Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Bersua di Dalam Tanah

Bersua di Dalam Tanah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 8 Agu 2022
  • visibility 247
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Seorang sufi ternama, Maulana Jalaluddin Rumi, dalam satu syairnya berkata, “Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, tersebutlah sebentang tanah. Kita akan bersua di sana.” Syair yang pendek namun menghunjam ke dalam relung hati. Sebuah kritikan yang tajam dari seorang sufi tatkala menyaksikan hiruk-pikuk manusia yang diributkan oleh sesuatu, entah itu harta, tahta, maupun hal-hal lainnya. Padahal, ujar Rumi, mereka semua—termasuk dirinya—akan mati dan dikubur di dalam tanah. 

Di dalam tanah itulah mereka yang sama-sama ribut itu “bertemu” dengan kedudukan dan posisi yang sama. Di dalam tanah itu mereka sudah tidak meributkan apa-apa lagi, sama-sama tidak merasa paling benar dan menyalahkan orang lain lagi. Mereka sudah tak berdaya. Apa yang diperselisihkannya menjadi sirna seketika. Tidak ada lagi menang dan kalah, benar dan salah. Mereka sama-sama tak berdaya. Oleh karena itu, tidak aneh jika Chairil Anwar, sastrawan Indonesia, berujar, “Hidup hanyalah menunda kekalahan.” 

Maksud puisi tersebut adalah bahwa pada akhirnya kita semua akan mengalami kematian. Dan kematian akan dialami oleh siapa saja. Tanpa kecuali. Siapa yang bisa melawan kematian? Tidak ada. Oleh karena itu, kita semua akan kalah dengan kematian. Pada saat hidup kita berjuang untuk bisa mempertahankan hidup, padahal apa yang kita pertahankan itu akan hilang jua.

Bahkan ada sebagian orang perilaku seperti hendak hidup selamanya. Indikasi orang yang berperilaku demikian adalah tidak menyadari akan hakikat kehidupan sehingga hidupnya penuh dengan kebencian, kebohongan, tipu muslihat, rakus, sombong, melakukan korupsi, dan lain-lain. Padahal, sebagaimana dikatakan Chairil Anwar, mereka akan kalah jua oleh kematian. 

Perbedaan Pendapat

Di dalam hubungan sosial akan terjadi interaksi antar antar-individu. Masing-masing indvidu mempunyai pikiran dan perasaan yang berbeda. Meski orang itu kembar sekalipun. Apa yang dialaminya akan membentuk perasaan dan pikiran tersebut. Maka, sebuah keniscayaan apabila terjadi perselisihan pendapat. Perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang tak dapat dielakkan. Oleh karena itu kalau mengingat hakikat tersebut semestinya manusia tidak perlu saling menyalahkan dan merasa paling benar.

Terkadang dengan perbedaan pendapat itu justru menghasilkan sesuatu yang produktif dan tidak monoton. Itulah barangkali mengapa Allah menciptakan manusia berbeda-beda, termasuk agama. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah berfirman: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” [QS. Al-Mâidah : 48]

Perandaian  kata  “sekiranya” dimana dalam bahasa arab berarti “lauw”,  itu  dinamai harf imtina’ limtina’,  yakni kemustahilan sesuatu itu terjadi. Ayat itu telah menakdirkan manusia pasti berbeda, dan perbedaan itu dibuat agar manusia bisa produktif. Artinya, perbedaan itu harus mendorong masing-masing di antara mereka menjadi lebih baik lagi dalam hal apa pun. Output dari ayat itu adalah banyaknya profesi di kalangan manusia.

Ada yang menjadi pedagang, dokter, penulis, guru, dan lain-lain. Masing-masing mereka mempunyai potensi yang sama dalam menjadikan kehidupan ini lebih baik. Jadi tidak perlu saling menyombongkan diri dan merendahkan orang lain. Satu-satunya yang bisa membedakan di antara mereka adalah takwanya. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Menjadi lucu barangkali apabila manusia diciptakan sama. Tidak kompetisi, tidak kreatifitas, tidak ada pula keindahan. Bukankah pelangi terlihat indah karena perbedaan warnanya? Menjadi lucu juga sebenarnya apabila ada orang yang menginginkan persamaan dalam kelompok dan keyakinannya. Tak jarang mereka melakukannya dengan memaksa tanpa ada toleransi. Sedikit-sedikit mengafirkan, sedikit-sedikit menyesatkan.

Cukuplah keragaman tafsir atas Al-Quran menjadi bukti bahwa kita memang diciptakan berbeda, dan perbedaan penafsiran itu tidak menyebabkan para ulama saling menyalahkan dan merasa paling benar. Bahkan, dalam beragama sekalipun kita tidak boleh berselisih, merasa paling benar. Allah SWT sendiri dalam QS. 3:105 telah memperingatkan umat Islam agar  tidak terjebak dalam perselisihan beragama seperti yang pernah terjadi pada umat sebelumnya.

Kematian Sebagai Nasihat

 Kembali kepada syair Jalaluddin Rumi di atas, bahwa tatkala manusia sudah mati sudah tidak ada lagi apa itu kesombongan, keegoisan, keangkuhan, kebanggaan. Di dalam tanah manusia telah sirna. Jasad kita sudah dikubur. Kita kemudian “hidup” kembali di alam lain, yang seratus persen berbeda dengan kehidupan di dunia. Maka, sebuah ungkapan populer telah mengingatkan kita jauh-jauh hari, “Cukuplah kematian sebagai nasihat.”

Kematian adalah sebuah nasihat yang tidak menggunakan kata-kata. Ia diam seribu bahasa. Tapi diamnya itu adalah emas, karena mengandung pesan yang begitu mendalam. Bayangkan, apa yang bisa dilakukan orang yang sudah mati? Apa yang bisa dibanggakannya? Apa yang bisa dibawanya? Tidak ada, bukan? Kita semua sudah hal itu. Mestinya nasihat itu selalu kita pegang di setiap waktu, agar kita selalu sadar dan eling (ingat) bahwa kita ini kelak akan mengalami kematian. Dengan begitu, kita berharap bisa mengendalikan diri dan mengontrol hidup supaya tidak dilanda perilaku tercela.

Kematian mengajarjan mengajarkan kita untuk senantiasa berusaha melakukan yang terbaik agar kehidupan yang kita jalani menjadi lebih bermakna, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Ibnu Umar pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah saw. sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani).

Seperti kata lagu, “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.” Kalau dunia diumpamakan sebagai panggung sandiwara, dan manusia yang hidup di dalamnya memerankan segala hal, maka pada saat kematiannya semua peran menjadi sirna. Jadi, sebaik-baiknya peran yang kita mainkan, tak akan pernah abadi. Kita bisa bangga tatkala ketika hidup mendapat peran sebagai orang kaya. Kita bisa menangis saat mendapat peran sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir di liang lahat.

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Kematian akan sama-sama dialami oleh siapa saja, entah itu penguasa, rakyat, atasan,bawahan, kaya, dan miskin. Tak ada satupun dari manusia yang luput dari peristiwa kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 25)[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU - PATI Photo by Mufid Majnun

    Dugaan Hutang yang Telah dibebaskan

    • calendar_month Sen, 27 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 223
    • 0Komentar

    Sebut saja Cak rohman, Dia adalah salah satu santri di sudut kota Jawa Tengah yang mempunyai saudara seorang pedagang yang mempunyai tokobesar. Pada suatu hari, dia membeli sesuatu di toko saudaranya tapi uangnya masih kurang. Kemudian dia bilang pada pegawainya untuk dicatat dulu (hutang) dan hal itu sudah berlangsung beberapa kali. Berhubung Cak Rohman termasuk […]

  • PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Gelar Seminar ASWAJA di

    PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Gelar Seminar ASWAJA di

    • calendar_month Sen, 26 Apr 2021
    • account_circle admin
    • visibility 182
    • 0Komentar

     di Tengah Arus Ideologi Radikal dan Liberal” tersebut dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan. Seminar yang dilaksanakan di Aula MA Salafiyah Kajen tersebut diikuti oleh 90 anggota PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Kajen dan dihadiri oleh pembina PK IPNU IPPNU MA Salafiyah Kajen, KPS, KPPS, ET-Diversity, Pramuka, serta tamu undangan dari luar yaitu PAC IPNU-IPPNU Margoyoso, […]

  • PCNU-PATI

    Tipologi Kiai di Masyarakat

    • calendar_month Sab, 4 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 243
    • 0Komentar

    Tipologi Kiai di Masyarakat Oleh : Siswanto, M A Istilah kiai pada umumnya digunakan masyarakat untuk menyebutkan orang lain yang dinilai memiliki keilmuan dan dianggap pintar oleh masyarakat di kampung halamannya. Istilah kiai juga pada umumnya mengkrucut pada sosok yang dianggap alim dan memiliki pesantren, ahli kitab, serta memiliki ketertarikan pada kajian tradisional Islam di […]

  • PCNU-PATI

    Membaca Nurcholis Majid

    • calendar_month Kam, 1 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 219
    • 0Komentar

    Namun, Cak Nur juga memberikan pertanyaan tentang sampai manakah mahasiswa di dalam mempertahankan idealisme nya tersebut? Apakah hanya sampai pada saat menjadi mahasiswa aktif? Atau bahkan sampai pada saat mereka sudah menjadi bagian daripada pemerintah itu sendiri? Cak Nur mulai mengkhawatirkan pertanyaan tersebut akan terjawab dengan kenyataan bahwa mahasiswa akan berhenti idealis apabila sudah menjadi bagian daripada pemimpin […]

  • Lagi, Putra Margoyoso Ukir Prestasi di Tingkat Asean

    Lagi, Putra Margoyoso Ukir Prestasi di Tingkat Asean

    • calendar_month Sel, 12 Nov 2019
    • account_circle admin
    • visibility 220
    • 0Komentar

    MARGOYOSO-Miftahul Huda (34), putra asli Margoyoso telah berhasil mengharumkan Indonesia dalam kancah internasional. Bukan hanya Indonesia, ia juga telah berhasil membawa nama baik NU melalui kaligrafi. Dalam ajang Pertandingan Kaligrafi Nusantara (Khat) 2019 yang digelar di Kinabalu, Negeri Sabah, Malaysia tersebut, Huda sukses menyabet gelar juara II dalam kategori Khat Tsuluts dan Nasakh tingkat Asean. […]

  • Komisariat MTs Miftahul Ulum Tambakromo Gelar Makesta Dan Reorganisasi

    Komisariat MTs Miftahul Ulum Tambakromo Gelar Makesta Dan Reorganisasi

    • calendar_month Ming, 13 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 264
    • 0Komentar

    TAMBAKROMO – PAC IPNU IPPNU Tambakromo Kemarin (Jum’at, 11/02/2022) Mengawal pelaksanaan Makesta dan reorganisasi Komisariat IPNU IPPNU MTs Miftahul Ulum Tambakromo. Kegiatan yang dilaksanakan di gedung MTs tersebut pada tanggal 10-11 Februari 2022 dihadiri pengurus PAC, Kepala Madrasah dan di ikuti 43 siswa dari kelas VIII. Dalam kegiatan Makesta yang merupakan tingkatan kaderisasi pertama agar […]

expand_less