Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Pesan Literasi Nuzulul Quran

Pesan Literasi Nuzulul Quran

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 6 Mar 2026
  • visibility 9.951
  • comment 0 komentar

 

Oleh Hamidulloh Ibda

 

Sekira tahun 610 M dulu, bertepatan 17 Ramadan telah terjadi peristiwa besar yang dialami Kanjeng Nabi Muhammad Saw, yaitu Nuzulul Quran di Gua Hira. Telah terjadi turun wahyu pertama kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Allah memerintahkan Kanjeng Nabi untuk membaca, belajar, dan menulis lewat Surat Al-aAlaq ayat 1-5 sebagai wahyu pertama yang diturunkan Allah Swt.

 

Kejadian tersebut tak sebatas momentum historis dalam tradisi Islam, namun menjadi momentum “proklamasi intelektual” soal urgensi ilmu pengetahuan bagi peradaban. Seruan untuk membaca menjadi substansi wahyu pertama, dan bukan perintah ritual fisik belaka. Dari aspek teologis, hal ini kompatibel dengan pemikiran Ismail Raji Al-Faruqi lewat karya jadulnya Tawhid: Its Implications for Thought and Life (1982), menyatakan wahyu (wahy) dan akal (‘aql) merupakan 2 (dua) sumber kebenaran saling melengkapi dalam membentuk integritas umat manusia.

 

Perintah itu langgeng (abadi) dalam QS. Al-‘Alaq ayat 1–5 yang diawali dengan kata Iqra’ alias bacalah. Idiom tersebut menjadi simbol revolusi literasi. Penegasan penggunaan qalam (pena) dalam ayat itu mengungkap sejak awal Islam mengintegrasikan tradisi lisan dengan tradisi tulisan. Jack Goody dalam buku The Domestication of the Savage Mind (2013), mencoba menjelaskan transisi dari tradisi lisan ke tulisan secara fundamental dapat mengubah struktur kognitif umat manusia. Hal itu juga memungkinkan lahirnya pemikiran lebih rasional, analitis, metodologis, dan sistematis.

 

Literasi: Fondasi Peradaban

Literasi dalam perspektif modern sudah melampaui batas teknis membaca dan menulis saja, apalagi dengan munculnya literasi baru yaitu literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia (Ahmadi & Ibda, 2019). Konsep multiliteracies juga sangat kompatibel seperti di dalam Al-Quran yang digagas Bill Cope & Mary Kalantzis (ed) (2015) lewat A Pedagogy of Multiliteracies: Learning by Design. Studi ini melihat literasi merupakan kemampuan menafsirkan beragam bentuk representasi makna dalam konteks sosial beragam yang tentu sudah diperintahkan Al-Quran jauh-jauh hari. Ini bukti kalau Al-Quran itu kontekstual, relevan, dan melampuai zamannya.

 

Dalam konteks ini, Al-Quran memerintah umat muslim membaca ayat qauliyah (teks suci) sekaligus ayat kauniyah (alam semesta) yang merupakan bentuk literasi holistik yang tak memisahkan teks dari realitas objektif. Bentuk transformasi literasi ini mencakup lima kompetensi utama yaitu membaca, menulis, informasi, kritis, dan digital.

 

Lahirnya kompetensi lima di atas hakikatnya sudah lama berakar pada semangat Iqra’  sesuai perintah pertama Allah dalam Al-Quran melalui momentum Nuzulul Quran. Dalam Islam, membaca tak hanya berupa aktivitas kognitif pasif, namun membaca merupakan proses aktif dalam memahami dunia.

 

Hal ini selaras dengan gagasan Walter J. Ong dalam buku Orality and Literacy: The Technologizing of the Word (1982) yang menguatkan pendapat ini dengan menjelaskan kemampuan literasi memperluas kapasitas memori umat manusia, memungkinkan akumulasi ilmu pengetahuan lintas generasi yang menjadi prasyarat kemajuan ilmu pengetahuan. Artinya, literasi baru dan modern yang menjadi fondasi peradaban dunia sudah dikonsepkan secara akademis di Al-Quran dan menjadi poros utama karena menjadi perintah pertama kali Allah kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

 

Literasi, Tradisi Islam, dan Spiritualitas

Pandangan bahwa literasi menjadi “alat pembebasan” pada akhirnya menemukan titik temunya melalui teori Paulo Freire dalam buku klasik Pedagogy of the Oppressed (1970). Dalam buku ini, Freire berpandangan literasi sejati merupakan reading the word and reading the world. Literasi pada intinya tak sebatas mengeja huruf, namun menjadi alat membebaskan manusia dari ketidaktahuan, kebodohan, dan kejumudan.

 

Substansi Iqra’ mempunyai napas sama, yaitu ia turun di tengah kegelapan jahiliyah tak sekadar memberikan teks baru, namun dalam rangka memberikan kacamata baru bagi manusia dalam melihat ketidakadilan dan kebodohan di sekitarnya. Perintah ini melahirkan zaman keemasan Islam sebagai bentuk bahwa Islam sangat kuat dengan tradisi keilmuan.  Sebut saja tradisi literasi yang kuat memungkinkan tokoh besar Ibn Khaldun dan Ibn Sina menjembatani gagasan Yunani kuno dengan sains modern dan kontemporer. Hal ini membuktikan tesis Marshall McLuhan dalam karyanya The Gutenberg Galaxy (1962) yang mempertegas medium tulisan menciptakan ruang untuk pemikiran individual yang mendalam dan objektif, menjadi motor penggerak bagi inovasi peradaban dunia.

 

Sementara itu, dimensi spiritual dan intelektual dalam tradisi Islam tak lepas pula dari tradisi literasi dalam Al-Quran. Melalui budaya tradisi intelektual Islam, literasi merupakan jembatan menuju makrifat. Imam Al-Ghazali lewat Ihya’ Ulum al-Din menegaskan ilmu adalah nur (cahaya) yang diletakkan Allah di dalam hati. Artinya, tanpa literasi yang benar, nur itu akan tertutup oleh kabut prasangka yang buruk. Ibn Khaldun dalam Muqaddimah juga memberikan pandangan, bahwa penguasaan ilmu pengetahuan sebagai indikator prioritas dalam kemakmuran bangsa. Bagi Ibnu Khaldun, runtuhnya suatu peradaban sering kali diawali dengan apatisnya masyarakat pada tradisi litersi, budaya belajar dan berpikir kritis.

 

Nuzulul Quran pada Ramadan 1447 H ini harus menjadi wahana refleksi untuk meninjau sejauh mana kedekatan kita dengan “pena” dan “buku/kitab”. Dalam Islam, literasi merupakan manifestasi dari penghambaan kepada Allah dan sekaligus bentuk pengabdian kepada kemanusiaan melalui ilmu pengetahuan.

 

Tantangan literasi di tengah banjir informasi saat ini makin kompleks dan njelehi. Umat Islam tentunya menghadapi apa yang disebut Howard Rheingold dalam buku Net Smart: How to Thrive Online (2012) sebagai kebutuhan akan crap detection (deteksi omong kosong) dan digital literacy (literasi digital). Berapa juta orang membaca dengan cepat, namun masih dangkal. Ini adalah fenomena yang dikritik tajam Nicholas Carr lewat karyanya, The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2014) yang menegaskan teknologi digital bisa mengikis kompetensi manusia dalam berpikir mendalam (deep thinking).

 

Pertanyaannya, apakah Nuzulul Quran hanya akan menjadi sebuah peringatan dan ritus religius belaka?

Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung 2025-2029, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah 2024-2029, Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah 2025-2027, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Lokal (LPPL) Temanggung TV 2024-2028, Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Temanggung 2025-2029.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bersyukur Ketika Gagal

    Bersyukur Ketika Gagal

    • calendar_month Jum, 16 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 390
    • 0Komentar

      Banyak orang ingin menjadi yang pertama dalam hal apa saja. Bahkan tak sedikit orang  ingin menjdi “ter..” baik terkaya, terkeren, tersehat, tertampan maupun “ter..” yang lain. Meski demikian, di zaman seperti zaman sekarang ini, belum tentu kita berhasil menjadi yang “ter..” di antara sekian banyak manusia yang ada di dunia. Itulah sebabnya kita harus […]

  • PCNU Pati Temukan Siswa Mokel Puasa dengan Menu MBG

    PCNU Pati Temukan Siswa Mokel Puasa dengan Menu MBG

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.158
    • 0Komentar

      Pati – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pati menemukan sejumlah siswa mokel atau membatalkan puasa Ramadan dengan menu makan bergizi gratis (MBG). Ketua PCNU Pati KH Yusuf Hasyim mengatakan temuan ini terjadi di beberapa sekolahan di Kabupaten Pati. Mulai dari tingkatan SD, SMP hingga SMA. Para siswa makan setelah mendapatkan menu MBG. ”Mohon […]

  • K. Shofii Resmi Pimpin NU Gabus, Programnya Keren!

    K. Shofii Resmi Pimpin NU Gabus, Programnya Keren!

    • calendar_month Sab, 19 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 634
    • 0Komentar

    K. Yusuf Hasyim (kanan), ketua PCNU Pati memberikan sambutan dalam acara Konferensi MWC NU Gabus, Jumat (18/3) kemarin. GABUS – Sah! MWC NU Kecamatan Gabus resmi ganti pemimpin setelah melakukan konferensi pada Jumat (18/3) kemarin. MWC NU Gabus di bawah kepemimpinan KH. Syaifullah, telah berakhir tahun ini. KH. Moh. Shofii yang menjadi penerus perjuangan pengurus […]

  • PCNU-PATI

    PAC IPNU IPPNU se-Kawedanan Juwana Kompak Rayakan Harlah Bersama

    • calendar_month Sen, 6 Mar 2023
    • account_circle admin
    • visibility 513
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- TRANGKIL – PAC IPNU IPPNU se-Kawedanan Juwana, meliputi Trangkil, Wedarijaksa, Juwana, dan Batangan kompak mengadakan peringatan Harlah IPNU ke-69 dan Harlah IPPNU ke-68 bersama. Kegiatan dipusatkan di Pondok Tahfidz Darul Hikmah Usmaniyyah Kertomulyo, Trangkil, Pati, pada Minggu (5/3/2023). Acara dimulai dengan pemotongan tumpeng dan sarasehan bersama alumni pada siang hingga sore hari. Kemudian dilanjut […]

  • NU Ranting Kajen Gelar Khitan Massal

    NU Ranting Kajen Gelar Khitan Massal

    • calendar_month Sel, 28 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 476
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Puluhan anak mengikuti khitan massal di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Senin (27/1/2025). Khitan massal ini digelar oleh Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Kajen dalam rangka peringatan Isra Miraj Nabi Muhamad SAW dan Hari Lahir (Harlah) ke-102 NU. Anak-anak ini tampak antusias mengikuti sunatan massal. Sebelum dikhitan, mereka diarak keliling desa menggunakan […]

  • Ilustrasi Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan - PCNU PATI. Photo by Openverse.

    Dakwah Islam Nusantara Melalui Kebudayaan

    • calendar_month Ming, 10 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 331
    • 0Komentar

    (Aku tidak utus engkau Muhammad kecuali untuk mengasihi alam semesta) Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin. Islam mengajarkan kita untuk senantiasa menjunjung dan menebarkan cinta sebagai sumber bagi ekspresi-ekspresi etika, rahman, rahim dan kemanusiaan universal kepada seluruh makhluknya tanpa kecuali. Sehingga, esensi dari rahmatan lil alamin adalah memberikan bentuk kelembutan dalam bergaul dan menyayangi […]

expand_less