Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Kiai Kampung Yang Rendah Hati

Kiai Kampung Yang Rendah Hati

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 25 Mar 2015
  • visibility 310
  • comment 0 komentar

Almaghfurlah KH Ahmad Suyuthi merupakan sosok kiai yang alim tetapi rendah hati. Kontribusinya dalam forum Sidang Syuriah Bulanan di pendopo maqbaroh Syeikh KH Ahmad Mutamakkin Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, diakui para ulama dan tokoh masyarakat. Khususnya ketika PCNU dipimpin oleh sahabat karibnya, KH Suyuthi Abdul Qodir, Pendiri Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan.
Katib Syuriah KH Abdul Hadi Kurdi menceritakan hal tersebut kepada NU Online usai pengajian dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dan Haul KH Ahmad Suyuthi ke-27 di Masjid Sabilal Muhtadin Langgenharjo-Margoyoso-Pati, (19/1) Ahad malam. Dalam perjalanan menggunakan mobil panitia menuju kediamannya, Kiai Hadi menceritakan sekelumit cerita tentang peran Mbah Suyuthi di ormas Nahdlatul Ulama.
“Ketika saya ditunjuk Kiai Suyuthi Guyangan menjadi Katib Syuriah pada tahun 1978, waktu itu saya masih lajang, saya sering satu majlis dengan Kiai Suyuthi Langgen. Beliau sangat aktif saat sidang syuriah di Kajen,” ujar Kiai Hadi mengawali ceritanya.
Menurutnya, Mbah Suyuthi merupakan salah satu kiai kampung yang bersahaja dan kharismatik. Senada dengan Kiai Hadi, salah seorang santri yang kini menjadi guru senior di Guyangan, Kiai Muhammad Salim, menyatakan bahwa penguasaan Mbah Suyuthi terhadap kitab kuning sangat mumpuni. “Kiai Suyuthi itu orang alim. Beliau itu ‘macan’ bagi masyarakat Langgen dan sekitarnya,” ujar Kiai Salim suatu ketika.
Ada cerita menarik tentang Mbah Suyuthi dari putranya yang kelima, Kiai Moh Asrori (67). Suyuthi muda awalnya menimba ilmu kepada KH Syamsul Hadi di daerah Pati selatan, tepatnya di Desa Sumberejo Kecamatan Jaken, 25 kilometer tenggara kota Pati. Karena kecerdasannya, oleh sang guru Suyuthi disarankan melanjutkan ngaji kepada Hadratusy Syaikh KH M Hasyim Asy’ari Tebuireng. Di sana, Suyuthi Langgen berjumpa Suyuthi Guyangan.
Anehnya, lanjut Asrori, Mbah Suyuthi kembali mondok lagi di Sumberejo, tempat pertamanya menuntut ilmu. Suatu ketika, usai ngaji kitab di serambi masjid, Mbah Syamsul Hadi yang ketika mengajar ngaji kerap membawa serta putri pertamanya, Sholihati. Mbah Syamsul lalu bertanya kepada Sholihati yang duduk di pangkuannya. “Nduk, siapa yang kamu pilih sebagai calon suamimu?” Sholihati yang masih kecil dan lugu tiba-tiba mengarahkan jari telunjuk mungilnya tepat ke arah Suyuthi muda.
Singkat cerita, pernikahan antara Suyuthi dan Sholihati yang saat itu berusia 9 tahun pun dilaksanakan. Meski demikian, Suyuthi tetap melanjutkan pengembaraan keilmuannya ke beberapa pesantren di Rembang dan Jombang. Sholihati kecil dengan setia menunggu kedatangan sang suami dengan menyimpan telur ayam untuk bekal kembali ke pondok. Hal ini dilakukannya untuk membantu meringankan sang suami dalam mencari ilmu.
Setelah Nyai Sholihati cukup usia untuk diajak membangun rumah tangga, diboyonglah sang istri menuju kampung halamannya di Langgenharjo usai boyongan dari pesantren. Hal ini dilakukan Mbah Suyuthi setelah dipanggil pulang kedua kakaknya, Haji Abdus Shomad dan Haji Markhaban, untuk menyebarkan agama Islam. Pasalnya, kakak pertama yang menjabat petinggi desa (birokrat) dan kakak kedua yang anggota militer itu bersepakat jika sang adik bungsu menjadi tokoh agama di kampungnya.
Dari pernikahannya dengan Nyai Sholihati, Mbah Suyuthi dikaruniai delapan orang putra dan putri: Moh Ma’shum, Ummi Kaltsum, Asiyah, Romlah, Moh Asrori, Moh Asyhari, Moh Asy’ari, dan Moh Masykuri. “Yang saya tidak habis pikir, kenapa bapak tidak mendirikan pesantren. Padahal, kealiman beliau sangat diakui. Peninggalan beliau itu ya masjid Langgen yang kini telah direhab total itu,” ujar Kiai Asrori.
Ketika ditanya mengapa Mbah Suyuthi tidak mendirikan pesantren sebagaimana sahabat karibnya, KH Suyuthi AQ, yang mendirikan Pesantren Raudlatul Ulum di Guyangan, Asrori menjawab bahwa Mbah Suyuthi merasa tidak layak membangun pesantren lantaran sudah ada di Guyangan dan Kajen. Rasa ta’dzimnya kepada KH Suyuthi Guyangan dan KH Abdullah Salam Kajen membuat Mbah Suyuthi menempuh jalan lain.

Meski demikian, lanjut bapak lima anak ini, Mbah Suyuthi menekankan kepada anak cucunya untuk rajin mengaji dan belajar agar bisa berkhidmat kepada masyarakat. Jalan khidmat itu, bagi Mbah Suyuthi sebagaimana dikutip Asrori, tidak hanya melalui pesantren. Tetapi bisa juga melalui masjid, madrasah, atau lembaga pendidikan lainnya.

Di akhir penelusuran sejarah perjuangan Mbah Suyuthi dalam ngemongmasyarakat inilah Wakil Rais Syuriah PCNU Pati KH Abdul Hadi secara khusus berpesan agar anak cucu ulama yang wafat akhir tahun 1982 itu melanjutkan jalan spiritualnya yang sunyi. “Saya salut atas kesederhanaan dan sikap rendah hati beliau. Pesan saya, lanjutkan rintisan Kiai Suyuthi,” pungkasnya. ( NU Online Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Si Dombos, Logo dan Maskot Porsema XIII Ma’arif NU Jateng

    Si Dombos, Logo dan Maskot Porsema XIII Ma’arif NU Jateng

    • calendar_month Jum, 12 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 354
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Wonosobo – Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) PWNU Jawa Tengah kembali menggelar agenda besar, Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (PORSEMA) XIII Tahun 2025. Kegiatan bergengsi ini akan berlangsung pada Rabu 10 September 2025 – Sabtu 13 September 2025 di Kabupaten Wonosobo dengan tema “Kolaborasi membangun generasi yang sehat, hebat dan […]

  • LP Ma`arif NU Jawa Tengah Audiensi dengan Dinas DIKBUD Provinsi Jawa Tengah

    LP Ma`arif NU Jawa Tengah Audiensi dengan Dinas DIKBUD Provinsi Jawa Tengah

    • calendar_month Rab, 23 Okt 2024
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

      Semarang – Lembaga Pendidikan Ma`arif NU Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah pada Rabu, 23 Oktober 2024. Kehadiran pengurus LP. Ma`arif NU Jawa Tengah diterima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Dr. Uswatun Hasanah, S.Pd, M.Pd., dan didampingi oleh Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Syamsudin Isnaeni S.STP, S.H, M.H, […]

  • Sutopo Akan Membawa Jakenan Lebih Baik

    Sutopo Akan Membawa Jakenan Lebih Baik

    • calendar_month Sab, 11 Feb 2017
    • account_circle admin
    • visibility 382
    • 0Komentar

    Pati, Jajaran Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Masa Khidmat 2017-2022 di lantik secara resmi oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama, Kamis 9/2 kemarin. Menjadi pengurus NU adalah tabungan di akhirat, kita berdakwah harus melalui niat yang ikhlas mengabdi sepenunya terhadap masyarakat, baik melalui agama, sosial dan penguatan ekonomi,             “Jajaran pengurus setelah kami lantik, harus […]

  • NU Online Ulang Tahun Hari Ini

    NU Online Ulang Tahun Hari Ini

    • calendar_month Sen, 12 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 259
    • 0Komentar

    Kiriman kue ulang tahun untuk NU Online dari Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU HongKong JAKARTA-Media massa sangat diperlukan sebaagai corong berita. Seiring berkembangnya zaman, media massa bukan hanya tempat menimba berita, namun juga bisa menjadi tempat yang menyediakan berbagai informasi bahkan hiburan dalam berbagai bentuk. Media cetak juga sudah mulai bertransformasi dalam bentuk yang mengikuti […]

  • Retreat & Ma`arif Staff Meeting; Ketua Ma`arif NU Jateng “Aku, Kamu, Kita Setara”

    Retreat & Ma`arif Staff Meeting; Ketua Ma`arif NU Jateng “Aku, Kamu, Kita Setara”

    • calendar_month Rab, 9 Jul 2025
    • account_circle admin
    • visibility 346
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Membangun organisasi itu tidak bisa dilakukan sendirian oleh seorang ketua, bahkan pengurus yang dianggap paling inti, pasti banyak keterbatasan dan juga banyak tantangan. Oleh karena itu siapapun yang ada di dalam organisasi harus dijadikan unsur penting jika sebuah organisasi ingin maju, berkembang dan tumbuh kuat. Seperti halnya posisi staff yang duduk di meja […]

  • UNIK! Tiga Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS MTsN 5 Brebes Semuanya Perempuan, dan Berhasil Sukseskan P5P2RA Bertemakan "Demokrasi di Era Digitalisasi"

    UNIK! Tiga Pasangan Calon Ketua dan Wakil Ketua OSIS MTsN 5 Brebes Semuanya Perempuan, dan Berhasil Sukseskan P5P2RA Bertemakan “Demokrasi di Era Digitalisasi”

    • calendar_month Rab, 22 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 423
    • 0Komentar

      Brebes – Dalam pengembangan kurikulum merdeka yang saat ini tengah berjalan, Kepala Madrasah MTsN 5 Brebes H. Ihda Syifai, S.Pd., M.M menyampaikan urgensi dari PP5RA dengan tema “Demokrasi di Era Digitalisasi” adalah memberikan pengalaman yang setara terhadap semua siswa untuk dapat memberikan suara dalam kesuksesan demokrasi pemilihan calon dan wakil ketua OSIS. Melalui kegiatan […]

expand_less