Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Kolom » Padi Tumbuh dalam Kesunyian

Padi Tumbuh dalam Kesunyian

  • account_circle admin
  • calendar_month Sen, 3 Okt 2022
  • visibility 367
  • comment 0 komentar

Oleh : M. Iqbal Dawami

Dua tahun lalu hampir setiap pagi jika Aghza—anakku—bangun pagi, aku sering mengajaknya jalan-jalan ke pematang sawah. Dia tampak antusias setiap kali aku ajak ke persawahan. Sebelumnya dia minta dibuatkan susu dulu. Nanti susu yang dalam dot itu diminum pada saat kami melihat sawah. Terasa lebih nikmat, mungkin pikirnya. Aku bonceng dia dengan sepeda ontel. Di sawah kami jalan-jalan, sambil sesekali duduk-duduk.

Di sana kami melihat hamparan sawah sejauh mata memandang. Kami menyaksikan burung-burung yang terbang pada saat petani mengusirnya. Kami juga melihat petani berdatangan, dan siap bekerja. Pada kali itu, kami melihat padi mulai menguning, dimana  beberapa hari sebelumnya masih tampak hijau. Kami menyaksikan perubahan padi-padi tersebut dari hari ke hari.

Melihat padi itu, pikiranku melayang-layang. Kuperhatikan padi tumbuh dalam kesunyian. Dia tumbuh dari mulai hijau hingga menguning. Dia tidak banyak “bicara” dan gembar-gembor untuk mempersiapkan kematangannya. Dan saat matang dia justru merunduk. Hmm, tanda kerendahan hati. Semakin berisi semakin merunduk. Dia tidak berdiri tegak (baca: sombong). Begitulah filosofi padi yang bisa aku ambil. Kerendahan hati adaalah wujud kesalehan sejati. Begitu ucap seorang kawan. Ah, aku berharap bisa meneladani padi itu, pada saat matang justru semakin tunduk dan rendah hati.

Sering kita menyaksikan manusia yang sombong saat mendapatkan kemasyhurannya. Dia angkuh saat dirinya meraih sesuatu yang sudah diraihnya. Dia lupa bagaimana kehidupan dulunya. Dia alpa bahwa apa yang dicapainya banyak campur tangan orang lain. Sombong, angkuh, dan egois adalah penyakit hati. Jadi, harus disembuhkan. Dan yang lebih penting lagi adalah menjaga diri dari penyakit tersebut. Bukankah pencegahan lebih penting ketimbang pengobatan?

Oleh karena itu, aku hendak membiasakan kepada anakku perilaku-perilaku positif sejak dini. Aku bersyukur bisa membawa dia kepada alam nyata yang segar. Aku perkenalkan dia sawah, sungai, tanaman, suara-suara alam: gemericik air, kicau burung, gonggongan anjing, dan lain sebagainya. Aku berharap dari situ dia mempunyai ingatan otentik masa kecilnya yang bisa dibawa ke masa dewasanya. Aku berharap dia bisa mempunyai pikiran otentik pula yang berpikir dan berbuat serta menjadi tumbuh secara alami layaknya alam ini. Alam tumbuh secara natural nan alami. Hal ini sebagaimana yang dikatakan Masanobi Fukuoka dalam Revolusi Sebatang Jerami (1991):

“Dalam mengasuh anak, banyak orangtua membuat kekeliruan yang sama dengan yang mula-mula saya lakukan di kebun buah-buahan. Misalnya, mengajarkan musik kepada anak-anak sama tidak perlunya seperti memangkas pohon-pohonan di kebun buah-buahan. Telinga anak-anak menangkap musik. Gemericik aliran sungai, suara kuakan katak di tepi sungai, geremisik dedaunan di hutan, semua suara alam ini merupakan musik – musik yang sebenarnya. Tetapi bila bermacam suara gaduh mengganggu masuk dan mengaburkan telinga, apresiasi langsung dan murni dari anak-anak terhadap musik mundur. Jika dibiarkan berlangsung terus seperti itu, anak tidak akan mampu mendengarkan kicauan seekor burung atau desauan angin sebagai nyanyian-nyanyian.”

Betapa dahsyatnya kata-kata Masanobi di atas. Dia mengibaratkan kanak-kanak itu layaknya tanaman dan buah-buahan. Keduanya dapat tumbuh dengan baik asalkan dirawat secara baik pula. Merawatnya secara alami. Mereka tidak perlu dipaksakan kepada hal-hal yang bertentangan dengan hukum alam (sunnatullah). Mereka mempunyai kehidupannya sendiri, karena sejatinya manusia bisa tumbuh sesuai hukum alam. Dengan begitu mereka mendapatkan hidup yang otentik.

Saya teringat kata-kata Kahlil Gibran, sastrawan tersohor itu, mengatakan dalam prosaisnya:

Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu. Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka terlahir melalui engkau tapi bukan darimu. Meskipun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan milikmu. Pada mereka engkau dapat memberikan cintamu, tapi bukan pikiranmu. Karena mereka memiliki pikiran mereka sendiri.

Engkau bisa merumahkan tubuh-tubuh tapi bukan jiwa mereka. Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah hari esok, yang tak pernah dapat engkau kunjungi meskipun dalam mimpi. Engkau bisa menjadi seperti mereka, tapi jangan coba menjadikan mereka sepertimu. Karena hidup tidak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu.

Engkau adalah busur-busur tempat anak-anakmu menjadi anak-anak panah yang hidup diluncurkan. Sang pemanah telah membidik arah keabadian, dan ia meregangkanmu dengan kekuatannya sehingga anak-anak panah itu dapat meluncur dengan cepat dan jauh. Jadikanlah tarikan tangan sang pemanah itu sebagai kegembiraan. Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang, maka ia juga mencintai busur yang telah diluncurkannya dengan sepenuh kekuatan.

Jelas sekali kata-kata Kahlil Gibran di atas bahwa seorang anak mempunyai pikiran dan jiwa sendiri. Ia mempunyai hak prerogatif untuk menentukan jalan takdirnya sendiri. Orangtua hanya dapat memberikan cinta dan kasih sayangnya, tapi tidak dengan pemikirannya. Ia hanya dapat diarahkan tapi tak bisa dibentuk. Sepintas memang seorang anak layaknya “karya” orangtua, tapi pada hakikatnya tidak. Beberapa unsur bapak dan ibunya mengalir dalam diri sang anak baik secara raga maupun jiwa. Tapi, tidak lebih dari itu. Ia akan membentuk dan menjadi pribadi sendiri, yang bisa jadi tak ditemukan dalam diri orangtuanya.

Maka, usia dini (golden age) seorang anak harus betul-betul dicermati. Ia harus diperhatikan, dijaga, dipelihara, diarahkan. Karena, hal itu akan menjadi modal utama di kemudian hari, kelak pada saat usia-usia remaja dan dewasanya. Pepatah terkenal mengatakan bahwa usia dini ibarat mengukir di bebatuan. Bekasnya tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Oleh sebab itu, sekali lagi, usia dini menjadi hal yang menentukan di usia-usia selanjutnya.  

Rasulullah Saw., telah menunjukkan bagaimana cara mendidik anak. Beliau begitu menghormati anak kecil, entah itu anaknya sendiri, cucunya, maupun anak-anak para sahabatnya. Anak kecil juga mempunya pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan mereka ibarat kaset yang masih kosong. Untuk itu Nabi memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya, agar pikiran dan perasaan mereka diisi dengan baik.

Sebuah riwayat menceritakan, ada seorang anak lelaki pada saat digendong Nabi pipis. Lantas ibunya langsung merebut anaknya itu dengan kasar. Nabi kemudian bersabda, “Bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan.” Riwayat lain menyebutkan bahwa Nabi berkata, “Jangan, biarkan ia kencing.”

Dalam riwayat lainnya menceritakan ketika Rasul shalat berjamaah, cucunya, Hasan dan Husain, menaiki punggung beliau pada saat sujud, namun Nabi membiarkan saja. Beliau tidak juga mengangkat tubuhnya, sampai kedua cucunya turun dengan sendirinya. Ketika Hasan dan Husein turun dari punggung beliau, baru Rasulullah bangkit dari sujud.

Kisah Nabi tersebut membuktikan tamsil kaset di atas, bahwa sikap kasar terhadap seorang anak dapat mempengaruhi jiwanya sampai kelak ia dewasa. Tulisan ini saya akhiri dengan sebuah kutipan dari Dorothy Law Nolte:

Jika anak dicela, ia akan terbiasa menyalahkan

Jika anak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang

Jika anak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas

Jika anak banyak dikasihani, ia akan terbiasa meratapi nasibnya

Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa menjadi pemalu.[]

  • Penulis: admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Haul KH. Muhammad Karim, Pakar Sejarah : Santri Jangan Minder

    Haul KH. Muhammad Karim, Pakar Sejarah : Santri Jangan Minder

    • calendar_month Sen, 25 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 554
    • 0Komentar

    K. Yusuf Hasyim, Ketua PCNU Pati sedang menyampaikan materi dalam Talk Show Ilmiah dalam rangka memperingati haul ke-37 KH. Muhammad Karim GEMBONG – Rangkaian Haul KH. Muhammad Karim ke-37 yang berlangsung sejak Kamis (14/10) akhirnya pungkas Minggu (24/10) pagi kemarin di aula Ponpes Shofa Az Zahro’ (PPSA) Gembong, Pati. Penutupan haul diisi dengan talk show […]

  • Photo by Madrosah Sunnah

    Menghitung Mundur

    • calendar_month Sen, 1 Apr 2024
    • account_circle admin
    • visibility 373
    • 0Komentar

    Oleh : M. Iqbal Dawami Kita sedang menghitung mundur, 10 malam terakhir Ramadan. Setiap detik yang berlalu semakin mendekatkan kita pada penghujung bulan suci ini, bulan yang telah memberikan kita banyak pelajaran, dan kesempatan untuk introspeksi diri. Dalam diam, kita mengingat kembali hari-hari yang telah dilewati, penuh dengan ibadah, doa, dan kebersamaan. Hari-hari terakhir ini […]

  • PKL dan Susbalan Menciptakan Kader NU Masa Depan

    PKL dan Susbalan Menciptakan Kader NU Masa Depan

    • calendar_month Sel, 14 Jan 2020
    • account_circle admin
    • visibility 436
    • 0Komentar

    PATI, Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) dan Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang bertempat di PP. Naqsabandiyah Kholidiyah Desa Srikaton Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati. Acara resmi dibuka oleh PW GP Ansor Jawa Tengah, Gus Fahsin M Faal, didampingi oleh Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Pati, Itqonul Hakim, perwakilan Forkopimda, […]

  • PCNU-PATI

    Banser Pati Gelar Apel Akbar di Juwana

    • calendar_month Sen, 17 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Pcnupati.or.id.- Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pati menggelar silaturahmi dan konsolidasi kader besar-besaran. Acara yang dirangkai dengan Apel Akbar Banser ini, dilaksanakan di Pulau Seprapat, Juwana, Minggu (15/10/22). Kepala Satuan Koordinasi Cabang (Kasatlorcab) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Pati Muhamad Sutomo mengemukakan, apel digelar dalam rangka memeringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Hari Kesaktian Pancasila, […]

  • MWC-NU Gembong Sowani Gus Muwaffiq, Apa Hasilnya?

    MWC-NU Gembong Sowani Gus Muwaffiq, Apa Hasilnya?

    • calendar_month Sel, 17 Sep 2019
    • account_circle admin
    • visibility 364
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA-Rombongan pengurus MWC-NU Gembong disambut hangat di kediaman KH. Ahmad Muwaffiq di Perum Jombor Pratama nomor 19, Mlati, Sleman, Yogyakarta. K. Sholihin, ketua MWC-NU Gembong beserta tamu-tamu lain menemui Gus Muwaffiq sekitar pukul 09.00 hingga pukul 10.00 WIB, Selasa (17/9). Gus Muwaffiq (tengah) sedang Bencanda dengan K. Sholikhin (kiri) dan M. Subhan (kanan) Dalam acara […]

  • Sugeng Kondur, Gus Umar

    Sugeng Kondur, Gus Umar

    • calendar_month Ming, 3 Sep 2023
    • account_circle admin
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Oleh: KH. Yusuf Hasyim, S.Ag., M.Si.* Kamis malam, seperti biasa, di waktu luang, saya selalu mengecek WhatsApp barang kali ada notifikasi penting. Benar saja. Malam itu, bukan cuma info penting, namun juga mengejutkan. Tanpa mau termakan isyu sumbang, saya segera mencari info A1. Seorang sahabat yang saya nilai sangat dekat dengan keluarga Gus Umar Fayumi […]

expand_less