Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
  • visibility 7.950
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id Suluk Maleman memasuki edisi 169 yang bertepatan ulang tahunnya yang ke -14, sengaja memilih tema ‘Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan’. Tema ini bukan hanya respon terhadap kondisi aktual peradaban global, tapi sekaligus mewakili konsistensi Suluk Maleman yang selama 14 tahun tanpa jeda terus menerus mengajak masyarakat untuk merenung tentang diri dan lingkangannya. tepat pada Sabtu (24/1) malam. Selama 169 episode, ngaji budaya yang diinisiasi Anis Sholeh Ba’asyin itu konsisten mengajak masyarakat untuk merenung.
Dalam pengajian yang di gelar kemarin, Sabtu (24/1), Anis Sholeh Ba’asyin kembali menyuarakan pentingnya setiap individu menemukan suluh di tengah peradaban yang kian carut marut. Peradaban yang semakin mengabaikan aturan dan hukum; dan diganti dengan kuasa dan kekuatan.
“Bahkan peradaban kita untuk disebut dikendalikan hukum rimba, tak layak. Hukum rimba itu berjalan sesuai tatanan alamiah yang pasti dan tetap, sesuai dengan sunatullah. Semua penghuninya tunduk pada tatanan tersebut. Bahkan istilah raja hutan itu sebenarnya tidak pernah ada faktanya, itu hanya istilah yang diciptakan oleh manusia saja,” ujar Anis membuka dialog.
Anis kemudian menjelaskan bahwa istilah tersebut muncul karena menurut persepsi manusia, yang kuatlah yang berkuasa, sehingga singa atau harimau yang dibayangkan manusia sebagai binatang paling buas, lantas dinobatkan sebagai raja hutan. Istilah ini diam-diam hanya menunjukkan kecenderungan manusia itu sendiri, bukan kenyataan di hutan.
“Oleh karena itu, tak mengherankan bila tatanan dan hukum yang dibuat manusia, acap mengabdi pada kelompok yang kuat dan menindas yang lemah. Tatanan yang nyaris berjalan tanpa kepastian dan sewaktu-waktu bisa berubah mengikuti keinginan mereka yang memegang kekuasaan. Inilah yang dari waktu ke waktu memproduksi kegelapan. Kegelapan yang akhir-akhir ini nyaris mencapai kesempurnaannya dan mengancam kelangsungan hidup kita semua,”
Dalam kondisi semacam ini, budayawan asal Pati itu menegaskan pentingnya memaksimalkan kembali fungsi dzikir, tafakur, dan akal. Dengan ketiga metode tersebut, diharap manusia bisa mendapatkan bimbingan dan cahaya untuk laku hidupnya.
“Tiga metode tersebut harus dilakukan terus menerus agar kita tidak tertarik ke kegelapan. Bukankah Allah lewat Al Qur’an selalu mengingatkan tentang pentingnya afala tadzakkarun, afala tatafakkarun, afala ta’qilun?” pantik Anis.
Bagi Anis, dzikir memiliki arti mengingat atau mengenang. Mengingat atau mengenang itu selalu merujuk pada sesuatu yang pernah dialami. Kenangan paling jauh ruh kita adalah sebelum dia ditiupkan ke jasad. Yakni di alam yang oleh para sufi disebut alam alastu, di mana kita diminta persaksian alastu birobbikum, bukankah Aku ini pembimbingmu?
“Kenangan terjauh kita adalah pertemuan kita dengan kehadiran wajah Allah sebagai pembimbing, sebagai guru, sebagai penuntun. Esensi berdzikir adalah mengundang kembali kenangan bahwa hidup kita harus selalu berada dalam bimbinganNya,” terang dia.
Menurut Anis, fungsi utama dzikir adalah mengingatkan manusia bahwa hidupnya tidak akan beres tanpa bimbingan-Nya.
“Makna Rabb itu mencakup pengertian pembimbingan secara bertahap. Dari satu tahap ke tahap lanjutnya. Semua ini mengandaikan bahwa tanpa bimbinganNya, apa pun perangkat dan metode yang kita pakai tak akan menjamin kelurusan tujuan hidup kita. Kegelapan yang saat ini menutup kita, bisa dipastikan sebagai produk pengabaian terhadap bimbinganNya,” ujar Anis.
Kemudian Anis menjelaskan metode kedua, yakni tafakur. Tafakur adalah merenung, dalam kaitan merenungkan pola dan gejala kejadian di dunia. Hasilnya adalah hikmah atau pemaknaan. Oleh karena itu, ayat afala tatafakkarun, lebih tepat dimaknai “apakah tak kau renungkan?
Dengan banyak merenung, imbuh Anis, pada titik terjauhnya manusia akan menyadari bahwa tidak mungkin mengklaim kebenaran bagi dirinya; karena kebenaran sepenuhnya dari dan selamanya milik Allah.
“Sulit untuk lurus itu bawaan manusia. Tanpa banyak bertafakur, kita cenderung lalai dan celaka. Apalagi bila memiliki kuasa, maka semakin berkuasa semakin merasa bisa berbuat apa saja karena merasa benar, merasa sudah menjalankan kebenaran,” imbuh dia.
Dengan tafakur manusia akan menyadari bahwa dia punya kemungkinan besar untuk, karena itu setiap saat dia butuh bimbingan agar tak sesat.
Setelah dzikir dan tafakur, metode ketiga adalah taqilun. Dalam pandangan Anis, ayat afala ta’qilun lebih tepat dimaknai “apakah kamu tak menyimpulkan?” Karena salah satu makna aql dalam bahasa Arab adalah simpul. Jika kita selalu mengingat Allah sebagai pembimbing, kemudian banyak bertafakur untuk menemukan hikmah, maka kita akan lebih punya ketepatan dalam menyimpulkan.
Pengambilan kesimpulan itu membutuhkan kelengkapan data dan tahapan yang berjenjang. Tidak boleh ada lompatan dalam menyimpulkan.
“Semua persoalan yang ada di diri kita sering kali dari persepsi kita. Sedangkan persepsi yang kebanyakan ditanamkan dari luar, dari pengetahuan yang kebanyakan dibangun lewat banyak lompatan penyimpulan. Apalagi di era media sosial yang serupa pasar malam ini. Maka kita harus membangun pengetahuan asli kita, dalam arti otentik dari nurani kita, dengan menjaga agar tak tergesa menyimpulkan sesuatu” imbuh dia.
Anis mengingatkan jika ini semua tidak dikembalikan ke fitrahnya, maka akan sulit menemukan suluh atau penerang, dan kita akan terus terseret dalam kegelapan. Kita gampang terseret, karena kita sudah lebih dahulu menggelapkan diri sendiri.
“Maka jangan musuhi saudaramu, jangan musuhi bangsamu, jangan musuhi siapa pun. Jangan buat konflik, karena pasti yang untung adalah pihak ketiga,” ujar dia.
Anis kemudian menceritakan bagaimana Imam Ghazali pernah mengingatkan kita untuk tidak sekadar mengandalkan salat dan wirid, namun juga harus berbuat baik kepada orang lain.
“Jangan sampai kita banyak salat, banyak wirid, tapi menghina, menginjak-injak, menindas orang lain,” tambah dia.
Perenungan itulah yang membuat ratusan masyarakat tampak antusias menyaksikan Suluk Maleman baik datang secara langsung ke Rumah Adab Indonesia Mulia maupun melalui berbagai kanal Media sosial.
Ngaji yang digelar pada Januari ini kian spesial dengan pertunjukan wayang sampah yang dibawakan oleh Gagego Musik Kampung bersama dalang Ki Slamet Riyanto. Selain itu Sampai GusUran juga kian memeriahkan Suluk Maleman. (*)

Keterangan foto:
1. Ki Slamet Riyanto dan Gagego Musik Kampung sedang memainkan wayang sampah, dalam NgAllah Suluk Maleman “Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (24/1). Wayang sampah merupakan pemanfaatan benda-benda yang selama ini dikategorikan sampah dan dikreasi menjadi semacam wayang golek.
2. Anis Sholeh Ba’asyin dalam NgAllah Suluk Maleman “Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (24/1).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU PATI. Pesantren Sebagai Lembaga Tafaqquh Fiddin Photo by Aaron Burden on Unsplash.

    Pesantren Sebagai Lembaga Tafaqquh Fiddin

    • calendar_month Sab, 8 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 686
    • 0Komentar

    Oleh: Siswanto Pesantren sebagaimana kita ketahui merupakan sebuah lembaga pendidikan yang konsen dalam kajian ilmu agama. Sehingga pesantren identik disebut sebagai tempat untuk memperdalam ilmu agama. Definisi ini tentunya tidak lepas dari kegiatan sehari-hari di dalam pondok pesantren yang saban harinya disi dengan kajian kitab kuning, Alquran, dan hafalan menjadi rutinitas sehari-hari para santri dalam […]

  • a person holding a book with henna on their hands

    Mahakarya Pernikahan

    • calendar_month Kam, 13 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 534
    • 0Komentar

    Oleh: Maulana Karim Sholikhin* Pernikahan menjadi resolusi hampir semua lajang di muka bumi. Tak peduli apakah mereka miskin atau kaya, tampan atau pas-pasan, jomblo maupun jadian, semua menginginkan sebuah ending bernama pernikahan. Namun benarkah menikah adalah akhir? Kenyataannya tidak! Ada badai, topan dan gelombang tinggi yang kudu dilalui paskanya. Mempersatukan presepsi hingga memahami satu sama […]

  • Hari Ini IPMAFA Terjunkan 206 Mahasiswa KKN

    Hari Ini IPMAFA Terjunkan 206 Mahasiswa KKN

    • calendar_month Sen, 22 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 666
    • 0Komentar

    PATI-Senin, 22/7 Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) Pati menerjunkan sebanyak 206 Mahasiswanya untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di dua kecamatan, yakni Cluwak dan Dukuhseti. Acara yg berlangsung di aula Kecamatan Cluwak tersebut dihadiri oleh Bappeda Pati, Muspika Cluwak, camat dukuhseti, civitas akademika IPMAFA, para kepala desa, serta seluruh mahasiswa KKN. Prosesi penyerahan mahasiswa KKN […]

  • Ribuan Warga Hadiri Haul Mbah Sahal di Kajen

    Ribuan Warga Hadiri Haul Mbah Sahal di Kajen

    • calendar_month Sel, 13 Jan 2015
    • account_circle admin
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Pati, NU OnlineSuasana kediaman almaghfurlah KH MA Sahal Mahfudh di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Selasa (13/1), tampak khidmat meski hujan megguyur desa setempat dan sekitarnya sejak pagi. Ribuan warga antusias menghadiri peringatan haul pertama atau satu tahun wafatnya Rais Aam PBNU itu. Hadir dalam tahlil umum tersebut perwakilan PBNU, antara lain […]

  • PCNU-PATI

    PAC GP Ansor Tlogowungu Gelar PKD dan Diklatsar 

    • calendar_month Jum, 24 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 505
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. TLOGOWUNGU – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Tlogowungu gelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar serta Pendidikan dan Pelatihan Dasar Barisan Ansor Serbaguna (Diklatsar). Kegiatan yang digelar selama tiga hari,  pada 24-26 Februari 2023 itu bertempat di Masjid Baitur Rohman Dukuh Ngembe, Desa Suwatu.  Turut hadir pada kegiatan itu, di antaranya Camat Tlogowungu Tony Romas […]

  • PCNU PATI - Ilustrasi 500 Pemudik dari Jobodetabek Disiapi 10 Bus Gratis oleh Pemkab Pati. Photo by CHUTTERSNAP on Unsplash

    500 Pemudik dari Jobodetabek Disiapi 10 Bus Gratis oleh Pemkab Pati

    • calendar_month Kam, 14 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 509
    • 0Komentar

    PATI – Para perantau dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) yang hendak pulang ke Pati, rencananya akan dijemput oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab). Mereka rencananya difasilitas mudik gratis menggunakan 10 bus. Kabag Kesra Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Pati, Abdul Kharis menjelaskan, mudik gratis ini diperuntukkan bagi 500 perantau.  “Rencanannya tanggal 27 April bus sudah […]

expand_less