Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Bersua di Dalam Tanah

Bersua di Dalam Tanah

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 8 Agu 2022
  • visibility 410
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Seorang sufi ternama, Maulana Jalaluddin Rumi, dalam satu syairnya berkata, “Jauh melebihi apa yang benar dan apa yang salah, tersebutlah sebentang tanah. Kita akan bersua di sana.” Syair yang pendek namun menghunjam ke dalam relung hati. Sebuah kritikan yang tajam dari seorang sufi tatkala menyaksikan hiruk-pikuk manusia yang diributkan oleh sesuatu, entah itu harta, tahta, maupun hal-hal lainnya. Padahal, ujar Rumi, mereka semua—termasuk dirinya—akan mati dan dikubur di dalam tanah. 

Di dalam tanah itulah mereka yang sama-sama ribut itu “bertemu” dengan kedudukan dan posisi yang sama. Di dalam tanah itu mereka sudah tidak meributkan apa-apa lagi, sama-sama tidak merasa paling benar dan menyalahkan orang lain lagi. Mereka sudah tak berdaya. Apa yang diperselisihkannya menjadi sirna seketika. Tidak ada lagi menang dan kalah, benar dan salah. Mereka sama-sama tak berdaya. Oleh karena itu, tidak aneh jika Chairil Anwar, sastrawan Indonesia, berujar, “Hidup hanyalah menunda kekalahan.” 

Maksud puisi tersebut adalah bahwa pada akhirnya kita semua akan mengalami kematian. Dan kematian akan dialami oleh siapa saja. Tanpa kecuali. Siapa yang bisa melawan kematian? Tidak ada. Oleh karena itu, kita semua akan kalah dengan kematian. Pada saat hidup kita berjuang untuk bisa mempertahankan hidup, padahal apa yang kita pertahankan itu akan hilang jua.

Bahkan ada sebagian orang perilaku seperti hendak hidup selamanya. Indikasi orang yang berperilaku demikian adalah tidak menyadari akan hakikat kehidupan sehingga hidupnya penuh dengan kebencian, kebohongan, tipu muslihat, rakus, sombong, melakukan korupsi, dan lain-lain. Padahal, sebagaimana dikatakan Chairil Anwar, mereka akan kalah jua oleh kematian. 

Perbedaan Pendapat

Di dalam hubungan sosial akan terjadi interaksi antar antar-individu. Masing-masing indvidu mempunyai pikiran dan perasaan yang berbeda. Meski orang itu kembar sekalipun. Apa yang dialaminya akan membentuk perasaan dan pikiran tersebut. Maka, sebuah keniscayaan apabila terjadi perselisihan pendapat. Perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang tak dapat dielakkan. Oleh karena itu kalau mengingat hakikat tersebut semestinya manusia tidak perlu saling menyalahkan dan merasa paling benar.

Terkadang dengan perbedaan pendapat itu justru menghasilkan sesuatu yang produktif dan tidak monoton. Itulah barangkali mengapa Allah menciptakan manusia berbeda-beda, termasuk agama. Dalam salah satu ayat-Nya, Allah berfirman: “Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kamu semuanya kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” [QS. Al-Mâidah : 48]

Perandaian  kata  “sekiranya” dimana dalam bahasa arab berarti “lauw”,  itu  dinamai harf imtina’ limtina’,  yakni kemustahilan sesuatu itu terjadi. Ayat itu telah menakdirkan manusia pasti berbeda, dan perbedaan itu dibuat agar manusia bisa produktif. Artinya, perbedaan itu harus mendorong masing-masing di antara mereka menjadi lebih baik lagi dalam hal apa pun. Output dari ayat itu adalah banyaknya profesi di kalangan manusia.

Ada yang menjadi pedagang, dokter, penulis, guru, dan lain-lain. Masing-masing mereka mempunyai potensi yang sama dalam menjadikan kehidupan ini lebih baik. Jadi tidak perlu saling menyombongkan diri dan merendahkan orang lain. Satu-satunya yang bisa membedakan di antara mereka adalah takwanya. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling takwa.” (QS. Al Hujurat: 13)

Menjadi lucu barangkali apabila manusia diciptakan sama. Tidak kompetisi, tidak kreatifitas, tidak ada pula keindahan. Bukankah pelangi terlihat indah karena perbedaan warnanya? Menjadi lucu juga sebenarnya apabila ada orang yang menginginkan persamaan dalam kelompok dan keyakinannya. Tak jarang mereka melakukannya dengan memaksa tanpa ada toleransi. Sedikit-sedikit mengafirkan, sedikit-sedikit menyesatkan.

Cukuplah keragaman tafsir atas Al-Quran menjadi bukti bahwa kita memang diciptakan berbeda, dan perbedaan penafsiran itu tidak menyebabkan para ulama saling menyalahkan dan merasa paling benar. Bahkan, dalam beragama sekalipun kita tidak boleh berselisih, merasa paling benar. Allah SWT sendiri dalam QS. 3:105 telah memperingatkan umat Islam agar  tidak terjebak dalam perselisihan beragama seperti yang pernah terjadi pada umat sebelumnya.

Kematian Sebagai Nasihat

 Kembali kepada syair Jalaluddin Rumi di atas, bahwa tatkala manusia sudah mati sudah tidak ada lagi apa itu kesombongan, keegoisan, keangkuhan, kebanggaan. Di dalam tanah manusia telah sirna. Jasad kita sudah dikubur. Kita kemudian “hidup” kembali di alam lain, yang seratus persen berbeda dengan kehidupan di dunia. Maka, sebuah ungkapan populer telah mengingatkan kita jauh-jauh hari, “Cukuplah kematian sebagai nasihat.”

Kematian adalah sebuah nasihat yang tidak menggunakan kata-kata. Ia diam seribu bahasa. Tapi diamnya itu adalah emas, karena mengandung pesan yang begitu mendalam. Bayangkan, apa yang bisa dilakukan orang yang sudah mati? Apa yang bisa dibanggakannya? Apa yang bisa dibawanya? Tidak ada, bukan? Kita semua sudah hal itu. Mestinya nasihat itu selalu kita pegang di setiap waktu, agar kita selalu sadar dan eling (ingat) bahwa kita ini kelak akan mengalami kematian. Dengan begitu, kita berharap bisa mengendalikan diri dan mengontrol hidup supaya tidak dilanda perilaku tercela.

Kematian mengajarjan mengajarkan kita untuk senantiasa berusaha melakukan yang terbaik agar kehidupan yang kita jalani menjadi lebih bermakna, baik pada diri sendiri maupun orang lain.

Ibnu Umar pernah berkata, “Aku pernah menghadap Rasulullah saw. sebagai orang ke sepuluh yang datang, lalu salah seorang dari kaum Anshor berdiri seraya berkata, “Wahai Nabi Allah, siapakah manusia yang paling cerdik dan paling tegas?” Beliau menjawab, “(adalah) Mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah manusia-manusia cerdas; mereka pergi (mati) dengan harga diri dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR. Ath-Thabrani).

Seperti kata lagu, “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, ada peran wajar dan ada peran berpura-pura.” Kalau dunia diumpamakan sebagai panggung sandiwara, dan manusia yang hidup di dalamnya memerankan segala hal, maka pada saat kematiannya semua peran menjadi sirna. Jadi, sebaik-baiknya peran yang kita mainkan, tak akan pernah abadi. Kita bisa bangga tatkala ketika hidup mendapat peran sebagai orang kaya. Kita bisa menangis saat mendapat peran sebagai orang miskin yang menderita. Tapi, bangga dan menangis itu bukan untuk selamanya. Semuanya akan berakhir di liang lahat.

Kematian mengingatkan bahwa kita bukan siapa-siapa. Kematian akan sama-sama dialami oleh siapa saja, entah itu penguasa, rakyat, atasan,bawahan, kaya, dan miskin. Tak ada satupun dari manusia yang luput dari peristiwa kematian. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya: 25)[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • TVNU – PB PMII Kolaborasi Gelar Doa Bersama

    TVNU – PB PMII Kolaborasi Gelar Doa Bersama

    • calendar_month Kam, 8 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 0Komentar

    Zoom meeting Sholawat Nariyah dan Doa untuk Keselamatan Bangsa oleh TVNU dan PB-PMII Rabu (7/7) malam. JAKARTA-Pengurus Besar PMII bekerja sama dengan TVNU mengadakan sholawat nariyah dan doa bersama Rabu (7/7) malam. Kegiatan tersebur dilakukan secara daring via zoom meeting.  Selain ketua umum PB PMII dan Kopri PB PMII, hadir pula dalam agenda tersebut beberapa […]

  • Menunggu Jamaah sambil I’tikaf

    Menunggu Jamaah sambil I’tikaf

    • calendar_month Ming, 11 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 352
    • 0Komentar

     Pertanyaan : Bolehkah bagi seseorang, setiap menunaikan sholat jama’ah sekalian berniat i’tikaf dimasjid? Apakah ketika ia keluar (pulang) dari masjidseketika itu i’tikafnya langsung dihukumi batal? Jawaban :Hukum I’tikaf adalah sunah muakkadah jika kita tidak bernadzar untuk melakukannya, dan disayogyakan bagi kita untuk melakukan i’tikaf ketika kita memasuki masjid untuk melakukan semisal membaca al-quran, belajar, berdzikir […]

  • Dua Redaktur LTN-NU Pati 'Menyusup' di acara bukber IPNU-IPPNU.

    Redaktur LTN ‘Menyusup’ di Bukber IPNU-IPPNU

    • calendar_month Sab, 9 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 312
    • 0Komentar

    PATI – Bukber Pengurus IPNU-IPPNU se-Kawedanan Pati di warung MG, Sidokerto, berlangsung Sabtu (9/4) sore ini. Bukan hanya buka bersama, para pengurus pelajar NU dari 4 Kecamatan tersebut juga melakukan penguatan yang diisi langsung oleh Ketua PC IPNU Pati, Matsna Zakiyatus Salwa. Di sela-sela acara, salah satu Redaktur LTN-NU Pati, Angga Saputra dan Maulana Luthfi […]

  • Karya Siswa DKV dan Multimedia SMK Cordova Dipamerkan

    Karya Siswa DKV dan Multimedia SMK Cordova Dipamerkan

    • calendar_month Kam, 10 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id. – Ratusan karya siswa desain komunikasi visual (DKV) dan mutimedia, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Cordova, Margoyoso, Pati, dipamerkan di aula sekolahan setempat. Kegiatan ini mulai Rabu 9 November sampai dengan Jumat 11 November 2022. Pada pameran yang bertajuk Semangat Berkarya (Sekar) ini, ratusan karya siswa ditampilkan. Seperti film, fotografi, hingga merchandise. Ketua Jurusan DKV […]

  • Gus Nadir : Pemuda Harus Kaya Literasi

    Gus Nadir : Pemuda Harus Kaya Literasi

    • calendar_month Sab, 28 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 306
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA-Tokoh kontroversial, Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) hadir di Yogyakarta, Sabtu (28/9) malam. Dosen Monash Institute, Australia tersebut, merupakam salah satu tokoh NU yang dianggap liberal oleh khalayak. Hal ini tak lepas dari aktivitas Gus Nadir di media sosial yang cukup intens dan memancing reaksi kaum radikalis. Gus Nadir saat merespon pertanyaan hadirin Malam ini, Gus […]

  • Dilantik, PAC IPNU IPPNU Trangkil Terbitkan Dua Progam Unggulan

    Dilantik, PAC IPNU IPPNU Trangkil Terbitkan Dua Progam Unggulan

    • calendar_month Sab, 9 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Prosesi potong tumpeng usail pelantikan PAC IPNU-IPPNU Trangkil TRANGKIL – PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Trangkil sukses menggelar Pelantikan XIII dan Rapat Kerja di Perpustakaan PAC setempat, Desa Kertomulyo, Jum’at (8/10). Selain pelantikan, dalam kesempatan tersebut, PAC IPNU-IPPNU Trangkil juga menerbitkan dua program unggulan. Pelantikan tersebut dihadiri oleh Camat Kecamatan Trangkil, MWC NU Trangkil, PC IPNU-IPPNU Kabupaten […]

expand_less