Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita » Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

Review Buku Ethnoscience Village Map (EVI MAP): Merekam Kearifan Lokal, Menumbuhkan Numerasi Kontekstual

  • account_circle admin
  • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
  • visibility 5.481
  • comment 0 komentar

 

Semarang — Ruang Oval lantai dua Dinas Pendidikan Kota Semarang, Selasa (11/11/2025), menjadi pusat perhatian dunia pendidikan daerah. Di tempat inilah, Dr. Hamidulloh Ibda, Wakil Rektor INISNU Temanggung, tampil sebagai reviewer utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Pembuatan Buku Numerasi Berbasis EVI MAP (Ethnoscience Village Map) yang diinisiasi Dinas Pendidikan Kota Semarang bekerja sama dengan Tanoto Foundation.

FGD tersebut mempertemukan para akademisi, guru, pejabat dinas, dan penggerak literasi dalam suasana akademik yang berpadu dengan semangat kebudayaan lokal. Kegiatan ini menjadi puncak refleksi atas perjalanan panjang pendampingan tiga puluh guru dari berbagai sekolah dasar di Semarang yang menulis buku pembelajaran berbasis etnosains dan numerasi.

Dalam arahannya, Kabid GTK Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dr. Miftahudin, S.Pd., M.Si., memberikan apresiasi kepada tim Fasper Berkelas yang terdiri atas Tri Sugiyono, S.Pd., M.Pd., Dian Marta Wijayanti, M.Pd., Martini, S.Pd., M.Pd., dan Eko Prasetyo Nur Utomo, S.Pd. Tim ini mendapat dukungan penuh dari Tanoto Foundation untuk melatih dan mendampingi para guru menulis karya ilmiah populer berupa buku numerasi berbasis EVI MAP. “Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut. Tanoto Foundation jangan kapok mendukung gerakan literasi dan numerasi di Kota Semarang,” ujar Miftahudin, disambut tawa ringan para peserta.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Semarang, Drs. Ali Sofyan, M.M., juga menegaskan apresiasinya terhadap para guru yang mampu menghasilkan karya buku dalam waktu singkat namun berkualitas. Menurutnya, proyek ini bukan sekadar kegiatan pelatihan, melainkan bukti nyata bahwa guru dapat menjadi penulis dan inovator pembelajaran.

Dalam sesi pemaparan program, Tri Sugiyono menjelaskan bahwa kegiatan yang dijalankan sejak Juli hingga Oktober 2025 ini berfokus pada peningkatan kompetensi guru dan siswa. Selama empat bulan, guru-guru sasaran mengikuti pelatihan intensif tentang filosofi dan penerapan Ethnoscience Village Map, kemudian menulis buku yang mengintegrasikan konteks budaya lokal dalam pembelajaran matematika. Hasilnya, para guru tidak hanya menciptakan bahan ajar baru, tetapi juga mempraktikkan pendekatan kontekstual di kelas. Targetnya, terjadi peningkatan kompetensi numerasi siswa hingga 20 persen, terutama dalam domain pengukuran.

Sebagai reviewer utama, Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., memberikan ulasan mendalam terhadap karya para guru. Ia menilai bahwa pendekatan EVI MAP bukan hanya proyek penulisan buku, tetapi sebuah gerakan untuk memulihkan hubungan antara ilmu dan budaya. “Numerasi berbasis Ethnoscience Village Map mengajarkan anak tidak hanya berhitung, tetapi juga memahami bagaimana masyarakatnya berpikir, mengukur, berdagang, dan mengelola lingkungan. Ini adalah bentuk literasi budaya yang hidup,” tegas Ibda dalam paparannya.

Sebanyak tiga puluh buku karya guru kemudian direviu bersama. Tema yang diangkat sangat beragam, mulai dari tradisi Apitan di Sampangan, sejarah Ereveld Candi di Gajahmungkur, kisah PDAM Tirta Moedal, rumah kolonial di Sompok, hingga aktivitas ekonomi di Kampung Gumregah. Semua karya menjahit nilai-nilai budaya ke dalam konteks numerasi, menjadikan matematika lebih bermakna bagi siswa.

Ibda menilai, secara umum, buku-buku tersebut telah menarik dan memiliki distingsi kuat karena menampilkan kekayaan lokal Semarang dengan cara ilmiah dan kreatif. Struktur pembelajarannya pun lengkap, mulai dari bacaan naratif, lembar kerja siswa, asesmen formatif, hingga refleksi. Bahasa yang digunakan ringan dan komunikatif, mudah dipahami oleh anak sekolah dasar. Integrasi antara literasi dan numerasi tampak jelas, di mana cerita budaya menjadi titik tolak dalam memahami konsep matematis.

Namun, Ibda juga memberikan catatan kritis. Menurutnya, banyak karya yang masih berhenti pada level local wisdom (kearifan lokal), belum mencapai local knowledge (pengetahuan lokal) dan local genius (kecerdasan lokal) khas Semarang. Unsur etnosains belum tergali secara mendalam, karena penulis cenderung menonjolkan cerita tanpa menyingkap sains di baliknya—seperti teknik pengukuran tradisional, sistem bangunan, atau logika matematis dalam aktivitas masyarakat. Soal-soal numerasi juga masih dominan bersifat prosedural, belum banyak mendorong penalaran tingkat tinggi.

Kendati demikian, Ibda menekankan bahwa kekuatan utama proyek ini justru terletak pada semangat kolaboratifnya. “Buku-buku EVI MAP bukan hanya bahan ajar, tapi cermin kesadaran guru sebagai peneliti lokal yang merekam dan menghidupkan pengetahuan masyarakatnya,” ujarnya. Menurutnya, EVI MAP adalah wujud pendidikan yang berpihak pada budaya, berpijak pada lokalitas, dan menembus batas ruang kelas. Pendidikan dasar, lanjutnya, seharusnya tidak hanya menumbuhkan kemampuan kognitif, tetapi juga karakter, kebanggaan, serta kesadaran terhadap akar budaya sendiri.

Dalam sesi diskusi terbuka, para reviewer dan peserta memberikan rekomendasi penguatan. Buku-buku EVI MAP disarankan agar dilengkapi pengantar teoretis yang menjelaskan konsep etnosains secara sederhana, disertai peta visual interaktif dan soal berbasis proyek. Rubrik asesmen yang menilai proses berpikir siswa dinilai penting agar hasil belajar tidak hanya dilihat dari angka, tetapi juga dari argumentasi dan strategi yang digunakan siswa. Refleksi guru pun perlu ditambahkan agar pembelajaran menjadi pengalaman reflektif yang berkelanjutan.

Kegiatan ditutup dengan peluncuran resmi tiga puluh buku EVI MAP berbasis numerasi. Kabid Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Semarang, Aji Nur Setiawan, S.STP., M.Si., secara simbolis melaunching karya para guru tersebut dan mengaku takjub dengan hasil yang di luar ekspektasi. “Saya tidak menyangka, hasilnya sebagus ini,” ujarnya dalam forum yang dimoderatori oleh Dian Marta Wijayanti itu.

Dari keseluruhan hasil review, proyek EVI MAP dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara nasional. Para ahli merekomendasikan agar buku-buku tersebut diberi ISBN dan dijadikan model pembelajaran numerasi kontekstual di berbagai daerah. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Contextual Teaching and Learning dan nilai-nilai Kurikulum Merdeka yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam pembelajaran.

FGD EVI MAP akhirnya menjadi tonggak penting dalam perjalanan pendidikan di Kota Semarang. Acara ini bukan sekadar forum akademik, melainkan gerakan kebudayaan yang menjadikan belajar sebagai cara memahami kehidupan. Di tengah tantangan rendahnya literasi dan numerasi nasional, para guru di Kota Semarang menunjukkan arah baru: menghadirkan sains dari kampung sendiri, membangun konsep dari tradisi, dan menjadikan budaya sebagai jantung pembelajaran. Melalui EVI MAP, anak-anak tidak hanya belajar menghitung, tetapi juga belajar menghargai warisan pengetahuan leluhur yang kini menjadi bagian dari sains modern.

Dalam kesempatan itu, turut hadir Pendamping Proyek Literasi Numerasi Normalia Eka Pratiwi, S.Pd.SD., M.Pd., perwakilan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian Kota Semarang, serta sejumlah guru penulis buku dari berbagai sekolah di Kota Semarang. (*)

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ganyang FDS

    Ganyang FDS

    • calendar_month Sel, 22 Agu 2017
    • account_circle admin
    • visibility 353
    • 0Komentar

    Banyak tokoh yang menyatakan bahwa sedekah terbaik adalah meninggalkan generasi dengan kualitas unggul. Anak-anak yang dilahirkan dari rahim ibunya bukanlah hard diskyang hanya dijejali dengan bermacam program (yang dianggap) unggulan. Mereka bukan pula sebuah objek yang digunakan sebagai kelinci percobaan dalam eksperimen regulasi pendidikan. dengan presepsi demikian, maka selain harus mendapatkan nutrisi otak, anak juga […]

  • SMKNU Kolaborasi dengan Zirang Honda Buka Layanan Servis Motor Gratis

    SMKNU Kolaborasi dengan Zirang Honda Buka Layanan Servis Motor Gratis

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle admin
    • visibility 4.536
    • 0Komentar

      pcnupati.or.id – Program Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) SMK Nahdlatul Ulama’ Gembong merajut kerjasama dengan Zirang Honda Motor Pati. Wujud kolaborasi dua pihak ini adalah gerakan sosial ganti oli dan servis gratis. “Program yang kami adakan adalah ganti oli, servis mesin dan treatmen rangka,” ungkap Kunarto, Ketua Program TBSM SMK NU Gembong. Kun, […]

  • Ribuan Emak-Emak Serbu Banyutowo

    Ribuan Emak-Emak Serbu Banyutowo

    • calendar_month Ming, 20 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 421
    • 0Komentar

    Antusiasme 1500 emak dari Muslimat NU dan  Fatayat NU Dukuhseti dalam mengikuti Istighotsah dan gema sholawat   DUKUHSETI – Ribuan kaum emak memadati Desa Banyutowo. Mereka berbondong-bondong untuk menghadiri acara istighotsah dan sholawat bareng pada Sabtu (19/3) kemarin.  Ibu-ibu tersebut merupakan anggota Fatayat NU dan Muslimat NU se-Kecamatan Dukuhseti. Sedikitnya, 1500 orang yang mengikuti agenda […]

  • Jakenan Gelar Pelantikan PAC dan Ranting Muslimat NU dan Fatayat NU

    Jakenan Gelar Pelantikan PAC dan Ranting Muslimat NU dan Fatayat NU

    • calendar_month Sab, 25 Jan 2020
    • account_circle admin
    • visibility 546
    • 0Komentar

    Jakenan – Fatayat NU dan Muslimat NU menggelar pelantikan Pimpinan Anak Cabang dan Pimpinan Ranting bersama, Sabtu (25/01/2020) pagi ini. Bertempat di Gedung Haji Jakenan, PAC Muslimat NU Jakenan Masa Khidmat 2020 – 2024, bersama Pimpinan Ranting se Kecamatan Jakenan berhasil dilantik. Pun dengan PAC Fatayat NU Kec. Jakenan beserta Pimpinan Ranting Fatayat se Kec. […]

  • Jejak Ulama: Panduan Hidup untuk Kebaikan Umat

    Teladani Ulama

    • calendar_month Kam, 6 Nov 2025
    • account_circle admin
    • visibility 5.100
    • 0Komentar

      Oleh: Dr. Jamal Makmur Asmani, M.A.* “Ulama adalah sumber nilai, ilmu, dan etika yang harus diteladani dalam mengarungi kehidupan ini”, demikian tegas Jamal Ma’mur Asmani, dalam seminar “Cara Menulis Produktif” yang diadakan oleh santri-santri Putri Pondok Pesantren Al-Hikmah Kajen Pati pada hari jum’at, 31 Oktober 2025 di Aula Lantai 2. Acara ini diadakan dalam […]

  • Mushofahah (Jabat Tangan), Bisakah Melebur Dosa?

    Mushofahah (Jabat Tangan), Bisakah Melebur Dosa?

    • calendar_month Sel, 3 Agu 2021
    • account_circle admin
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Ilustrasi : Pixabay Sudah menjadi kebiasaan kita kaum muslimin, setelah melakukan sholat `ied al-fithrikita melakukan mushôfahah (bersalaman).  Pertanyaan : Apakah mushôfahah tersebut sudah bisa melebur dosa-dosa kita (haq al-adamiy) tanpa harus menyebut dosa-dosanya ?   Jawaban :Mushôfahahtersebut belum bisa melebur dosa-dosa yang ada hubungannya dengan haq al-adamiy (hak-hak sesama manusia).   Referensi : & Kasyifah […]

expand_less