Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Tahlilan Wah Ala Kampung

Tahlilan Wah Ala Kampung

  • account_circle admin
  • calendar_month Kam, 13 Okt 2022
  • visibility 454
  • comment 0 komentar

Oleh: Maulana Karim Sholikhin* 

Mengejutkan! Kata pertama yang terlontar saat mendengar bahwa ada sebuah desa yang mungkin belum dijamah Google Street View, biaya kematiannya begitu mahal. Bahkan bisa lebih mahal daripada di kota-kota besar. 

Cerita ini bermula saat penulis mengantar seorang ustadz untuk mengisi ceramah dalam acara tujuh hari kematian. Tentu cuma orang NU yang mengamalkan upacara ini. 

Setelah sampai lokasi, memang tidak ada yang aneh. Hanya sebuah rumah yang teramat sangat sederhana dengan tenda kematian di depannya yang berisi kurang lebih 300-an bapak-bapak. 

Kejanggalan mulai terasa jelang pulang, tepatnya saat berkatan tiba. Seperti umumnya di pantura timur, berkat tujuh hari berisi sebungkus mie instan, sedikit gula, sedikit beras dan juga teh celup. 

Namun yang mengherankan adalah, di atas berkatan itu ada sebuah sarung merk sitting elephant (gajah lungguh) yang–penulis tau–harganya cukup mahal. Sampai di mobil, si Ustadz ternyata juga merasakan kejanggalan itu. “Rumahnya sederhana, tapi berkatnya mewah banget, ya, kang”. 

Karena penasaran, kami memutuskan untuk mampir  ke sebuah warung demi mendapatkan informasi lebih. Bak main detektif-detektifan, kami berpura-pura membeli rokok sambil bincang basa basi dengan empunya warung, sampai tak terasa obrolan mulai menjurus ke tema yang berputar-putar di otak kami sejak tadi. “Sudah jadi tradisi sini, pak”, kata pemilik warung. 

“Ibu-ibu dapat kain sama kerudung, bapak-bapak dapat sarung”, si ahli warung melanjutkan uraiannya, kami semakin ternganga. 

Satu hal yang lebih mengguncang sanubari kami, pemilik warung itu juga bilang kalau Shohibul Mushibah yang kami datangi tadi, menjual sebidang tanah satu-satunya demi membiayai kebutuhan tahlil 7 hari. 

Ngeri-ngeri sedap, sang ustadz segera mengajak penulis mengembalikan amplop yang sudah diterima, namun penulis menolaknya. Alih-alih diterima baik-baik, bagaimana kalau si empunya marah, dikira menghina dan lain sebagainya. 

Kasus ini bukan sebatas gengsi saja lho ya. Justru fenomena ini adalah domino effect dari sifat dasar masyarakat desa yang serba pekewuh (baca: sungkan). “Sebenarnya saya ngga suka budaya ini, tapi kami terlanjur menerima sarung je. Kalau kami memutus adat, apa kata tetangga,” begitu kira-kira. 

Runyam kan? Kalau boleh usul, tradisi ini seharusnya dihapuskan. Bukan tahlilannya, tapi berkatan yang wah itu lho yang perlu ditinjau kembali. Mengingat kekuatan ekonomi masyarakat sangat hetero alias beda-beda. 

Pun pihak terkait seperti tokoh agama dan pemerintah saatnya ambil peran. Kalau biasanya warga yang demo ‘turunkan harga BBM’, giliran pemerintah menyuarakan ‘turunkan harga tahlilan’. Agar apa? Agar tahlilan tak menjadi beban. 

Sebab jika dibiarkan efek dominonya bisa meluber kemana-mana. Tradisi kena, NU pun kena. 

Padahal standar minimal suguhannya nabi sudah jelas, walaw bi syurbi maa’in, seteguk air minum. Ya minimal secangkir kopi lah bisa ndak ngisin-ngisini banget. 

*Penulis merupakan pendidik di Ponpes Shofa Az Zahro’ dan MI Hidayatul Islam Gembong

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah. Photo by RU Recovery Ministries on Unsplash.

    Budaya Literasi Baca-Tulis di Rumah

    • calendar_month Sen, 22 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 403
    • 0Komentar

    M. Iqbal Dawami Sebagai orang yang mencintai aktivitas baca-tulis, saya mencoba menularkan “virus” ini kepada keluarga saya. Di tengah masyarakat yang tak punya tradisi literasi ini, bukan hal mudah untuk menerapkannya, karena keluarga yang berbeda dengan kebanyakan di lingkungan bisa dianggap “aneh”, meskipun itu hal yang positif. Termasuk mengenalkan buku kepada tetangga. Saya coba sedikit […]

  • Pengurus LTN PCNU Pati Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi di Cilacap

    Pengurus LTN PCNU Pati Ikuti Workshop Jurnalistik Filantropi di Cilacap

    • calendar_month Ming, 25 Mei 2025
    • account_circle admin
    • visibility 461
    • 0Komentar

      Pcnupati.or.id. – Pengurus Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) PCNU Pati, turut mengikuti Workshop Jurnalistik Filantropi, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Kroya, Cilacap, pada Jumat-Sabtu, 23-24 Mei 2025. Workshop itu diselenggarakan oleh  NU Online Jawa Tengah yang bekerjasama dengan PCNU Cilacap melalui Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah (LazisNU). Puluhan kontributor NU Online, perwakilan LTN, aktivis muda NU, […]

  • Istighotsah Satu Abad NU

    Istighotsah Satu Abad NU

    • calendar_month Jum, 29 Jul 2022
    • account_circle admin
    • visibility 351
    • 0Komentar
  • Yayasan Al Ma'arif Gembong Wajibkan Semua Pendidik Lulus PD-PKPNU

    Yayasan Al Ma’arif Gembong Wajibkan Semua Pendidik Lulus PD-PKPNU

    • calendar_month Rab, 1 Jul 2026
    • account_circle admin
    • visibility 31
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Pendidikan Dasar-Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama’ (PD-PKPNU) merupakan sarana kaderisasi paling awal bagi pengurus NU. Namun, menurut KH. Yusuf Hasyim, peruntukannya bukan hanya bagi pengurus. PD-PKPNU juga penting untuk semua warga nahdliyyin, terutama para guru. “Untuk mempertebal ke-NU-an, agar mantab NU-nya, siapapun warga NU saya kira perlu memgikuti kaderisasi ini, khususnya para […]

  • Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    Kemah Wisata Gedong Songo Perkuat Edukasi Lingkungan Peserta

    • calendar_month Sel, 23 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 6.583
    • 0Komentar

      Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah juga diisi dengan kegiatan kemah wisata ke kawasan Candi Gedong Songo, Bandungan, Kabupaten Semarang. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu (17/12/2025) sebagai bagian dari pembelajaran luar ruang bagi para peserta. Ratusan peserta tampak antusias mengikuti jelajah kawasan wisata sejarah tersebut. Selain mengenal situs cagar budaya, […]

  • Sepenuh Hati Mencintai-Nya

    Sepenuh Hati Mencintai-Nya

    • calendar_month Kam, 3 Sep 2015
    • account_circle admin
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Dalam buku karya Yadi Saeful Hidayat yang berjudul “Aku Jauh Engkau Jauh, Aku Dekat Engkau Dekat” penulis mencoba menyuguhkan agar manusia mampu menepis segala keraguan atas nikmat iman yang telah di berikan oleh-Nya serta mampu mencintai Allah secara tulus dan mendahalukan segala urusan agama Allah ketimbang urusan lainnya. Allah telah menjanjikan kepada hamba-Nya yang mencintai-Nya […]

expand_less