Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Meraba Lagi Deruku

Meraba Lagi Deruku

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 23 Jul 2023
  • visibility 746
  • comment 0 komentar

Oleh : Nurul Badriyah

Jum’at ini udara sangat dingin menusuk sampai kesendi –sendi tulang. Ngilu. Persis seperti hatiku. Huffft. Di tengah musim hujan seperti ini aku sering menemukan sebuah kenangan dalam setiap genangan, mengaliri hatiku yang terluka sebab cinta. Menghembuskan udara dingin dan sepi dalam setiap kerinduan. Yah, begitulah saat ini perasaanku. Hujan mewakili air mataku yang turun semaunya. Oh Salsa begitu teganya dirimu meninggalkanku.

“Eh, junnn… koe ki ngopo tah, tak sawang kaet mau amen ngalamun wae,  kuwi ora apek.. wes tah seng wes kedaden. Yowis ben… mesakke kuwi lo awakmu..” aku hanya melengos mendengar penuturan Aji. sahabat karibku. Dia juga yang telah mengetahui semua tentang kisahku dan Salsa.

“Ji kok loru yo tibo kuwi.. rasane mak jlebb.. perihh.”

“Sakjane ora ono seng keno disalahno, amargo opo??”

“Jun, dungokno aku. “ia memegang mukaku.

“Opo sih kue iki!! yo krungu aku..  ndungokno gak nganggo mripat a…kupingku iseh kanggo ji”

“Lha iyo,  Pancen kuwi kabeh wes dadi sifate ati.. nek durung mantep milih.. yo panci isih gonta – ganti.. ati kuwi molak malik.. witing tresno jalaran soko ndongo… jaluk’o kunu karo pengeran, ya muqollibal qulub, tsabbit qolbi ala ddinika wa’ala tha’atik.. mugo di teguhno imanmu”

“He’e” jawabku sekenanya. Walaupun dia gak pernah merasakan cinta, dan berkelana ke tepi hati wanita. tapi Aji bagiku sohib yang solutif. Peka juga terhadap perasaan sahabatnya.

Kini pada kenangan aku tak lagi bersembunyi, apalagi menutup hati, sekarang ku biarkan mata ini tetap terbuka, bagai angin lepas di tepi pantai.. membawa semua yang ada. Sementara saat itu yang ku tahu hanyalah berburu waktu agar dunia tahu apakah cinta berujung rindu atau berakhir pada sembilu.dan surat cinta itu, akhirnya kau tawarkan padaku, penuh cinta meski meyimpan air mata.

“Wes ayo ndang adus, trus mangkat jum’atan. Rausah dipikir..”

“Ji.. bar Jum’atan balik pondok yokk, rasane aku kok kangen pondok karo kangen arek – arek..”

“Tenane??  Tenangno sek pikiranmu.. masalah kuwi gampang iso di atur..”

Jum’atan kali ini aku dan Aji, memilih berangkat lebih awal dari biasanya, sebab rasanya hatiku pengen deket dengan khotib agar bisa mendengarkan khutbahnya dengan jarak dekat. Entah mengapa aku ingin mencari kedamaian dan ketenangan hati diantara ribuan jama’ah lainnya.

“Seseorang hendaknya membersihkan hatinya dari segala hal yang yang dapat mengotorinya, seperti dendam, dengki, keyakinan yang sesat. Serta perangai yang buruk. Ketauhilah jama’ah yang di rahmati Allah, hati yang diliputi oleh dendam menjadikan seseorang kesulitan merasakan kedamaian hidup. Seperti apa yang di katakan oleh Yusuf al-Qardhawi beliau mengingatkan dalam salah satu nasehatnya bahwa manusia hendaknya harus hidup dengan sikap saling mencintai, saling menolong.”

“Orang yang didalam hatinya terdapat rasa dengki akan selalu merasa tidak senang ketika orang lain memperoleh kebahagiaan. Terkait sifat ini, Allah menegaskan dalam firman-Nya.. jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

Ucapan khotib rasanya seperti menohok hatiku.Tema khutbah kali ini cukup membuatku berpikir tentang pola perasaan hatiku yang sedang kacau. Di tambah lagi tentang sifat hati yang banyak sekali macamnya. Memang ada rasa sedikit belum ikhlas bila Salsa kekasihku dulu, bersanding dengan orang lain, apalagi dia bahagia bukan bersamaku. Ada sedikit perasaan tidak suka jika ia memilih bahagianya bersama orang lain bukan lagi dalam kisah cintaku. Tapi sepertinya Tuhan menegurku sekaligus menasehatiku lewat khutbah pada Jum’at hari ini.

Bis jurusan Sarang Tayu akhirnya mengantarkanku menuju desa Kajen. Tempat dimana bermacam santri dari berbagai daerah penjuru Nusantara menimba kaweruhan disana. Kajen yang menjadi saksi perjuangan dakwah Syaikh Mutamakkin.

Sejak dulu aku sama sekali tidak pernah berniat ke Kajen ataupun malah nyantri disitu. Sebab cita – cita ku sedari kecil adalah ingin menjadi polisi. Tapi Tuhan sepertinya lebih meridhai aku mengabdi kepada para kyai daripada menjadi polisi. Kakekku  juga yang dulu jebolan santri Kajen berpesan bahwa

“Urip Kuwi Ngabdi nang. Neng ndi wae panggonanmu kudu ono manfaate.. sebab puncake mahabbah kuwi mbalik ing ngersane Pengeran. Dadi wong iku seng jejeg ajeg. Ojo mlangkah yen ora njangkah. Yen mlangkah tekano mekkah“ . keningku berkerut , menatap bingung pada kakek. Seolah paham isi hatiku, kakek pun menjelaskan.

“Wong kuwi kudu istiqomah nglakoni urip. Berjuang sekuat tenaga lan sepenuh jiwa kanggo cita-citamu. Nek awake wes istiqomah mlaku neng tujuanmu. Usahakno tekan tujuan sejatimu. Yo kuwi mekkah lan ka’bah. Ka’bah kuwi baitullah. Baitullah ora rupo bangunan sing ono ning mekkah”.

“Sing tak maksud kuwi, wujude Allah ning jero Atimu. Mung gusti Allah tujuanmu.”. itulah sedikit pesan kakekku yang selalu ku ingat. Ketika dulu aku sedang nakal – nakalnya mbedal dari pondok dan mbolos sekolah. Yah itulah kelakuan ku dulu. Mungkin saat itu pikiranku sedang di penuhi amarah akibat peraturan ketat serta hal – hal lain yang tidak aku sukai selama aku masih jadi anak baru di pesantren. Aku pulang ber modal nekat. Tanpa sepeserpun uang ku pegang.

Aku nyantri disalah satu pondok yang terkenal di Kajen. Berguru tidak dengan sembarang guru. Semua orang mungkin sudah tahu bahwa kyai Joyo adalah kyai yang sangat derma dan sangat tawadu’. Beliau sudah beberapa kali menyumbangkan material kesejumlah masjid – masjid, panti asuhan dan gedung madrasah. Terkadang beliau juga mengajak seseorang untuk pergi umroh. Dari kebiasaan inilah orang kampung menjulukinya kyai Lumo.

Dibalik kedermawanan tersebut kyai Joyo memang sangat akrab dengan siapa saja. Tak lupa dengan selingan guyonannya yang hangat. Hingga banyak dari kalangan rendah maupun yang tinggi sekalipun datang kepada beliau hanya sekedar untuk berbincang – bincang sekaligus meminta solusi. Hingga tak jarang alumni Pesantren Biru selalu merindukan celetukan kyai yang memiliki ribuan santri tersebut.

Seperti pagi ini, disela sela pengaosan kitab beliau ngendikan,

 “Bahwa seorang santri itu harus mempunyai prinsip dalam kehidupannya. Tak hanya itu ia juga harus mempunyai sebuah karakter ” semua terlihat hening mendengarkan beliau.  Tak terlihat satu pun santri yang mengantuk apalagi tidur.

Kemudian beliau melanjutkan, “ santri harus bisa seperti paku . walaupun di pukul terus, tapi jelas menfaatnya. Ketika membuat rumah, yang bisa menyatukan antara reng, usuk dan papan lainnya, ya, paku. Jika rumah sudah jadi dan berdiri tegak, tak ada yang memuji paku, karena memang tak terlihat menonjol, paku akan dipukul lagi sampai tidak terlihat.” Semua santri terkesan menyimak uraian kyai Joyo tersebut.

“Santri itu seperti paku. Walaupun disepelekan, tapi jelas bermanfaat. Sebab yang bisa berbaur dan peduli terhadap sesama ya santri. Santri sejati tidak ingin di puji manusia, karena yang dicari itu ridla Allah SWT. Santri biasanya juga tidak ingin tampil di depan. Yang terpenting masyarakat tentram dan damai. Itulah santri.. santri adalah paku bumi…”

Arjuna mencerna tiap kata yang disampaikan kyai Joyo. Ia patri dalam hatinya begitu dalam.

Waktu terus berjalan, seperti roda yang terus berputar. Arjuna Asyik kembali dengan kegiatan rutinitas pondok. Ia tenggelam dengan berbagai kesibukan. Dan tak terasa sudah satu bulan lebih ia meninggalkan rumah serta  kesakitan hatinya akibat cinta. Terkadang manusia akan di hadapkan oleh suatu keadaan yang akan membuatnya terlena dan lupa jati dirinya. Santri Kini Yang katanya ngrekso Tapi nyatanya malah sembrono Yang katanya ngamalno Ngalakoni wae nek pas wayah ono yang katanya santri iku mulyo tapi nyatane ora podo seng di karepno ruh lan jiwane lungo kuwi santri saiki..

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ahwa, K. Ahmad Syarwo Pimpin NU Tayu hingga 2024

    Ahwa, K. Ahmad Syarwo Pimpin NU Tayu hingga 2024

    • calendar_month Jum, 15 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 512
    • 0Komentar

    TAYU-Agenda Konferensi pengurus NU merupakan kegiatan wajib yang dijalankan lima tahun sekali oleh pengurus NU di betbagai tingkatan. Kali ini, pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tayu Menggelar konferensinya untuk memilih pimpinan baru. Para pengurus baru MWC NU Tayu berpose bersama pengurus PCNU Pati usai konferensi.  “Tertib mrlakukan reotganisasi adalah bukti bahwa organisasi masih […]

  • LP Ma’arif NU Jawa Tengah Terima Kunjungan dari Kampus China

    LP Ma’arif NU Jawa Tengah Terima Kunjungan dari Kampus China

    • calendar_month Jum, 7 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.086
    • 0Komentar

      Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Jawa Tengah menerima kunjungan akademik dari sejumlah kampus asal Tiongkok pada Rabu (30/10) di Semarang. Kunjungan ini bertujuan menjajaki kerja sama pendidikan, khususnya pemberian beasiswa bagi para alumni madrasah dan sekolah yang berada di bawah naungan LP Ma’arif NU Jawa Tengah. Selain pertemuan resmi, rombongan juga meninjau langsung kegiatan […]

  • Yayasan Al Ma'arif Gembong Wajibkan Semua Pendidik Lulus PD-PKPNU

    Yayasan Al Ma’arif Gembong Wajibkan Semua Pendidik Lulus PD-PKPNU

    • calendar_month Rab, 1 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 282
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama’ (PD-PKPNU) merupakan sarana kaderisasi paling awal bagi pengurus NU. Namun, menurut KH. Yusuf Hasyim, peruntukannya bukan hanya bagi pengurus. PD-PKPNU juga penting untuk semua warga nahdliyyin, terutama para guru. “Untuk mempertebal ke-NU-an, agar mantab NU-nya, siapapun warga NU saya kira perlu memgikuti kaderisasi ini, khususnya para […]

  • people inside cafe

    Dari Generasi Rumah, Hingga Generasi Cafe

    • calendar_month Jum, 10 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 431
    • 0Komentar

    Pagi ini saat saya sedang bersantai dikamar setelah melakukan aktivitas layaknya ibu rumah tangga, saya mendengar percakapan paman saya dengan saudara jauh didepan rumah. Yang dibicarakan adalah tentang anak zaman sekarang. Cerita bermula saat saudara jauh kami bertanya pada paman tentang siapa pemilik motor terparkir didepan teras rumah saya. Paman saya menjawab bahwa itu motor […]

  • KH. Imron Jamil Bakal Buka Ngaji Rutin al Hikam di Gembong

    KH. Imron Jamil Bakal Buka Ngaji Rutin al Hikam di Gembong

    • calendar_month Jum, 31 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.270
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – KH. Imron Jamil yang begitu populer dengan pengajian al Hikamnya, berencana akan membuka kajian rutin di Gembong. Lebih tepatnya, Ngaji Hikam tersebut bakal diselenggarakan setiap Sabtu Pahing di Ponpes Shofa Az Zahro’ (PPSA) Dukuh Sentul, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati. Pengasuh PPSA, Gus Faiz Aminuddin Shofwan mengorfimasi hal ini kepada pcnupati.or.id, Jumat (31/10). […]

  • Bangun Kepemimpinan Bisnis Era Digital, MWC NU Susukan Gandeng Fakultas Dakwah UIN Saizu Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    Bangun Kepemimpinan Bisnis Era Digital, MWC NU Susukan Gandeng Fakultas Dakwah UIN Saizu Gelar Pelatihan Literasi dan Jurnalistik

    • calendar_month Sen, 20 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 16.973
    • 0Komentar

      BANJARNEGARA, 19 Juli 2026 – Guna mencetak kader yang adaptif dan berdaya saing di era teknologi, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, menggelar Pelatihan Literasi Digital dan Jurnalistik. Acara strategis yang mengusung tema “Membangun Kepemimpinan Bisnis yang Kuat di Era Manajemen Digital” ini dilaksanakan di Gedung MTs Ma’arif NU […]

expand_less