Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Tokoh » Hj. Nafisah Sahal Mahfudh: Ulama Perempuan Progresif 

Hj. Nafisah Sahal Mahfudh: Ulama Perempuan Progresif 

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 19 Nov 2022
  • visibility 485
  • comment 0 komentar

Oleh: Jamal Ma’mur Asmani

Indonesia berduka, khususnya Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Salah satu putra terbaiknya menghadap Sang Khaliq. Beliau adalah Ibu Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudh, istri Rais ‘Am Syuriyah PBNU, KH. MA. Sahal Mahfudh. Warga NU dan bangsa Indonesia sangat berduka karena kehilangan sosok ulama perempuan yang memberikan kontribusi besar dalam membangun bangsa, baik di jalur pendidikan maupun politik kebangsaan. 

Ibu Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudh adalah pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Badi’iyyah (Pesilba) Kajen Margoyoso Pati, pengajar di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen dan juru dakwah (da’iyah) di berbagai forum pengajian keagamaan dan kebangsaan. Kiprah politik Ibu Nyai Nafisah juga sangat komplit. Selain menjadi Ketua Muslimat NU Cabang Pati dan Ketua Muslimat NU Jawa Tengah, beliau juga adalah anggota Dewan Kabupaten Pati dan menjadi anggota DPD RI.

Ada banyak keteladanan Ibu Nyai Hj. Nafisah Sahal yang patut kita teladani:

Pertama, semangat belajar tanpa henti

 Membaca buku ‘Kiai Sahal & Nyai Nafisah’, Beriringan, Saling Mendukung dan Saling Menguatkan, karya Hj. Tutik Nurul Janah, menantu Ibu Nyai Nafisah, terlihat jelas bagaimana Ibu Nyai Nafisah bergumul dengan ilmu sepanjang hayat. Sejak kecil diasuh dan dididik oleh kedua orangtua, kakeknya di Denanyar, para Kiai-Ibu Nyai di Tambak beras, dan kemudian melanjutkan studi di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Di Yogyakarta, beliau juga belajar kepada KH. Ali Ma’shum, Rais ‘Am Syuriyah PBNU. Setelah tinggal di Kajen, aktivitas keilmuan terus menjadi pergumulan utama Ibu Nyai Nafisah Sahal. Long life education benar-benar diterapkan Ibu Nyai Nafisah Sahal dalam perjalanan hidupnya. 

Kedua, semangat mendidik anak bangsa

Pendidikan, formal dan nonformal adalah kunci menggapai kemajuan bangsa. Ibu Nyai Nafisah sebagai pengasuh pondok pesantren bergumul aktif setiap hari untuk mengasuh para santri. Kakeknya dari jalur Ibu, yaitu KH. Bisri Syansuri dikenal sebagai perintis pertama pesantren putri di Denanyar Jombang. Ibu Nyai Nafisah meneruskan cita-cita agung kakeknya ini dengan merintis pesantren putri di Kajen atas restu dari Sang Suami, KH. MA. Sahal Mahfudh.

Ketiga, mencerahkan publik

 Salah satu aktivitas Ibu Nyai Hj. Nafisah Sahal adalah sebagai juru dakwah (da’iyah) yang memberikan pencerahan kepada umat di berbagai daerah. Hal ini menjadikan Ibu Nyai Nafisah mempunyai kedekatan dengan masyarakat dari berbagai lapisan.  

Keempat, peduli kepada anak yatim

 Salah satu perjuangan Ibu Nyai Nafisah Sahal adalah kepedulian beliau yang sangat tinggi kepada nasib anak yatim. Beliau aktif mendirikan dan mengembangkan Panti Asuhan Darul Hadlonah yang mendidik dan membekali skills kepada anak yatim supaya mereka menjadi kader-kader berkualitas kompetitif di masa yang akan datang.

Kelima, partner sejati KH. MA. Sahal Mahfudh

 Ibu Nyai Nafisah Sahal Mahfudh menjadi pendamping dan partner sejati KH. MA. Sahal Mahfudh. Di balik orang hebat, pasti ada istri hebat. Kehebatan KH. MA. Sahal Mahfudh tidak lepas dari kehebatan Ibu Nyai Nafisah Sahal yang mampu men-support KH. MA. Sahal Mahfudh dalam perjuangan keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan.

 Membaca buku karya Hj. Tutik Nurul Janah, tergambar jelas bagaimana KH. MA. Sahal Mahfudh dan Ibu Nyai Nafisah Sahal saling mendukung, menguatkan, dan menyukseskan satu dengan yang lain. Penulis pernah menyaksikan saat peresmian Gedung Haji Pati di mana KH. MA. Sahal Mahfudh dan Ibu Nyai Nafisah Sahal datang bersama-sama. KH. MA. Sahal Mahfudh meresmikan Gedung Haji tersebut dan Ibu Nyai Nafisah memotong pita sebagai simbol peresmian.

 KH. MA. Sahal Mahfudh dalam buku ‘Pesantren Mencari Makna’ (Pustaka Ciganjur, 1999: h. 32-36) menjelaskan lima fungsi perempuan. Pertama, sebagai istri. Kedua, sebagai ibu rumah tangga. Ketiga, sebagai pendidik. Keempat, sebagai juru dakwah (da’iyah). Kelima, sebagai penggerak sosial.

 Kelima fungsi perempuan yang dijelaskan KH. MA. Sahal Mahfudh benar-benar dipraktekkan secara nyata oleh Ibu Nyai Nafisah Sahal Mahfudh. Ibu Nyai Hj. Nafisah Sahal adalah ulama perempuan progresif yang mendarmabaktikan hidupnya untuk memajukan bangsa, baik dalam aspek pendidikan, kemasyarakatan, dan kebangsaan secara komprehensif.

 Semoga kita para santri mampu meneladani dedikasi dan perjuangan sampai akhir hayat dari Ibu Nyai Nafisah Sahal Mahfudh, Ulama Perempuan Progresif yang dimiliki Nahdlatul Ulama dan Bangsa Indonesia, Amiin.

 * Santri Nahdlatul Ulama

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Irene Bersani

    Jodoh Buat Bu Bidan Cantik

    • calendar_month Ming, 15 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Oleh : Elin Khanin Chapter 3 ———————— “Bayinya kejang,” ujar Bidan Eko lirih. “Kejang?” pasang mata Shanaya seketika membola. Ia merasa setiap tetes darahnya tersedot surut ke hulu jantung. Ini ilmu baru lagi baginya—bahwa tanda bayi kejang adalah ketika tangannya reflek bergerak dengan palpebra berkedip cepat. Mulutnya langsung terkatup rapat begitu Bidan Eko meletakkan telunjuknya […]

  • NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

    NU Kultural sebagai Basis Masyarakat Sipil

    • calendar_month Sab, 8 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 1.409
    • 0Komentar

    Oleh : Siswanto, MA Dalam Khittah Nahdlatul Ulama (NU), istilah NU merujuk pada dua makna yang saling terkait, yaitu NU sebagai sebuah organisasi dan NU sebagai komunitas anggotanya. KH. Abdul Muchit Muzadi dalam buku, Ensiklopedia Khittah NU, dijelaskan bahwa istilah NU Jam’iyyah (NU secara struktural) dan NU Jamaah (NU secara kultural) sering kali digunakan untuk […]

  • Photo by Jason Yuen

    Keterwakilan Perempuan

    • calendar_month Jum, 16 Feb 2024
    • account_circle admin
    • visibility 528
    • 0Komentar

    Oleh : Inayatun Najikah Pada waktu itu saya bersama teman-teman berkunjung kerumah seorang sejarawan Pati. Disana kami tak hanya bertamu, melainkan diskusi soal sejarah Kabupaten Pati dan Jawa pada umumnya. Kami juga sempat berbincang soal tokoh-tokoh perempuan zaman dulu yang banyak dikaburkan oleh sejarah. Padahal perjuangan para perempuan zaman dahulu tak kalah hebat dengan perjuangan […]

  • Hahdirkan Karina Moudy, MA Salafiyah Kajen Pati Gelar Pelatihan Literasi Digital

    Hahdirkan Karina Moudy, MA Salafiyah Kajen Pati Gelar Pelatihan Literasi Digital

    • calendar_month Sel, 11 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.496
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id – Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen, Margoyoso, Pati, menggelar training motivasi bertema “Membudayakan Literasi Digital dan Bijak Bermedia Sosial”, Selasa (11/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan Karina Moudy, None Jakarta 2024, sebagai narasumber. Acara yang diikuti para siswa itu berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Kepala MA Salafiyah Kajen, Masrukhan, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian […]

  • Siswa Salafiyah Lakukan Rukyah di Pantai Kartini

    Siswa Salafiyah Lakukan Rukyah di Pantai Kartini

    • calendar_month Sel, 29 Okt 2019
    • account_circle admin
    • visibility 479
    • 0Komentar

    PATI-Puluhan Santri Madrasah Aliyah (MA) Salafiyah Kajen melakukan praktek rukyah secara langsung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam penguasaan ilmu falak. Diharapkan, dengan pengalaman itu, para peserta didik mampu mempelajari tentang perbintangan, penanggalan dan perhitungan tahun, seperti mempelajari penentuan masuknya awal bulan Hijriah. Dalam prakteknya, para siswa kelas XII jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial […]

  • Man in Black Leather Jacket and Black Knit Cap Sitting on Brown Wooden Chair

    Pembakaran Kemenyan saat Manaqiban

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 504
    • 0Komentar

    Pada saat membaca “ manaqib Syeikh Abdul Qodir Jailani “ ada sebagian masyarakat yang mempunyai adat  membakar kemenyan disamping jam’iyah manaqib tersebut. Asap tersebut sebagai penghormatan kehadiran beliau . Pertanyaan : Bagaimana hukumnya membakar kemenyan tersebut ? Jawaban : Boleh Referensi : Bulhoh at Thullab hal 53-54 2. Benarkah Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani hadir saat […]

expand_less