Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Religion and Nation; Islam

Religion and Nation; Islam

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 5 Agu 2023
  • visibility 531
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto, MA

Sebelum melangkah jauh ke dalam ruang-ruang teoritis, sebuah kajian ilmiah senantiasa mengandaikan upaya penjernihan terma-terma yang digunakan. Upaya penjernihan ini berfungsi untuk membuka cakrawala pemahaman awal sekaligus memetakan rute-rute praksisnya.

Mendefinisikan agama, dalam hal ini Islam, secara global dan utuh tentu tidak semudah dengan hanya menyatakan bahwa Islam adalah dogma yang mengajarkan tentang katauhidan semata. Karena memang pada kenyataannya Islam lebih dari itu. Paling tidak Islam memiliki dua tipologi eksistensial; di satu sisi ia adalah agama (religion), yakni sebuah sistem kepercayaan dan peribadatan; dan di sisi yang lain ia adalah sebuah peradaban (civilization), yang mana selalu tumbuh dan berkembang di bawah nuansa dan pengawasan agama itu sendiri.

Ketika agama –dalam hal ini Islam- didefinisikan dengan dua tipologi seperti yang telah disebutkan, maka agama tentu tidak melulu berurusan dengan hal-hal suci terkait sistem kepercayaan semata. Sehingga pada ranah aplikasinya tentu harus disadari bahwa manusialah – dengan otoritas kebebasannya- yang akan memahami agama tersebut sesuai dengan kondisi sosio-kulturnya.

Oleh karena itu, agama dalam ajarannya senantiasa memperhatikan fenomena-fenomena kemanusiaan; baik fenomena psikologis, fenomena sosial, fenomena historis, bahkan sampai fenomena filosofis. Wahyu yang pada mulanya hanya Tuhan, Malaikat dan Rasul yang tahu dalam bentuk aslinya, kini berstatus menjadi teks yang dapat dibaca oleh semua umat manusia.

Sedangkan pemahaman agama (fiqh al-dîn) selalu berlandaskan pada sumber-sumber teosentris transendentalnya; Al-Qur’an dan al-Hadits. Berbeda dengan hal tersebut, corak manusia dalam memahami pola-pola beragama (fiqh at-tadayyun) tentu tidak sesederhana hanya dengan menjadikan teks sebagai piranti bingkai konseptualnya. Rancang bangun konsep kajian dalam memahami cara beragama manusia tidak akan pernah bisa luput dari realita-realita yang sepenuhnya berada dalam ruang dan waktu (al-wâqi’ al-zamaniy).

Sehingga nampak jelas dalam rekam jejak sejarah peradaban Islam bahwa umat Islam tunduk dan patuh dalam satu bentuk pemerintahan yang sama selama kurang lebih 12 abad, tanpa harus meributkan dan memperebutkan batas wilayah tertentu. Secara doktrin, Islam memang tidak mengenal batas-batas kewilayahan, kebangsaan, bendera, dan macam-macam simbol lainnya. Namun kesatuan umat tersebut mulai tercerabut setidaknya paska penaklukan Jengis Khan atas Bagdah pada tahun 1258. Menurut Chiara Formichi, hal inilah sejatinya yang melatarbelakangi lahirnya gagasan nasionalisme sebagai akibat dari fragmentasi kekuasaan teritorial dalam suatu wilayah.

Sedangkan dalam mengidentifikasi terma nationalism haruslah berangkat dari bentuk dasarnya, yakni nation. Nation sendiri menurut Christophe Jaffrelot berarti orientasi sebuah negara (state oriented), dimana nasionalisme (nationalism) secara sederhana merupakan ideologi jati diri bangsa itu sendiri. Anthony Smith, sebagaiama dinukil oleh Lowell W. Barrington, beranggapan bahwa bangsa (nation) adalah sebuah nama populasi manusia yang berbagi dalam

wilayah sejarah yang sama, mitos yang sama, memiliki berbagai budaya, bahkan konsep ekonomi dan hak-hak hukum untuk semua membernya. Adapun nasionalisme, masih menurutnya, adalah seperangkat ideologi yang berakar pada rasa solidaritas sebuah bangsa.

Dan berbicara mengenai bangsa (nation) dan orientasi ideologi gerakannya (nationalism) dalam sebuah negara (state) berarti juga membincang eksistensi manusia di dalamya. Ini berarti bahwa: “The people are the nation and the state exists as the expression of the national will.”

Eksistensi manusia yang tidak bisa lepas dari ruang (space) dan waktu (time) menegaskan bahwa keberadaannya pada suatu masa senantiasa terikat dengan sebuah tempat (place) dalam satu wilayah (region) sebagai wadah untuk menjalani kehidupan sosialnya. Jika konstruksi sosial tersebut baik dan benar, maka wadah inilah yang kelak akan menciptakan berbagai macam laku politik yang terilhami dari sama rasa, sama cinta, dan kepedulian terhadap pengalaman yang sama.

Namun yang perlu diperhatikan di sini adalah bahwa nasionalisme sendiri setidaknya memiliki dua jenis tipologi. Pertama, Nasionalisme ekspansif, yakni sebuah paham ideologi yang mengkultuskan kampung halaman, suku, kabilah dan bangsa tertentu dengan lantas menundukkan bangsa-bangsa lainnya. Kedua, nasionalisme Formatif, sebuah paham ideologi perlawanan terhadap sistem penjajahan dan penindasan.

Jika kita cermati, tentu jenis yang pertama tidaklah sesuai dengan nilai keislaman. Mengingat sikap fanatisme (at-ta’ashub) menjadi ujung tombak perpecahan kedaulatan antar bangsa, bahkan juga negara. Adapun yang kedua justru mampu bersinergi dengan ajaran Islam. Sebab kecintaan terhadap tanah air (hubb al-wathan), pembebasan (al-hurriyah) dari segala bentuk penindasan dan penjajahan, serta mempererat tali persaudaran (al-ukhwah) justru merupakan bagian penting dari ajaran universal Islam itu senidiri. Sebab Islam dan Nasionalisme adalah entitas eklusif yang saling berhubungan.

Dengan demikian, perbincangan mengenai hubungan antara Islam dan Nasionalisme tidak diletakkan dalam posisi dikotomi struktural, melainkan harus dilihat sebagai hasil dialektika relasional. Sebab menjadi seorang muslim yang baik, tidak berarti menjadi seseorang yang anti-nasionalisme. Fakta inilah yang telah kita dapatkan dari para perintis perjuangan kemerdekaan Indonesia tempo dulu, khususnya juga NU.

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI Photo by Aditya Nara

    Hujan

    • calendar_month Rab, 23 Nov 2022
    • account_circle admin
    • visibility 383
    • 0Komentar

    Oleh: Niam At Majha Hujan masih tetap air. Belum berubah menjadi gumpalan es. Dan hujan pun masih biasa biasa saja, tak akan membawa bencana ketika manusianya tak sewena wena. Hujan adalah anugerah bagi siapa saja yang bisa berpasrah. Hujan adalah air yang bisa mengalir, menumbuhkan rerumputan dan segala macam tanaman yang berada di permukaan bumi. […]

  • PCNU-PATI

    300 Juta Dari Lazisnu Pati untuk Palestina

    • calendar_month Rab, 29 Nov 2023
    • account_circle admin
    • visibility 565
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id-Perwakilan Pengurus Cabang Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Kabupaten Pati menyerahkan donasi kepada pihak Lazisnu PWNU Jawa Tengah secara simbolik pada selasa (28/11). Serah terima tersebut berlangsung dalam acara Rakerwil (Rapat Koordinasi Wilayah) yang dilaksanakan di INISNU Temanggung. Secara simbolik donasi tersebut telah diterima oleh KH. Ubaidillah Shodaqoh selaku Rois Syuriyah PWNU Jawa Tengah. Wakil […]

  • PCNU-PATI

    Ketua PCNU Pati Hadiri Peresmian Polresta Pati

    • calendar_month Kam, 13 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 374
    • 0Komentar

    PATI – Kenaikan tipe Polres Pati menjadi Polresta Pati resmi dikukuhkan oleh Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol. Ahmad Luthfi, di Halaman Mapolresta, Kamis (13/10/2022) pagi. Peningkatan tipe Polres Pati menjadi Polresta Pati tertuang dalam surat keputusan Kapolri Nomor Kep/1154/VIII/2022. Penjabat (Pj) Bupati Pati, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pati beserta anggota DPR RI, Tokoh […]

  • Kunjungi PWNU Jawa Tengah; AsCare Jepang, Tsubasa TC Jepang & Konsultan Hajime Jepang Sepakati Kerjasama.

    Kunjungi PWNU Jawa Tengah; AsCare Jepang, Tsubasa TC Jepang & Konsultan Hajime Jepang Sepakati Kerjasama.

    • calendar_month Rab, 12 Agu 2026
    • account_circle admin
    • visibility 17.909
    • 0Komentar

    PWNU Jawa Tengah kembali membuka peluang baru bagi lulusan Sekolah Ma`arif untuk meningkatkan skill dan kompetensi serta peluang bekerja di Jepang. Demikian mengemuka dalam diskusi antara PWNU Jawa Tengah, LP Ma`arif NU Jateng, saat menerima kunjungan rombongan dari ASCare Jepang, Tsubasa Jepang, dan LPK Hajime Sinergi Indonesia yang digelar di Kantor PWNU Jawa Tengah, Selasa […]

  • spda-jpg-2

    Bagaimana Hukum Penarikan Sepeda Motor ?

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 502
    • 0Komentar

        Jawaban :Jika aqad bai`nya (jual belinya) dianggap sah, maka syarat-syarat yang telah disepakati kedua belah fihak, menurut Imam Taqiyaddin Assubki, wajib untuk memenuhinya. Sehingga penarikan sepeda motor hukumnya adalah boleh. Dan Jika aqad bai`nya dianggap tidak sah, maka syarat-syarat yang telah disepakati kedua belah fihakpun dianggap fasid (tidak sah).Sehingga penarikan sepeda motor tersebut, […]

  • Lazisnu Ajak Warga Peduli Kekeringan

    Lazisnu Ajak Warga Peduli Kekeringan

    • calendar_month Sen, 16 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 358
    • 0Komentar

    WINONG-LAZISNU, LKKNU  dan LPBINU tak henti-henti melancarkan distribusi air bersih bagi warga Kabupaten Pati yang membutuhkan. Hal ini mengingat matinya sumber air di beberapa daerah. Terhitung sejak Minggu (15/9) sudah lebih dari 80.000 liter air didistribusikan untuk warga.  “Kami akan terus bergerak demi tersalurnya air bersih untuk saudara-saudara kita” tutur Edi Fitrianto, pengurus cabang LPBI […]

expand_less