Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

Suluk Maleman Kali ini Menemukan Cahaya di Tengah Gelap Zaman

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 26 Jan 2026
  • visibility 7.805
  • comment 0 komentar

 

Pcnupati.or.id Suluk Maleman memasuki edisi 169 yang bertepatan ulang tahunnya yang ke -14, sengaja memilih tema ‘Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan’. Tema ini bukan hanya respon terhadap kondisi aktual peradaban global, tapi sekaligus mewakili konsistensi Suluk Maleman yang selama 14 tahun tanpa jeda terus menerus mengajak masyarakat untuk merenung tentang diri dan lingkangannya. tepat pada Sabtu (24/1) malam. Selama 169 episode, ngaji budaya yang diinisiasi Anis Sholeh Ba’asyin itu konsisten mengajak masyarakat untuk merenung.
Dalam pengajian yang di gelar kemarin, Sabtu (24/1), Anis Sholeh Ba’asyin kembali menyuarakan pentingnya setiap individu menemukan suluh di tengah peradaban yang kian carut marut. Peradaban yang semakin mengabaikan aturan dan hukum; dan diganti dengan kuasa dan kekuatan.
“Bahkan peradaban kita untuk disebut dikendalikan hukum rimba, tak layak. Hukum rimba itu berjalan sesuai tatanan alamiah yang pasti dan tetap, sesuai dengan sunatullah. Semua penghuninya tunduk pada tatanan tersebut. Bahkan istilah raja hutan itu sebenarnya tidak pernah ada faktanya, itu hanya istilah yang diciptakan oleh manusia saja,” ujar Anis membuka dialog.
Anis kemudian menjelaskan bahwa istilah tersebut muncul karena menurut persepsi manusia, yang kuatlah yang berkuasa, sehingga singa atau harimau yang dibayangkan manusia sebagai binatang paling buas, lantas dinobatkan sebagai raja hutan. Istilah ini diam-diam hanya menunjukkan kecenderungan manusia itu sendiri, bukan kenyataan di hutan.
“Oleh karena itu, tak mengherankan bila tatanan dan hukum yang dibuat manusia, acap mengabdi pada kelompok yang kuat dan menindas yang lemah. Tatanan yang nyaris berjalan tanpa kepastian dan sewaktu-waktu bisa berubah mengikuti keinginan mereka yang memegang kekuasaan. Inilah yang dari waktu ke waktu memproduksi kegelapan. Kegelapan yang akhir-akhir ini nyaris mencapai kesempurnaannya dan mengancam kelangsungan hidup kita semua,”
Dalam kondisi semacam ini, budayawan asal Pati itu menegaskan pentingnya memaksimalkan kembali fungsi dzikir, tafakur, dan akal. Dengan ketiga metode tersebut, diharap manusia bisa mendapatkan bimbingan dan cahaya untuk laku hidupnya.
“Tiga metode tersebut harus dilakukan terus menerus agar kita tidak tertarik ke kegelapan. Bukankah Allah lewat Al Qur’an selalu mengingatkan tentang pentingnya afala tadzakkarun, afala tatafakkarun, afala ta’qilun?” pantik Anis.
Bagi Anis, dzikir memiliki arti mengingat atau mengenang. Mengingat atau mengenang itu selalu merujuk pada sesuatu yang pernah dialami. Kenangan paling jauh ruh kita adalah sebelum dia ditiupkan ke jasad. Yakni di alam yang oleh para sufi disebut alam alastu, di mana kita diminta persaksian alastu birobbikum, bukankah Aku ini pembimbingmu?
“Kenangan terjauh kita adalah pertemuan kita dengan kehadiran wajah Allah sebagai pembimbing, sebagai guru, sebagai penuntun. Esensi berdzikir adalah mengundang kembali kenangan bahwa hidup kita harus selalu berada dalam bimbinganNya,” terang dia.
Menurut Anis, fungsi utama dzikir adalah mengingatkan manusia bahwa hidupnya tidak akan beres tanpa bimbingan-Nya.
“Makna Rabb itu mencakup pengertian pembimbingan secara bertahap. Dari satu tahap ke tahap lanjutnya. Semua ini mengandaikan bahwa tanpa bimbinganNya, apa pun perangkat dan metode yang kita pakai tak akan menjamin kelurusan tujuan hidup kita. Kegelapan yang saat ini menutup kita, bisa dipastikan sebagai produk pengabaian terhadap bimbinganNya,” ujar Anis.
Kemudian Anis menjelaskan metode kedua, yakni tafakur. Tafakur adalah merenung, dalam kaitan merenungkan pola dan gejala kejadian di dunia. Hasilnya adalah hikmah atau pemaknaan. Oleh karena itu, ayat afala tatafakkarun, lebih tepat dimaknai “apakah tak kau renungkan?
Dengan banyak merenung, imbuh Anis, pada titik terjauhnya manusia akan menyadari bahwa tidak mungkin mengklaim kebenaran bagi dirinya; karena kebenaran sepenuhnya dari dan selamanya milik Allah.
“Sulit untuk lurus itu bawaan manusia. Tanpa banyak bertafakur, kita cenderung lalai dan celaka. Apalagi bila memiliki kuasa, maka semakin berkuasa semakin merasa bisa berbuat apa saja karena merasa benar, merasa sudah menjalankan kebenaran,” imbuh dia.
Dengan tafakur manusia akan menyadari bahwa dia punya kemungkinan besar untuk, karena itu setiap saat dia butuh bimbingan agar tak sesat.
Setelah dzikir dan tafakur, metode ketiga adalah taqilun. Dalam pandangan Anis, ayat afala ta’qilun lebih tepat dimaknai “apakah kamu tak menyimpulkan?” Karena salah satu makna aql dalam bahasa Arab adalah simpul. Jika kita selalu mengingat Allah sebagai pembimbing, kemudian banyak bertafakur untuk menemukan hikmah, maka kita akan lebih punya ketepatan dalam menyimpulkan.
Pengambilan kesimpulan itu membutuhkan kelengkapan data dan tahapan yang berjenjang. Tidak boleh ada lompatan dalam menyimpulkan.
“Semua persoalan yang ada di diri kita sering kali dari persepsi kita. Sedangkan persepsi yang kebanyakan ditanamkan dari luar, dari pengetahuan yang kebanyakan dibangun lewat banyak lompatan penyimpulan. Apalagi di era media sosial yang serupa pasar malam ini. Maka kita harus membangun pengetahuan asli kita, dalam arti otentik dari nurani kita, dengan menjaga agar tak tergesa menyimpulkan sesuatu” imbuh dia.
Anis mengingatkan jika ini semua tidak dikembalikan ke fitrahnya, maka akan sulit menemukan suluh atau penerang, dan kita akan terus terseret dalam kegelapan. Kita gampang terseret, karena kita sudah lebih dahulu menggelapkan diri sendiri.
“Maka jangan musuhi saudaramu, jangan musuhi bangsamu, jangan musuhi siapa pun. Jangan buat konflik, karena pasti yang untung adalah pihak ketiga,” ujar dia.
Anis kemudian menceritakan bagaimana Imam Ghazali pernah mengingatkan kita untuk tidak sekadar mengandalkan salat dan wirid, namun juga harus berbuat baik kepada orang lain.
“Jangan sampai kita banyak salat, banyak wirid, tapi menghina, menginjak-injak, menindas orang lain,” tambah dia.
Perenungan itulah yang membuat ratusan masyarakat tampak antusias menyaksikan Suluk Maleman baik datang secara langsung ke Rumah Adab Indonesia Mulia maupun melalui berbagai kanal Media sosial.
Ngaji yang digelar pada Januari ini kian spesial dengan pertunjukan wayang sampah yang dibawakan oleh Gagego Musik Kampung bersama dalang Ki Slamet Riyanto. Selain itu Sampai GusUran juga kian memeriahkan Suluk Maleman. (*)

Keterangan foto:
1. Ki Slamet Riyanto dan Gagego Musik Kampung sedang memainkan wayang sampah, dalam NgAllah Suluk Maleman “Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (24/1). Wayang sampah merupakan pemanfaatan benda-benda yang selama ini dikategorikan sampah dan dikreasi menjadi semacam wayang golek.
2. Anis Sholeh Ba’asyin dalam NgAllah Suluk Maleman “Timbang Mengutuki Kegelapan, Mending Menyuluhi Jalan” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Sabtu (24/1).

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    Globalisasi dalam Timbangan Islam

    • calendar_month Kam, 29 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Di kehidupan kita telah muncul istilah baru, yaitu “globalisasi”. Karena istilah ini termasuk asing dan belum dikenal maksud dan tujuannya di kalangan kaum Muslimin, Jam’iatul Ishlah Al-ijtima’i di Kuwait, perlu untuk menerbitkan risalah kecil ini, dengan judul Globalisasi dalam Timbangan Islam. Risalah ini ditujukan kepada para pemuda dan tokoh umat, dengan maksud menjelaskan arti dan […]

  • KH. Masyhuri Malik Tandaskan Tiga Sikap Pokok Hadapi Wabah

    KH. Masyhuri Malik Tandaskan Tiga Sikap Pokok Hadapi Wabah

    • calendar_month Jum, 9 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 312
    • 0Komentar

    KH. Masyhuri Malik, Wakil Ketua Majelis Pertimbangan PB IKA PMII JAKARTA-wabah corona yang menimpa seluruh bangsa di dunia ini harus dihadapi dengan bijak. Sikap ini harus ditanamkan kepada masyarakat dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi. Menurut KH. Masyhuri Malik ada tiga sikap pokok yang harus dimiliki masyarakat untuk menghadapi wabah. Pesan ini disampaikan dalam acara […]

  • Peringati Harlah ke 43, KMPP Semarang Gelar Serangkaian Kegiatan di Mangunrekso

    Peringati Harlah ke 43, KMPP Semarang Gelar Serangkaian Kegiatan di Mangunrekso

    • calendar_month Sen, 14 Agu 2023
    • account_circle admin
    • visibility 369
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id – Peringati Hari Lahir (Harlah) ke-43, Keluarga Mahasiswa Pelajar Pati (KMPP) Semarang adakan serangkaian kegiatan di Desa Mangunrekso, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, yakni mulai tanggal 11 hingga 13 Agustus 2023.  Ketua Umum KMPP Semarang, Yunus Dwi Yulianto mengatakan, pada Harlah KMPP ke 43 ini, pihaknya mengangkat tema “Aksi […]

  • PCNU-PATI

    Santri Harus Punya Peran di Berbagai Bidang

    • calendar_month Kam, 2 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 471
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id- Jepara – Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan Jepara menggelar tasyakkur (syukuran) ke-44 tahun yang berlangsung di mushala madrasah setempat, Selasa (31/10) pagi.  Hadir sebagai pemantik acara bertajuk “Santri Milenial dan Tantangan Global” Ketua STKIP PGRI Pacitan H Mukodi dan akademisi UIN Walisongo Semarang, H Fakhrudin Aziz.  Selain sivitas akademika MA Walisongo, hadir pula Ketua […]

  • Ketua PWNU Jateng Gus Rozin Serukan Idulfitri Bermakna, Utamakan Persaudaraan

    Ketua PWNU Jateng Gus Rozin Serukan Idulfitri Bermakna, Utamakan Persaudaraan

    • calendar_month Jum, 20 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 10.387
    • 0Komentar

      SEMARANG — Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam, khususnya warga Nahdliyin di Jawa Tengah. Hal itu disampaikan Gus Rozin saat di Kantor PWNU Jateng, Jalan dr Cipto Nomor 180 Semarang, Jumat (20/3/2026). Dalam keterangannya, ia […]

  • Usung Tema Keraton Mawaskan, OSIM MA Walisongo Kayen Gelar Pesta Demokrasi

    Usung Tema Keraton Mawaskan, OSIM MA Walisongo Kayen Gelar Pesta Demokrasi

    • calendar_month Kam, 27 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 390
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. – Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) MA Walisongo Kayen mengadakan pemilihan ketua, Kamis (27/10/2022). Kegiatan yang dilangsungkan di halaman Madrasah Aliyah Walisongo Kayen ini mengusung tema “Keraton Mawaska”. Acara dimulai dengan apel pembukaan yang dipimpin oleh Kepala MA Walisongo Kayen, Sunoto, M. Ag. Dalam kesempatan itu, Kepala Madrasah Sunoto menyampaikan bahwa selalu ada suka […]

expand_less