Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pesan Literasi Nuzulul Quran

Pesan Literasi Nuzulul Quran

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 6 Mar 2026
  • visibility 10.068
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sekira tahun 610 M dulu, bertepatan 17 Ramadan telah terjadi peristiwa besar yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yaitu Nuzulul Quran di Gua Hira. Telah terjadi turun wahyu pertama kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Allah memerintahkan Kanjeng Nabi untuk membaca, belajar, dan menulis lewat Surat Al-aAlaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt.

 

Kejadian tersebut tak sebatas momentum historis dalam tradisi Islam, namun menjadi momentum “proklamasi intelektual” soal urgensi ilmu pengetahuan bagi peradaban. Seruan untuk membaca menjadi substansi wahyu pertama, dan bukan perintah ritual fisik belaka. Dari aspek teologis, hal ini kompatibel dengan pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi lewat karya jadulnya Tawhid: Its Implications for Thought and Life (1982), menyatakan wahyu (wahy) dan akal (‘aql) merupakan 2 (dua) sumber kebenaran saling melengkapi dalam membentuk integritas umat manusia.

 

Perintah itu langgeng (abadi) dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 yang diawali dengan kata Iqra’ alias bacalah. Idiom tersebut menjadi simbol revolusi literasi. Penegasan penggunaan qalam (pena) dalam ayat itu mengungkap sejak awal Islam mengintegrasikan tradisi lisan dengan tradisi tulisan. Jack Goody dalam buku The Domestication of the Savage Mind (2013), mencoba menjelaskan transisi dari tradisi lisan ke tulisan secara fundamental dapat mengubah struktur kognitif umat manusia. Hal itu juga memungkinkan lahirnya pemikiran lebih rasional, analitis, metodologis, dan sistematis.

 

Literasi: Fondasi Peradaban

Literasi dalam perspektif modern sudah melampaui batas teknis membaca dan menulis saja, apalagi dengan munculnya literasi baru yaitu literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia (Ahmadi & Ibda, 2019). Konsep multiliteracies juga sangat kompatibel seperti di dalam Al-Quran yang digagas Bill Cope & Mary Kalantzis (ed) (2015) lewat A Pedagogy of Multiliteracies: Learning by Design. Studi ini melihat literasi merupakan kemampuan menafsirkan beragam bentuk representasi makna dalam konteks sosial beragam yang tentu sudah diperintahkan Al-Quran jauh-jauh hari. Ini bukti kalau Al-Quran itu kontekstual, relevan, dan melampuai zamannya.

 

Dalam konteks ini, Al-Quran memerintah umat muslim membaca ayat qauliyah (teks suci) sekaligus ayat kauniyah (alam semesta) yang merupakan bentuk literasi holistik yang tak memisahkan teks dari realitas objektif. Bentuk transformasi literasi ini mencakup lima kompetensi utama yaitu membaca, menulis, informasi, kritis, dan digital.

 

Lahirnya kompetensi lima di atas hakikatnya sudah lama berakar pada semangat Iqra’  sesuai perintah pertama Allah dalam Al-Quran melalui momentum Nuzulul Quran. Dalam Islam, membaca tak hanya berupa aktivitas kognitif pasif, namun membaca merupakan proses aktif dalam memahami dunia.

 

Hal ini selaras dengan gagasan Walter J. Ong dalam buku Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (1982) yang menguatkan pendapat ini dengan menjelaskan kemampuan literasi memperluas kapasitas memori umat manusia, memungkinkan akumulasi ilmu pengetahuan lintas generasi yang menjadi prasyarat kemajuan ilmu pengetahuan. Artinya, literasi baru dan modern yang menjadi fondasi peradaban dunia sudah dikonsepkan secara akademis di Al-Quran dan menjadi poros utama karena menjadi perintah pertama kali Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

 

Literasi, Tradisi Islam, dan Spiritualitas

Pandangan bahwa literasi menjadi “alat pembebasan” pada akhirnya menemukan titik temunya melalui teori Paulo Freire dalam buku klasik Pedagogy of the Oppressed (1970). Dalam buku ini, Freire berpandangan literasi sejati merupakan reading the word and reading the world. Literasi pada intinya tak sebatas mengeja huruf, namun menjadi alat membebaskan manusia dari ketidaktahuan, kebodohan, dan kejumudan.

 

Substansi Iqra’ mempunyai napas sama, yaitu ia turun di tengah kegelapan jahiliyah tak sekadar memberikan teks baru, namun dalam rangka memberikan kacamata baru bagi manusia dalam melihat ketidakadilan dan kebodohan di sekitarnya. Perintah ini melahirkan zaman keemasan Islam sebagai bentuk bahwa Islam sangat kuat dengan tradisi keilmuan.  Sebut saja tradisi literasi yang kuat memungkinkan tokoh besar Ibn Khaldun dan Ibn Sina menjembatani gagasan Yunani kuno dengan sains modern dan kontemporer. Hal ini membuktikan tesis Marshall McLuhan dalam karyanya The Gutenberg Galaxy (1962) yang mempertegas medium tulisan menciptakan ruang untuk pemikiran individual yang mendalam dan objektif, menjadi motor penggerak bagi inovasi peradaban dunia.

 

Sementara itu, dimensi spiritual dan intelektual dalam tradisi Islam tak lepas pula dari tradisi literasi dalam Al-Quran. Melalui budaya tradisi intelektual Islam, literasi merupakan jembatan menuju makrifat. Imam Al-Ghazali lewat Ihya’ Ulum al-Din menegaskan ilmu adalah nur (cahaya) yang diletakkan Allah di dalam hati. Artinya, tanpa literasi yang benar, nur itu akan tertutup oleh kabut prasangka yang buruk. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga memberikan pandangan, bahwa penguasaan ilmu pengetahuan sebagai indikator prioritas dalam kemakmuran bangsa. Bagi Ibnu Khaldun, runtuhnya suatu peradaban sering kali diawali dengan apatisnya masyarakat pada tradisi litersi, budaya belajar dan berpikir kritis.

 

Nuzulul Quran pada Ramadan 1447 H ini harus menjadi wahana refleksi untuk meninjau sejauh mana kedekatan kita dengan “pena” dan “buku/kitab”. Dalam Islam, literasi merupakan manifestasi dari penghambaan kepada Allah dan sekaligus bentuk pengabdian kepada kemanusiaan melalui ilmu pengetahuan.

 

Tantangan literasi di tengah banjir informasi saat ini makin kompleks dan njelehi. Umat Islam tentunya menghadapi apa yang disebut Howard Rheingold dalam buku Net Smart: How to Thrive Online (2012) sebagai kebutuhan akan crap detection (deteksi omong kosong) dan digital literacy (literasi digital). Berapa juta orang membaca dengan cepat, namun masih dangkal. Ini adalah fenomena yang dikritik tajam Nicholas Carr lewat karyanya, The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2014) yang menegaskan teknologi digital bisa mengikis kompetensi manusia dalam berpikir mendalam (deep thinking).

 

Pertanyaannya, apakah Nuzulul Quran hanya akan menjadi sebuah peringatan dan ritus religius belaka?

–Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selamatkan Kader NU dari Ideologi Radikal

    Selamatkan Kader NU dari Ideologi Radikal

    • calendar_month Jum, 26 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 453
    • 0Komentar

    Pati. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU mengadakan seminar terkait ideologi Radikal, acra bertempat di gedung NU lantai 3 dengan menghadirkan pemateri Dr. Jamal Makmur Asmani, 21/5 kemarin. Dr. Jamal menjelaskan, Kader kader muda NU harus diselamatkan dari bahaya ideologi radikal yang terus menyerang kader bangsa. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan, Pertama, mengokohkan paham Aswaja Annahdliyyah […]

  • Photo by Mufid Majnun

    Hari Raya Idul Fitri Momentum untuk Saling Memaafkan

    • calendar_month Sab, 20 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 459
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Setelah menjalankan Ibadah Ramadan selama sebulan penuh, tiba saatnya umat Muslim di penjuru dunia merayakannya dengan kemenangan yang kita kenal dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri atau yang lebih terkenal dengan sebutan lebaran. Datangnya Idul Fitri ini, tentunya disambut dengan penuh suka-cita oleh seluruh umat Muslim untuk merayakannya dengan cara beranekaragam. […]

  • PCNU-PATI

    Ramadan bersama Hamidulloh Ibda

    • calendar_month Sen, 8 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 430
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Tidak ada yang menyuruh, meminta, atensi, apalagi intimidasi. Semua tulisan yang saya kirim di NU Online Pati (pcnupati.or.id) murni karena saya sendiri. Bergerak karena ingin bergerak. Terdorong karena dorongan sendiri. Semua tergerak sendiri sehingga saya bisa menulis 30 artikel full selama bulan Ramadan tahun ini. Di tengah hiruk pikuk kesibukan dunia modern, […]

  • ​Ketua PCNU Pati: Istighotsah Itu Semacam 'Demo' kepada Allah

    ​Ketua PCNU Pati: Istighotsah Itu Semacam ‘Demo’ kepada Allah

    • calendar_month Jum, 5 Jun 2026
    • account_circle admin
    • visibility 15.822
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id – PLT Bupati Pati, Risma Ardhi Candra bersama dengan Ormas yang ada di Kabupaten Pati menggelar Istighotsah dan doa bersama di Pendopo Kabupaten Pati. Agenda ini dilaksanakan pada Jumat (5/6) malam. Dalam agenda itu, Risma menyebut anggaran yang tepat sasaran adalah tanggung jawab besar. Maka, dalam beberapa pengerjaan proyek infrastruktur yang telah dimulai sejak […]

  • Awali Puasa dengan Puasa

    Awali Puasa dengan Puasa

    • calendar_month Sab, 1 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

      Oleh Hamidulloh Ibda*   Pada tulisan pertama ini, saya ingat pesan kiai saya “Nek pengen pasa Ramadanmu lancar ya pasa disek”. Artinya, jika ingin puasa Ramadanmu lancar, maka kamu harus berpuasa terlebih dahulu. Hal ini menegaskan bahwa puasa harus diawali dengan puasa. Apa maksudnya? Ya, normalnya sih mengawali sesuai itu dengan bacaan ta’awuz dan […]

  • Dari Pojok Pati hingga ke Panggung TV - PCNU PATI

    Dari Pojok Pati hingga ke Panggung TV

    • calendar_month Sen, 4 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 515
    • 0Komentar

    Pati – Lolos di panggung semegah AKSI Indosiar masih menjadi kabar yang cukup mengejutkan bagi Alif Silfia Luthfiyah. Pasalnya, dara asal Kecamatan Pucakwangi, Kabupaten Pati itu menganggap bahwa AKSI berisi orang-orang hebat dari seluruh Indonesia. Ia masih tak menyangka mampu lolos menjadi 24 besar. “Persaingannya sangat ketat. Semua peserta memiliki ciri khas dan dukungan yang […]

expand_less