Iklan
Tokoh

KH Muhammad Muchson Yamin

Oleh : Ahmad  Halman  Syahin   Assegaf

Riwayat Hidup Dan Keluarga

KH. Muhson memiliki nama lengkap Muhammad Muchson Yamin bin H.Muhammad Yamin dan ibu adalah Hj. Siti Aminah .Kiai Muchson (yang akrab dipanggil mbah Muh) lahir pada tanggal 3 Maret 1952 di Wonorejo merupakan salah satu desa di Tlgowungu dan mempunyai satu kakak perempuan yaitu Hajah Muniroh. Muchson kecil hidup dan dididik dilingkungan keluarga sederhana yang sangat memegang teguh nilai-nilai agama. Pola pendidikan orang tuanya yang mengajarkan tentang agama islam dan Al-Quran membentuk pribadi Muchson kecil tertarik untuk menimba dan mendalami ilmu-ilmu agama dipesentren.

Konten Terkait
Iklan

Pada usianya yang ke 25 yaitu pada tahun 1977 , Kiai Muchson menikah dengan Hj. Syarifatin. Dari hasil perkawinan tersebut mempunyai 4 orang anak yaitu Minhatin Sholehah, KH Muhammad Amirudin LC, MA, Ahmad Nurul Furqon dan Kiai Ahmad Islahul Umam . Berkah dari doa dari beliau dan guru-guru mbah Muh , putra-putri beliau menjadi orang berhasil dan berperan dalam melanjutkan perjuangan mbah yai. Dan pada tanggal 28 januari 2021 M pada usia 69 tahun, mbah Muh ketimbalan wonten ngarso ndalem Gusti Allah SWT . Jamaah dan ummat menangis , murid, kerabat dan sahabat merasa kehilangan seorang tokoh panutan meninggalkan umatnya. Inalilahi wainnaa ilaihi roji’uun. Selamat jalan mbah Muh, kami selalu merindukan jenengan.

Riwayat Pendidikan

Selain belajar agama dengan ayahnya yaitu H. Yamin, Yai Muh mengenyam pendidikan formal pertama , di Sekolah Dasar di desanya Wonorejo lulus pada tahun 1964. Kemudian dilanjut Sekolah Menengah Pertama namun saat beliau klas 2 mbah Muh tidak melanjutkan, namun beliau memutuskan untuk pindah sekolah ke perguruan islam Mathali’ul Falah Kajen atau sering disebut Matholek serta belajar di pondok pesantren Maslakul Huda yang waktu itu di asuh oleh KH Sahal Mahfud. Beliau belajar di MTs Mathaliul Falah Kajen sekitar tahun 1967-1969, kemudian dilanjut ke jenjang MA Matholek dan lulus pada tahun 1972. Selain belajar di pesantren Maslakul Huda , mbah

Muchson juga mendalami Al-Quran dengan berguru pada Kiai Abdullah Salam yang juga masih saudaranya Kiai Sahal. Dari nasab beliau berdua masih keturunan ulama besar Syeih Ahmad Muttamakin Kajen.

Semasa mondok di pesantren mbah Muh adalah santri yang sangat dekat dan dicintai Kiai Sahal selain pintar juga beliau adalah santri yang sederhana, penuh ketaatan dan tawadluk pada gurunya, sehingga setiap dawuh dari gurunya mbah Muh mensegerakan dan melakukanya dengan sebaik- baiknya dengan ikhlas. Tak ayal setelah beliaunya lulus sekolah dan pesantren beliau mengabdi menjadi tenanga pendidik dan juga dijadikan abdi ndhalem (sopir pribadinya Kiai Sahal) era sepeda onthel, lalu berkembang ke sepeda motor, sehingga kemana-mana mbah Muh dereke.

Pernah Kiai Muchson menceritakan satu kenangan unik bersama Mbah Sahal kepada putranya. Kenangan yang membuatnya malu sendiri saat mengingatnya, lantaran kejadian tersebut membuatnya merasa bersalah kenangnya. Berikut tulisan yang saya ambil dari tulisan putra beliau di facebook.

Beliau bercerita pada saya (putranya) di ruang tengah rumah di kampung , suatu ketika sepeda motor (kendaraan pribadi untuk Mbah Sahal) kabel koplingnya putus saat perjalanan mengantar Mbah Sahal dari Kajen menuju Pati. Yang ada di pikiran mbah Muh, mau tidak mau, jika motor ingin tetap menyala terpaksa harus dalam kondisi berjalan. Karena jika berhenti tanpa kopling, otomatis motor mati. Waktu itu kondisi dini hari dan tidak ada orang yang dimintai bantuan. Lalu Mbah Sahal menawari bapak hal apa yang bisa dilakukan. Bapak bingung mau menyampaikan atau tidak, namun dengan terpaksa akhirnya menyampaikannya. Ia terkejut, lantaran Kiai Sahal mengiyakan solusi tersebut, yakni beliau Kiai Sahal mendorong motor bapak hingga menyala, dengan kondisi menyala dan berjalan, Mbah Sahal muda agak berlari mengikuti motor, lalu melompat menaiki motor “layaknya coboy” dalam kondisi berjalan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota. “Haiyo, wah nek iling isin tenan lee. Yo ora kepenak kabeh rasane.” (Saya melihat beliau menceritakan hal ini matanya sambil menatap jauh ke arah atas, berkaca-kaca, mungkin semacam ada menyesali pernah terjadi hal yang membuat repot gurunya tersebut). (sumber facebook : putra ke-2 mah Muh)

Sejak mendengar cerita-cerita diatas, saya sangat pengen tahu banyak tentang beliau. Meskipun saya tidak punya keterampilan mengumpulkan data dan menulisnya, namun minimal saya punya oret- oretan kasar yang bersumber dari keluarga mbah Muh.

Mbah Muh adalah sedikit dari orang yang lama nderek dan mengiringi Kiai Sahal sejak sekitar tahun 60-an akhir hingga wafatnya Kiai Sahal 2014 masih berhidmah kepada Kiai Sahal meski berbeda jarak. Dahulu sama-sama tinggal di Kajen, namun sejak anak pertama lahir (1978) Yi Muh tinggal di Wonorejo , namun masih pulang pergi nderekaken Kiai Sahal, hingga menjadi Guru Pondok, Dewan

Pertimbangan Pembina PMH. Sepeninggal Kiai Sahal pun masih tetap berhidmah di Pesantren Kiai Sahal (Maslakul Huda) hingga akhir hayatnya pada Januari 2021 saat pandemi covid-19 silam.

Kiai Muchson juga mendalami ilmu tasyawuf dengan berguru langsung dengan seorang guru Toriqoh yaitu Habib Lutfi bin Yahya Pekalongan. Disana beliau berguru dan mendalami ilmu tasyawuf dengan mengamalkan dzikir-dzkir khusus sehingga semakian bertambah alimnya beliau. Beliau senang menulis dan menyusun buku amalan dzkir harian yang diijazahkan kepada murid dan jamaahnya.

Perjuangan Dan Pengabdian Mbah Muchson

Selain mengabdikan diri di Pondok Pesentren sebagai abdi dalem (guru dan sopir pribadi Kiai Sahal), hidup mbah Muh diabdikan juga ke masyarakat Wonorejo dan sekitarnya. Ditandai dengan perjuangan beliau dalam menyebarkan Agama Islam dan pendidikan ke-Islaman di Kecamatan Tlogowungu. Mula-mulai beliau mendirikan Madrasyah Ibtida’iyyah bersama Kiai Sepuh NU yang diberi nama Naba’ul Ulum untuk warga didesanya , menjabat kepala sekolah MI pada tahun 1981- 1992. Seiring dengan sekolah yang semakin berkembang maka didirikanlah sekolah perguruan islam lanjutan, Madrasyah Tsanawiyah (MTs) Naba’ul Ulum untuk warga desa Wonorejo dan desa sekitarnya , beliau menjabat kepala sekolah MTs 1982-1996. Sambut bergayung perjuangan beliau juga di dukung oleh istri –nya yang mendirikan KB dan TK . KB-RA, MI dan Mts Naba’ul Ulum di dedikasikan untuk menciptakan kader-kader Islam melalui pendidikan NU yang berprestasi dan juga ber-ahlaqul karimah serta harus pinter ngaji. Untuk itu pendidikan formal Naba’ul Ulum dilengkapi dengan didirikanya Madin (Madrasah Diniyah) sekolah sore dan malam khusus mendalami ilmu-ilmu agama diantaranya nahwu, shorof, imla’, khot , kitab kuning, tafsir,tajwid, hadist dan lain lain. Alhamdulillah saya adalah siwa MTs yang bekesempatan bertempat dan belajar dipondok.

Selian mbah Muh juga berjuang dan aktif membina jamaah di desa-desa. Kesederhanaan sikap santun dan ramah membuat mbah Muh dapat diterima diseluruh semua lapisan masyarakat baik tua maupun muda bahkan warga diluar nahdiyin pun menerima beliau dengan baik. Sikap senang merangkul semua lapisan dan golongan serta suka akan terciptanya masyarakat yang rukun dami dan tentram membuat beliau berperaan aktif dalam pengabdian masyarakat. Dimulai dengan mendirikan Majelis Taklim Darussalam dan memimpin majelis dzikir Rotibul Hadad setiap malam ahad di ndalem beliau. Selain itu mbah yai Muh juga dengan istiqomah ngaos rutinan setiap malam Rabu di Masjid Jam’i Sa’adatul Muttaqin Wonorejo, bahkan mbah yai juga dengan tlaten kerso ngopeni jamaah di desa lain sekitarnya yaitu ngaji rutinan setiap kamis legi di Masjid Assyaadah Desa Ngalian dan Masjid Al- Ikhlas di Desa Samibirejo.

Kecintaan beliau pada gurunya , membentuk Mbah Yai Muh mengikuti jejak Kiai Sahal dengan berperan aktif dalam perjuangan membesarkan Nahdlatul Ulama. Dimulai dengan peran beliau menjadi pengurus Ranting NU Wonorejo (tahun 1985-1990) , lalu menjadi Ketua Pengurus MWC NU Kecamatan Tlogowungu pada (tahun 1992-2012),Ketua Forum Komunikasi Madrasah Diniyah (FKMD) Kab. Pati (1998-2018), Ketua Lazisnu PC NU Kabupaten Pati (tahun 2013-2018) dan terakhir menjadi Rois Syuriyah NU SeKecamatan Tlogowungu (tahun 2013-2018). Ketekunan, istiqomah dan keihlasannya membuat NU berkembang dan berkontribusi nyata dalam masyarakat. Di organisasi pemerintahan desa Wonorejo Mbah Muh pernah menjadi Ketua RT, RW dan juga Badan Pengawas Desa (BPD Wonorejo). Mungkin beliau adalah sedikit dari juatan orang yang benar-benar menghabisakan hidupnya untuk mengabdi dan mengembangkan pendidikan, yang beliau niati semuanya dengan niat ibadah lillahita’ala.

Penerus Dan Murid-Murid

Sepeninggal beliau, perjuangan akan umat dan agama islam di teruskan putra-putri nya yaitu KH Muhammad Amirudin LC, MA (pengganti mbah yai Muchson dan penerus jamiiyyah Rotibul Hadad serta Majelis Taklim Darussalam), putra ke 3 Ahmad Nurul Furqon bekerja di Kementrian Agam RI Pusat, dan putra terakhir Kiai Ahmad Islahul Umam merupakan pengasuh Ponpes Baitul Mukminin Getas Kudus, dan putri pertama Minhatin Sholihah berkarya di perbankan . Kebaikan yang Kiai Muchson tanam mengalir berkahnya ke putra-putri nya menjadi orang yang sukses dan berguna bagi masyarakat.

Perjuangan beliau juga diteruskan oleh murid-murid beliau dintaranya :

  1. KH Nasyir , Pengasuh Ponpes Tambak Beras-Jombang
    1. KH Ahmad Prayitno, Pengasuh Ponpes Babusyifa Jeruk Wangi Jepara
    1. Kiai Hasan Manshur, Kepala Madin Naba’ul Ulum
    1. Siti Alfi Inayah, Kepala MI Naba’ul Ulum

Dawuh Dan Teladan Kiai Muchson

Ketika kita menyebut nama mbah Muh, semua orang yang pernah mengenal beliau , akan selalu langsung teringat akan sebuah sosok figur yang sangat sederhana,rapi, ramah/menyejukan, merangkul dan ikhlas. Beliau selalu hormat pada siapapun, menghargai ilmu, menghargai orang alim , penghargaan dan ketaatan yang luar biasa pada guru dan dhuriayahnya. Disetiap apa yang dilakukan beliau selalu berkata pada keluarganya untuk meniatkan lilahita’ala. Beliau mengajarkan untuk banyak memberikan contoh bukan banyak kata-kata. Mbah Muh masih macul disawah, menyetrika bajunya sendiri, dengan anak kecil dekat dan slalu berupaya umat dan masyarakat bisa rukun, tentrem ayem sehingga bisa wushul dalam beribadah. Semua jabatan yang pernah disandangnya tidak lebih dari sekedar amanah perjuangan untuk kepentingan umat.

Dawuh-dawuh beliau yang sering diingat :

  • Banyaklah memberi contoh kebaikan
    • Biasakno kulinakno, omonganmu podo karo pangucape atimu
    • Selalu itiqmah dalam berdzikir, sampe nancep nang jero atimu
    • Sopo sing iso jogo ragane, bakal ketemu swarga-ne

Demikian sebuah biografi yang jauh dari sempurna , ibarat buku harian biografi, tulisan ini hanyalah sesobek buku harian tentang guru mulia KH Muhammad Muchson Yamin yang masih perlu kita sempurnakan bersama.

Catatan :

Tulisan ini di buat dengan sumber :

  1. Wawancara langsung ke Istri dan putra-i beliau
  2. Lembar Curriculum Vitae yang pernah di tulis Kiai Muchson
  3. Sahabat dan murid beliau
  4. Face book KH Amirudin (putra ke 2 Kiai Muchson)

Naskah ini di ikutkan dalam Lomba Menulis Biografi Kiai Lokal  Porsema XII PC LP Maarif Pati 2023

Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Konten Terkait

Back to top button