Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Meneguhkan Khittah NU

Meneguhkan Khittah NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Sab, 11 Mar 2023
  • visibility 457
  • comment 0 komentar

Oleh : Siswanto

Khittah Nahdlatul Ulama (NU) merupakan sebuah landasan berfikir, bertindak, dan berjuang sesuai dengan nilai-nilai NU. Khittah NU ini dirumuskan pada Muktamar ke- 27 di Situbondo tahun 1984. Khittah NU juga merupakan hasil dari gerakan kembali  ke khittah yang dalam sejarahnya telah disuarakan sejak tahun 1959.

Khittah NU, meski baru dirumuskan secara tertulis pada Muktamar NU di Situbondo, tetapi sejatinya menurut KH. Achmad Siddiq di dalam karyanya “Khittah Nahdliyah” menurut Nur Khaliq Ridwan dalam bukunya Ensiklopedia Khittah NU jilid l disebutkan bahwa,  intisarinya sudah ada dalam bentuk tindakan dan uraian-uraian lisan dari masa ke masa di dalam tradisi NU.    

Di dalam Khittah NU disebutkan bahwa landasan yang dipakai  oleh NU adalah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang diterapkan sesuai dengan kondisi di lingkungan masyarakat. Landasan ini meliputi, dasar-dasar amal keagamaan sosial kemasyarakatan. Adapun sumber-sumber yang diapakai dalam mendasarkan paham keagamaan meliputi, Alquran, sunnah, ijma’ dan qiyas.

Dalam menafsirkan Islam dari sumber-sumber di atas, NU mengikuti Aswaja dan menggunakan pendekatan mazhab. Sedangkan dalam akidah mengikuti paham yang dipelapori oleh Imam Abu hasan al-Asy’ari dan Abu Manshur al-Maturidi. Dan dalam fiqh mengikuti salah satu mazhab fiqh empat mazhab yaitu (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Hanbali). Sedangkan dalam ranah tasawuf mengikuti Imam Junaidi al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali, termasuk juga para imam sufi lain di kalangan Aswaja.

Sementara itu, dalam rangka mengimplementasikan dimensi sosial-kemasyarakatan dengan paham keagamaan yang dianutnya,  NU berupaya menumbuhkan sikap tawasuth (sikap moderat), tasamuh (toleran dalam perbedaan pandangan), tawazun (seimbang), i’tidal (menegakkan keadilan), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan).

Dari beberapa ciri-ciri sikap di atas, diharapakan mampu membentuk individu dan organisasi yang menjunjung tinggi norma-norma dalam Islam yaitu; mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi, menjunjung tinggi sikap dan sifat keikhlasan dalam berkhidmah dan berjuang, dan menjunjung tinggi kesetiaan pada agama, negara, dan bangsa.

Dalam hal ini, perjuangan mengimplementasikan nilai-nilai Khittah NU adalah perjuangan yang mengharuskan sikap keikhlasan, serta perbaikan-perbaikan yang diperlukan, dan upaya-upaya memperbaiki keadaan yang sudah ada di tengah masyarakat. Hal ini juga membawa pengertian bahwa nilai-nilai yang tidak membawa maslahat, kebaikan bersama dan jam’iyah Nu dengan sendirinya dilihat dalam kerangka penggantian terhadap nilai-nilai demikian dengan cara bil-ma’ruf. Sedangkan dalam nilai-nilai yang baik dan membawa maslahah, harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Arah perjuangan yang demikian, menghendaki kenyataan seperti disebutkan dalam Khittah NU, “sebagai organisasi kemasyarakatan yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan bangsa Indonesia, NU senantiasa menyatakan diri dengan perjuangan nasional bangsa Indonesia.” Oleh karena itu, perjuangannya harus senantiasa berdimensi menyelaraskan perjuangan NU, Islam, dan bangsa.  

Selain itu, Khittah NU juga menegaskan bahwa NU secara sadar mengambil posisi yang aktif dalam proses perjuangan bangsa untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan. Oleh karenanya, setiap warga NU diharapkan menjadi warga negara yang senantiasa menjunjung tinggi Pancasila dan UUD 45.

Dengan cara demikian itulah, Khittah NU akan tetap hidup mempengaruhi kehidupan, dan menjadi hidup masyarakat Indonesia. Sehingga nilai-nilai yang ada dalam Khittah NU akan menjadi kultur di tengah-tengah masyarakat. 

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PCNU-PATI

    LKD Fatayat NU Winong Singgung Analisis Gender

    • calendar_month Rab, 28 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 402
    • 0Komentar

    pcnupati.or.id.- WINONG Latihan Kader Dasar (LKD) memegang peran penting dalam organisasi Fatayat NU. Sebab, via LKD, Pengurus Fatayat NU dilatih untuk loyal dan militan terhadap organisasi. Hal itulah yang disampaikan oleh Lilik Khoni’ah, sekretaris PC Fatayat NU Pati kepada pcnupati.or.id.  Sebab pentingnya LKD, pihak PC Fatayat NU Pati mengimbau seluruh PAC untuk mengagendakan kegiatan tersebut. Bahkan, […]

  • INISNU Gelar Workshop Peningkatan Mutu Akademik melalui Penyelenggaraan RPL

    INISNU Gelar Workshop Peningkatan Mutu Akademik melalui Penyelenggaraan RPL

    • calendar_month Jum, 6 Feb 2026
    • account_circle admin
    • visibility 8.415
    • 0Komentar

    INISNU Gelar Workshop Peningkatan Mutu Akademik melalui Penyelenggaraan RPL Temanggung – Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung menyelenggarakan Workshop Peningkatan Mutu Akademik Melalui Penyelenggaraan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) pada Kamis, 5 Februari 2026. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 08.30 WIB hingga selesai, bertempat di Ruang Rapat Lantai 2. Workshop menghadirkan dua narasumber dari Universitas Wahid […]

  • Kebijakan Full Day School Membingungkan

    Kebijakan Full Day School Membingungkan

    • calendar_month Kam, 19 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 424
    • 0Komentar

    Pemerintah melalui kementerian pendidikan dan budaya mengeluarkan peraturan baru lewat permen no. 20 tahun 2017, tentang kebijakan sekolah 5 hari alias full day school yang banyak menuai kontra di kalangan madrasah dan pesantren. Kebijakan yang kurang tepat sasaran tentunya, karena menuai banyak kontroversi dan kritikan di kalangan akademisi. Suara keras juga dari PBNU tentunya, secara […]

  • A couple of men sitting on top of a bench

    Pesantren, Pendidikan Karakter, dan Kekerasan Seksual

    • calendar_month Ming, 3 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 13.126
    • 0Komentar

    Oleh: Jamal Ma’mur Asmani Kekerasan seksual yang terjadi di pesantren adalah anomali dari fungsi pesantren sebagai lembaga moral dan intelektual sekaligus. Pesantren yang selama ini dipandang sebagai lembaga pendidikan yang menanamkan pendidikan karakter berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan dan tidak manusiawi. Ini adalah realitas ironis yang semestinya tidak terjadi di pesantren. Pesantren adalah lembaga […]

  • FKPT Jateng Gelar Lomba Menulis Puisi Bertema “Melawan Radikalisme”

    FKPT Jateng Gelar Lomba Menulis Puisi Bertema “Melawan Radikalisme”

    • calendar_month Sel, 30 Sep 2025
    • account_circle admin
    • visibility 520
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id Semarang – Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Tengah membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut serta dalam kegiatan Undangan Menulis Puisi dengan tema “Melawan Radikalisme”. Program ini terbuka bagi siapa saja, baik penyair maupun bukan penyair, tanpa batasan usia maupun domisili. Ketua FKPT Jawa Tengah Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., mengatakan bahwa karya […]

  • Naskah Pegon dan Peradaban Nusantara

    Naskah Pegon dan Peradaban Nusantara

    • calendar_month Jum, 9 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 444
    • 0Komentar

    Dalam kosa kata bahasa Indonesia, kata ‘naskah’ digunakan tidak terbatas pada dokumen tulisan tangan semata, melainkan juga mencakup dokumen cetak lainnya. Naskah atau bisa disebut manuskrip biasanya ditulis di atas alas kertas eropa, daluang, ataupun daun lontar, yang berkembang antara abad 17 hingga abad 20 di Nusantara. Manuskrip merupakan satu-satunya media yang digunakan untuk menyimpan […]

expand_less