Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Meraba Lagi Deruku

Meraba Lagi Deruku

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 23 Jul 2023
  • visibility 656
  • comment 0 komentar

Oleh : Nurul Badriyah

Jum’at ini udara sangat dingin menusuk sampai kesendi –sendi tulang. Ngilu. Persis seperti hatiku. Huffft. Di tengah musim hujan seperti ini aku sering menemukan sebuah kenangan dalam setiap genangan, mengaliri hatiku yang terluka sebab cinta. Menghembuskan udara dingin dan sepi dalam setiap kerinduan. Yah, begitulah saat ini perasaanku. Hujan mewakili air mataku yang turun semaunya. Oh Salsa begitu teganya dirimu meninggalkanku.

“Eh, junnn… koe ki ngopo tah, tak sawang kaet mau amen ngalamun wae,  kuwi ora apek.. wes tah seng wes kedaden. Yowis ben… mesakke kuwi lo awakmu..” aku hanya melengos mendengar penuturan Aji. sahabat karibku. Dia juga yang telah mengetahui semua tentang kisahku dan Salsa.

“Ji kok loru yo tibo kuwi.. rasane mak jlebb.. perihh.”

“Sakjane ora ono seng keno disalahno, amargo opo??”

“Jun, dungokno aku. “ia memegang mukaku.

“Opo sih kue iki!! yo krungu aku..  ndungokno gak nganggo mripat a…kupingku iseh kanggo ji”

“Lha iyo,  Pancen kuwi kabeh wes dadi sifate ati.. nek durung mantep milih.. yo panci isih gonta – ganti.. ati kuwi molak malik.. witing tresno jalaran soko ndongo… jaluk’o kunu karo pengeran, ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ala ddinika wa’ala tha’atik.. mugo di teguhno imanmu”

“He’e” jawabku sekenanya. Walaupun dia gak pernah merasakan cinta, dan berkelana ke tepi hati wanita. tapi Aji bagiku sohib yang solutif. Peka juga terhadap perasaan sahabatnya.

Kini pada kenangan aku tak lagi bersembunyi, apalagi menutup hati, sekarang ku biarkan mata ini tetap terbuka, bagai angin lepas di tepi pantai.. membawa semua yang ada. Sementara saat itu yang ku tahu hanyalah berburu waktu agar dunia tahu apakah cinta berujung rindu atau berakhir pada sembilu.dan surat cinta itu, akhirnya kau tawarkan padaku, penuh cinta meski meyimpan air mata.

“Wes ayo ndang adus, trus mangkat jum’atan. Rausah dipikir..”

“Ji.. bar Jum’atan balik pondok yokk, rasane aku kok kangen pondok karo kangen arek – arek..”

“Tenane??  Tenangno sek pikiranmu.. masalah kuwi gampang iso di atur..”

Jum’atan kali ini aku dan Aji, memilih berangkat lebih awal dari biasanya, sebab rasanya hatiku pengen deket dengan khotib agar bisa mendengarkan khutbahnya dengan jarak dekat. Entah mengapa aku ingin mencari kedamaian dan ketenangan hati diantara ribuan jama’ah lainnya.

“Seseorang hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang yang dapat mengotorinya, seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat. Serta perangai yang buruk. Ketauhilah jama’ah yang di rahmati Allah, hati yang diliputi oleh dendam menjadikan seseorang kesulitan merasakan kedamaian hidup. Seperti apa yang di katakan oleh Yusuf al-Qardhawi beliau mengingatkan dalam salah satu nasehatnya bahwa manusia hendaknya harus hidup dengan sikap saling mencintai, saling menolong.”

“Orang yang didalam hatinya terdapat rasa dengki akan selalu merasa tidak senang ketika orang lain memperoleh kebahagiaan. Terkait sifat ini, Allah menegaskan dalam firman-Nya.. jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

Ucapan khotib rasanya seperti menohok hatiku.Tema khutbah kali ini cukup membuatku berpikir tentang pola perasaan hatiku yang sedang kacau. Di tambah lagi tentang sifat hati yang banyak sekali macamnya. Memang ada rasa sedikit belum ikhlas bila Salsa kekasihku dulu, bersanding dengan orang lain, apalagi dia bahagia bukan bersamaku. Ada sedikit perasaan tidak suka jika ia memilih bahagianya bersama orang lain bukan lagi dalam kisah cintaku. Tapi sepertinya Tuhan menegurku sekaligus menasehatiku lewat khutbah pada Jum’at hari ini.

Bis jurusan Sarang Tayu akhirnya mengantarkanku menuju desa Kajen. Tempat dimana bermacam santri dari berbagai daerah penjuru Nusantara menimba kaweruhan disana. Kajen yang menjadi saksi perjuangan dakwah Syaikh Mutamakkin.

Sejak dulu aku sama sekali tidak pernah berniat ke Kajen ataupun malah nyantri disitu. Sebab cita – cita ku sedari kecil adalah ingin menjadi polisi. Tapi Tuhan sepertinya lebih meridhai aku mengabdi kepada para kyai daripada menjadi polisi. Kakekku  juga yang dulu jebolan santri Kajen berpesan bahwa

“Urip Kuwi Ngabdi nang. Neng ndi wae panggonanmu kudu ono manfaate.. sebab puncake mahabbah kuwi mbalik ing ngersane Pengeran. Dadi wong iku seng jejeg ajeg. Ojo mlangkah yen ora njangkah. Yen mlangkah tekano mekkah“ . keningku berkerut , menatap bingung pada kakek. Seolah paham isi hatiku, kakek pun menjelaskan.

“Wong kuwi kudu istiqomah nglakoni urip. Berjuang sekuat tenaga lan sepenuh jiwa kanggo cita-citamu. Nek awake wes istiqomah mlaku neng tujuanmu. Usahakno tekan tujuan sejatimu. Yo kuwi mekkah lan ka’bah. Ka’bah kuwi baitullah. Baitullah ora rupo bangunan sing ono ning mekkah”.

“Sing tak maksud kuwi, wujude Allah ning jero Atimu. Mung gusti Allah tujuanmu.”. itulah sedikit pesan kakekku yang selalu ku ingat. Ketika dulu aku sedang nakal – nakalnya mbedal dari pondok dan mbolos sekolah. Yah itulah kelakuan ku dulu. Mungkin saat itu pikiranku sedang di penuhi amarah akibat peraturan ketat serta hal – hal lain yang tidak aku sukai selama aku masih jadi anak baru di pesantren. Aku pulang ber modal nekat. Tanpa sepeserpun uang ku pegang.

Aku nyantri disalah satu pondok yang terkenal di Kajen. Berguru tidak dengan sembarang guru. Semua orang mungkin sudah tahu bahwa kyai Joyo adalah kyai yang sangat derma dan sangat tawadu’. Beliau sudah beberapa kali menyumbangkan material kesejumlah masjid – masjid, panti asuhan dan gedung madrasah. Terkadang beliau juga mengajak seseorang untuk pergi umroh. Dari kebiasaan inilah orang kampung menjulukinya kyai Lumo.

Dibalik kedermawanan tersebut kyai Joyo memang sangat akrab dengan siapa saja. Tak lupa dengan selingan guyonannya yang hangat. Hingga banyak dari kalangan rendah maupun yang tinggi sekalipun datang kepada beliau hanya sekedar untuk berbincang – bincang sekaligus meminta solusi. Hingga tak jarang alumni Pesantren Biru selalu merindukan celetukan kyai yang memiliki ribuan santri tersebut.

Seperti pagi ini, disela sela pengaosan kitab beliau ngendikan,

 “Bahwa seorang santri itu harus mempunyai prinsip dalam kehidupannya. Tak hanya itu ia juga harus mempunyai sebuah karakter ” semua terlihat hening mendengarkan beliau.  Tak terlihat satu pun santri yang mengantuk apalagi tidur.

Kemudian beliau melanjutkan, “ santri harus bisa seperti paku . walaupun di pukul terus, tapi jelas menfaatnya. Ketika membuat rumah, yang bisa menyatukan antara reng, usuk dan papan lainnya, ya, paku. Jika rumah sudah jadi dan berdiri tegak, tak ada yang memuji paku, karena memang tak terlihat menonjol, paku akan dipukul lagi sampai tidak terlihat.” Semua santri terkesan menyimak uraian kyai Joyo tersebut.

“Santri itu seperti paku. Walaupun disepelekan, tapi jelas bermanfaat. Sebab yang bisa berbaur dan peduli terhadap sesama ya santri. Santri sejati tidak ingin di puji manusia, karena yang dicari itu ridla Allah SWT. Santri biasanya juga tidak ingin tampil di depan. Yang terpenting masyarakat tentram dan damai. Itulah santri.. santri adalah paku bumi…”

Arjuna mencerna tiap kata yang disampaikan kyai Joyo. Ia patri dalam hatinya begitu dalam.

Waktu terus berjalan, seperti roda yang terus berputar. Arjuna Asyik kembali dengan kegiatan rutinitas pondok. Ia tenggelam dengan berbagai kesibukan. Dan tak terasa sudah satu bulan lebih ia meninggalkan rumah serta  kesakitan hatinya akibat cinta. Terkadang manusia akan di hadapkan oleh suatu keadaan yang akan membuatnya terlena dan lupa jati dirinya. Santri Kini Yang katanya ngrekso Tapi nyatanya malah sembrono Yang katanya ngamalno Ngalakoni wae nek pas wayah ono yang katanya santri iku mulyo tapi nyatane ora podo seng di karepno ruh lan jiwane lungo kuwi santri saiki..

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Meneledani Spirit Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim

    Meneledani Spirit Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim

    • calendar_month Sab, 9 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 621
    • 0Komentar

    “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS: Ash-Shaffat:102).  Idul Adha merupakan momen di mana umat Islam […]

  • Gandeng PC IPNU IPPNU Pati, Tim PKM IPMAFA Sukses Adakan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual Perdana di Kawedanan Pati Kota

    Gandeng PC IPNU IPPNU Pati, Tim PKM IPMAFA Sukses Adakan Sosialisasi Pencegahan Kekerasan Seksual Perdana di Kawedanan Pati Kota

    • calendar_month Sel, 19 Nov 2024
    • account_circle admin
    • visibility 451
    • 0Komentar

    Gembong – Sosialisasi perdana dalam rangka bimbingan remaja guna mencegah kekerasan seksual di Kabupaten Pati yang dilakukan oleh TIM PKM IPMAFA dan PC IPNU IPPNU PATI sukses digelar pada Ahad, 17 November 2024. Dengan target remaja yang tergabung dalam jaringan IPNU/IPPNU dan GKMNU Kabupaten Pati, kegiatan sosialisasi ini nantinya akan diadakan 4 kali dengan peserta […]

  • MA Salafiyah Kajen Pati Gelar Istighosah dan Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa

    MA Salafiyah Kajen Pati Gelar Istighosah dan Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa

    • calendar_month Sen, 1 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 485
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Suasana khidmat menyelimuti halaman Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Pati, pada Senin (1/9/2025), saat lebih dari seribu siswa dan tenaga pendidik menggelar istighosah dan doa bersama demi keselamatan bangsa. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kepedulian spiritual dan ikhtiar kebangsaan di tengah dinamika situasi nasional saat ini. Dipimpin langsung oleh Kepala Madrasah, Masrukhan, […]

  • Pendaftaran PKD PMII Joyo Kesumo Mulai Dibuka Hari ini

    Pendaftaran PKD PMII Joyo Kesumo Mulai Dibuka Hari ini

    • calendar_month Kam, 1 Agu 2019
    • account_circle admin
    • visibility 455
    • 0Komentar

    PATI-Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Joyo Kesumo (Jokes) Pati kembali membuka pendaftaran Pelatihan Kader Dasar (PKD). Hal ini disampaikan oleh ketua panitia PKD, Agus Ulinnuha. Flyer Pendaftaran PKD PMII Komisariat Joyo Kesumo “Pendaftaran kita buka mulai tanggal 1 sampai 25 Agustus 2019. Kami sudah menyebarkan flyer dan ada contact person-nya juga” tegas Agus, Kamis […]

  • PCNU-PATI Photo by aboodi vesakaran

    Pendidikan Sebagai Hak Asasi Manusia

    • calendar_month Sab, 6 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto “Pendidikan bukanlah menabur benih pada dirimu, melainkan menumbuhkan benih-benih yang ada dalam dirimu”. (Jalaluddin Rumi). Pendidikan itu benih harapan bagi masyarakat dan bagi manusia itu sendiri. Karena pendidikan merupakan instrumen kunci untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu, manakala masyarakat dilanda  kegelapan, keterbelakangan, keterpurukan, kekacauan, dan tidak tahu cara mengatasinya, maka sandaran […]

  • Lagi, Putra Margoyoso Ukir Prestasi di Tingkat Asean

    Lagi, Putra Margoyoso Ukir Prestasi di Tingkat Asean

    • calendar_month Sel, 12 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 506
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Miftahul Huda (34), putra asli Margoyoso telah berhasil mengharumkan Indonesia dalam kancah internasional. Bukan hanya Indonesia, ia juga telah berhasil membawa nama baik NU melalui kaligrafi. Dalam ajang Pertandingan Kaligrafi Nusantara (Khat) 2019 yang digelar di Kinabalu, Negeri Sabah, Malaysia tersebut, Huda sukses menyabet gelar juara II dalam kategori Khat Tsuluts dan Nasakh tingkat Asean. […]

expand_less