Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Kabar Pernikahan Terviral

Kabar Pernikahan Terviral

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 4 Sep 2022
  • visibility 503
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Kasihan, lulus jadi dokter bedah langsung disuruh nikah sama kakek-kakek.”

“Rupanya dokter cantik itu jadi tumbal orang tuanya sendiri. Ck… ck… ck….”

“Kalau aku sih mau aja. Kan konglomerat itu udah aki-aki. Bentar lagi dipanggil Yang Maha Kuasa. Warisan yang gak bakal habis dimakan tujuh turunan akan jatuh di tangan. Haha.”

“Demi mewujudkan mimpi anaknya jadi dokter, orang tuanya rela berhutang. Miris.”

“Si aki konglomerat itu darimana sih?

“Siapa nama dokter viral itu? Jadi kepo.”

Cuitan-cuitan itu menghiasi berbagai kolom media sosial. Berawal dari sebuah konten video yang menayangkan seorang dokter muda berparas cantik dan lelaki berumur sekitar tujuh puluhan dengan caption “Pernikahan Tak Biasa,” menjadi trending topik dan ramai diperbincangkan.

Video yang awalnya hanya viral di tik tok merambah ke media sosial lain seperti Facebook, Instagram, twitter, whatsapp dan telegram melalui share berantai dan mendulang ribuan bahkan ratusan ribu komentar.

Entah bagaimana mula kabar itu berhembus. Yang pasti dari satu mulut ke mulut yang lain, berita itu merembet cepat dan tersebar dengan berbagai versi. Mereka asyik membicarakan dokter muda dan sang konglomerat tanpa peduli dengan dampak negatif yang bisa timbul.

Bukankah sudah banyak insiden bunuh diri bahkan di kalangan artis yang terkena dampak dari media sosial? Mereka tak kuat meredam gosip berantai tentang dirinya yang merusak status sosial serta harga diri mereka.

——

Gadis itu menarik napas dalam. Kedua kelopak matanya terbuka dan menatap wajah frustasi itu di cermin. Tangannya menggenggam sebuah ponsel yang baru saja menayangkan video viral dokter cantik dan seorang konglomerat. Tangan itu terlihat gemetaran. Pikirannya carut marut. Jantungnya berguncang. Gaun pengantin yang melilit tubuhnya sejak tiga puluh menit lalu berubah menjadi jubah kematian. Sebuah suara menggema di telinganya.

“Selamat, anda diterima bekerja di rumah sakit Albana.”

Kabar bahagia itu seketika menjadi kabar duka ketika sang ibu mengungkap sebuah rahasia. Rahasia yang membuat dirinya bagai terhempas ke dasar jurang. Rahasia yang membuat mimpinya hancur berantakan.

Netranya bergerak menatap jas putih yang bertengger rapi di dinding. Ia kembali mengangkat ponsel setelah mengetuk sebuah kontak dengan nama Lovely Doctor.

“Angkat teleponmu, Sam. Please.”

Ia semakin kesal setelah panggilan yang ke dua puluh tak juga menuai respon. Ia kembali menarik napas. Sejenak ia tatap daun pintu dengan sorot tajam. Sebelum ibunya kembali Ia harus membuat keputusan. Ia bukan robot yang bisa seenaknya diatur dan dikontrol. Ini juga sudah bukan zaman Siti Nurbaya dan Laila Majnun.

“Kenapa aku yang harus bertanggung jawab. Salah sendiri tidak bicara dari awal. Baiklah kalau itu mau kalian,” geramnya dongkol.

Ia bergerak cepat meninggalkan ruangan setelah menyambar kunci mobil. Sebuah teriakan tak ia hiraukan. Tak ada yang sanggup menghentikan langkahnya. Seperti tak ada satupun pula yang bisa menghancurkan mimpi-mimpinya. Sebab saat ini ia sendiri yang akan menghancurkan mimpi itu sendiri.

——

Dan disinilah ia berada. Di bawah naungan langit Pengapon yang tampak kelabu. Awan bergulung-gulung di atas sana. Menciptakan suasana kelam dan suram. Sesuram wajahnya saat berjalan di atas kerikil tajam.

Gadis itu tampak lesu, bibirnya pucat, matanya menyorot tajam. Kaca-kaca di matanya hampir saja tumpah kalau ia tak berusaha kuat menahannya.

“Sialan! Selama ini aku ditipu. Dijadikan tumbal demi lunasnya hutang. Klise! Selamanya aku nggak sudi menikah dengan lelaki tua bangka itu,” rutuk gadis yang kini berjalan menuju rel. Ya, melihat dan bertemu sekedar ta’aruf saja tak sudi apalagi menikah. Hatinya sudah tertambat pada pengeran lain. Sebuah nama telah lama menjajah singgasana hatinya.

 Sebenarnya ia terlalu cepat menyimpulkan semuanya, sampai-sampai ia tak tahu ada dua orang yang berjasa membesarkannya jauh lebih terpuruk. Perjanjian untuk mengikat erat tali persahabatan melalui pernikahan hancur. Semua karena putrinya kabur, tak becus membalas budi.

“Ya ya kamu hebat, Ibu, Ayah. Sukses membiayai anakmu hingga jadi dokter. Lalu menyuruhnya membayar hutang. Hahaha.”

Ia tertawa sumbang.

Gadis itu terus berjalan tanpa arah. Lurus saja menuju rel besi memanjang di depannya. Tepat ketika suara bising dari arah depan begitu memekakkan telinga. Keputusasaan telah merenggut jiwa. Tatapannya kosong dan hampa, tapi penuh sandiwara.

“Mari kita lihat siapa yang akan menang,” geramnya dengan wajah merah padam. Ada bara api pada kedua matanya.

Ia biarkan angin mempermainkan rambut panjangnya serta gaun putih yang membalut tubuh rampingnya. Kedua tangan sepucat mayat itu menggenggam erat. Kedua kakinya kini menjejak rel. Seolah hendak menantang makhluk besi terpanjang yang sedang berlari kencang. Dua ribu langkah darinya. Meski begitu dalam hitungan menit siap menghantam. Dari suaranya saja seperti suara sangkakala malaikat pencabut nyawa.

Gadis berbalut gaun pengantin itu tak tahu ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya–di balik jendela kaca di sebuah bangungan bertingkat tak jauh dari rel.

 Mata seperti telaga itu. Mulanya datar, menyipit, lalu membeliak. Menit kemudian teriakan panik tak terelakkan.

“Woiii, stop! Apa kau sudah gila? Jangan bunuh diri! Stop! Astaghfirullah!”

Pemuda berkemeja coklat muda itu reflek berlari kencang. Saking paniknya sampai lupa tak memakai sandal.

Tak ia pedulikan kerikil-kerikil tajam di sepanjang rel menusuk-nusuk telapak kakinya. Juga beberapa wajah polos yang menatapnya penuh khawatir sambil berteriak, “Kak Faris, hati-hati.”

Dalam hitungan detik ia menjelma seperti pelari maraton dan berada di arena sirkuit yang ia tonton dengan para mitranya. Ia harus cepat sampai rel dan menghentikan perbuatan hina dan mengerikan yang sebentar lagi akan terjadi.

“Woi, stop! Ya Allah.”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Istighoutsah  Pertama di Tahun 2016

    Istighoutsah Pertama di Tahun 2016

    • calendar_month Kam, 18 Feb 2016
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

                Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama dengan MWCNU Se Kabupaten Pati mengadakan Istighoutsah ulama dan umaro di Pendopo Kabupaten Pati sekaligus memperingati maulid nabi Muhammad SAW dengan tema “Meneladani Sifat Nabi Muhammad sebagai bekal membangun pribadi yang berakhlakul karimah.” Kamis 4/2/2016 kemarin. Sebelum acara inti dimulai yaitu mauidloh khasanah dari KH Syarofudin dari Rembang, maka terlebih […]

  • PCNU Pati Gelar Tasyakuran 94 Tahun NU

    PCNU Pati Gelar Tasyakuran 94 Tahun NU

    • calendar_month Ming, 2 Feb 2020
    • account_circle admin
    • visibility 373
    • 0Komentar

    PATI-Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama Kab. Pati, ahad pagi (2/2) mengadakan tasyakuran harlah ke-94 Nahdlatul Ulama. Acara diselenggarakan secara khidmat di Aula PCNU Pati. Acara Tasyakuran Harlah NU ke-94 di Aula Gedung PCNU Pati.  Dihadiri oleh beberapa pengurus harian tanfidziyah, suriyah, lembaga, banom hingga kader-kader NU yang saat ini menjadi DPRD Kab. Pati. Para pengirus MWC […]

  • PCNU - PATI kegiatan_akad_nikah_di_masjid

    Sighot Ta’liq dalam Pernikahan

    • calendar_month Sen, 4 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 809
    • 0Komentar

       Berikut ini kami sertakan potongan dari sighot ta’liq : ‘selanjutnya saya sekarang membaca sighot ta’liq atas istri saya itu sebagai berikut : sewaktu-waktu saya  : Meninggalkan istri saya dua tahun berturut-turut Atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya selama 3 bulan lamanya Atau saya menyakiti badan atau jasmani istri saya itu Atau saya membiarkan […]

  • a living room with a chair and a painting on the wall

    Makna Transformatif Kelahiran NU

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.467
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Dosen IPMAFA Pati, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning Pati Sabtu, 31 Januari 2026 adalah momentum peringatan 1 abad NU versi Masehi karena NU dilahirkan pada 31 Januari 1926. Dalam momentum 1 abad ini, sudah seharusnya seluruh elemen NU mengingat dan merevitalisasi dimensi spiritualitas transformatif berdirinya NU. Napak tilas sejarah berdirinya NU […]

  • Baiti Jannati

    Baiti Jannati

    • calendar_month Sen, 10 Apr 2017
    • account_circle admin
    • visibility 605
    • 0Komentar

    Rumah adalah tempat untuk pulang; di rumah kita bisa merasakan surga dan neraka. Tergantung bagaimana kita bersikap dilingkungan keluarga saat berada di rumah. Bisa dikatakan rumah sebagai pelepas lelah saat kita seharian mencari rizki di luar, maka dari itu rumah akan menjadi tempat yang paling indah untuk dirindukan.  Buku  bertajuk Amalan Amalan Rumahan Berpahala Surgal […]

  • Pagar Nusa Gabus Kunjungi Tokoh NU, K. Khusairi : Kami Punya Tujuan Khusus

    Pagar Nusa Gabus Kunjungi Tokoh NU, K. Khusairi : Kami Punya Tujuan Khusus

    • calendar_month Sel, 3 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    GABUS-Pengurus Anak Cabang Pencak Silat Pagar Nusa Kecamatan Gabus melakukan kunjungan ke beberapa tokoh di Kabupaten Pati. Orang-orang yang dikunjungi merupakan para pejuang babad alas Pagar Nusa (PN) di Pati serta tokoh-tokoh yang memiliki andil bagi eksistensi PN. K. Khusairi ketua PAC Pagar Nusa Gabus menegaskan acara sowan tersebut terselenggara berkat ide dari kawan-kawan PN […]

expand_less