Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Islam dan Modernitas

Islam dan Modernitas

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 22 Jul 2021
  • visibility 348
  • comment 0 komentar

 Oleh : Miftahus Salam*

Modernitas (kemodernenan) adalah salah satu masalah paling krusial yang dihadapi oleh umat Islam abad ini. Pasalnya sampai saat ini umat Islam selalu diidentikkan dengan kelompok yang berseberangan dengan modernitas. Bahkan ada yang membuat kesan bahwa Islam tidak cocok dengan modernitas.

Isu-isu terkait modernitas menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam, terutama dalam bidang sosial, politik, ekonomi dan tekhnologi. Dalam berbagai bidang tersebut, umat Islam mengalami keterbelakangan dibanding bangsa-bangsa lain. Menurut Hassan Hanafi terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi umat Islam tertinggal dengan bangsa-bangsa lain, diantaranya adalah persoalan Imperialisme. Imperialisme (Penjajahan Bangsa-Bangsa Barat), dengan format baru yang menggunakan modus petualangan ekonomi multinasional dan westernisasi kebudayaan telah mematikan semangat kreatifitas bangsa-bangsa Islam serta telah mencabut umat Islam dari akar kesejarahannya.

Selanjutnya adalah persoalan zionisme, gerakan yahudi untuk menghancurkan umat Islam. Gerakan ini tak henti-hentinya menghancurkan Islam, sehingga menjadi bahaya laten bagi Islam serta umatnya. Dan terakhir adalah persoalan kapitalisme. Kapitalisme ini bukan saja bahaya bagi pengikutnya, tapi juga bagi masyarakat Islam, kelompok ini akan menimbulkan masyarakat kelas dan kekuasaan berada pada orang yang menguasai modal, mereka tidak segan mengobarkan perang dan memproduksi senjata, selama kepentingan mereka tetap eksis.

Modernitas ini datang dari bangsa yang orang Islam terbiasa untuk menghinanya, yaitu bangsa barat. Menurut Nurchalis Madjid (Cak Nur) alasan inilah yang membuat umat Islam secara psikologis sulit untuk menerimanya. Hal ini bukan tanpa dasar, pasalnya doktrin-doktrin tentang anti barat, bahwa bangsa barat merupakan musuh umat Islam selalu digulirkan, ditambah lagi sejarah tentang penindasan bangsa barat terhadap bangsa umat Islam menjadi semakin kuat.

Sebenarnya peradaban umat Islam pernah mengalami kejayaan di masa kekhalifahan Umayyah dan Abasiyyah. Banyak ilmu pengetahuan dan tekhnologi ditemukan oleh umat Islam pada masa ini. Namun umat Islam mengalami kemunduran pada abad ke-12, dikarenakan umat Islam telah menutup pintu Ijtihad. Padahal menurut Cak Nur Ijtihad inilah yang sebetulnya membuat umat Islam berpikir lebih kreatif dan proaktif. Selanjutnya, dengan ditutupnya pintu ijtihad ini, maka yang kemudian muncul di dunia ilmu pengetahuan Islam ialah tradisi menghafal.

Hafal dari bahasa Arab ‘hafizha’, artinya memelihara. Jadi menghafal itu sebetulnya hanya tindakan memelihara yang sudah ada, tidak kreatif. Budaya menghafal inilah yang membuat sebagian besar peradaban umat Islam saat ini mengalami kemandekan.

Peradaban dan Modernitas

Pada umumnya kita telah terjebak terhadap pandangan bahwa modernisasi adalah westernisasi, artinya, bahwa modern merupakan segala sesuatu yang berasal dari barat. Bukan tanpa alasan, menurut Aly Syari’ati, selama 150 tahun yang lalu sebenarnya bangsa barat telah menjalankan tugas “memodernenan” manusia dengan semangat misionaris. Semua bangsa non-barat ditempatkan pada hubungan yang kuat terhadap barat dan peradaban barat, serta akan mengubah mereka menjadi bangsa-bangsa modern. Dengan kedok “memberadabkan” bangsa-bangsa serta menyertai mereka dengan kebudayaan, bangsa barat menghadiahkan mereka  “modernitas”. Menurut Aly Syari’ati, seharusnya para kaum intelektual Islam sedari awal memahami perbedaan mendasar antara peradaban dan modernitas. Tetapi para kaum terpelajar umat Islam gagal memahami masalah ini selama 150 tahun proses “modernisasi” oleh barat terhadap bangsa-bangsa umat Islam. Maka bisa dilihat sampai saat ini, pengertian “peradaban” dan “modernitas” selalu diidentikkan dengan barat.

Sependapat dengan Ali Syari’ati, Cak Nur memberi pengertian modernisasi bukanlah westernisasi, melainkan “rasionalisasi”. Artinya, bahwa modernisasi merupakan cara berfikir dan bekerja menurut fitrah atau sunnatullah, dan mampu melahirkan ilmu pengetahuan, sedang ilmu pengetahuan diperoleh dengan menggunakan akal (rasio).

Terdapat anggapan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada batasannya, kecuali kita sendiri yang membatasinya. Dan setiap batasan dapat ditembus dengan sikap kreatif, yaitu kemampuan menembus perbatasan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang biasa dilakukan oleh umat Islam terdahulu.

Menurut Ali Syari’ati modernitas merupakan metode paling baik untuk menyesatkan dunia non-barat dari segala susunan dan bentuk pemikiran kepribadian mereka sendiri. Dengan iming-iming modernisasi orang-orang non-barat akan menolak masa lampaunya sendiri, menodai dan menghancurkan dengan tangannya sendiri unsur pokok kebudayaan, agama  dan kepribadiannya yang unik. Dan pada akhirnya menjadi termodernkan dipandang sebagai menjadi seperti orang Eropa.

Modernitas Umat Islam

Tidak selamanya pengertian modernitas bisa dipahami dengan menggunakan sudut pandang ala barat. Pasalnya tidak semua yang ada di barat bisa diterapkan di belahan dunia lain, kecuali dengan memaksakannya dan mematikan kebudayaan setempat. Dan hal semacam inilah yang saat ini sedang dilakukan oleh barat.

Satu-satunya jalan untuk menuju modernisasi Islam adalah dengan mamaksimalkan ijtihad, seperti yang biasa dilakukan oleh umat Islam terdahulu. Menurut Muhammad Iqbal di dalam berbagai argumentasinya, sebenarnya umat Islam tidak perlu mengacu pada barat untuk menjadi sebuah bangsa yang modern, menurutnya di dalam agama Islam sudah sangat lengkap untuk dijadikan dasar sebagai jalan untuk menjadi bangsa yang modern. Tentunya, hal ini bisa dilakukan jika umat Islam mampu memaksimalkan rasionya dan sedikit demi sedikit meninggalkan budaya menghafal.

Menurut Cak Nur, sebenarnya sudah banyak usaha yang telah dilakukan untuk mewujudkan modernisasi di kalangan umat Islam, termasuk yang telah dilakukan oleh Muhammad ‘Abduh, Rasyid Ridha, Muhammad Iqbal dan lain sebagainya. Akan tetapi sampai saat ini umat Islam belum berhasil menjadi bangsa modern. Dalam penilaian Cak Nur, hal ini disebabkan, karena kemodernenan itu tidak tumbuh secara organik dari sebagaian besar kalangan umat islam itu sendiri.

Untuk mengubah keadaan umat Islam dalam menghadapi zaman modern, Hassan hanafi menawarkan delapan model rekontruksi. Antara lain, Pertama, dari Tuhan ke bumi, yang dimaksud Hassan hanafi adalah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta diimplementasikan dalam bentuk pengolahan bumi sebagai sumber kehidupan manusia. Kedua, dari keabadian ke waktu, maksudnya disini yang dimaksud keabadian adalah kehidupan setelah dunia (akhirat), dalam hal ini Hassan hanafi menjelaskan bahwasannya pembangunan tidak akan berlangsung jika berorientasi keabadian, karena pembangunan berarti tahapan-tahapan dalm waktu yang harus diikuti sesuai perencanaan. Ketiga, dari takdir ke kehendak bebas, maksudnya adalah dalam pembangunan hendaknya prioritas difokuskan kepada usaha dan kehendak bebas manusia, bukan semata-mata kepada takdir Tuhan. Keempat, dari otoritas ke akal, Hassan hanafi mendorong umat Islam agar mendayagunakan akal, sampai-sampai ia mengatakan “Akal sama dengan wahyu dan keduanya sama dengan alam”. Kelima, dari teori ke tindakan, ia mengatakan bahwa dalam Islam perbuatan yang baik merupakan satu-satunya menifestasi iman, iman tanpa tindakan adalah omong kosong. Dengan tegas ia mengatakan bahwa tindakan yang benar adalah yang didasarkan pada teori yang salah adalah lebih baik daripada teori yang benar tanpa tindakan. Keenam, dari kharisma ke partisipasi massa, umumnya di dunia ketiga proses pembangunan dikendalikan oleh pemimpin yang kharismatis tanpa memandang partisipasi massa. Dalam hal ini Hassan hanafi memandang perlu perubahan orientasi dari kepemimpinan kharismatis menuju komunitas massa, seperti shalat berjamaah bernilai lebih besar daripada salat sendiri. Ketujuh, dari jiwa ke tubuh, Hasan Hanafi lebih cenderung eksoteris dalam memandang manusia, masalah tubuh menurutnya adalah masalah utama di dunia ketiga, yakni kelaparan, kekeringan, perumahan, transportasi dan sebagainya. Kedelapan, dari eskatologi ke futurologi, eskatologi berarti masa depan dunia, manusia harus mempersiapkan diri untuk sebuah masa depan yang baikdan membuat dunia ini menjadi dunia yang sebaik-baiknya. Jika delapan model rekonstruksi ini mampu diterapkan oleh sebagian umat Islam, maka tidak ada kekhawatiran lagi bagi umat Islam dalam menghadapi zaman modern.

*Miftahus Salam, Pengurus PC IPNU Pati, Pengurus PW IPNU Jateng,Wartawan lingkar Jateng dan Lingkar.co

 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nahdlatul Ulama: Menjaga Keberagaman dan Membangun Toleransi di Indonesia

    Nahdlatul Ulama: Menjaga Keberagaman dan Membangun Toleransi di Indonesia

    • calendar_month Sab, 25 Jan 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.131
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto Nahdlatul Ulama (NU) selama ini yang kita kenal merupakan salah satu organisasi sosial kemasyarakatan yang konsen dalam dalam merangkul semua elemen masyarakat tanpa memandang strata sosial masyarakat. Pendekatan inklusif ini telah menjadikannya sebagai salah satu kekuatan utama dalam membangun solidaritas dan kerukunan di Indonesia. Sejak berdirinya, NU mengedepankan prinsip-prinsip toleransi, moderasi, dan […]

  • Bilik Bilik Pesantren

    Bilik Bilik Pesantren

    • calendar_month Sen, 11 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Membaca pesantren dalam paradigma modernis merupakan sebuah kajian yang sangat urgen sekaligus menarik. Karena, kita bisa mengetahui sejauh mana gaung pesantren dalam menghadapi cakrawala kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Hal itu juga bisa dihadapkan dengan kritikan-kritikan yang muncul terhadap pesantren. Kritikan berupa kredibilitasnya sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional Nusantara dalam menghadapi kemajuan teknologi dan merespon persoalan-persoalan kontemporer yang jamak […]

  • Santri Milineal, KH Abdullah Umar Fayumi (Gus Umar)

    Santri Milineal, KH Abdullah Umar Fayumi (Gus Umar)

    • calendar_month Kam, 10 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 774
    • 0Komentar

    Gus Umar, panggilan akrab KH Abdullah Umar Fayumi, adalah Putra pasangan KH Ahmad Fayumi Munji Dan Nyai Hj. Yuhanidz Fayumi. Kedua orangtuanya adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Kajen Tengah, Margoyoso, Pati yang nasabnya tersambung kepada waliyullah Syaikh Ahmad Mutamakkin. Bapaknya, KH Ahmad Fayumi Munji, adalah aktivis NU Pati dan Jawa Tengah. Selain pernah menjadi […]

  • DIANPINRU Selenggarakan Kemah Hari Santri

    DIANPINRU Selenggarakan Kemah Hari Santri

    • calendar_month Sab, 22 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id SAKOMA Maarig Cabang Pati, menyelenggarakan Kemah DIANPINRU dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, bertempat di SMKNU Margorejo Pati, 21- 22 Oktober. Dalam sambutannya Ketua LP Ma’arif Cabang Pati Drs.H. Ah. Adib Al Arif, MAg mengemukakan, “Kalian adalah Pramuka terpilih dari MTs SE Kab. Pati. Maka semangatlah mengikuti kegiatan ini. Apalagi kegiatan ini menjadi bagian […]

  • PCNU PATI - Semua PAC IPNU/IPPNU bakal Dibekali Skill Persidangan

    Semua PAC IPNU/IPPNU bakal Dibekali Skill Persidangan

    • calendar_month Rab, 8 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 503
    • 0Komentar

    PATI – Pimpinan Cabang (PC) IPNU IPPNU Kabupaten Pati menyelenggarakan program pelatihan persidangan untuk Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Pati. Wakil Ketua I PC IPNU Pati, Ahmad Khoirul Anam menjelaskan bahwa pendidikan dan pelatihan (diklat) ini bermula dari banyaknya kader-kader dari PAC yang belum mengetahui tentang teknis persidangan, terkhusus pada saat Konferensi Anak Cabang (Konferancab) […]

  • Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

    Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

    • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 7.858
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Suluk Maleman memasuki edisi 169 yang bertepatan ulang tahunnya yang ke -14, sengaja memilih tema ‘Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan’. Tema ini bukan hanya respon terhadap kondisi aktual peradaban global, tapi sekaligus mewakili konsistensi Suluk Maleman yang selama 14 tahun tanpa jeda terus menerus mengajak masyarakat untuk merenung tentang diri dan lingkangannya. […]

expand_less