukul 14.00 WIB di desa Pagerharjo dukuh Prapeyan Rt 03 Rw 02 Kecamatan Wedarijaksa. Akibat […]

  • PCNU-PATI

    Menjadi Perempuan; Itu Tak Mudah

    • calendar_month Jum, 3 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Mengapa hanya karena terlahir sebagai perempuan selalu dilemahkan? Mengapa ruang bicaranya selalu ditutup? Apakah dia tak berhak mendapatkan haknya sebagai manusia? Mengapa dan mengapa hal ini masih sering dan terus terjadi? Apakah jika perempuan mendapatkan haknya yang setara dengan laki-laki akan menimbulkan masalah? Dan segala pertanyaan lainnya. Saya akan bercerita perihal […]

expand_less