Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Menangkap Cahaya Rayyan

Menangkap Cahaya Rayyan

  • account_circle admin
  • calendar_month Sel, 4 Jul 2017
  • visibility 433
  • comment 0 komentar

Sesungguhnya di syurga ada satu pintu bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu itu pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya…. Maka jika orang-orang yang berpuasa telah memasukinya, maka (Pintu Rayyan) akan ditutup dan taka da seorangpun lagi yang memasukinya.”
Begitu spesialnya ibadah puasa, hingga diabadikan dalam banyak hadits. Salah satunya adalah ujaran Nabi mengenai Bab ar Rayyan (Pintu Rayyan)—seperti disebutkan sebelumnya. Berbicara mengenai ar-Rayyan  yang secara lughawi berarti puas (tidak haus lagi) tersirat makna tentang sebuah nilai final dari sebuah kebahagiaan. Jika dianalogikan dengan the law of diminishing return theory, maka nilai kepuasan pahala puasa adalah poin klimaks. Gambaran ini bukan hanya sekadar dugaan imajinatif, namun lebih pada hasil analisis berdasarkan aspek-aspek yang saling terkoneksi.
Ditinjau dari aspek nilai ibadah, puasa memiliki strata yang unggul dibandingan dengan jenis peribadatan syar’iyah lainnya. Dari aspek reward, ibadah puasa juga sangat dikhususkan. Janji akan adanya pintu Rayyan adalah satu di antaranya. Menurut aspek praktis pun demikian. Puasa secara terminologi praktikal memiliki makna (kurang lebih) menahan diri dari segala yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Dalam konteks praktis ini, ibadah puasa ditutup dengan buka puasa.
Ramadhan : Gerbang ar Rayyan
Ramadhan memiliki posisi strategis bagi umat islam. Dalam konteks masa kekinian, posisi strategis Ramadhan bukan hanya karena karamah (kemuliaan) yang digelontorkan oleh Allah SWT dalam bulan penuh berkah ini. Namun ditinjau dari kaca mata apapun, Ramadhan juga menjadi komoditas paling menarik sebagai ladang investasi. Baik itu investasi ilahiyah (spiritual ketuhanan), basyariyah (social-kemanusiaan) maupun yang bersifat iqtishodiyah—‘fulusiyah’—(ekonomis).
Dari sisi ilahiyah, Ramadhan membawa semangat baru sekaligus momentum emas bagi mereka yang memiliki i’tikad untuk ‘hijrah’. Banyak orang merasa malu untuk memperbaiki diri, akan tetapi dengan mediasi Ramadhan, seseorang tidak rikuh lagi untuk menjalankan kebiasaan-kebiasaan baik yang belum pernah dialakukan sebelumnya. Hal ini menjadikan Ramadhan sebagai pintu perubahan menuju masa depan spiritual gemilang. Di kalangan budayawan, fenomena ini lebih familiar dengan istilah mendadak religius.
Ditinjau dari kacamata sosial, Ramadhan juga menjadi gerbang hati. Ada korelasi positif antara keterbukaan hati dengan suasana religi saat Ramadhan dan proses berpuasa. Pertama, nuansa yang dibangun selama Ramadhan sangat mendukung bagi umat muslim untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Hal ini ditunjang dengan ‘promosi’ yang dilakukan oleh para da’i akan besarnya pahala ibadah di bulan penuh berkah ini. Selain itu, peningkatan spiritualitas umat juga  menjadi motor dalam memacu kesalehan sosial selama Ramadhan.
Kedua, dahaga yang melilit sha’im selama puasa secara psikologis meningkatkan tenggang rasa antar sesama. Situasi ‘kelaparan’ yang melanda seseorang membuatnya lebih mudah berempati serta meningkatkan rasa peduli. Lagi-lagi, ini menjadi gerbang yang terbuka lebar bagi jalan kebaikan. Misalnya orang akan lebih mudah bersedekah atau bagi-bagi takjil selama bulan puasa.
Dari sisi ekonomis, Bulan Ramadhan menjadi pintu ar-Rayyan bagi banyak elemen masyarakat. Mulai pedagang dadakan yang menawarkan berbagai menu khas  Ramadhan menjelang buka, hingga para pemilik usaha toko dan supermarket yang kian laris khususnya menjelang lebaran. Bahkan yang lebih ekstreme lagi, beberapa kalangan seperti elit politik dan perusahaan-perusahaan besar juga tak ketinggalan memanfaatkan momentum Ramadhan sebagai media memperoleh pengakuan, pencitraan  dan legitimasi eksistensi dari khalayak. Semua kalangan masyarakat mendapatkan Rayyan-nya masing-masing di selama Ramadhan.
Sisi Sufistik
Pintu Rayyan yang didengung-dengungkan sejak awal merupakan simbol kebahagiaan yang termat mendasar. Rayyan memangkas jarak antara ranah ukhrawi dan duniawi. Selama ini banyak yang beranggapan bahwa akhirat memiliki dimesnsi yang jauh berbeda dari dunia. Gambaran altar akhrirat yang sangat suci, begitu kontradiktif dengan hingar bingar dunia yang tercemar oleh ‘polusi’ dan ‘birahi’ kekuasaan, harta serta kepentingan manusiawi lainnya.
Hampir semua kalangan sepakat bahwa Ramadhan merupakan salah satu jalan suci untuk berbenah diri menuju kebahagiaan ukhrawi begitu juga duniawi. Pintu Rayyan yang disebutkan sebagai ganjaran bagi kaum sha’immerupakan manifestasi kecintaan Sang Khaliqterhadap makhluq. Dengan cara me-Ramadhan-kan makhluk-Nya, Allah mencoba menjalin komunikasi virtual dengan manusia untuk menggiring mereka menuju surga melalui Rayyan.
Hanya saja, ada satu aspek yang perlu dimafhumi adalah bahwa pintu Rayyan bukan sekadar gambaran ‘abstrak’ surga akhirat seperti yang selama dimengerti oleh mayoritas. Rayyan—sebagai diskripsi dari puncak kebahagian—juga dapat diraih di bumi ini. Dalam konteks shiyam¸ Rayyan yang sesungguhnya adalah Ramadhan itu sendiri. Bagaimana orang merasa sangat bahagia menyambut bulan suci ini.
Kebahagiaan yang tulus tentu bukan karena adanya janji surgawi dari Tuhan atau iming-iming laba ekonomi. Namun secara lebih mendasar, kebahagiaan ini muncul karena datangnya bulan sakral yang di setiap langkah kebaikan dilipatgandakan skor kebaikannya.
(Maulana L. Karim Penulis merupakan Ketua Kader Penggerak Nahdlatul Ulama Kec. Gembong dan Pimpinan Redaksi Majalah Pribumi Pati)
  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Chi Lok TSANG

    Urgensi Pendidikan di Pesantren

    • calendar_month Sab, 8 Apr 2023
    • account_circle admin
    • visibility 413
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Pondok pesantren pada umumnya dikenal sebagai lembaga Pendidikan tertua di Pulau Jawa-Madura, dan Nusantara. Pondok pesantren berkemampuan tinggi dalam berswakarya dan berswakarsa dalam menyelenggarakan Pendidikan. Misi yang mulia selama ini lebih bercorak pada Pendidikan agama yang berorientasi pada pembentukan budi pikerti atau karakter santri, baik pada ranah agama maupun akhlak. Sehingga pesantren […]

  • LTNNU Pati Dorong Hilirisasi Naskah Kuno untuk Rekonstruksi Identitas Daerah

    LTNNU Pati Dorong Hilirisasi Naskah Kuno untuk Rekonstruksi Identitas Daerah

    • calendar_month Kam, 16 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 11.015
    • 0Komentar

    ​pcnupati.or.id – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Pati mulai menggencarkan penelusuran naskah kuno di wilayah Bumi Mina Tani. Langkah ini diambil sebagai upaya menyelamatkan warisan budaya leluhur yang terancam hilang atau rusak dimakan usia. ​Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Dinarpus Kabupaten Pati, Sukardi, usai kegiatan Sosialisasi Identifikasi, Pendaftaran, dan Alih Media Naskah Kuno di […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Sound Horeg dan Marwah Takbir Keliling

    • calendar_month Sel, 17 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.709
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda   Sejak merantau di Semarang sekira 2008 silam, saya sudah tak terlalu aktif mengikuti perkembangan takbir keliling di Kabupaten Pati. Wajar ya, karena sudah tak menetap di sana. Saya amati, dalam satu dekade terakhir, tiap acara rakyat dipastikan ada horeg atau sound horeg (ada yang menulis sound horek). Entah itu acara […]

  • PCNU-PATI

    Budayawan Taufik Rahzen : Kata-Kata Dalam Puisi Nuyang Jaimee Disuling Dengan Bertenaga, Menjadi Kita Terjaga

    • calendar_month Sel, 28 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 365
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Jakarta, Minggu, 26/11/2023,-Puisi-puisi karya Nuyang Jaimee  membuat narasi jernih dari silang sengkarutnya peristiwa. Mengangkat kon-teks kedalam teks, dan menjadi percakapan yang bisa didengarkan. “Kata-katanya disuling dengan bertenaga, menjadi kita terjaga,” ujar Budayawan Taufik Rahzen memberikan pendapat karya puisi Nuyang Jaimee dalam buku antologi puisi tunggal Para Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya yang disampaikan di Jakarta, […]

  • PCNU - PATI Photo by allybally4b

    Perjalanan Ke Utara

    • calendar_month Rab, 29 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

    Senja adalah waktu paling di tunggu. Selain pulang ke rumah, tentu ada waktu untuk rehat dan menikmati secangkir kopi. Sebelum kembali menjalani rutinitas harian dengan keluarga. Kedai Kopi adalah tempat tenang sekaligus asyik untuk sekadar melepas penat. Di Kedai kadang sendirian, sering pula dengan perempuan yang saya sayangi; Laberre Coffe menjadi langganan saat ini. Di […]

  • Sempat Vakum, PAC IPNU Kayen Kembali Gelar Rutinan Majelis Sholawat

    Sempat Vakum, PAC IPNU Kayen Kembali Gelar Rutinan Majelis Sholawat

    • calendar_month Kam, 7 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 406
    • 0Komentar

      Suasana majelis sholawat yang digagas oleh pelajar NU Kayen setelah sekian lama terhenti KAYEN – PAC IPNU Kecamatan Kayen melalui Departemen Olahraga Seni dan Budaya (OSB) kembali menggelar rutinan majelis sholawat di Gedung MWC NU Kayen, Selasa (5/10/2021). Setelah beberapa bulan vakum, karena adanya perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Pati. Kegiatan […]

expand_less