Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Parodi » Haji; dari Ibadah Hingga Merasa Wah

Haji; dari Ibadah Hingga Merasa Wah

  • account_circle admin
  • calendar_month Rab, 22 Jun 2022
  • visibility 347
  • comment 0 komentar

Senja masih seperti kemarin, ada guratan mega memerah. Mendung bergelantungan. Hujan tak datang. Mendung terus menghadang menemani perjalanan pulang dari rutinitas harian. Pergi pagi pulang sore hari. Maklum karyawan kantoran seperti yang dikatakan orang-orang.

Perjalanan masih panjang. Mendung masih menghadang. Notifikasi pesan masuk di whatshap berdatangan tak karuan. Sesekali panggilan masuk berurutan. Saya tak peduli karena masih menikmati perjalanan pulang. Menikmati mendung tak kunjung hujan datang.

“Ini orang tak sabaran, jika panggilan dua kali tak terjawab mbok yo nyadar bisa jadi yang bersangkutan sibuk, yang bersangkutan ada halangan” celetuk saya dengan hati dongkol.

Sampai di rumah, mandi, cuci kaki dan istirahat sambil menikmati secangkir kopi buatan istri. Saya mengambil handphone merk xiaomi keluaran terlama. Mengecek satu persatu pesan masuk dari whatshap.

“Mohon maaf koreksi, setahu saya orang tersebut belum Haji, kenapa di berita namanya di tulis gelar Haji?”

Saya menggerutu sejadi jadinya. Dari tadi telepon tanpa jeda, mengirim pesan secara berturut turut hanya komplain perihal penulisan gelar? Kok remeh dan receh sekali. Meskipun saya yang bertanggung jawab atas portal media online sepenuhnya terkait isi berita seringkali membuat hati terluka, dan artikel tak jarang membuat hati mangkel serta puisi lebih sering bikin orang berhalusinasi. Jadi wajar apabila komplain dan kritikan langsung kepada saya.

Portal media online yang saya dengan teman-teman kelola adalah sebuah media yang bergerak di bidang sosial keagamaan. Jadi tim redaksi bekerja dengan penuh sosial tanpa adanya gaji. Serta ruang lingkupnya pun terbatasi; tak diperbolehkan menulis sesuatu yang kontroversi, menimbulkan polemik. Beritanya standar saja.

Seketika setelah saya membaca pesan whatshap dari orang yang sudah ber Haji saya segera konfimasi ke teman redaksi yang menulis berita tersebut.

“Berita hari ini yang tayang di portal kita ada yang komplain terkait penulisan gelar pada salah satu tokoh, belum Haji di tulis Haji,”

Dengan santai tanpa beban, sesantai saat kita mengelola portal sosial ke agamaan ini. Dengan santai akan tetapi penuh kepastian.

“Sengaja saya menulis Haji dengan maksud dan tujuan sebagai doa, siapa tahu Tuhan memakbulkan doanya, dari sebuah tulisan di berita menjadi Haji beneran, jadi secara tak langsung kita juga mendapatkan pahala meskipun tanpa sengaja.”

Saya tak bisa menekan atau lainnya; lha wong kerja sosial non profit kok. Masih ada yang mau mengelolanya alhamdulillah sekali. Dari komplain sederhana tapi mengena, saya jadi berfikir nakal sekali, berfikir liar sekali; begitu sangat penting kah? penyematan gelar Haji bagi mereka sudah berhaji dan sangat tak diterima ketika ada orang  belum berhaji ditulis gelar Haji di depan namanya?

Temannya saya melanjutkan pembelaannya; bukankah Haji adalah ibadah; seperti halnya ibadah-ibadah lainnya. Ibadah Haji akan menjadi wajib  ketika seseorang mampu dan jika belum mampu tak mendapatkan kewajiban tersebut.

Dari kejadian salah tulis  gelar di berita tersebut saya beranggapan apabila antara orang yang sudah berhaji dan belum berhaji harus dibedakan, terutama dalam lingkungan masyarakat. Dan ketika ada kegiatan harus ada pembeda, ketika nulis surat undangan nikahan, undangan kondangan di depan namanya harus di tulis Haji.

“Mereka Haji modal mas, jadi wajar saja apabila ingin dihormati, ingin dimengerti, ingin dipahami. Bukankah modalnya juga banyak, dan penantiannya juga panjang dan lama tak secepat saat kita menunggu lampu traffic light nyala hijau setelah itu kita tinggalkan” celetuk teman saya.

Sambil menikmati kopi buatan istri. Dan mengiyakan apa yang dikatakan teman saya tersebut. Wajar saja jika ada orang tak terima ketika belum Haji di depan namanya di tulis Haji. Lha wong penantiannya panjang, modalnya juga puluhan juta, manusiawi sekali.

“Pak…Bapak…sampean saja belum Haji kok bergaya nulis tentang orang yang sudah berhaji mengkritisi tentang tingkah polahnya pula, lha mbok di jarke wae; toh Haji itu kan ibadah mau di pamerkan, mau di sombongkan itu haknya. Andaikan saja bapak sudah berhaji apa mau ada orang manggil tanpa menyebutkan Pak Kaji? ujar istri saya denga ketus

Dengan tanpa semangat saya menutup laptop dan menghabiskan secangkir kopi buatan istri meskipun pahit akan tetapi selalu menyisakan rasa nikmat.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • brown wooden chess piece on brown book

    Satu Banding Dua

    • calendar_month Sen, 23 Jun 2025
    • account_circle admin
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Dalam kajian ushul fiqh ada bab naskh (revisi atau amandemen hukum). Naskh adalah menghilangkan hukum lama dengan hukum baru dengan dasar dalil. Naskh hanya ada pada era Nabi. Pasca Nabi tidak lagi ada naskh, namun jika hukum tidak berlaku itu karena konteks yang belum mendukung. Sebab naskh ini adalah karena hukum […]

  • Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?

    Kapan Terjadinya Lailatul Qadar?

    • calendar_month Sen, 24 Mar 2025
    • account_circle admin
    • visibility 480
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda* Soal Lailatulqadar atau Lailatul Qadar, telah saya tulis sejak dulu. Dimulai dari Lailatul Qadar Momentum Perubahan (2013), Membongkar Matematika Lailatul Qadar (2018), dan Misteri Lailatul Qadar (2024). Namun, saya masih penasaran dan belum benar-benar merasakan dan mengetahui terjadinya Lailatul Qadar. Dalam berbagai kesempatan kita pasti sudah paham bahwa Lailatul Qadar adalah malam […]

  • PCNU-PATI Photo by Debby Hudson

    Meraba Lagi Deruku

    • calendar_month Ming, 23 Jul 2023
    • account_circle admin
    • visibility 445
    • 0Komentar

    Oleh : Nurul Badriyah Jum’at ini udara sangat dingin menusuk sampai kesendi –sendi tulang. Ngilu. Persis seperti hatiku. Huffft. Di tengah musim hujan seperti ini aku sering menemukan sebuah kenangan dalam setiap genangan, mengaliri hatiku yang terluka sebab cinta. Menghembuskan udara dingin dan sepi dalam setiap kerinduan. Yah, begitulah saat ini perasaanku. Hujan mewakili air […]

  • Ramadan dan Etika Bermedia Sosial

    Masjid dan Media Sosial

    • calendar_month Sen, 2 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 9.544
    • 0Komentar

    Oleh Hamidulloh Ibda Masjid menjadi penting dalam pembangunan spiritualitas masyarakat muslim. Perannya sudah kentara dan jelas sejak zaman Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Dalam konteks Ramadan, banyak sekali dakwah-dakwah berbasis digital berseliweran di gawai kita. Namun masalahnya, apakah masjid masih memiliki otoritas dibandingkan media sosial? Secara tradisional, masjid dilihat sebagai ruang fisik, bangunan, tempat untuk bersujud, […]

  • Remaja Cerdas Halau Radikalisme di Zaman Digital

    Remaja Cerdas Halau Radikalisme di Zaman Digital

    • calendar_month Jum, 29 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 360
    • 0Komentar

     Pada tanggal 30 Januari nanti, bertempat di Gedung Lantai 2 Pon Pes Shofa Az-Zahro Gembong Pati. LTN NU akan mengadakan Road Show ke pesantren dan sekolah-sekolah perihal Jihad Cyber.             “ Di Pon Pes Az-Zahro ini merupakan putaran ke- 3, berhubung ini bertepatan dengan Harlah NU ke 90 LTN NU ikut serta memeriahkan dengan memberikan […]

  • Fidyah Aneh (2

    Fidyah Aneh (2

    • calendar_month Kam, 2 Sep 2021
    • account_circle admin
    • visibility 371
    • 0Komentar

    Bolehkah membayar fidyah setiap tahun pada bulan wafatnya orang yang difidyahi, dan dapatkah menggugurkan / meringankan tuntutan meninggalkan sholat / puasa mayat yang ketika hidupnya sudah biasa meninggalkannya ?   Jawaban : Boleh karena tidak ada kewajiban fauron (seketika) dalam mengkafarohi mayit, dan tidak dapat menggugurkan tuntutan meninggalkan sholat/puasa akan tetapi dapat sedikit meringankan dosanya. […]

expand_less