Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
  • visibility 7.863
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id Suluk Maleman memasuki edisi 169 yang bertepatan ulang tahunnya yang ke -14, sengaja memilih tema ‘Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan’. Tema ini bukan hanya respon terhadap kondisi aktual peradaban global, tapi sekaligus mewakili konsistensi Suluk Maleman yang selama 14 tahun tanpa jeda terus menerus mengajak masyarakat untuk merenung tentang diri dan lingkangannya. tepat pada Sabtu (24/1) malam. Selama 169 episode, ngaji budaya yang diinisiasi Anis Sholeh Ba’asyin itu konsisten mengajak masyarakat untuk merenung.
Dalam pengajian yang di gelar kemarin, Sabtu (24/1), Anis Sholeh Ba’asyin kembali menyuarakan pentingnya setiap individu menemukan suluh di tengah peradaban yang kian carut marut. Peradaban yang semakin mengabaikan aturan dan hukum; dan diganti dengan kuasa dan kekuatan.
“Bahkan peradaban kita untuk disebut dikendalikan hukum rimba, tak layak. Hukum rimba itu berjalan sesuai tatanan alamiah yang pasti dan tetap, sesuai dengan sunatullah. Semua penghuninya tunduk pada tatanan tersebut. Bahkan istilah raja hutan itu sebenarnya tidak pernah ada faktanya, itu hanya istilah yang diciptakan oleh manusia saja,” ujar Anis membuka dialog.
Anis kemudian menjelaskan bahwa istilah tersebut muncul karena menurut persepsi manusia, yang kuatlah yang berkuasa, sehingga singa atau harimau yang dibayangkan manusia sebagai binatang paling buas, lantas dinobatkan sebagai raja hutan. Istilah ini diam-diam hanya menunjukkan kecenderungan manusia itu sendiri, bukan kenyataan di hutan.
“Oleh karena itu, tak mengherankan bila tatanan dan hukum yang dibuat manusia, acap mengabdi pada kelompok yang kuat dan menindas yang lemah. Tatanan yang nyaris berjalan tanpa kepastian dan sewaktu-waktu bisa berubah mengikuti keinginan mereka yang memegang kekuasaan. Inilah yang dari waktu ke waktu memproduksi kegelapan. Kegelapan yang akhir-akhir ini nyaris mencapai kesempurnaannya dan mengancam kelangsungan hidup kita semua,”
Dalam kondisi semacam ini, budayawan asal Pati itu menegaskan pentingnya memaksimalkan kembali fungsi dzikir, tafakur, dan akal. Dengan ketiga metode tersebut, diharap manusia bisa mendapatkan bimbingan dan cahaya untuk laku hidupnya.
“Tiga metode tersebut harus dilakukan terus menerus agar kita tidak tertarik ke kegelapan. Bukankah Allah lewat Al Qur’an selalu mengingatkan tentang pentingnya afala tadzakkarun, afala tatafakkarun, afala ta’qilun?” pantik Anis.
Bagi Anis, dzikir memiliki arti mengingat atau mengenang. Mengingat atau mengenang itu selalu merujuk pada sesuatu yang pernah dialami. Kenangan paling jauh ruh kita adalah sebelum dia ditiupkan ke jasad. Yakni di alam yang oleh para sufi disebut alam alastu, di mana kita diminta persaksian alastu birobbikum, bukankah Aku ini pembimbingmu?
“Kenangan terjauh kita adalah pertemuan kita dengan kehadiran wajah Allah sebagai pembimbing, sebagai guru, sebagai penuntun. Esensi berdzikir adalah mengundang kembali kenangan bahwa hidup kita harus selalu berada dalam bimbinganNya,” terang dia.
Menurut Anis, fungsi utama dzikir adalah mengingatkan manusia bahwa hidupnya tidak akan beres tanpa bimbingan-Nya.
“Makna Rabb itu mencakup pengertian pembimbingan secara bertahap. Dari satu tahap ke tahap lanjutnya. Semua ini mengandaikan bahwa tanpa bimbinganNya, apa pun perangkat dan metode yang kita pakai tak akan menjamin kelurusan tujuan hidup kita. Kegelapan yang saat ini menutup kita, bisa dipastikan sebagai produk pengabaian terhadap bimbinganNya,” ujar Anis.
Kemudian Anis menjelaskan metode kedua, yakni tafakur. Tafakur adalah merenung, dalam kaitan merenungkan pola dan gejala kejadian di dunia. Hasilnya adalah hikmah atau pemaknaan. Oleh karena itu, ayat afala tatafakkarun, lebih tepat dimaknai “apakah tak kau renungkan?
Dengan banyak merenung, imbuh Anis, pada titik terjauhnya manusia akan menyadari bahwa tidak mungkin mengklaim kebenaran bagi dirinya; karena kebenaran sepenuhnya dari dan selamanya milik Allah.
“Sulit untuk lurus itu bawaan manusia. Tanpa banyak bertafakur, kita cenderung lalai dan celaka. Apalagi bila memiliki kuasa, maka semakin berkuasa semakin merasa bisa berbuat apa saja karena merasa benar, merasa sudah menjalankan kebenaran,” imbuh dia.
Dengan tafakur manusia akan menyadari bahwa dia punya kemungkinan besar untuk, karena itu setiap saat dia butuh bimbingan agar tak sesat.
Setelah dzikir dan tafakur, metode ketiga adalah taqilun. Dalam pandangan Anis, ayat afala ta’qilun lebih tepat dimaknai “apakah kamu tak menyimpulkan?” Karena salah satu makna aql dalam bahasa Arab adalah simpul. Jika kita selalu mengingat Allah sebagai pembimbing, kemudian banyak bertafakur untuk menemukan hikmah, maka kita akan lebih punya ketepatan dalam menyimpulkan.
Pengambilan kesimpulan itu membutuhkan kelengkapan data dan tahapan yang berjenjang. Tidak boleh ada lompatan dalam menyimpulkan.
“Semua persoalan yang ada di diri kita sering kali dari persepsi kita. Sedangkan persepsi yang kebanyakan ditanamkan dari luar, dari pengetahuan yang kebanyakan dibangun lewat banyak lompatan penyimpulan. Apalagi di era media sosial yang serupa pasar malam ini. Maka kita harus membangun pengetahuan asli kita, dalam arti otentik dari nurani kita, dengan menjaga agar tak tergesa menyimpulkan sesuatu” imbuh dia.
Anis mengingatkan jika ini semua tidak dikembalikan ke fitrahnya, maka akan sulit menemukan suluh atau penerang, dan kita akan terus terseret dalam kegelapan. Kita gampang terseret, karena kita sudah lebih dahulu menggelapkan diri sendiri.
“Maka jangan musuhi saudaramu, jangan musuhi bangsamu, jangan musuhi siapa pun. Jangan buat konflik, karena pasti yang untung adalah pihak ketiga,” ujar dia.
Anis kemudian menceritakan bagaimana Imam Ghazali pernah mengingatkan kita untuk tidak sekadar mengandalkan salat dan wirid, namun juga harus berbuat baik kepada orang lain.
“Jangan sampai kita banyak salat, banyak wirid, tapi menghina, menginjak-injak, menindas orang lain,” tambah dia.
Perenungan itulah yang membuat ratusan masyarakat tampak antusias menyaksikan Suluk Maleman baik datang secara langsung ke Rumah Adab Indonesia Mulia maupun melalui berbagai kanal Media sosial.
Ngaji yang digelar pada Januari ini kian spesial dengan pertunjukan wayang sampah yang dibawakan oleh Gagego Musik Kampung bersama dalang Ki Slamet Riyanto. Selain itu Sampai GusUran juga kian memeriahkan Suluk Maleman. (*)

Keterangan foto:
1. Ki Slamet Riyanto dan Gagego Musik Kampung sedang memainkan wayang sampah, dalam NgAllah Suluk Maleman “Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (24/1). Wayang sampah merupakan pemanfaatan benda-benda yang selama ini dikategorikan sampah dan dikreasi menjadi semacam wayang golek.
2. Anis Sholeh Ba’asyin dalam NgAllah Suluk Maleman “Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (24/1).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Calon Jemaah Haji Pati Mulai Jalani Manasik 9 Februari Mendatang

    Calon Jemaah Haji Pati Mulai Jalani Manasik 9 Februari Mendatang

    • calendar_month Kam, 5 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.488
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Calon jemaah haji asal Kabupaten Pati bersiap memasuki tahapan penting sebelum bertolak ke Tanah Suci. Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Pati menjadwalkan bimbingan manasik haji tingkat kecamatan akan dimulai serentak pada Senin, 9 Februari 2026. ​Kepala Kemenhaj Pati, Umi Isti’anah, menjelaskan bahwa rangkaian bimbingan ini dibagi menjadi dua fase utama, […]

  • DKC CBP-KPP Gelar Diskusi, Ini Hasilnya

    DKC CBP-KPP Gelar Diskusi, Ini Hasilnya

    • calendar_month Ming, 25 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 437
    • 0Komentar

      Para peserta diskusi yang terdiri dari DKC CBP-KPP IPNU IPPNU se-Kabupaten Pati sedang antusias menerima materi. PATI-Dewan Koordinasi Cabang Corps Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri (DKC CBP-KPP) IPNU IPPNU Pati menggelar diskusi di Aula Gedung NU Pati Lantai 3 pada Minggu (25/7). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pelatih CBP-KPP Se Kabupaten Pati. Matsna Zakiyatus […]

  • Menggali Potensi Lokal

    Menggali Potensi Lokal

    • calendar_month Jum, 31 Mar 2017
    • account_circle admin
    • visibility 379
    • 0Komentar

    Pati. Jajaran Pengurus Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kec Juwana mengadakan Konferensi, hal tersebut di lakukan sesuai dengan ketentuan dalam organisasi Nahdlatul Ulama apabila sudah berakhir masa jabatan maka akan di lakukan reorganisasi. bertempat di Kantor MWCNU Juwana Jl. Juwana Tayu Km 2 Dukutalit Juwana. Minggu, 26/3 kemarin. Setelah Ketua Siswoyo memberikan laporan pertanggung jawaban […]

  • Ketika Musa Memukul Laut Merah dengan Tongkat

    Ketika Musa Memukul Laut Merah dengan Tongkat

    • calendar_month Sen, 1 Agu 2022
    • account_circle admin
    • visibility 406
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami “Apakah kau ingat film The Ten Commandments?”             “Tentu aku ingat. Ada adegan ketika Musa—yang diperankan Charlton Heston—mengangkat tongkatnya, lalu air laut pun terbelah, dan bangsa Israel bisa menyeberang,” ujarnya.             “Padahal di Alkitab tidak demikian,” kata teman saya. “Di Alkitab, Allah berkata kepada Musa, ‘Berbicaralah kepada bangsa Israel dan […]

  • PC IPNU/IPPNU Gelar Koordinasi dengan Dua Ranting

    PC IPNU/IPPNU Gelar Koordinasi dengan Dua Ranting

    • calendar_month Ming, 21 Jul 2019
    • account_circle admin
    • visibility 536
    • 0Komentar

    PATI-PC IPNU/IPPNU Kabupaten Pati hari ini (21/7) menggelar koordinasi dengan dua Pengurus Ranting Sekaligus. Agenda tersebut dikhususkan untuk membahas tentang kaderisasi dan Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) IPNU/IPPNU. Pertemuan singkat tersebut berlangsung di Gedung PC NU Pati lantai dua mulai pukul 10.30 sampai dengan 13.00 WIB. Dua ranting yang hadir adalah sari Kepoh Kencono dan Karangwotan. […]

  • PCNU-PATI Photo by Alexandros Giannakakis

    3 Langkah Mengenali Diri Sendiri

    • calendar_month Sel, 20 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 400
    • 0Komentar

    Oleh : Angga Saputra Mengenali diri sendiri itu sangat penting. Namun kadang kala hal itu justru diabaikan. Kita justru lebih sering memahami sifat orang lain ketimbang diri kita sendiri. Lalu bagaimana cara memahami dan mengenali diri sendiri? Ada beberapa cara mengenal diri sendiri yang bisa kalian coba. 1. Tulis di buku catatan harian Kalian bisa […]

expand_less