Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Cerpen » Kabar Pernikahan Terviral

Kabar Pernikahan Terviral

  • account_circle admin
  • calendar_month Ming, 4 Sep 2022
  • visibility 533
  • comment 0 komentar

Oleh : Elin Khanin

“Kasihan, lulus jadi dokter bedah langsung disuruh nikah sama kakek-kakek.”

“Rupanya dokter cantik itu jadi tumbal orang tuanya sendiri. Ck… ck… ck….”

“Kalau aku sih mau aja. Kan konglomerat itu udah aki-aki. Bentar lagi dipanggil Yang Maha Kuasa. Warisan yang gak bakal habis dimakan tujuh turunan akan jatuh di tangan. Haha.”

“Demi mewujudkan mimpi anaknya jadi dokter, orang tuanya rela berhutang. Miris.”

“Si aki konglomerat itu darimana sih?

“Siapa nama dokter viral itu? Jadi kepo.”

Cuitan-cuitan itu menghiasi berbagai kolom media sosial. Berawal dari sebuah konten video yang menayangkan seorang dokter muda berparas cantik dan lelaki berumur sekitar tujuh puluhan dengan caption “Pernikahan Tak Biasa,” menjadi trending topik dan ramai diperbincangkan.

Video yang awalnya hanya viral di tik tok merambah ke media sosial lain seperti Facebook, Instagram, twitter, whatsapp dan telegram melalui share berantai dan mendulang ribuan bahkan ratusan ribu komentar.

Entah bagaimana mula kabar itu berhembus. Yang pasti dari satu mulut ke mulut yang lain, berita itu merembet cepat dan tersebar dengan berbagai versi. Mereka asyik membicarakan dokter muda dan sang konglomerat tanpa peduli dengan dampak negatif yang bisa timbul.

Bukankah sudah banyak insiden bunuh diri bahkan di kalangan artis yang terkena dampak dari media sosial? Mereka tak kuat meredam gosip berantai tentang dirinya yang merusak status sosial serta harga diri mereka.

——

Gadis itu menarik napas dalam. Kedua kelopak matanya terbuka dan menatap wajah frustasi itu di cermin. Tangannya menggenggam sebuah ponsel yang baru saja menayangkan video viral dokter cantik dan seorang konglomerat. Tangan itu terlihat gemetaran. Pikirannya carut marut. Jantungnya berguncang. Gaun pengantin yang melilit tubuhnya sejak tiga puluh menit lalu berubah menjadi jubah kematian. Sebuah suara menggema di telinganya.

“Selamat, anda diterima bekerja di rumah sakit Albana.”

Kabar bahagia itu seketika menjadi kabar duka ketika sang ibu mengungkap sebuah rahasia. Rahasia yang membuat dirinya bagai terhempas ke dasar jurang. Rahasia yang membuat mimpinya hancur berantakan.

Netranya bergerak menatap jas putih yang bertengger rapi di dinding. Ia kembali mengangkat ponsel setelah mengetuk sebuah kontak dengan nama Lovely Doctor.

“Angkat teleponmu, Sam. Please.”

Ia semakin kesal setelah panggilan yang ke dua puluh tak juga menuai respon. Ia kembali menarik napas. Sejenak ia tatap daun pintu dengan sorot tajam. Sebelum ibunya kembali Ia harus membuat keputusan. Ia bukan robot yang bisa seenaknya diatur dan dikontrol. Ini juga sudah bukan zaman Siti Nurbaya dan Laila Majnun.

“Kenapa aku yang harus bertanggung jawab. Salah sendiri tidak bicara dari awal. Baiklah kalau itu mau kalian,” geramnya dongkol.

Ia bergerak cepat meninggalkan ruangan setelah menyambar kunci mobil. Sebuah teriakan tak ia hiraukan. Tak ada yang sanggup menghentikan langkahnya. Seperti tak ada satupun pula yang bisa menghancurkan mimpi-mimpinya. Sebab saat ini ia sendiri yang akan menghancurkan mimpi itu sendiri.

——

Dan disinilah ia berada. Di bawah naungan langit Pengapon yang tampak kelabu. Awan bergulung-gulung di atas sana. Menciptakan suasana kelam dan suram. Sesuram wajahnya saat berjalan di atas kerikil tajam.

Gadis itu tampak lesu, bibirnya pucat, matanya menyorot tajam. Kaca-kaca di matanya hampir saja tumpah kalau ia tak berusaha kuat menahannya.

“Sialan! Selama ini aku ditipu. Dijadikan tumbal demi lunasnya hutang. Klise! Selamanya aku nggak sudi menikah dengan lelaki tua bangka itu,” rutuk gadis yang kini berjalan menuju rel. Ya, melihat dan bertemu sekedar ta’aruf saja tak sudi apalagi menikah. Hatinya sudah tertambat pada pengeran lain. Sebuah nama telah lama menjajah singgasana hatinya.

 Sebenarnya ia terlalu cepat menyimpulkan semuanya, sampai-sampai ia tak tahu ada dua orang yang berjasa membesarkannya jauh lebih terpuruk. Perjanjian untuk mengikat erat tali persahabatan melalui pernikahan hancur. Semua karena putrinya kabur, tak becus membalas budi.

“Ya ya kamu hebat, Ibu, Ayah. Sukses membiayai anakmu hingga jadi dokter. Lalu menyuruhnya membayar hutang. Hahaha.”

Ia tertawa sumbang.

Gadis itu terus berjalan tanpa arah. Lurus saja menuju rel besi memanjang di depannya. Tepat ketika suara bising dari arah depan begitu memekakkan telinga. Keputusasaan telah merenggut jiwa. Tatapannya kosong dan hampa, tapi penuh sandiwara.

“Mari kita lihat siapa yang akan menang,” geramnya dengan wajah merah padam. Ada bara api pada kedua matanya.

Ia biarkan angin mempermainkan rambut panjangnya serta gaun putih yang membalut tubuh rampingnya. Kedua tangan sepucat mayat itu menggenggam erat. Kedua kakinya kini menjejak rel. Seolah hendak menantang makhluk besi terpanjang yang sedang berlari kencang. Dua ribu langkah darinya. Meski begitu dalam hitungan menit siap menghantam. Dari suaranya saja seperti suara sangkakala malaikat pencabut nyawa.

Gadis berbalut gaun pengantin itu tak tahu ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya–di balik jendela kaca di sebuah bangungan bertingkat tak jauh dari rel.

 Mata seperti telaga itu. Mulanya datar, menyipit, lalu membeliak. Menit kemudian teriakan panik tak terelakkan.

“Woiii, stop! Apa kau sudah gila? Jangan bunuh diri! Stop! Astaghfirullah!”

Pemuda berkemeja coklat muda itu reflek berlari kencang. Saking paniknya sampai lupa tak memakai sandal.

Tak ia pedulikan kerikil-kerikil tajam di sepanjang rel menusuk-nusuk telapak kakinya. Juga beberapa wajah polos yang menatapnya penuh khawatir sambil berteriak, “Kak Faris, hati-hati.”

Dalam hitungan detik ia menjelma seperti pelari maraton dan berada di arena sirkuit yang ia tonton dengan para mitranya. Ia harus cepat sampai rel dan menghentikan perbuatan hina dan mengerikan yang sebentar lagi akan terjadi.

“Woi, stop! Ya Allah.”

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI Photo by Michael Fenton

    Melihat dengan Cinta

    • calendar_month Jum, 8 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 477
    • 0Komentar

    Beberapa hari yang lalu saat saya pulang dari bekerja, ada notifikasi pesan whatsapp masuk. Sejenak saya diamkan karena harus mandi dan lainnya. Setelah agak luang, saya mencoba membuka pesan tersebut. Ternyata dari bulek (adiknya bapak) yang mengirimkan sebuah video. Dalam video tersebut memperlihatkan seorang mubaligh tengah memberikan ceramah berupa nasihat agar tak menyimpan dendam sebab […]

  • Selamat Menunaikan Ibadah Puasa. Photo by Abdullah Arif on Unsplash.

    Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

    • calendar_month Rab, 22 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Oleh : Niam At Majha Kamis besok saya dan Anda akan melakukan rutinitas yang tak seperti biasa. Jika saban pagi saya bisa sarapan, dan siang bisa minum jus alpukat dan sore minum kopi dengan teman. Rutinitas harian tersebut akan berubah selama satu bulan penuh. Bisa jadi saya dan Anda akan kaget dengan pergantian tersebut akan […]

  • PCNU-PAT

    Pelajar NU Pati Bersholawat Dimeriahkan Ratusan Kader

    • calendar_month Kam, 9 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 465
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- PATI – Ratusan kader IPNU IPPNU tumpah dalam acara Pelajar NU Pati Bersholawat di halaman gedung PCNU Kabupaten Pati, Rabu (8/3/2023). Acara tersebut digelar dalam rangka peringatan Harlah IPNU ke-69 dan IPPNU ke-68, serta peringatan isro’ mikroj 1444 H. Sholawatan dipimpin oleh Sayyid Nabil bin Nagib Assegaf dari Kudus dan diiringi grub rebana As-Syiap […]

  • Ketika Musa Memukul Laut Merah dengan Tongkat

    Ketika Musa Memukul Laut Merah dengan Tongkat

    • calendar_month Sen, 1 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 463
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami “Apakah kau ingat film The Ten Commandments?”             “Tentu aku ingat. Ada adegan ketika Musa—yang diperankan Charlton Heston—mengangkat tongkatnya, lalu air laut pun terbelah, dan bangsa Israel bisa menyeberang,” ujarnya.             “Padahal di Alkitab tidak demikian,” kata teman saya. “Di Alkitab, Allah berkata kepada Musa, ‘Berbicaralah kepada bangsa Israel dan […]

  • PC GP Ansor Pati Ikuti Apel Kebangsaan Virtual

    PC GP Ansor Pati Ikuti Apel Kebangsaan Virtual

    • calendar_month Ming, 29 Nov 2020
    • account_circle admin
    • visibility 369
    • 0Komentar

    PATI –  PC GP Ansor Pati bertempat di kantor PCNU Pati mengikuti Apel Kebangsaan yang digelar secara virtual oleh Pimpinan Pusat GP Ansor dipimpin langsung oleh Gus Yaqut Cholil Qoumas. Ahad, (29/11/2020) Dalam sambutannya, Gus Yaqut menyampaikan bahwa GP Ansor selalu di depan dalam masalah – masalah kebangsaan dan siap berpartisipasi dalam keamanan dengan membantu […]

  • LP Maarif Purbalingga Lantil 7 Kepala MI dan 2 Kepala Mts

    LP Maarif Purbalingga Lantik 7 Kepala MI dan 2 Kepala Mts

    • calendar_month Kam, 9 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 742
    • 0Komentar

      Purbalingga, kamis, 9 Januari 2025 ketua PC.LP. Maarif NU PCNU Purbalingga H. Torik Jahidin, S.Pd.I., M.Pd.I melantik 7 Kepala MI dan 2 Kepala MTs. Dilaksankan di Gedung Dekopinda Kabupaten Purbalingga. Kegiatan ini kali pertama dilaksanakan pada masa khidamah awal pengurus LP. Maarif NU Purbalingga masa khidmah 2024-2029. Berahirnya masa khidmah Kepala menjadi dasar Pengurus […]

expand_less